GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
158. Ustad Riu Kebanggaan Ibu Yasmin


__ADS_3

Jasmin melempar tubuhnya ke atas tempat tidur. Meskipun ia begitu kesal dengan hukuman yang diberikan ibunya, tetapi tak membuta mata gadis remaja itu sampai mengeluarkan air mata. Ia hanya mendengus kesal.


"Aku harus cari cara agar tidak dipaksa-paksa lagi memakai jilbab. Kan aku mau jadi atlit wushu, ribet sekali kalau semuanya harus tertutup." gumam Jasmin di dalam hati.


Kini tatapan Jasmin tertuju pada sebuah benda tajam yang ada di dekat kaca meja riasnya. Lalu senyumnya pun tersungging. Dengan sekarang Jasmin mengambil gunting tersebut lalu berlalu menuju kamar mandi.


Cekrek. Cekrek. Cekrek. Hanya dalam hitungan detik, apa yang jadi penghalang kebebasannya kini telah hilang. Jasmin benar-benar tersenyum puas.


"Jasmin!" suara Yasmin memekik di depan pintu kamar. Ia begitu kaget mendapati putrinya berdiri di depan pintu kamar mandi dengan rambut dipotong pendek, persis seperti anak laki-laki. "Apa yang kau lakukan?" tanya Yasmin dengan suara keras. Ia langsung lemas menatap rambut panjang hitam yang kini berserakan di atas lantai. Rambut yang sejak dulu ia rawat dengan penuh kasih sayang. Untuk membuat rambut Jasmin jadi hitam dan lebat, ia selalu memberinya kemiri, seledri hingga berbagai macam minyak-minyakan lainnya. "Mas ... Mas ... Mas!" Yasmin memekik memanggil suaminya.


"Ada apa lagi, Yas? Kenapa berteriak segala?" tanya Qret, ia tergopoh-gopoh masuk ke kamar putri tunggalnya sebab takut terjadi sesuatu.


"Lihat, apa yang sudah dilakukan putrimu. Dia menggunting habis semuanya!" seru Yasmin dengan suara yang masih ketas.


"Jasmin, kenapa rambutnya dipotong?" tanya Qret yang tak kalah kaget melihat rambut panjang putri kesayangannya kini sudah berserakan di lantai.


"Supaya aku tak perlu memakai kerudung lagi." jawab Jasmin dengan suara pelan.


"Ya Allah Jasmin. Kau ini berpikir atau tidak. Rambut sebagus itu malah dibabat habis. Lihatlah, sekarang kau seperti anak lelaki. Benar-benar tidak ada manis-manisnya." Yasmin geleng-geleng kepala.


"Kalau begitu boleh dong Jasmin ikut wushu dan enggak perlu pakai kerudung, Bu." ungkap Jasmin dengan mata berbinar-binar sebab merasa rencananya berhasil.


"Enak saja. Kau harus tetap berjilbab. Ada ataupun tidak ada rambut di kepalamu. Kau sudah besar Jasmin, bagaimana sebenarnya cara berpikirnya? Ayah dan Ibu sudah mengajarimu banyak hal. Mana yang baik dan yang buruk. Tetapi sepertinya kau tak juga paham. Aku harus bagaimana lagi mendidikmu?


Kenapa kau begitu bertolak belakang dengan Riu? Dia bisa jadi anak manis yang membanggakan. Kau tahu, Riu itu anak laki-laki tapi ia tidak pernah membuta masalah. Beda sekali denganmu. Anak perempuan tapi selalu saja mencari masalah sehingga kepala ibumu rasanya mau pecah. Aku pusing Jas, aku benar-benar lelah menghadapi sikapmu." Yasmin mulai meratap.


"Ibu, aku ini anakmu, kenapa selalu saja membandingkan ku dengan Riu. Kalau ibu ingin punya anak seperti Riu ya jadikan saja dia anak ibu!" kata Jasmin dengan raut wajah kesal.


Bukan tanpa sebab ia bersikap seperti itu. Jasmin sebenarnya sudah jenuh terus-menerus dibandingkan dengan Riu. Memang benar Riu tidak suka membuat masalah. Ia adalah anak manis yang selalu disukai oleh semua orang kecuali oleh Jasmin sebab bagi gadis itu, Riu hanyalah seorang anak yang suka memaksakan kehendak. Sangat menyebalkan sekali!


"Kau tidak sopan bicara seperti itu pada ibumu!" ungkap Yasmin.


"Yas, sudahlah." pinta Qret.

__ADS_1


"Sudah apa? Anak ini memang sangat menyebalkan." kata Yasmin lagi.


"Terus saja ibu berkata begitu padaku. Memangnya bagus mengatakan anaknya sendiri menyebalkan?" Jasmin mulai kesal, ia keluar dari kamarnya meski ibunya masih mengomelinya.


"Jasmin, kau mau kemana?" teriak Yasmin dari dalam kamar.


"Mau pergi. Aku tidak ingin tinggal di sini lagi sebab ibu tidak sayang padaku!" seru Jasmin.


