GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
32. Kabar Gembira


__ADS_3

Belum sempurna motor terparkir, tapi aku sudah berteriak memanggil ibu. Rasanya sudah tidak sabar memberitahu kabar gembira ini. Mendengar suaraku, ibu tergopoh-gopoh keluar rumah diikuti oleh Riana yang sedang datang berkunjung. Dari celemek dan sendok sayur yang dipegang Riana, aku yakin kalau teman kecilku itu sedang belajar masak pada ibu.


Akhir-akhir ini Riana memang sering berkunjung untuk belajar masak. Ada begitu banyak jenis masakan yang mereka olah. Mulai dari kue kering, kue basah, sayuran, lauk. Saking seringnya, aku sampai kewalahan disuruh memakannya.


"Ada apa Qret?" tanya ibu dan Riana, kompak.


"Qret punya kabar gembira!" kataku, sambil mengajak ibu menari sambil berputar-putar.


"Qret, ada apa?" wajah ibu yang semula panik karena panggilanku sedikit tenang sebab melihatku ceria.


"Bu, coba tebak kabar gembira apa yang akan Qret sampaikan?" ucapku.


"Ya mana ibu tahu, memangnya ibumu ini peramal yang tahu isi hatimu?" cetus ibu.


"Ya jangan. Qret nggak mau ibu jadi peramal. Syirik!" aku berkara tegas.


"Lalu ada apa Qret?" Riana ikut penasaran. "Baru kali ini aku melihatmu sebahagia ini? Apa kamu menang lotre? Atau gajinya naik tiga kali lipat?


"Lebih dari itu Riana," cetusku.


"Wow, keberuntungan apa yang kau dapat. Ayo ceritakan Qret!" pinta Riana.


"Iya Qret, katakanlah. Ibu juga sangat penasaran. Tadi ubh deg-degan sekali saat mendengar panggilan mu. Sekarang ceritakan agar ibu tenang." pinta ibu.


"Dengar baik-baik ya ... aku akan menikah!" seruku. "Yasmin menerima lamaranku!" aku melonjak seperti anak kecil yang baru mendapatkan hadiah es krim.


"Apa? Beneran, Qret?" ibu memintaku mengulang kembali apa yang kukatakan barusan. "Coba Qret, katakan lagi. Ibu mohon!"


"Iya, itu benar Bu. Yasmin bersedia menikah dengan Qret!" aku mengulang kembali berita gembira itu.


Prakkk. Sendok yang dipegang oleh Riana jatuh, membuatku dan ibu tersadar jika di sini ada orang lain, selain kami berdua. Gadis itu, eskpresinya berubah. Sulit untuk kupahami.


"Riana, maaf kami jadi tidak mempedulikanmu," ibu buru-buru mengambilkan sendok yang jatuh ke lantai. "Bibi harap kau tidak tersinggung. Bibi benar-benar bahagia dengan kabar yang dibawa Qret, makanya sampai lupa." ibu mengusap pundak Riana. "Dari awal bibi sangat berharap bisa segera mendengar berita lamaran Qret di terima sebab itulah harapan bibi, melihat Qret menikah dengan Yasmin."


"Bi ...," Riana melihat ibu dengan tatapan yang tidak biasa.


"Bibi juga berdoa agar kau segera menemukan jodohmu." ucap ibu.

__ADS_1


"Aku juga berdoa yang sama Riana!" aku berseru, sambil mengepalkan satu tangan ke atas.


"Kalau begitu aku pulang dulu," Riana memberikan celemek dan sendok pada ibu, lalu berlalu begitu saja.


"Riana ... Riana. Hei Riana!" aku memanggil, tetapi Riana seolah tidak mendengar. "Kenapa dia, Bu."


"Riana," ucap ibu.


"Kenapa dia, bukannya memberi selamat malah pergi begitu saja. Anak itu benar-benar!" aku geleng-geleng kepala melihat ulah Riana tadi.


"Ya Tuhan ...." ibu menutup mulutnya dengan kedua tangan. "Semoga saja itu tidak benar."


"Ada apa, Bu? Ibu mengerti kenapa Riana jadi aneh seperti itu?"


"Tidak Qret. Semoga ibu salah."


"Salah kenapa?"


"Riana," ibu menunjuk ke arah Riana pergi. "Ahh sudahlah. Ayo kita masuk, ceritakan pada ibu bagaimana Yasmin bisa menerima lamarannya. Kenapa tidak memberitahu ibu bahwa kamu akan melamarnya. Lalu kapan akan mengenalkan Yasmin pada ibu, kan ibu juga ingin melihat wajah calon menantu ibu!" tanpa koma, ibu terus memberondong dengan banyak pertanyaan.


