GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
11. Pulang Bersama Paman


__ADS_3

Jasmin turun dari mobil pamannya, tapi ia tak langsung masuk, menunggu hingga akhirnya pamannya juga turun meski tampak ragu sebab masih takut untuk bertemu dengan Yasmin, perempuan yang pernah dicintainya, namun akhirnya memilih menikah dengan saudara tiri yang sempat dibencinya.


"Ayo paman!" seru Jasmin, sambil melambaikan tangannya, sebagai isyarat agar pamannya bersegera. "Paman, ayo!" Jasmin terpaksa menarik lengan pamannya sebab lelaki itu masih berdiri di samping mobilnya.


"Kamu yakin tak apa-apa. Bagaimana kalau ibumu marah dan mengusirku?" tanya Jimmi. Ia menyadari betapa banyak dosa yang dibuatnya hingga tak pantas mendapatkan maaf dari Yasmin. Jimmi juga masih ingat bagaimana ia pernah mengejek perempuan yang dicintainya itu sebab kedua kakinya cacat. Sebenarnya Jimmi tak ingin melakukan itu semua, dalam hatinya pun ada perasaan sedih saat melihat kondisi Yasmin, tetapi Jimmi terlanjur terbakar api cemburu hingga ia melakukan hal-hal yang melampaui batas. Yang ada di benaknya hanya bagaimana agar Yasmin menyesali pernikahannya. Menyesal karena tidak memilih dirinya sebagai suami.


Tetapi seiring berjalan waktu, Jimmi menyadari bahwa ia memang tak lebih baik dari Abang tirinya. Qret memang lebih pantas untuk Yasmin. Meskipun Qret ounya masa lalu kelam, tapi ia telah menutup kisah hidupnya dengan menjadi orang baik. Bahkan kini Jimmi yang merasa malu, apakah ia pantas mendapatkan maaf. Hanya saja ia harus menemui Yasmin, meminta sendiri maaf dari perempuan yang menjadi kakak iparnya sebab hatinya belum tenang jika belum dapat maaf.


"Paman, ayo! Jangan pikirkan bagaimana tanggapan ibuku. Lagipula paman kan sudah bertekad akan minta maaf pada ibu, cepat atau lambat paman harus melakukannya, jadi kenapa harus ditunda-tunda.


Lagipula paman sendiri kan yang mengatakan kalau ibuku itu adalah perempuan yang baik dan lembut. Jadi tak perlu takut meskipun kenyataannya sekarang ini, setelah punya anak, ibu berubah agak sedikit cerewet." kata Jasmin, sambil menarik paksa pamannya agar mau bergerak.


"Nah yang terakhir. Seperti yang kau katakan Jasmin, sejujurnya aku juga takut diamuk ibumu. Biasanya orang yang tak pernah marah, sekali marah maka akan berubah jadi menyeramkan. Iya, kan?" tanya paman Jimmi.


"Hahaha, benar sekali paman. Tapi percayalah, meski ibu marah, sebenarnya hatinya sabgay baik. Aku saja sering dimarahi ibu, makanya sekarang jebak. Hahaha." Jasmin tertawaan, tapi kemudian ia kembali menyeret pamannya.


Sesuai kesepakatan, Jasmin akan masuk terlebih dahulu untuk melihat kondisi ibunya, setelah itu ia akan menyuruh pamannya masuk jika kondisi sudah memungkinkan. Sementara Jasmin masuk, pamannya menunggu di luar.


Langkah Jasmin terhenti saat mendapati orang-orang yang ramai di rumahnya. Ada ibunya, Ren, ibu mertuanya, paman Deni, bibi Riana dan Riu. Raut wajah semuanya tampak tegang, seperti baru saja melewati perdebatan panjang, atau mungkin adu mulut. Saat itulah Jasmin berpikir bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengajak pamannya bertemu dengan ibu. Makanya Jasmin akan berbalik, menemui pamannya di luar, tetapi langkahnya langsung terhenti dengan sebuah panggilan.


"Jasmin!" seru bibi Riana.


"Jas, kamu sudah pulang?" ibu Alifa mendekat ke arahnya. "Kamu baik-baik saja, nak?" tanya ibu Alifa sambil memegang kedua pipi Jasmin.

__ADS_1


"Ya, aku baik-baik saja." Jasmin memaksakan senyum, ia sebenarnya ingin cepat-cepat keluar sebelum ada yang melihat kehadiran pamannya.


"Dari mana saja kamu?" tanya Ren dengan dinginnya.


