GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
124. Kesalahan Di Masa Lalu


__ADS_3

Apa yang diusulkan oleh Yasmin memang benar. Tetapi tidak mudah bagiku untuk menjualnya begitu saja. Tanah dan kedai dua hal yang sangat berharga. Aku mendapatkan tanah itu dengan susah payah. Ada harapan semoga kelak bisa membangun kembali rumah yang pernah terbakar di atas sana. Rumah itu punya sejarah untukku. Dibangun dengan susah payah. Aku harus bekerja keras untuk bisa memiliki sebuah rumah yang nyaman sesuai dengan mimpiku dahulu.


Sedang kedai, tidak hanya aku yang berharap, tapi juga keluarga Jack dan Deni. Tidak segampang itu memutuskannya. Jika kedai itu jatuh ke tangan mereka, pasti akan dihancurkan.


Oh Tuhan, aku harus bagaimana?


Aku menendang keras botol kosong yang ada di depan. Lalu berteriak keras tanpa memikirkan orang-orang yang melihat penuh tanda tanya.


Aku berhutang bukan untuk bersenang-senang, tetapi demi mengobati istriku. Apakah ini hukumnya untuk dosa-dosa di masa lalu? Apakah taubatku tidak diterima hingga aku harus jatuh dalam lilitan hutang ini?


Langkah kakiku terhenti di depan sebuah rumah. Lelaki paruh baya yang hanya terpaut beberapa tahun dariku melihat tidak percaya bahwa aku datang ke rumahnya. Ia sampai datang menghampiri.


"Lho, mas Qret?" tanyanya.


"Di, kamu masih ingat aku?" tanyaku, pada lelaki yang dulu pernah menjadi korbanku.


Namanya Adi Nugroho. Ia adalah seorang manager di perusahaan swasta. Aku mengenalnya pertama kali ketika ia datang ke klub kami dengan setumpuk masalahnya. Adi harus menghadapi kenyataan bahwa istrinya terkena kanker rahim. Ia harus menjalani pengobatan dengan biaya yang tidak sedikit.


Adi tidak berniat untuk minum ataupun mendekati gadis-gadis penggoda yang bebas keluar masuk klub untuk mencari sasaran empuk mereka. Lelaki kesepian yang butuh ditemani dalam satu malam.


Ia hanya ingin melepas sedikit kepusingannya sebab sang istri yang tidak juga kunjung sembuh, sementara uang tabungannya sudah habis, bahkan sudah mulai ada hutang demi mengobati istrinya.


Kami melihat ia adalah mangsa empuk yang bisa dikuras. Dengan rayuan dan iming-iming, Adi berhasil kami jerat ke meja judi. Pertama kami sengaja membuatnya menang. Lalu setelah ia kecanduan, kami mulai mengalahkan Adi yang memang sebenarnya tidak ada apa-apanya di meja judi.


Ia mulai menghabiskan semua uangnya, hingga tidak ada yang tersisa. Lalu saat ia mau menyerah, kami menawarkan hutangan, tentunya dengan iming-iming yang begitu manis. Kondisi Adi yang sedang dalam keadaan putus asa, membuatnya sangat mudah dijerat.

__ADS_1


Ia mulai terlilit hutang bunga. Hingga semuanya habis tidak tersisa. Rumah dan mobil sebagai satu-satunya harta yang ia miliki terpaksa melayang begitu saja. Aku menjadi saksi bagaimana ia berusaha bangkit, sampai menumpang di rumah orang tuanya. Ya, rumah sekarang ini. Makanya aku tahu kemana harus mencarinya.


Entah bagaimana kabarnya selanjutnya. Aku hanya mengamati hingga ia pindah sebab urusannya sudah selesai denganku.


"Mas Qret sedang apa di sini?" tanya Adi lagi.


"Aku ingin menemuimu." kataku.


"Saya?"


"Iya. Boleh kita berbincang sebentar?"


Adi mengajakku duduk di kursi yang ada di teras rumah orang tuanya. Lalu ia masuk ke dalam, tidak lama Keluar membawa dua gelas teh hangat dan juga sepiring pisang goreng.


"Kamu tidak kerja?" tanyaku. Aku khawatir mengganggu ia sebab datang di jam orang akan berangkat kerja.


