
Besok adalah hari keberangkatan Riu. Malam ini Yasmin mengundang tetangga sekaligus keluarga angkat suaminya, Qret, untuk makan malam di rumah. Ia sudah menghidangkan makanan tang rasanya lezat, seluruhnya adalah menu kesukaan Riu.
Sesuai dengan waktunya, Riu serta kedua orang tuanya datang tepat waktu. Yasmin langsung menyuruh mereka ke meja makan.
"Aku sudah mempersiapkan semuanya untuk calon ulama besar kita ini." Kata Yasmin.
"MasyaAllah, bibi pasti sangat repot sekali menyiapkan makanan kesukaanku " Kata Riu, sambil menatap takjub makanan pembuka hingga penutupnya. Mulai dari puding pandan dengan Fla, rendang, tumis kangkung hingga minumannya.
"Tidak kok Riu. Bibi memasaknya dengan senang hati. Kau kan akan pergi, bibi khawatir di sana kau tak akan bisa memakan makanan kesukaanmu. Jadi sekarang nikmatilah, sebab masakan ini baru akan bisa kau nikmati lagi jika sudah kembali " Kata Yasmin.
"Iya, Riu juga sudah mengatakan tidak akan pulang sampai ia lulus." Ungkap Riana.
"Berarti kita semua akan sangat merindukan Riu." Yasmin langsung terlihat sedih.
Sementara itu, di kursi yang tepat di hadapan Riu, seorang anak perempuan menekuk wajahnya dalam-dalam melihat pemandangan yang membuatnya tak terlalu suka. Andai saja meninggalkan meja makan tidak akan jadi masalah, mungkin Jasmin sudah melakukannya.
Rasanya makan bakso di pinggir jalan lebih nikmat ketimbang makan makanan lezat tapi sambil menyaksikan drama yang tak pernah ia sukai.
"Jasmin, kau sendiri bagaimana rencananya?" tanya Riana.
Riu dan Jasmin, meskipun beda satu tahun, tetapi mereka masuk sekolah bersamaan. Kini pun mereka sama-sama lulus. Hanya saja, Riu sudah diterima kuliah dan mendapatkan bea siswa di perguruan tinggi terbaik dunia, yaitu Al Azhar. Sementara Jasmin belum punya pandangan apapun sebab ia tak punya keinginan untuk kuliah. Jasmin hanya ingin menekuni hobinya, menjadi atlit atau pengajar Wushu, tetapi tak mudah mewujudkan mimpi tersebut sebab ibunya pun dengan sangat keras akan membatasi.
"Kamu kan tahu Riana, bagaimana Jasmin. Begitu santai hidupnya. Kami saja pusing dibuatnya. Sudah kutawarkan lanjut kulihat, tapi dia menolak dengan berbagai alasan yang tidak jelas." cetus Yasmin, membuat putrinya semakin malas melanjutkan acara makan malam ini.
"Kalau Jasmin belum mau ya tidak apa-apa. Dia kan anak perempuan, lagipula usianya masih muda. Sekarang biar dia istirahat dulu. Meskipun begitu, bagiku Yasmin tetap yang terbaik." ungkap Qret.
"Tuh kan, sikap mas yang terlalu memanjakan Jasmin sehingga ia jadi malas-malasan seperti ini." kata Yasmin sambil menyuap makanan ke mulutnya. "Justru karena ia anak perempuan, harus menyiapkan diri untuk menjadi madrasah ilmu bagi anak-anaknya kelak! Atau kau ingin dinikahkan sekarang, Jas?"
__ADS_1
"Ibu, aku masih tujuh belas tahun, aku tak ingin membahas pernikahan!" kata Jasmin dengan tegas.
"Eittt, jangan main menikahkan saja. Kau tak ingat perjanjian kita?" Riana melirik ke arah Yasmin. Kemudian mereka berdua tersenyum. "Riu, Jasmin, usia kalian sudah memasuki masa remaja ... kalian tahu. Saat kalian kecil, kami para orang tua sudah sepakat untuk menjodohkan kalian."
Apa yang barusan diungkapkan Riana sukses membuat dada Riu berdegup kencang. Benarkah itu? Berarti tidak sulit baginya untuk mewujudkan mimpi mempersunting perempuan pujaannya.
Tetapi berbeda dengan Riu, Jasmin malah geleng-geleng kepala dengan ide yang dianggapnya aneh tersebut. Ini sudah tahun milenium. Masa masih menjodoh-jodohkan? Apalagi dengan Riu, teman sekaligus tetangga yang sudah dianggapnya seperti saudara kandung sendiri.
