GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
59. Surat Dari Riana


__ADS_3

"Paman, tolong pergilah!" pintaku, dengan suara lemah namun bernada tegas. Aku sungguh tidak sanggup lagi bicara ataupun mendengar permintaannya untuk menghukum dari lisan lelaki yang sudah mengangkatmu dari jalanan, memberiku tempat tinggal, makanan bahkan kehidupan yang bisa dibilang sangat layak.


"Baiklah Qret, aku mengerti, kau butuh waktu. Ini untukmu, Riana yang menulisnya, sebagai ganti sebab ia tidak mampu datang melihatmu." paman Rudi meletakkan sebuah surat dengan amplop warna putih di atas meja. Lalu pamit padaku.


Ya Tuhan, mengapa serumit ini? Apakah aku akan sanggup menghadapinya?


Pelan, dengan tangan bergetar, kuambil surat itu. Lalu berlalu menuju sel tahanan.


Tangan ini masih bergetar, meskipun surat itu kini sudah berada di lantai. Tidak sanggup aku membukanya. Entah apa yang dituliskan Riana di sana.


Oh Riana, mengapa semua harus berakhir seperti ini? Mengapa kau bodoh sekali? Mengapa juga harus jatuh cinta padaku? Apa yang kau lihat dariku, Riana? Kau tahu betapa tidak bergunanya aku. Bahkan kau sendiri yang mengatakan, aku tidak pantas dicintai oleh wanita manapun, lalu mengapa justru kau sendiri yang jatuh cinta padaku?


Harusnya kau melihat aku sebagai seorang kakak, bukan lelaki yang harus kau cintai!


Tidak bisa kubayangkan, bagaimana Riana mengirid nadinya sendiri, gantung diri dan juga minum obat tidur untuk mengakhiri hidupnya.


Kau sungguh sangat bodoh Riana! Kalau aku dihadapannya, akan kupukul kau agar segera sadar bahwa kau tak harus melakukan itu semua demi aku sebab aku bukan siapa-siapa Riana. Tidak ada yang istimewa dariku!


Kembali, aku membasahi wajah dengan air wudhu, mengerjakan salat Sunnah dua rakaat, lalu larut dalam zikir dan doa-doa agar hati ini tenang. Namun bayangan gadis itu tidak kunjung hilang dari ingatanku.


Riana kecil, gadis berkuit kuning langsat dengan rambut sebahu yang terlihat kusut sebab jarang disisir. Ia tersenyum saat ayahnya membawaku ke rumah mereka. Riana langsung berbagi semua yang ia miliki.


Kamar tidurnya rela diberikan padaku, sementara ia tidur dengan ayahnya.


Lalu mainan, pakaian, bahkan makanan. Riana tidak pernah pelit memberiku. Katanya, ia bahagia sejak aku datang ke rumahnya sebab sekarang punya teman.


Kami selalu menghabiskan waktu bersama. Riana yang bisa bela diri selalu siaga jika ada anak-anak nakal yang menggangguku. Termasuk kala kepalanya bocor sebab melawan beberapa anak laki-laki yang lebih besar dari kami.


Qret, surat ini kutuliskan dengan hati yang sudah hancur berkeping-keping. Aku tidak berani membayangkan, sekarang, seberapa bencinya kau kepadaku, yang aku tahu, aku bersalah padamu dan harus mendapatkan ganjaran untuk semuanya.


Qret, saat itu usiaku lima belas tahun, saat pertama aku merasa sebuah rasa yang tidak biasa kepada seorang lelaki, ialah kamu Qret. Satu-satunya lelaki yang begitu menjagaku setelah ayah.


Kau ingat Qret, saat aku pulang sekolah dan kebasahan di jalan. Waktu itu kau datang menjemput. Melihat kondisiku, kau langsung melepas pakaiannya sebab khawatir bajuku yang tipis akan memperlihatkan tubuhku. Kau begitu melindungiku Qret, itulah yang membuatku amat menyayangimu.


Qret, aku adalah gadis yang malang. Terbiasa dalam kesendirian, tetapi sejak ada kau, aku merasa hidupku tidak sepi lagi. Kau selalu ada, mendengarkan kata-kataku.

__ADS_1


Qret, luka itu muncul kala aku tahu kau mengistimewakan seseorang. Gadis itu, yang namanya juga kau ingat. Sakit sekali hatiku saat tahu, kau membuntutinya, menjaganya, mencari tahu segala tentangnya.


