
"Siap melanjutkan perjalanan kembali?" aku masuk ke mobil sambil memamerkan senyum termanis, setelah perasaan lega sebab sudah puas menangis. Kadang memang kita butuh untuk mengeluarkan air mata demi menjaga hati yang tetap tenang.
Tidak ada jawaban, saat kulihat satu persatu, rupanya kini mereka yang gantian menangis.
"Hai, ada apa ini? Ayah, ibu ... Yasmin?" aku tersenyum geli.
"Mas jahat!" ungkap Yasmin. "Sudah puas membuat kami jadi sedih?"
"Lho, bukan seperti itu maksudku. Maaf ... maaf kalau jadi pada sedih. Maaf sekali!" aku menautkan kedua tangan di depan dada.
Buru-buru aku kembali keluar dari mobil, lalu menuju salah satu swalayan di rest area untuk membeli beberapa bungkus makanan dan minuman, lalu kembali ke dalam mobil.
"Ayo sambil ngemil, supaya tidak ada yang baper lagi." candaku.
Mobil kembali melaju, kini kami sudah memasuki perbatasan Bogor. Udara mulai terasa dingin, apalagi mendekati area puncak. Aku sampai harus kembali berhenti untuk memakai jaket.
Kami juga sempat berhenti untuk membeli jagung bakar, ubi rebus dan minuman untuk mengisi perut. Ucldara dingin benar-benar membuat sering lapar. Tapi aku sedikit bersyukur, wajah ayah dan ibu sudah kembali ceria lagi.
"Kita berhenti lagi ya," pintaku. "Aku lapar. Makan bakso dulu boleh?" ajakku.
Tanpa perlu meminta persetujuan, mobil berhenti di parkiran sebuah warung bakso. Aku langsung turun, memesan menu untukku dan juga ayah, ibu serta Yasmin.
"Kalau berhenti terus kapan sampainya?" ungkap ibu.
"Maaf Bu, Qret benar-benar lapar. Mungkin karena udaranya terlalu dingin " kataku.
"Makan yang kenyang mas, supaya tidak berhenti lagi." sindir Yasmin. "Jangan lupa baca doa. Kalau enggak makannya sama setan, makanya bawaannya lapar."
Aku hanya menganggukkan kepala. Sambil menghabiskan mangkok kedua. Biarlah hari ini jadi bahan bully Yasmin, asalkan tidak kelaparan.
***
Rumah pilihan ayah dan ibu benar-benar luar biasa. Meskipun hanya seukuran tipe empat puluh lima, tapi halamannya cukup luas. Rumah itu dicat warna putih. Terdiri dari tiga kamar tidur, dua kamar mandi, ruang tamu serta ruang makan dan dapur yang sangat nyaman. Ada tungku pemanas juga yang didesain ala-ala pedesaan.
Halaman rumah depan dan belakang bisa dibilang sangat luas. Halaman depan dipenuhi bunga-bunga yang tumbuh berwarna-warni. Sedangkan di halaman belakang, ada kolam ikan kecil, sudah diisi bibir ikan mas dan ikan mujair. Di sisi kanan ada kebun sayur-sayuran. Ada sayur sawi, popcay, cabe, tobat, bawang dan juga kacang panjang. Sementara di sisi kiri ada tanaman buah seperti buah naga, mangga dan jambu air yang dicangkok, serta pohon pepaya dan pisang.
Di tengah-tengah ada empat buah kursi yang melingkari sebuah kejadian kecil. Cocok untuk tempat duduk-duduk sore sambil menikmati matahari tenggelam.
__ADS_1
"Rumah yang sangat indah!" Yasmin menatap dengan pandangan takjub.
Aku pun mengakui bahwa rumah ini sangat luar biasa sekali. Cocok untuk menghabiskan masa tua. Dijamin tidak akan bosan berada di sini. Apalagi suasananya masih sangat asri.
"Siapa yang mendesain rumah sebagus ini, Bu?" kataku, sambil mengamati tiap detail ruang tamunya.
"Ayahmu. Ini hadiahnya untuk ibu. Disiapkan saat kami berpisah ketika ibu tinggal denganmu." ungkap ibu.
"Ternyata ayah luar biasa sekali." pujiku.
"Ini semua lahir karena ibumu yang sempurna di atasku. Makanya aku ingin menghadiahkan yang sempurna juga." ungkap ayah dengan penuh kebanggaan.