"Lihat gadis itu, benar-benar keras kepala. Pasti karena mas terlalu memanjakannya." ungkap Yasmin, mulai menyalahkan suaminya.


"Kau juga memanjakan Riu, tapi dia tidak keras kepala, kan?" Qret mencoba mencandai istrinya. "Sudah, jangan diambil hati. Namanya juga anak remaja. Masih labil. Kita harus sabar mendampinginya. Jangan sampai ia melakukan hal-hal yang dilarang agama. Kita kawal dia dengan cinta."


"Bagaimana caranya mengawal dengan cinta?"


"Kau benar-benar tidak tahu bagaimana caranya?"


"Enggak."


"Enak sekali jadi Jasmin. Bisa saja kita memperlakukannya seperti itu, asal tidak ada hisab nantinya di akhirat. Bisa?"


"Hahaha, kau ini ada-ada saja Yasmin." tawa Qret langsung pecah mendengar kalimat terakhir istrinya.


***.


Gadis itu cemberut. Ia keluar dari rumah dengan begitu kesalnya. Lagi-lagi ibu membandingkan dirinya dengan Riu. Si ustadz kebanggaan ibu Yasmin.


"Jasmin!" panggil Riu saat Jasmin melintas di depan rumahnya.


Bukannya berhenti, saat melihat Riu keluar, Jasmin buru-buru pergi. Ia tidak mau berbicara dengan Riu sebab hatinya masih panas. Tetapi yang membuta Jasmin makin kesal karena Riu masih mengikutinya, bahkan berusaha mengejar langkah Jasmin.


"Kau mau apa lagi?" tanya Jasmin dengan nada ketus.


"Ada apa dengan rambutmu, Jas? Riu menunjuk rambut pendek Jasmin.

__ADS_1


"Kenapa? Kau kaget? Hei, bukannya kak tak suka melihat aurat wanita? Kau kan selalu berisik menyuruhku menutup aurat. Sekarang rambutnya sudah aku gunting pendek. Apa kau puas? Atau mau aku botakin sekalian?"


"Jas,"


"Apa?"


"Maafkan aku!"


"Sudah terlambat. Ibuku sudah marah-marah. Tahu sendiri kan bagaimana marahnya ibu. Sangat menyebalkan sekali. Selalu membandingkan aku denganmu. Lagian kau ini kenapa sih? Jadi anak laki-laki kenapa tidak mau nakal sedikit saja supaya aku tak terlalu jomplang bila denganmu?"


"Maafkan aku, Jasmin."


"Sudah, jangan minta maaf lagi. Lama-lama aku tambah kesal nanti."


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Traktir aku bakso, lah!"


"Baiklah!" dua orang remaja itu segera berlalu menuju warung bakso favorit mereka. Setelah pesanan datang, Jasmin buru-buru menghabiskan, tetapi Riu memulai dengan sejuta ritual yang selalu ia lakukan. Cuci tangan, berdoa, makan pekan dan sebagainya sehingga membuta Jasmin tidak sabar.


"Riu, apa kau tak ingin melakukan sesuatu hal yang bisa membuat ibuku marah sehingga ia tahu bahwa aku tidak terlalu bandel." ungkap Jasmin.


"Kenapa tidak kau saja yang berubah menjadi lebih baik lagi." pinta Riu.


"Ahhhh kau ini. Membosankan sekali. Apa kau tahu bahwa hidup itu cuma sekali. Jadi jangan sampai lupa untuk bersenang-senang."


"Justru karena hidup di dunia sekali, Jasmin. Kau tidak boleh menyia-nyiakannya dengan berbuat sesuka hatimu. Ingat Jasmin, bahwa semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan. Jangan sampai apa yang sementara ini membuat kita menyesal nantinya. Kau mau kehidupan yang kekal nanti malah masuk neraka gara-gara sikapmu yang ingin bersenang-senang di dunia.


Lagipula apa kau tak kasihan pada paman Qret dan bibi Yasmin? Orang tuamu sudah berusaha melakukan yang terbaik, kau malah berbuat seenaknya. Lihatlah usaha keras ayah dan ibumu. Ayahmu sudah menjalani proses hijrah yang begitu berliku. Sedangkan ibumu berjuang keras berada di sisi ayahmu untuk mensupportnya. Semua yang mereka lakukan demi bisa bersama lagi di surga dengan keluarganya, salah satunya kau, sebagai anak tunggal mereka. Tetapi dengan sikap seperti ini, aku malah takut kaulah yang membuat ayahmu masuk neraka.


Kau sudah remaja Jasmin. Sudah punya buku amalan sendiri. Jangan pernah melalaikan itu semua. Apa kau paham itu?"


"Iya, iya. Ustad Riu." Jasmin geleng-geleng kepala. "Lebih baik makan saja. Kalau bicara denganmu membosankan. Yang dibahas akhirat terus. Aku kan masih muda. Jadi tolong saat bersamaku jangan kumat lagi jiwa ustadmu. Aku bosan!

__ADS_1


__ADS_2