
"Lelaki dan perempuan itu berbeda cara berpikirnya. Kau mungkin hanya sebatas menikah, ya sudah, begitu saja. Tapi kami laki-laki ini memikirkan banyak hal sebelum melamar anak gadis orang." kataku.
"Contohnya?" tanya Yasmin.
Aku mulai menjelaskan pada Yasmin dan Riana yang kini memilih diam mendengarkan ku bicara panjang lebar tentang cara berpikir laki-laki dan perempuan yang berbeda seratus persen. Bagaimana kami para tukang punggung berusaha memberikan yang terbaik untuk tulang rusuk kami.
"Misalnya, bagaimana perekonomian setelah menikah nanti. Laki-laki itu diciptakan sebagai tukang punggung, jangan sampai nanti setelah menikah, akibat tidak punya penghasilan, istrinya yang tulang rusuk menjadi tulang punggung. Itu salah satu hal yang dipersiapkan oleh Deni, makanya lama melamarmu. Tapi sebenarnya tidak lama, kau saja yang tidak sabar. Deni ingin memberikan kehidupan terbaik untukmu setelah menikah nanti, makanya ia butuh waktu." kataku, menjelaskan bagaimana posisi Deni sebenarnya saat ini.
"Aku tidak butuh kehidupan mewah." pungkas Riana. Berarti ia masih menganggao masalah ini sesederhana yang ia bayangkan. Dia masih memakai sudut pandangnya sendiri.
"Bukan masalah mewah atau tidak Riana, tapi layak." kataku, mencoba bersabar menghadapinya sebab sekarang aku mulai menyadari resah yang dirasakannya. Sebenarnya akupun ingin mereka segera menikah sebab kasihan jika harus bertemu tiap hari dalam keadaan belum halal, khawatir terjadi berbagai jenis zina.
"Apalagi yang harus dikumpulkan, Qret. Bukankah ia sudah bekerja denganmu. Aku tidak masalah dengan jumlah penghasilannya." Riana masih bicara dengan berapi-api.
"Tapi Riana, Deni juga ingin mempersiapkan tempat tinggal untukmu, menabung biaya nikah serta yang lainnya." kataku lagi.
"Rumah? Aku sudah punya. Rumah kami masih muat jika hanya ditambah satu orang Deni. Kalau biaya nikah dan lainnya, aku rasa ayah tidak akan keberatan membiayai semuanya!" ungkap Riana lagi.
"Itu bukan rumahmu!" jawabku, enteng.
"Rumah ayah ya rumahku lah. Memang ayah mau membawanya sampai ke liang lahat nanti?"
"Kau ini! Sembarang saja kalau bicara."
"Kenyataannya begitu."
"Deni tidak akan mau kalau begitu."
"Kenapa?"
"Riana, laki-laki seperti Deni itu punya harga diri, ia tidak akan mau menyerahkan apa yang jadi tanggung jawabnya begitu saja pada paman Rudi. Ia pasti ingin memperjuangkannya!"
"Kalau begitu aku menyerah!"
Riana bangkit, sepasang matanya berkaca-kaca, saat ia hendak pergi, Yasmin berusaha menahan hingga bahu Riana berguncang menahan tangis.
Sungguh, berada di posisi ini sangat dilematis sekali. Aku paham betul bagaimana Deni sedang berjuang untuk Riana. Diam-diam, tanpa gadis itu tahu, Deni juga masih bekerja di malam hari. Itulah mengapa aku sering mempercepat waktu pulang agar ia punya sedikit saja waktu untuk beristirahat.
Sementara Riana, posisinya pun tidaklah nyaman. Ia mungkin sudah pada fase tidak nyaman berdekatan dengan Deni dalam keadaan belum halal, apalagi di kedai ada dua pasang yang sudah halal, sementara ia dan Deni masih belum menikah. Pasti ada berbagai perasaan tidak enak berkecamuk dalam dada.
__ADS_1
"Lepas Yas, biar aku pergi saja!" hanya dengan satu sentakan, tangan Yasmin sudah terlepas dari Riana.
"Yas," kataku, khawatir Yasmin kenapa-napa, mengingat sabuk hitam yang disandangnya.
Tanganku hendak menggapai Yasmin, tapi ia mengelak, laku berlari menjauh setelah mengatakan bahwa aku jahat.
