
Deni cukup telaten mengganti popok bayi. Setelah bersih, Riu berhenti menangis. Kini barulah ia kembali menggemaskan di hadapanku.
"Lain kali jangan begitu lagi pada paman Qret atau aku bisa.memarahimu." Kataku sambil mencubit hidungnya.
Sepertinya Riu mengerti, ia tersenyum padaku. Kami bermain-main sambil menanti kepulangan dua perempuan yang sepertinya mulai tidak sadar diri bahwa ada bayi di rumah.
Empat jam Yasmin dan Riana meninggalkan rumah. Barulah mereka kembali dengan beberapa tas barang belanjaan.
"Kalian puas?" tanyaku, dengan nada biasa tapi sebenarnya sangat geram sekali. Bukan karena aku keberatan menjaga Riu, anak itu sukses membuatku tertawa berkali-kali. Tapi karena aku kesal, mereka berdua seperti ABG, lupa waktu. Padahal ada bayinya. Pesan dan telepon kami pun diabaikannya.
"Apa mas marah?" tanya Yasmin.
"Menurutmu?" kataku.
"Iya. Sepertinya kami tak akan diizinkan pergi lagi." kata Yasmin.
Mungkin karena takut aku omeli juga, Riana memilih segera pulang sambil menggendong Riu. Sementara Deni mengekor di belakang membawa kantong belanjaan Riana.
Malam ini tak akan pernah terlupakan olehku. Ketika Yasmin mengeluh lelah. Saat aku memijit kakinya, tiba-tiba aku melihatnya mengeluarkan banyak darah. Aku benar-benar panik sehingga memekik histeris.
Bayangan saat ia mengalami kecelakaan dan mengeluarkan banyak darah membuatku agak trauma.
Tidak perlu banyak pertimbangan, aku langsung melarikan Yasmin ke rumah sakit. Kata dokter ia mengalami kelelahan. Terlalu lama berjalan. Padahal kondisi kandungannya lemah. Dokter memberikan Yasmin obat penguat kandungan. Ia juga diminta untuk bedrest beberapa hari.
"Ingat, jangan sampai terjadi kedua kalinya Yas. Aku akan sangat marah kalau kau melakukan hal yang berbahaya lagi pada bayi kita." kataku, sebelum kami istirahat.
Dari sebelah, aku mendengar suaranya terisak-isak. Yasmin sepertinya juga sangat ketakutan terjadi sesuatu pada calon bayi kami.
***
Sejak kejadian beberapa hari lalu, Yasmin kini berubah jadi lebih hati-hati. Ia tidak bertindak semaunya. Selalu bertanya padaku. Apapun yang kira-kira berbahaya, pasti akan dihindarinya. Sehingga pikiranku jadi lebih tenang.
Kini, saat pemeriksaan kami bisa bernafas lega sebab kondisi kehamilan Yasmin sudah sehat. Bayinya juga kuat.
__ADS_1
"Bayinya laki-laki atau perempuan, dok?" tanyaku pada dokter yang sedang melakukan USG untuk mengecek jenis kelamin bayinya.
"Semoga perempuan!" pinta Yasmin.
"Perempuan." jawab dokter tersebut yang tentu saja kami sambut dengan ucapan hamdalah.
"Bayinya akan secantik ibunya." kataku.
"Kita akan menjodohkan bayi ini dengan Riu." kata Yasmin dengan antusias.
"Kenapa kau begitu menyayangi Riu?"
"Karena Riu itu adalah harapanku. Mas tahu, betapa saat itu aku berharap punya seorang anak. Lalu saat Riana mengatakan, aku boleh jadi ibunya Riu, menurutku itu adalah hadiah terindah dari Allah. Makanya aku sangat menyayangi Riu. Lagipula kakeknya yang sudah merawat mas. Aku merasa ikut berhutang budi pada keluarga Riana."
Riana dan Yasmin benar-benar membuat pesta perjodohan antara Riu dan calon bayi kami. Aku dan Deni tidak bisa berbuat apa-apa sebab kedua perempuan itu terkadang memegang kuasa atas kami berdua.