"Eittt, tunggu dulu, ini hanya ide para ibu, bukan kami para ayah. Bukan begitu Deni?" tanya Qret pada Deni, yang disambut dengan anggukan.
"Kami tidak ikut-ikutan!" tukas Deni.
Para ibu masih tetap bertahan tentang perjodohan tersebut, sementara para ayah tidak ingin ikut campur. Mungkin karena sudah muak mendengar candaan tersebut, akhirnya Jasmin berdiri dari kursinya, lalu keluar dari rumah begitu saja tanpa peduli panggilan dari kedua orang tuanya.
"Kenapa ibu jadi norak seperti itu, bibi Riana juga ikut-ikutan. Apa kata mereka? Perjodohan? Ada-ada saja!" Jasmin membatin, ia melangkah, menjauh dari rumah.
"Riu, kenapa mengikutiku?"
"Kenapa kau pergi dari meja makan tanpa pamit terlebih dahulu? Apa kau tak suka dengan perkataan ibuku dan bibi Yasmin?"
"Kau sendiri, suka atau tidak mendengarnya?".
"Hehehe, jangan ngambek begitu Jas. Kamu tahu kan ibu dan bibi. Mereka memang suka bercanda. Hal-hal seperti itu sudah sering dibahasnya."
"Lalu?"
"Lalu apa kau marah?"
__ADS_1
"Tidak, aku hanya tidak suka saja jika dijadikan bahan ledekan. Aku bosan mendengarnya."
"Tetapi jika itu benar, bagaimana?"
"Bagaimana apanya, Riu?"
"Jasmin, aku tahu kau tak menyukaiku karena kamu menganggap ku menjadi penghalang atas perhatian ibumu."
"Tidak begitu."
"Tidak apa-apa, jujurlah Jasmin. Aku ingin minta maaf, semoga dengan kepergianku ini untuk menuntut ilmu, kau bisa mendapatkan kembali apa yang telah hilang, yang kau anggap sudah aku rebut.
Aku memang sengaja Jasmin, memilih tempat kuliah yang sangat jauh. Sebab aku ingin memberikan apa yang kamu inginkan. Aku janji, tak akan kembali sebelum aku lulus nanti. Jadi, kau harus berjuang yang keras ya, agar saat aku kembali, bibi Yasmin tidak lagi menyayangiku melebihi kasih sayangnya padamu.
Oh ya, satu hal lagi Jasmin, hal yang paling penting yang ingin kusampaikan. Aku mencintaimu." kata Riu dengan wajah amat serius.
"Apa?"
"Ya, Jasmin. Aku sangat mencintaimu. Aku berharap bisa jadi teman hidupmu nantinya. Jadi, maukah kau menantimu hingga aku pulang? Aku janji, akan berusaha keras agar jadi orang sukses, agar nanti pantas untuk mempersunting kamu.
Tidak perlu jawab sekarang, Jas? Aku tak ingin mendengar apapun. Aku tahu kau pasti kaget. Tapi percayalah, bahwa aku sungguh-sungguh. Aku sangat mencintaimu!
Selamat tinggal Jasmin. Selamat melanjutkan kehidupan baru tanpa ada aku. Kalau kau punya waktu, maksudku, kalau kau mau, balaskan pesan dariku. Aku akan rutin mengirimkan pesan untukmu. Aku menantimu!"
Riu berbalik arah, meninggalkan Jasmin yang masih berdiri mematung. Ia tak menyangka akan mendengarkan kata-kata perpisahan sekaligus ungkapan cinta dari Riu. Ya, lelaki yang selama tujuh belas tahun ini selalu ada di sisinya. Lelaki yang dianggapnya seperti saudara kandung. Tetapi ternyata punya rasa padanya. Apakah kisah tentang Qret dan Riana akan terulang kembali? Ia tahu cerita itu dari neneknya. Kisah yang akhirnya membuat pernikahan ayah dan ibu sempat terhambat, tetapi meskipun begitu, akhirnya menemukan akhir yang indah. Lalu, apakah Riu juga bisa menerima?
Jasmin memandang langit malam yang begitu gelap. Dadanya bergetar. Ia tak tahu harus bagaimana, selain diam, berdiri mematung untuk beberapa saat. Oh Tuhan, aku tak bisa. Jasmin masih geleng-geleng kepala.
__ADS_1