"Kenapa aku yang jahat?" kataku pada diri sendiri. "Aku kan hanya berusaha menjelaskan tentang kondisi Deni saat ini." mereka berdua masuk golongan perempuan aneh, harusnya berterima kasih malah marah.
Dari pada kesal, aku membuka makanan dan minuman yang tadi dibeli oleh Riana, lalu menghabiskannya hingga tidak tersisa.
Usai makan dan minum, aku segera pulang. Tapi ternyata Yasmin tidak ada di rumah. Kata ibu ia belum pulang sejak tadi. Tidak biasanya Yasmin seperti ini, aku yakin sekali ia di rumah Riana, apa ia masih marah padaku? Tapi kan aku tidak salah.
"Apa kalian bertengkar?" tanya ibu, masih menatapku dengan tatapan curiga.
"Enggak bu, mungkin Yasmin cuma marah saja." jawabku.
"Marah kenapa?"
"Bukan masalah kami berdua, Bu. Dia cuma sedang membela sahabatnya."
"Riana?"
"Syukurlah kalau begitu. Ibu bisa marah kalau kamu membuat Yasmin sedih,"
"Iya ... iya. Sekarang Qret mau istirahat dulu ya Bu. Sudah ngantuk berat. Nanti sore kan ada kajian " aku melambaikan tangan pada ibu, laku berlalu menuju kamar.
Sampai di kamar yang menurutku semakin nyaman sejak mendapatkan sentuhan Yasmin, aku berwudhu lalu tidur. Hanya butuh beberapa menit sebelum akhirnya pulas dalam mimpi.
***
"Hiks ... hiks ... hiks." samar-samar aku mendengar suara tangisan.
Kepalaku masih sangat berat sebab masih belum puas tidur, tapi suara tangisan itu seperti memaksaku untuk membuka mata. Perlahan aku mengerjap-ngerjap, mendapati Yasmin tengah duduk bersimpuh di kakiku.
"Yas," panggilku. "Kamu menangis?" aku berusaha bangkit, meski rasanya nyawaku belum terkumpul seratus persen, lalu berusaha mendekat ke arahnya.
"Mas bangun? Maaf ...," katanya, dengan kalimat yang menggantung.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Tidak apa-apa,"
"Bicaralah. Ceritakan hal apa yang membuatmu bersedih hingga menitikkan air mata?"
"Mas juga tidak akan peduli."
"Kata siapa? Kau istriku, pastilah aku peduli."
"Termasuk urusan sahabatku juga?"
"Itu lagi."
"Tapi hal itu benar-benar membuatku sedih dan mengganggu perasaanku."
"Lalu?"
"Kalau mas mau bisa kok membantuku."
"Yas, tapi kita tidak bisa memaksakan kehendak pada orang lain. Bagaimana kalau ternyata Deni belum siap?"
"Tapi bagaimana kalau ternyata Deni sudah siap hanya saja ia belum percaya diri? Berarti harus dimotivasi, kan? Lagi pula Riana tidak pernah keberatan jika Deni belum punya apapun juga. Ia siap hidup susah dengan Deni."
"Yasmin ... Yasmin!" aku langsung memegang kepala dengan kedua tangan, memijitnya perlahan sebab serangan sakit yang datang tiba-tiba.
Entah bagaimana caranya bicara pada dua orang perempuan ini bahwa semua hak tidak bisa dipaksakan. Harus ada kesiapan. Menikah itu tidak sesederhana yang mereka bayangkan.
"Kalau semua laki-laki berpikir seribet mas, bisa-bisa makin banyak jomblo di muka bumi ini!" kata Yasmin.
"Iya deh," kataku.
"Lalu apa mas akan membantu kami?"
"Nanti akan kupikirkan, sekarang aku mau bersiap duku, hari ini ada kajian dengan Heri, kan?"
Aku bersiap menuju kamar mandi, menyelamatkan diri sebelum Yasmin kembali menodongku dengan permintaan anehnya itu.
Riana, oh Riana. Pengaruh apa yang kau berikan pada Yasmin hingga perlahan ia berubah jadi suka memaksakan kehendaknya sepertimu?
Usai mandi, Yasmin benar-benar masih mengintai, mencari kesempatan bicara. Riana pasti sudah mentraining istriku ini habis-habisan sampai ia nurut sekali dengannya. Tetapi aku lebih siaga lagi, ketika Yasmin terlihat ingin bicara, langsung kualihkan.
__ADS_1