GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
57. Kecewa


__ADS_3

"Aku sudah mengingatkan pak Rudi dan putrinya agar segera bertanggung jawab sebab kita akan menempuh jalur hukum!" Alifa menjelaskan perbincangannya dengan paman Rudi dan Riana. Hal yang sebenarnya tidak ingin ku dengarkan.


"Alifa, terimakasih. Tapi, bisakah kau membiarkanku sendiri dulu." pintaku, sambil berjalan perlahan menuju ruang penjara.


"Qret," panggil Alifa, sehingga membuat langkahku terhenti.


"Kenapa?"


"Aku minta kau berjanji satu hal."


"Apa Alifa?"


"Kau tidak boleh menyerah. Jangan mengalah pada siapapun, meski musuhmu adalah orang yang amat kau kasihi. Mengerti?"


"Andai aku bisa!"


"Ingat Qret, kau harus adil pada dirimu sendiri. Kau masih punya ayah dan ibu. Juga Yasmin ...."


Aku yang semula ingin berlalu saja langsung teringat pada gadis berwajah teduh yang selalu bisa menenangkanku itu.


Kata Alifa, Yasmin juga bisa terkena imbas jika aku memilih menerima saja perlakuan musuhku.


"Kau yang bercerita, akan menikah dengan Yasmin. Tetapi niatan kalian harus tertunda karena masalah ini. Jika kau tidak melakukan perlawanan, maka kau juga sudah ikut mendzalimi Yasmin. Ia sudah bersabar menanti hingga kau keluar, tapi ini yang akan kau berikan? Qret, ingat bagaimana perasaan Yasmin nantinya. Apa ia tidak akan patah. Dari kedua matanya aku meyakini bahwa Yasmin sangat mencintaimu Qret. Lalu apa kau tega padanya?"


"Aku tidak tahu Alifa,"


"Kau laki-laki dan kau harus bersikap. Jangan cengenga, Qret. Kau tahu, baru saja aku akan menceritakan kisahmu pada putraku agar ia punya inspirasi, tapi kau malah ingin mengecewakanku!"


"Biarkan aku sendiri, Alifa,"


"Baiklah. Nanti aku akan kembali ke sini. Jangan kecewa kami semua, Qret!"


Sakit. Itu yang terasa saat mendengar berita yang disampaikan oleh Alifa. Kecewa, sangat kecewa sekali jika memang benar itukah kenyataannya.

__ADS_1


Aku butuh waktu yang begitu lama agar sembuh ketika dikecewakan oleh orang yang amat kucintai. Paman Rudi dan Riana tau itu. Mereka adalah saksi bagaimana rasa percaya diriku hilang. Bahkan aku menganggap diri ini tidak lebih dari sampah, lalu kini mereka yang dulunya membesarkanku, membuatku kembali percaya diri, tapi malah mengkhianatiku.


"Kenapa?" pertanyaan itu terus muncul. Tidak dapat kutemukan jawabannya.


Hubungan kami baik-baik saja, tidak ada cacatnya, tetapi kenapa Riana tega melakukannya. Apa salahku? Tidak mungkin ini hanya candaan biasa seperti yang sering ia lakukan. Meskipun bukan orang hukum atau pernah menempuh pendidikan hukum, tapi harusnya ia sadar, menjebakmu seperti ini sama saja dengan menggali kubur untukku.


Lalu kenapa?


Riana, terakhir aku bertemu dengannya saat malam penangkapan itu. Wajahnya terlihat ketakutan, ia hanya mampu mengintip dari balik tubuh ayahnya. Aku bisa merasakan kalau saat itu ia juga terkejut karena aku dan ibu di penjara.


Lalu, apa semua itu hanya sandiwara saja? Tapi kenapa?


Dendam? Aku tidak punya salah apapun padanya. Kami sudah seperti saudara kandung. Aku dan Riana selalu melindungi, bahkan kami rela berkorban satu sama lain.


Uang? Riana tidak pernah peduli dengan uang. Buktinya saat aku menawarkan bisnis untuknya, ia tidak pernah menanggapi. Alasannya, ia perempuan. Saat ini punya ayah dan aku yang akan menanggung biaya hidupnya. Sedang jika sudah menikah nanti, suaminya yang akan membiayai. Begitu selalu jawaban Riana.


Atau, jangan-jangan ada yang memaksa Riana melakukannya? Apakah itu ibunya Jimmi?


"Pak polisi ... pak polisi!" panggilku.