Aku cemburu, Qret. Tapi kau tidak peduli itu. Aku tidak menyalahkanmu Qret, masih


berharap, cepat atau lambat kau akan mengakhiri hubungan dengannya, lalu kembali menjadi Qretku yang dulu. Hanya peduli padaku, satu-satunya.


Tetapi harapanku rupanya tidak terkabul, sebab malam itu kau memberi kabar akan melamarnya. Sakit sekali rasanya, bahkan aku berharap Tuhan mencabut nyawaku saat itu juga.


Lalu nyonya jahat itu datang di saat aku benar-benar putus asa. Ia memberiku janji manis, akan mendapatkan Qretku kembali dengan meletakkan barang-barang haram itu di rumah. Akupun menurut saja, mungkin karena bodoh dan buta karena cinta yang begitu besar padamu.


Aku menyesal Qret, sangat menyesal setelah menyadari apa yang sudah kulakukan. Sebenarnya aku mencoba untuk melaporkan diri pada polisi, tetapi ayah melarangku. Aku mengerti, sebab akulah satu-satunya harapannya di dunia ini.


Qret, bukannya aku tidak mencoba membunuh perasaan ini. Aku tahu, kita pernah berjanji untuk selalu menjadi saudara hingga akhir hayat. Tetapi karena aku begitu lemah, Qret. Makanya aku tidak bisa berbuat apapun selain mengikuti hawa nafsuku.


Maafkan aku Qret. Maafkan aku ... hukumlah aku, bencilah aku, hinalah aku. Semua kuterima Qret.


Inikah pengakuanku, gadis malang yang telah berani jatuh cinta pada saudaranya sendiri. Maafkan aku.


Surat dari Riana kututup bersama air mata yang deras mengalir. Bisa kubayangkan bagaimana kecewanya ia. Dua kali merasa tertolak. Dulu oleh ibunya, dan kini olehku Sendiri.


***


"Qret, bolehkah aku tidak menjadi adikmu?" tanya Riana saat ia berusia lima belas tahun.


"Kenapa?" kataku, tanpa memperhatikan ekspresi wajahnya.


"Aku tidak suka."


"Kenapa? Karena aku tidak punya orang tua, tidak punya rumah, tidak sekolah sepertimu?"


"Bukan Qret,"


"Kalau bukan itu alasannya, lalu kenapa?"


"Aku tidak bisa memberitahu!"

__ADS_1


"Kalau begitu kau akan tetap jadi adikku sampai akhir hayatmu!"


"Tapi Qret?"


"Tidak ada tapi-tapi, sudahlah!"


"Qret, orang bilang, laki-laki dan perempuan yang tidak ada hubungan darah tidak bisa jadi saudara!"


"Kau mau mengikut kata-kata orang atau menurut padaku? Lagipula kau kan adikku, bukan adik orang-orang!"


"Qret, mungkin kita bisa jadi teman saja, dibandingkan jadi saudara?"


"Aku tidak mau Riana. Aku hanya ingin kau jadi adikku!"


"Qret!" Riana pergi dengan mata berkaca-kaca. Semula kukira karena ia malas punya saudara yang hanya seorang ketua geng, makanya ia uring-uringan.


***


"Qret, menurutmu aku cantik, tidak?" tanya Riana lagi, saat ia baru pulang sekolah, menjelang kelulusan SMA.


"Hmm, kenapa?" aku selalu menjawabnya asal.


"Kalau kau punya pacar nanti, kau mau punya pacar seperti aku, tidak?"


"Aku tidak ingin punya pacar. Aku tidak punya waktu meladeni gadis-gadis genit!"


"Dih. Ya sudah, kalau begitu istri?"


"Tidak!"


"Kenapa begitu? Kau bilang aku cantik!"


"Aku ingin punya istri yang berkerudung."


Lagi-lagi aku tidak menyadari, sore harinya Riana berkerudung seharian. Aku tidak peduli, hanya memandangnya aneh sebab gadis itu biasa berpakaian asal-asalan. Akhirnya ia melepas kembali kerudungnya karena tidak mendapatkan respon dariku.

__ADS_1


Ya Tuhan, Riana ... aku membenamkan wajahku. Berharap beban ini hilang, atau setidaknya berkurang. Mengapa semua jadi seurmit ini. Apa yang harus kukatakan padanya nanti jika kami bertemu? Lalu apakah ia bisa menghadapiku? Semua benar-benar rumit.


__ADS_2