***
Suara tangis Riu masih terdengar dari rumah kami. Mungkin sudah satu jam bayi itu menangis. Tetapi belum ada tanda-tanda ia akan diam. Tentu saja Yasmin yang paling cemas. Entah sudah berapa kali ia bolak-balik melihat keluar jendela, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa selain mengintip sebab Riu tidak hanya demam, tapi juga campak. Karena Yasmin sedang hamil, maka ia dilarang dekat-dekat dengan Riu sebab khawatir membahayakan bayinya.
"Apa yang harus aku lakukan, Yas. Aku bukan ayah dan ibunya. Tidak terlalu dekat juga dengan Riu." kataku.
"Kalau begitu aku yang ke sana. Dia pasti butuh aku!"
"Yas, pikirkan juga bayi kita."
"Aku tidak mau jadi orang yang egois."
"Kalau kamu ke sana namanya egois pada anak kita. Kau sedang hamil, dikarang dekat-dekat dengan anak kecil yang sedang campak sebab bayimu bisa kena juga."
"Tapi mas ...." pertahanan Yasmin runtuh. Ia menangis sejadi-jadinya. "Apa yang harus aku lakukan untuk menghentikan tangis Riu. Ia pasti kesakitan. Riana dan yang lainnya tidak akan bisa mendiamkannya. Mas dengar sendiri kan, mereka kewalahan menangani Riu sebab akulah yang paling memahami Riu!"
"Sabar Yas. Kita doakan supaya Riu cepat sembuh. Semoga malam ini ia bisa tidur nyenyak. Kau juga harus belajar untuk mempercayai Riana. Bagaimanapun juga ia adalah ibunya Riu. Riana pasti akan berusaha melakukan yang terbaik untuk putranya. Aku yakin ia juga menyayangi anaknya, sama seperti rasa sayangmu pada Riu."
__ADS_1
"Tidak mungkin!"
"Yas,"
"Lihat saja. Ia selalu terlihat acuh. Bahkan tidak jarang meninggalkan Riu padaku. Aku sangat yakin Riana tidak menyayangi bayi itu seperti rasa sayangku. Kasihan sekali bayi itu. Ia amat malang. Tetapi aku tidak bisa melakukan apapun selain mendengar tangisan pilunya yang menyayat hati dari balik jendela kamarku."
"Yas. Jangan terlalu dipikirkan."
"Bagaimana mungkin aku tidak memikirkan. Aku ibu angkatnya. Lagipula mas dengar sendiri kan bagaimana ia menangis. Itu adalah isyarat bahwa ia menginginkan aku di sampingnya. Paham tidak?"
Pada akhirnya aku memilih diam. Menjadi pendengar yang baik untuk setiap keluh kesah Yasmin. Bahkan jika ia meragukan kasih sayang Riana sendiri sebagai ibu kandungnya Riu.
Andai kamu tahu Yas, ia hanya sedang berpura-pura saja. Riana juga sangat menyayangi putranya. Ia hanya ingin membuatmu bahagia.
Sudah pukul dua dini hari. Yasmin masih duduk di depan jendela kamar kami. Ia masih menatap ke rumah sebelah, dimana Riu berada. Masih terdengar suara tangis Riu di sajya. Bayi itu sepertinya memang benar-benar merasa sakit.
Saat suara tangis Riu berhenti, Yasmin buru-buru menelepon Riana. [Bagaimana keadaan Riu?] tanya Yasmin.
[Dia baru saja tidur Yas. Baru selesai minum obat.] jawab Riana dengan suara pelan, sepertinya ia sangat kelelahan.
[Apa yang sebenarnya terjadi? Apa kata dokter? Kenapa Riu menangis lama sekali?]
[Badannya sangat panas, Yas.]
[Bagaimana bisa terjadi? Kan sudah ada obat penurun panas?]
[Aku kelupaan memberikan obat untuk siang Yas. Mungkin karena tadi siang Riu tidak terlalu rewel. Ternyata demamnya naik lagi. Badannya juga merah-merah.]
[Ya Allah Riu ... kamu bagaimana sih Riana, kenapa tega pada Riu?]
[Iya, aku mengaku salah. Maafkan aku Yas.]
[Riu sayang. Kasihan sekali kamu nak. Ibu akan ke sana kalau kondisimu sudah membaik. Nanti ibu yang akan menjagamu!]
__ADS_1
Yasmin menutup telepon sambil menangis. Ia terlihat amat kesal dengan kecerobohan Riana yang lupa memberikan obat Riu.