GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
118. Tuduhan Yasmin


__ADS_3

Langit mulai berwarna keemasan. Sebenarnya aku ingin meluapkan isi hati dengan berteriak, tetapi melakukannya di sini sama saja cari masalah sebab banyak orang-orang yang lalu-lalang.


Kuputuskan untuk membeli makanan di cafe terdekat. Beberapa potong roti, buah dan coklat. Orang bilang kalau makan coklat maka dapat merubah suasana hati kita. Semoga saja itu benar sebab aku tidak ingin terus-menerus gelisah karena kecurigaan Yasmin tadi. Lagi pula apa dasarnya?


Aku dan Alifa hanya berkomunikasi untuk mengurus kasus tabrak lari yang ia alami. Tidak ada hal-hal aneh.


Usai membeli makanan, aku segera kembali ke kamar Yasmin. Tapi di sana tidak kudapati ia. Kamar kosong, begitu juga kamar mandi. Kemana Yasmin?


"Suster, apa anda melihat istri saya?" tanyaku pada perawat yang sedang berjaga dengan bahasa Inggris seadanya. Untung saja perawat tersebut berdarah Melayu sehingga sedikit-sedikit ia paham apa yang aku tanyakan.


Sayangnya ia tidak tahu dimana keberadaan Yasmin, tetapi ia mau membantuku mencarikan Yasmin. Kami berdua mencari, mencari ke seluruh penjuru rumah sakit.


Memang aku bersalah, harusnya dalam keadaan seperti ini tidak meninggalkan Yasmin sendirian. Ia sedang sensitif. Sikapku tadi justru akan membuatnya semakin curiga bahwa memang ada sesuatu antara aku dan Alifa. Padahal maksudku menghindarinya agar kami sama-sama tidak terpancing lebih jauh lagi. Aku ingin kami sama-sama menyadari bahwa ini hanya kesalah pahaman. Lalu sama-sama meredakan emosi masing-masing.


"Yas!" tatapanku nanar melihat Yasmin sedang duduk di kursi rodanya, hanya beberapa meter dari jalan raya. Secepat kilat aku menyambar kursi tersebut agar ia tidak bertindak nekat. "Kau ... apa yang kau lakukan di sini? Kau mau mati? Kau mau membuatku semakin menderita?" tanyaku dengan rentetan emosi.


Yasmin diam saja, tetapi matanya yang berkaca-kaca membuatku yakin bahwa ia tidak baik-baik saja. Ada apa dengannya? Mengapa ia jadi semakin aneh seperti ini?


Apa Yasmin ingin bunuh diri? Tindakan gila yang tidak pernah kubayangkan bisa muncul di pikiran Yasmin, gadis saliha yang membuatku menemukan cinta sejati, cinta yang lebih Agung.


"Ya Tuhan, Yas!" kini aku yang menangis di hadapannya. Tidak peduli dengan orang-orang yang lalu-lalang, memperhatikan kami penuh dengan tanda tanya.


"Aku ingin bertemu ibu." katanya pelan, nyaris tidak terdengar olehku.


Ibu? Bertemu dengan orang yang sudah tidak ada di dunia ini, bukan berarti harus menghabisi nyawa sendiri.

__ADS_1


"Kita ke kamar sekarang!" kataku, lalu mendorong kursi rodanya menuju kamar.


Entah bagaimana caranya Yasmin turun dari tempat tidur lalu keluar dengan kursi rodanya. Tapi yang jelas, apa yang terjadi hari ini membuatku sadar bahwa aku tidak boleh meninggalkan ia, apalagi saat kamu sedang bertengkar. Dia sedang labil saat ini, berani memutuskan ingin mengakhiri hidupnya berarti Yasmin sudah berada di titik terendahnya.


Sampai di kamar, aku mengangkat Yasmin ke tempat tidur, lalu membuatkan teh hangat untuknya.


"Minumlah." kataku. Pelan, aku membantu Yasmin menghabiskan teh tersebut. "Mau makan? Ada roti dan buah. Atau mau makan yang lain?" tanyaku lagi.


Yasmin tidak merespon sama sekali, ia memilih berbaring, memejamkan matanya sementara bulir bening itu mengalir deras di kedua pipinya.