"Aku ingin bicara dengan Jimmi. Tolong panggilkan ia sekarang!"


"Tapi pak Jimmi sedang ada pekerjaan, mas Qret. Nanti saya ...,"


"Panggilkan sekarang!"


"Hei, ada apa ini?" Jimmi muncul di hadapanku.


"Kita perlu bicara." kataku.


Setelah polisi penjaga pergi, barulah Jimmi masuk ke dalam sel tempat aku ditahan. Ia duduk, sementara aku masih berdiri.


"Ada apa Qret? Kenapa kau berteriak seperti itu? Kau tahu, sikapmu barusan bisa menghilangkan harga diriku sebagai kepala polisi berpangkat tinggi. Di sini aku dihormati orang-orang Qret, tapi ...."

__ADS_1


"Sudah diam. Aku tidak peduli dengan kehormatanmu atau apapun itu. Sekarang kau jawab pertanyaanku. Ibumu kan dalang di balik ini semua? Dia kan pelakunya?"


"Kau ini, dari tadi tanya itu terus. Aku tidak akan menjawab, cari tahu atau simpulkan saja sendiri. Kau punya otak kan Qret. Cobalah berpikir. Apa karena tidak pernah sekolah makanya kau tidak bisa membaca apa yang sedang terjadi?"


"Jimmi, kenapa ibumu melibatkan Riana. Apa maksudnya? Apa yang ia lakukan pada Riana. Kau tahu, gadis itu tidak salah apa-apa. Kalau ibumu berani melakukan sesuatu pada Riana, aku akan menghabisinya dengan tanganku sendiri. Aku tidak akan mengampuni orang yang tidak punya hati."


"Aku tidak paham dengan yang kau katakan. Riana siapa?"


"Riana, hadis yang sering bersamaku. Ia sudah seperti adikku sendiri. Kau pernah bertemu dengannya waktu itu."


"Oh, gadis berandal itu. Yang dulu ...,"


"Hati-hati kalau kau bicara!" aku mencengkeram erat leher baju Jimmi sampai ia tercekik. "Dia gadis baik-baik, bukan berandal ataupun preman seperti yang kau pikirkan."


"Kau bisa membunuhku, Qret. Kau tahu, aku kan saudara kecilmu, sementara gadis itu, siapa dia sampai kau begitu peduli padanya. Oh, atau jangan-jangan kau punya perasaan padanya, atau ia kekasihmu. Lalu Yasmin? Kau mau menduakan Yasmin? Jahat sekali kau Qret. Akan ku hajar kau!"


"Hentikan!" aku menepis Jimmi. "Aku dan Riana sudah seperti saudara. Ayahnya yang mengambilku saat aku dibuang. Ayahnya yang membesarkanku, mengajariku bisnis hingga aku bisa seperti sekarang."


"Jadi, kau marah karena merasa dikhianati oleh Riana? Itu biasa dalam kehidupan Qret."


"Tidak untuk hidupku!"


"Qret, kau kurang banyak bergaul saja, makanya jadi naif seperti ini. Kau ini sebenarnya mantan penjahat atau bukan, sih? Sekarang aku malah mengira kau dulu bukan bergaul dengan penjahat, tapi dengan ustad, atau mungkin malaikat. Pikiranmu terlalu positif thinking terhadap orang lain."


"Ini pasti ulah ibumu. Tapi apa yang ia lakukan? Kau harus mencari tahunya Jim. Aku mohon, bantu aku Jim."


"Aku sudah bilang Qret, aku tidak tertarik untuk mencari tahu apapun tentang kasusmu. Aku tidak ingin mencari masalah. Kau mengerti!"


"Tolonglah Jim,"


"Kau tak tahu siapa ibuku. Lebih baik menghindari dari pada berhadapan sebab ia pantang mundur jika sudah memutuskan berperang sebelum melihat sendiri lawannya kalah. Kalau kau tidak percaya, tanya ayah."


"Jim, aku mohon!" aku berlutut di hadapan Jimmi. Ada yang tidak beres dalam kasus ini. Riana pasti diperalat, ia pasti tengah ketakutan. Riana tidak mungkin melakukan dengan sukarela sebab kami saudara. "Kau satu-satunya yang bisa membantuku, Jim."

__ADS_1


"Tidak!"


Jimmi berjalan keluar dari sel, ia tidak mempedulikanku yang masih berlutut sambil memohon padanya.


__ADS_2