"Apa aku mengganggu?"


"Tidak mas. Saya kerjanya sekarang tidak di kantor, tapi di sana." ia menunjuk sepetak tanah yang ada di samping rumahnya.


"Maksudnya?" aku mengerutkan kening, tidak paham dengan maksud Adi.


"Jadi begini mas, setelah saya kehilangan tempat tinggal dan seluruh harta benda saya, kondisi emosional saya sangat buruk. Saya berubah jadi orang yang labil, mudah marah dan juga sensituf. Sedikit saja ada yang salah maka saya akan gampang tersulut.


Tidak ada satu orangpun yang saya dengar. Semua orang bagi saya adalah masalah. Mereka semua buruk di mata saya. Termasuk keluarga saya. Kepada istri dan anak, saya tidak lagi peduli. Begitu juga dengan nasihat yang diberikan orang tua, kakak dan adik-adik saya mental semuanya.

__ADS_1


Hingga suatu hari, teman di kantor berbincang-bincang. Saya tidak sengaja mendengarkan perbincangan mereka yang sebenarnya hanyalah gurauan saja. Tapi namanya sudah kalut, maka saya langsung tersulut. Saya mengira bahwa mereka sedang menyindir saya. Mungkin karena kalap saya gelap mata dan memukul mereka hingga babak belur.


Beruntung saya tidak diadukan ke kantor polisi, mungkin karena mereka kasihan dengan kondisi istri saya yang sudah memasuki masa kritis. Akhirnya saya dipecat tanpa pesangon. Saya semakin terpuruk. Untungnya ratapan anak saya berhasil membuat saya sadar. Saat itulah saya menyesali semua kesalahan-kesalahan yang saya lakukan. Saya merasa sudah kalah. Untungnya Allah begitu baik pada saya, Dia membimbing saya untuk kembali.


Saya memang harus bangkit dari keterpurukan saat itu sebab saya tidak hanya bertanggung jawab atas diri saya sendiri, tapi juga pada istri dan anak-anak.


Beruntung lagi saya bertemu teman zaman kuliah dulu, ia mengajak saya untuk membuka bisnis apotik hidup. Itu dia, yang ada di sebelah rumah ini. Dari sinilah saya mulai membangun kembali perekonomian keluarga kami.


Siapa sangka, ini pula yang menjadi jalan untuk istri saya sembuh. Dia dinyatakan bersih dari kanker. Itulah yang membuat saya menyadari betapa baiknya Allah pada saya hingga saya dapat kesempatan kedua. Suatu hal yang tidak semua orang bisa mendapatkannya." kata Adi, menjelaskan padaku panjang lebar tentang perjalanan hidupnya. "Maaf lho mas Qret, saya malah cerita tentang kehidupan saya." ia terkekeh, merasa malu. Tetapi sebenarnya apa yang ia ungkapkan itu adalah semangat untukku.


"Aku senang mendengarnya sebab ini jadi semangat untukku." kataku.


"Lalu kedatangan mas Qret sendiri untuk apa?"


"Sebenarnya aku menyesal sudah melakukan semua kecurangan padamu, Di." aku menunduk, mencoba istighfar atas kesalahan di masa lalu. "Kau tahu, mungkin ini adalah hukuman untukku, kini akulah yang terlilit hutang bunga. Aku berada di tepi jurang, sebentar lagi mungkin akan kehilangan semuanya."


"Astagfirullah, bagaimana ceritanya mas?"


"Aku sudah hijrah, dunia hitam itu sudah kutinggalkan."


"Alhamdulillah. Lalu?"


"Saat ini istriku sedang sakit. Aku sudah membawanya berobat ke Singapura. Untuk mengobatinya, aku meminjam uang pada dua orang rentenir." aku menceritakan semuanya pada Adi, serta tujuanku datang ke sini untuk mendapatkan maaf darinya.


Kadang, ketika kita mendapatkan suatu keburukan, bisa jadi itu adalah buah dari kesalahan kita di masa lampau yang mungkin belum kita taubati atau belum mendapatkan maaf dari orang-orang yang kita sakiti.

__ADS_1


"Aku benar-benar menyesal, Di. Aku berharap kau mau me.beriku maaf." pintaku dengan sepenuh hati.


__ADS_2