"Ah Qret, kamu membuat ibu semakin penasaran."


"Makanya sabar Bu, besok rasa penasaran ibu akan terjawab."


"Lalu selanjutnya apa yang harus kita lakukan, Qret?" Tanya ibu, sambil menghidangkan secangkir coklat hangat untukku.


"Besok kita ke rumah Yasmin untuk melamarnya. Kalau ibu tidak keberatan kita ajak ayah juga."


"Ayahmu? Benarkah Qret, kamu ingin ayah ikut?"


"Iya Bu. Walaupun dulu kita punya masa lalu yang tidak menyenangkan, tapi Qret sudah memaafkan semuanya. Sekarang kita mulai lagi dari awal, apalagi ayah juga sudah bertaubat."


"Qret, ibu sangat senang dan bersyukur sekali mendengarnya!" ibu memelukku erat.


"Ibu juga temani Qret ya, membeli perhiasan sebagai simbol lamaran untuk Yasmin."


"Tentu saja nak, ibu pasti akan menemani."

__ADS_1


Untuk menghemat waktu, sebelum langit berwarna gelap, aku dan ibu berencana pergi membeli perlengkapan lamaran.


Sebelum pergi aku menyempatkan diri untuk mandi sebab rasanya badan sudah gatal-gatal. Tadi saat bekerja, aku sempat membantu montir membetulkan mobil pelanggan yang banyak bermasalah.


Meskipun menjabat sebagai manager, terkadang aku juga terjun langsung bersama para montir untuk memperbaiki mobil pelanggan. Apalagi kalau masalahnya cukup rumit seperti tadi, maka kepala montir akan minta bantuan ku. Mereka memang sudah tidak sungkan untuk meminta bantuan karena sejak awal aku sendiri yang menawarkan.


"Bagaimana, anak ibu sudah tampan belum?" kataku, sambil berputar di hadapan ibu.


"Tentu saja tampan. Tidak ada tandingannya!" ungkap ibu.


"Ibu sudah siap?"


"Siap nak!"


"Kalau begitu ayo kita berangkat!"


Aku dan ibu berangkat naik motor menuju salah satu mall di Jakarta Selatan. Sepanjang jalan kami bercerita panjang lebar tentang rencana pernikahan yang akan dilaksanakan bulan depan.


Ibu berharap, setelah menikah nanti aku pindah rumah. Tidak tinggal di rumah milik paman Rudi lagi. Bahkan harus berjarak. Entah apa alasannya, kata ibu itulah yang terbaik untukku nantinya.


"Ibu harap kamu juga jarak dengan Riana, Qret." kata ibu, saat kami berhenti di lampu merah.


"Kenapa Bu?" aku menoleh ke arah ibu.


"Tidak apa-apa. Ibu hanya berharap agar kalian jaga jarak. Toh dalam Islam juga tidak bolehkan antara laki-laki dan perempuan dewasa yang bukan mahram terlalu dekat?"


"Yang dikatakan ibu memang benar. Meskipun aku dan Raina sudah seperti saudara, tapi tetap saja kami tidak ada hubungan darah, jadi harus ada jarak.


Mungkin memang akan sudah di awalnya, mengingat Riana juga belum paham dengan apa yang dijelaskan ibu tadi, tetapi aku juga harus mulai memberikan pemahaman padanya. InsyaAllah, pelan-pelan semua akan mengerti. Toh sekarang paman Rudi juga sudah mulai hijrah, ia akan membantuku memberitahu Riana.


Lampu kembali hijau, aku melajukan motor. Menuju town square. Waktu sore seperti ini tidak terlalu padat, jadi kami bisa belanja tanpa harus berdesakan.


Setelah memarkir motor, kami masuk ke dalam. Di depan pintu masuk, ada ayah sedang berdiri. Meskipun ia memakai kaca mata hitam dan topi yang agak menutup wajah, tapi aku bisa langsung mengenali. Begitu melihat kami ia langsung tersenyum.


"Bu?" kataku, meminta kejelasan sebab tadi tidak ada pembicaraan akan mengajak ayah ikut serta. Ini hanya antara aku dan ibu.


"Qret, tidak apa-apa ya, ibu mengajak ayah?" bisik ibu, sambil menatapku dengan penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2