"Iya deh, yang selalu penuh cinta. Yas, jangan khawatir, nanti setelah kita tua, akupun akan membiarkanmu rumah yang lebih indah dari ini." kataku pada Yasmin.
"Tapi ibu tidak yakin kau akan bisa menandingi ayahmu. Sejajar saja mungkin belum bisa. Ayahmu itu lelaki yang paling romantis. Tapi hanya ibu yang bisa tahu." kata ibu.
"Qret, lihat kemari!" panggil ayah. Ia menunjuk bangunan yang letaknya lebih tinggi dari rumah ini. "Itu pesantren. Punya teman ayah. Kamu berdua tiap hari akan mengaji di sana." kata ayah penuh semangat.
"Yah, Bu ... apakah malam ini kami boleh nginap di sini?" kataku, sambil memandang pesantren yang jaraknya hanya beberapa rumah dari tempat tinggal ayah dan ibu. Jujur aku penasaran, ingin menikmati bagaimana indahnya tinggal di puncak.
"Tentu saja boleh. Ayah dan ibu u justru senang sekali kalau kalian tidak langsung pulang." kata ibu.
***
Usai belanja kami langsung kembali ke rumah ayah dan ibu. Di sana tampak seorang berpakaian Koko putih sedang berbincang dengan akrabnya bersama ayah. Ternyata itu adalah usatd Husein, teman yang ayah ceritakan tersebut. Ia datang untuk menyambut kepindahan ayah.
Usai berkenalan, aku masuk ke dalam. Tampak ibu sedang sibuk meracik makan malam untuk kami.
"Ibu mau masak apa?" tanyaku, sambil mengambik beberapa potong kentang goreng yang baru digoreng ibu. "Masakan ibu enak sekali." pujiku.
"Itukan masakan empat saji. Kau mengada-ada." ungkap ibu.
"Tidak, ini memang benar. Rasanya jadi lebih nikmat sebab ibu yang memasaknya."
Ibu hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Setelah itu ke belakang untuk menyusul Riana yang sibuk memetik cabe yang sudah merah.
***
__ADS_1
Langit sudah berwarna kemerahan. Lalu bergantian bulan dan bintang muncul berkelap-kelip. Aku dan Yasmin sudah menyiapkan tenda di depan rumah ayah dan ibu. Kami memang sudah memutuskan untuk tidur di luar sambil melihat langit. Hal yang mustahil dilakukan saat kau berada di Jakarta.
Usai salat dan makan malam, kamu berdua kembali ke dakam tenda. Sementara Yasmin menyeduh kopi, aku mulai sibuk main hp.
"Telepon dari Ramuan." kataku.
"Sini." Yasmin mau mengambil, tapi aku mengelak.
"Biarkan saja."
"Kenapa?"
"Dia mengganggu saja."
"Iiih," bukannya menurut, Yasmin malah menerima telepon dari Riana.
[Kalian dimana saja, kenapa dari tadi tidak bisa dihubungi?] Riana mengejar dengan banyak pertanyaan.
[Maaf Riana, dari tadi kami sibuk. Jadi baru lihat Hp.] jawab Yasmin.
[Kapan pulang? Ini sudah larut, lho. Sekarang sudah dimana? Amankan?] tanya Riana lagi.
[Kami tidak akan pulang, kami mau tinggal di sini!] aku menyela.
[Qret, kenapa begitu? Apa kalian serius mau tinggal di situ?] ungkap Riana lagi, ada nada cemas yang terdengar dari suaranya sehingga membuatku tertawa kecil, puas mengerjainya.
[Tentu saja Riana!] jawabku lagi.
[Tidak, itu tidak benar. Besok kami pulang kok.] Yasmin langsung menyambar, mungkin khawatir sahabatnya cemas sebab kehilangan tetangga yang menyenangkan seperti kami. Lagi-lagi tawaku lepas.
[Kau bohong, Qret?] tuduh Riana.
[Aku memang ingin tinggal di sini.] jawabku lagi.
[Tidak benar Riana.] sambung Yasmin.
[Aku lebih percaya Yasmin. Kapan kalian pulang?] tanya Riana.
__ADS_1
Yasmin langsung mengambil kuasa atas telepon Riana. Ia sengaja membuat jarak denganku agar tidak bisa menyahut lagi. Terserah saja, yang penting aku sudah berhasil membuat sahabatnya cemas.
Usai berbincang dengan Riana, Yasmin kembali mendekat, ia memberikan gelas berisi kopi padaku. Kamu berdua menyeruput ditemani jagung bakar.