
Aku menatap layar komputer sambil sedikit memicingkan mata. Lalu tersenyum puas dengan lisan mengucap hamdalah.
Berdasarkan hasil perhitungan yang aku buat, jika penjualan lancar, maka penghasilan dari berjualan selama setengah hari sudah lebih dari cukup untuk biaya hidup empat orang, yaitu; aku, calon istriku nantinya, ayah dan ibu. setiap bulannya. aku memang tidak pernah suka jika orang tua harus ikut bekerja sementara ia masih punya anak-anak.
Kalau memang kedai akan dibuka sampai malam, maka aku harus bersiap untuk merekrut beberapa karyawan lagi.
Rasanya masih sangat cukup untuk menambah calon anggota keluarga di kedai hijrah. Lagipula aku tidak bisa menanggungkan semua beban tersebut pada Demi dan Riana. Aku sendiri juga tidak mungkin terus-menerus berada di dapur, harus ada koki dan beberapa orang pelayan.
Laporannya kembali kuketik. Mungkin besok semuanya bisa ku diskusikan dengan Deni. Ia biasanya punya banyak ide yang bisa membantu kemajuan kedai hijrah.
Selain itu aku juga berencana menaikkan jabatan Deni. Ia harus punya posisi yang bagus sebagai bekalnya untuk menikahi Riana. Mungkin akan ku angkat sebagai manager.
Usai mengerjakan laporan, aku turun ke bawah, menemui ayah dan ibu yang sibuk dengan buku masing-masing.
"Qret." panggil ibu.
"Qret ingin bicara sesuatu yang serius dengan ayah dan ibu." kataku, sambil melempar senyum.
"Apa Qret?" Tanya ibu lagi.
"Bu, yah. Qret berencana untuk melamar Yasmin sesegera mungkin." kataku lagi.
"Bagus itu Qret. Ayah dan ibu mendukung rencana kamu. Kapan kita akan mengunjungi Yasmin? Ibu juga sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya lagi. Rasanya sudah sangat rindu." ungkap ibu.
"Dih ibu, segitunya sama calon mantu." ucap ayah.
"Tadi Qret sudah menghitung semuanya dan merasa sepertinya secara perekonomian pun Qret sudah mampu untuk menikahinya. Semoga Qret bisa menafkahi Yasmin dengan layak." kataku.
__ADS_1
"Ibu yakin kamu pasti bisa, Qret. Melihat kamu yang begitu bertanggung jawab. Segera saja halalkan Yasmin ya." pinta ibu. "ibu ingin seperti teman-teman pengajian yang sebaya, rata-rata mereka sudah punya cucu, padahal ibu belum punya, makanya agak sedikit panas.
"Lalu rencananya bagaimana, Qret?" ayah ikut bertanya. "Apa perlu kita ke sana sekarang untuk bicara." tambah ayah.
"Besok insyaAllah Qret mau mampir ke rumah Yasmin untuk bertemu dengan pak Bimo. Banyak hal yang ingin Qret sampaikan. Terutama menyampaikan maksud kita ingin melamar Yasmin. Kalau pak Bimo berkenan, maka dalam pekan ini kita adakan lamaran. Bagaimana Bu, yah?" tanyaku.
"Iya, ibu setuju." jawab ibu.
"Ayah juga setuju." ayah mengikuti jawaban ibu.
"Kalau begitu Qret akan mengurus semuanya. Besok juga mungkin hanya berjualan setengah hari, lalu mampir ke rumah Yasmin." aku menceritakan rencana besok pada ayah dan ibu.
***
Sejak pagi pembeli berdatangan cukup banyak. Bahkan lebih banyak dibandingkan kemarin. Rata-rata mereka ingin membeli ayam bakar madu hijrah. Melihat antusias pelanggan pada ayam bakar ini, membuat Riana menyatakan kesalutannya padaku.
"Hah, kemana saja kamu? Selama beberapa tahun hidup bersama, kamu lupa siapa yang memasak di rumah? Itu aku Riana. Gara-garq masakanku kamu jadi tumbuh sehat seperti ini." kataku, penuh dengan kebanggaan.