"Dari ...." Jasmin tak berani menjawab, ia hanya melirik ke arah Riu, berharap lelaki itu bisa menolongnya. Tetapi Jasmin juga ragu, kalau Riu bercerita mereka baru ketemuan dan ia curhat pada Riu tentang suami dan rumah tangganya, bisa-bisa Ren akan semakin dingin padanya.


"Jas, siapa itu di luar?" tanya Yasmin pada putrinya.


"Oh tidak. Ibu sudah melihat bayangan paman Jimmi lewat jendela. Bisa-bisa paman Jimmi dikeroyok oleh semua orang, apalagi ada bibi Riana." gerutu Jasmin dalam hatinya.


"Itu hanya ...." Jasmin berpikir keras, mencoba mencari alasan, tapi tak ketemu juga.


"Biar aku lihat," kata Ren, ia hendak keluar, tapi ditarik oleh Jasmin sehingga membuat Ren bingung sekaligus curiga. "Kenapa?"


"Nggak apa-apa. Biar aku saja, itu hanya paman-paman yang ...." Jasmin masih kebingungan.


"Jimmi?" kata Riana secara spontan, saat ia ikut melengok ke luar.


"Jimmi?" Ren tampak bingung sebab asing dengan nama itu, tapi tidak untuk Riana, Deni, Yasmin dan Alifa.


"Paman ...." Jasmin langsung menghambur pada pamannya.


"Jas, apa-apaan ini?" tanya ibunya.

__ADS_1


"Itu ... Paman ingin bicara dengan ibu." kata Jasmin.


"Paman?" Yasmin menggeleng tak percaya, anaknya bisa akrab dengan lelaki yang pernah menyakitinya.


"Ya Bu, paman Jimmi." ucap Jasmin. "Paman datang ke sini mau bicara dengan ibu." kata Jasmin.


"Tak ada yang harus dibicarakan." jawab Yasmin, tanpa mau melihat ke arah Jimmi.


"Bu, please. Paman sudah lama ingin menemui kita. Ada banyak hal yang ingin disampaikan paman. Bicaralah dengan paman. Tolonglah Bu." Pinta Jasmin.


"Jasmin, kau tak tahu apa-apa. Jadi jangan paksa Yasmin bicara dengannya. Kau juga jangan dekat-dekat dengannya. Ia bukan pamanmu." kata Riana yang masih gemas pada Jimmi sebab ia pernah jadi korban jebakan ibunya Jimmi.


"Aku tahu bibi. Ayah menceritakan semuanya padaku." ungkap Jasmin.


"Orang ini sudah menjahati ayahmu." tambah Riana.


"Tapi ayah sangat menyayanginya. Bahkan ayah berharap agar kelak aku bisa bertemu dengan paman. Itu tandanya ayah tidak membenci paman. Ayah sayang pada paman sebab paman Jimmi adalah saudara ayah." ungkap Jasmin lagi. "Semua orang pernah melakukan kesalahan bibi, tapi kita tak berhak menghukumnya. Biarkan itu jadi urusan Tuhan. Tugas kita hanya berbuat baik." tambah Jasmin lagi.


"Jas, kalau ibumu belum mau bicara denhanku, tak apa-apa. Tidak usah dipaksakan. Aku tahu, terlalu banyak kesalahan yang aku lakukan, jadi wajar jika ibumu butuh waktu untuk mau mendengarkan aku. Bahkan tidak mengapa jika selamanya ia tak mau mendengarkan aku. Kau baik-baik, jaga diri. Paman akan sangat merindukanmu. Aku sangat menyayangimu." kata Jimmi, sambil menepuk pelan pundak Jasmin, lalu hendak beranjak dari rumah itu.


"Paman!" Panggil Jasmin.


"Aku akan pergi, aku tak akan muncul lagi di hadapan kamu. Jaga dirimu baik-baik!" Jimmi memaksakan senyum pada keponakannya tersebut.

__ADS_1


"Paman mau kemana? Paman jangan pergi. Aku masih butuh paman!" ungkap Jasmin. "Paman kan sudah janji akan menjagaku, kenapa tiba-tiba hendak meninggalkan aku begitu saja? Apa paman akan melanggar janji paman sendiri? Jangan begitu. Abaikan saja bibi Riana dan yang lainnya, tak usah pedulikan. Toh paman berinteraksi denganku saja. Tolonglah jangan pergi paman!" pinta Jasmin lagi.


"Anak baik, kau sudah besar, sudah menikah. Sudah ada yang menjagamu. Kau harus baik-baik. Maafkan jika aku mengecewakan kamu lagi. Kelak, semoga aku bisa punya kesempatan untuk menebusnya!" Jimmi kembali menepuk pelan pundak keponakannya, lalu berbalik.


__ADS_2