"Kau mau coklat? Tadi aku membelinya. Kata orang coklat bisa membuat perasaan kita lebih baik." aku mengulurkan coklat ke hadapan Yasmin.


"Apa ini?" tanyanya .


"Coklat."


"Iya."


"Mas tahu aku tidak suka coklat. Alifa yang suka coklat!"


Oh Tuhan, salah lagi. Rasanya ingin masuk ke perut bumi, atau terbang sebentar ke bulan lalu kembali saat suasana hati Yasmin sudah membaik. Aku benar-benar lupa bahwa ia tidak suka coklat, bukan karena teringat Alifa, tapi sebuah ketidak sengajaan.


"Mas benar-benar jahat. Apa maksudnya melakukan itu?" tanya Yasmin.


"Yas, plis." kataku, sebab sudah merasa mulai lelah. Sangat lelah sekali.

__ADS_1


"Aku tahu, aku tidak lagi berarti bagi, mas. Sudah ada seseorang yang bisa menggantikan posisimu di hati mas. Dia memang jauh lebih baik dariku dalam segala hal. Jadi tolong sekarang, antarkan aku pulang. Aku ingin tinggal berdua dengan ayah saja." Yasmin mulai menangis tersedu-sedu.


Ini pertama kalinya Yasmin bersikap seperti ini, ngambek dan mulai menunjukkan kecemburuannya dan sialnya, ini pertama kali pula aku berada di situasi seperti ini. Tentu saja aku bingung, harus melakukan apa.


"Aku mau pulang!" Yasmin menunjukkan keseriusan atas apa yang ia minta. Dengan susah payah ia berusaha bangkit dari tempat tidur, untung saja aku meletakkan kursi rodanya di dekat pintu sehingga ia sulit untuk menggapai. "Mas, tolong bantu ambilkan kursi roda itu "


"Tidak Yas. Kamu tenangkan diri dulu, setelah itu kita bicara." kataku.


Aku kembali duduk di sofa, berusaha mencari cara, mengatur kalimat demi kalimat yang harus aku utarakan dengan harapan dapat meredam emosi Yasmin. Sementara Yasmin sendiri masih menangis sejadi-jadinya.


Ya Tuhan ... ternyata begini sulitnya menghadapi perempuan. Bilang a salah, b juga salah. Seperti makan buah simalakama, padahal sebenarnya tidak ada kesalahan yang aku lakukan. Dalam kondisi seperti ini mana bisa aku mengingat apa yang ia suka dan tidak suka. Tapi ternyata ini sangat fatal sekali.


Aku mengira dengan menikahi Yasmin, tidak akan pernah menghadapi hal-hal rumit layaknya permasalahan rumah tangga yang biasanya dihadapi hampir sebagian pasangan suami istri, yaitu tentang kesalah pahaman akibat salah menanggapi istri.


Yasmin yang dulunya apa adanya, tidak rumit dan terlihat sangat berbeda sekali dengan kebanyakan perempuan lainnya, ternyata punya sisi yang sama dengan perempuan lainnya. Yah, itu berarti pertanda bahwa ia benar-benar wanita.


Baru saja aku hendak bicara setelah melihat tangis Yasmin mulai reda, tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara panggilan telepon.


"Dari Alifa!" kata Yasmin, sambil melirik Hp yang berada di meja sebelah tempat tidurnya.


Habislah aku. Sudah tamat semuanya. Kalimat terbaik yang tadinya sudah ku rangkai kini hilang, tanpa sisa sedikitpun.


"Kenapa tidak diangkat?" tanyanya.


"Percuma, aku angkat juga kamu pasti akan marah. Tidak diangkat juga pasti akan dituduh macam-macam. Sudahlah!" jawabku, tentunya di dalam hati. Mana berani aku menabuh genderang perang dengan meladeni amarah Yasmin yang tidak pernah ku sangka bisa seperti ini.

__ADS_1


"Kok mas diam saja?" tanyanya lagi, tentu saja dengan nada bicara sinis. "Oh, enggak mau jawab karena ada aku di sini? Anggap aja aku enggak ada mas. Atau jawab di luar supaya mas puas bicara dengannya."


"Kalau kamu mau tahu apa yang ingin disampaikannya, kamu saja yang angkat. Aku sudah malas. Tidak mau nyari masalah." jawabku, sambil membaringkan diri di atas sofa.


__ADS_2