"Harusnya dari dulu saja ya kita buka kedai. Bisa cepat kaya pastinya." Riana semakin antusias saat melihat ayam bakar madu untuk stok hari ini benar-benar ludes. "Sepertinya besok kamu harus siapkan dua kali lipat, Qret. Lihat, baru pukul sepuluh tapi ayamnya sudah habis. Lalu kita jualan apa?"
"Alhamdulillah." aku dan Deni sama-sama mengucap syukur. Hari ini memang banyak sekali pelanggan. Mereka mengaku tahu dari teman-temannya yang kemarin berbelanja. jadi seperti mendapatkan promo gratis.
"Den, hari ini kamu yang belanja ya." kataku.
"Kenapa Qret?" tanya Deni, sambil menerima catatan dan daftar belanjaan. Ia juga cukup mahir berbelanja.
"Aku harus pergi ke suatu tempat," ucapku. "Juga mempersiapkan proses perekrutan pegawai. Enggak apa-apa, kan?"
__ADS_1
"Dih, main rahasia-rahasia segala." celetuk Riana. "Qret, kalau kamu butuh pegawai baru perempuan, ada anak-anak remaja di kampung sebelah yang sama ngaji denganku. Mereka bisa dimanfaatkan, apalagi mereka tidak sekolah ataupun bekerja. Hitung-hitung membantu perekonomian mereka, Qret."
"Wah kalau begitu kamu harus membantuku Riana." kataku, yang semakin semangat mendengarkan apa yang dijelaskan Riana.
Kalau pegawainya teman ngajinya Riana yang baru, besar harapanku supaya mereka bisa membantu usaha ini. Harapanku, dengan mempekerjakan orang-orang salih maka keberkahannya juga bisa kita rasakan.
"Bantu apa Qret?" tanya Riana.
"Tolong sebarkan informasi lowongan ini." aku membuka laci meja kasir, mengambil beberapa lembar selebaran yang bisa ditempelkan oleh Riana. Sementara lembaran lain ku tempel di bagian depan kedai. Siapa tahu di antara para pelanggan ada yang sedang butuh pekerjaan. Mereka bisa bergabung denganku.
"Habis ini aku langsung ke masjid untuk menempel pengumuman ini. Setelah itu mengirimkan pesan wa pada mereka. Semoga saja ada yang sedang butuh pekerjaan." doa Riana dengan suara agak kencang.
Kami bertiga berpisah di depan kedai. Riana pergi duluan ke arah masjid. Ia memang sudah mulai ikut kajian-kajian meskipun belum memakai jilbab. Sedangkan Deni menuju arah pasar yang buka dua puluh empat jam.
Setelah dua partner kerjaku menghilang. Aku langsung menuju rumah Yasmin sambil naik motor.
Di depan gang, tempat biasa aku memarkir mobil saat masih menagih hutang pada Yasmin, aku berhenti sejenak sambil tersenyum.
Cepat sekali waktu berlalu. Baru kemarin rasanya aku bertemu dengan gadis berwajah syahdu itu untuk menagih hutang ayahnya. Untuk pertama kalinya bertemu, aku langsung merasakan ada sesuatu hal yang aneh di hatiku.
Biasanya, aku akan menghardik orang yang berhutang padaku. Tetapi saat itu, jangankan untuk berteriak padanya, menatap wajahnya saja aku tidak mampu. Entah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama, tapi aku juga begitu kesal pada anak buahku yang memaksa Yasmin membayar hutang. Mereka menarik tangan gadis itu dengan kerasnya hingga ia agak menjerit.
Beberapa kali aku sering mendatangi Yasmin secara diam-diam hanya untuk memata-matai gadis itu. Meyakinkan diri sendiri bahwa ia baik-baik saja.
Saat ia menangis sambil berlutut memohon pada ayahnya agar mau bicara, di sana ia mengajariku bahwa tidak boleh menyimpan kemarahan pada kedua orang tua sebab mereka yang sudah menyita kita lahir ke dunia ini.
Oh Tuhan, jika Engkau berkenan, aku berharap ia adalah jodohku. Kelak akan jadi temanku menua. Yang akan menemukan uban di rambutku.
__ADS_1