GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
137. Diam


__ADS_3

Aku tidak bisa memungkiri kalau sekarang merasa dikecilkan oleh Yasmin dan itu membuatku sangat marah sekali. Harapanku padanya begitu besar bahwa ia akan menjadi istri shalihah yang taat pada suaminya, tetapi kini ia membantahku.


Yasmin yang dulunya begitu penurut ternyata bisa juga membantah.


Memang benar, seharusnya aku tidak berharap banyak padanya agar ketika ia melakukan sebuah kesalahan tidak membuatku kecewa terlalu dalam seperti saat ini. Harusnya, aku menyadari bahwa ia adalah perempuan biasa yang juga mungkin melakukan kesalahan-kesalahan. Tetapi karena harapan yang begitu besar makanya semua itu terkesampingkan.


Tetapi namanya kecewa, ditambah hati yang sensitif sebab perekonomian yang belum juga membaik membuat emosi ini semakin membara.


Hari ini kuputuskan untuk menerima orderan sebanyak mungkin. Aku benar-benar tidak ingin memikirkan Yasmin, tetapi semakin aku berusaha, bayangannya terus muncul di benakku. Apalagi ketika ia membantah kata-kataku. Sakit sekali ternyata.


"Aku akan buktikan Yas, bahwa aku bisa menafkahi. Lagipula harusnya kau belajar sabar, bukankah sebenarnya kondisi kita belum begitu kekurangan. Kita masih punya tempat tinggal dan juga makan yang cukup. Ternyata kau tak bisa diajak susah, Yas. Aku sungguh kecewa!" aku mengumpat dalam. hati.


Sorenya, menjelang Maghrib, Yasmin sampai di rumah. Kami berpapasan di pintu, saat aku mau keluar menuju masjid sementara ia hendak keluar rumah.


"Mas," katanya.


Aku tidak menjawab, menganggapnya seperti angin lalu, kemudian pergi begitu saja menuju masjid.


Tidak bisa kupungkiri aku masih sangat marah pada Yasmin dan tidak ingin bicara apapun juga saat ini. Aku juga ingin ia tahu bahwa aku sangat marah dengan apa yang sudah dilakukannya.


Pulang dari masjid, aku sengaja mampir di warung bakso terdekat dengan Deni. Meskipun di rumah sudah ada makanan. Aku sedang tidak ingin makan apalagi bicara dengan Yasmin agar ia sadar bahwa dianjurkan adalah bentuk Kemarahan yang besar padanya.


"Tumben-tumbenan makan di luar?" kata Deni, sambil menghabiskan bakso di mangkoknya.


"Iya, sedang boring saja." kataku.


"Karena Yasmin kerja?"


"Kau tahu?"


"Riana yang cerita."


"Jadi kalian menggosipkan kami?"


"Hahaha, bukan begitu Qret. Sebenarnya tujuan Riana membicarakan Yasmin juga ingin menyindirku."


"Kenapa memangnya?"


"Sebab sampai sekarang aku belum bekerja. Padahal waktunya melahirkan semakin dekat."

__ADS_1


"Lalu?"


"Aku sedang berusaha Qret. Tapi kau tahu kan. Orang seperti aku, tanpa ijazah bisa kerja apa dengan pengalaman kerja sebagai tangan kanan mantan gengster."


"Hahaha, kau ini!"


Kami berdua tertawa. Lebih tepatnya menertawakan nasib. Sama-sama dituntut memberikan yang terbaik padahal kami sendiri penuh dengan keterbatasan.


Seseorang yang tidak punya latar pendidikan sama sekali. Tidak ada pengalaman kerja selain di dunia hitam. Tentunya satu-satunya pekerjaan yang bisa kami dapatkan adalah kembali ke dunia hitam. Tetapi kami tidak ingin melakukannya sebab sudah menyadari bahwa semuanya tidak baik.


"Mau membuka bisnis juga terbatas." kata Deni.


Aku teringat bahwa paman Rudi pernah mengatakan bahwa Deni sudah memberikan semua tabungannya pada paman Rudi, lalu uang itu diberikan padaku. Aku jadi merasa bersalah padanya, tapi untuk mengembalikan saat ini juga belum punya uang.


"Satu-satunya jalan memang harus memulai usaha sendiri." kataku.


"Tanpa modal?" Deni balik bertanya. "Mana bisa Qret."


"Benar juga." lagi-lagi kami menarik nafas panjang. Membayangkan betapa rumitnya semua ini tetapi lagi-lagi hanya bisa pasrah sebab jalan yang tidak mulus.


"Kau masih mending Qret, tidak punya tanggungan yang begitu berat. Sedang aku? Sebentar lagi Riana akan melahirkan. Kau tahu sendiri ia mengincar rumah sakit yang berkelas yang tentunya biaya tidak sedikit. Dimana akan kuletakkan mukaku kalau tidak bisa membayar biaya administrasi rumah sakit nantinya?".


"Caranya?"


"Satu-satunya usaha yang aku bisa baru jualan online. Aku akan melakukan promo secara gencar. Kau dan aku memasak dan mengantar secara online. Hasilnya kita bagi dua. Bagaimana?"


"Benar Qret?"


"Ya "


"Kalau begitu aku mau. Tapi dimana kita akan bekerja?"


"Di rumahku saja dulu. Toh tiap hari Yasmin kerja."


"Baiklah kalau begitu."


Secercah harapan terasa saat kerjasama antara aku dan Deni terjadi. Rasanya benar-benar lega akhirnya punya rekan kerja. Aku mengaku kalau selama ini sangat kewalahan menghadapi semuanya sendiri tetapi tidak bisa berbuat apa-apa sebab keterbatasanku. Harapanku dengan Deni bergabung maka bisa membuat dagangan lebih maju lagi sehingga Yasmin tidak perlu bekerja.


***

__ADS_1


"Mas masih marah padaku?" tanya Yasmin, saat kami sarapan pagi ini.


Aku masih memilih diam, kuharap ia menyadari dan menghentikan aksi keras kepalanya ini. Tetapi lagi-lagi Yasmin mengabaikan aku. Ia tetap berangkat sehingga membuatku semakin marah.


"Aku benar-benar kecewa padamu, Yas." ungkapku.


Sebuah suara membuyarkan lamunanku, ternyata Deni. Ia datang pagi ini sesuai kesepakatan kami bahwa akan mulai kerja hari ini juga.


"Untunglah kau cepat datang. Hari ini sudah ada sepuluh pesanan." aku menunjukkan kertas berisi tulisan pesanan dari pelanggan. Bahkan ada yang sudah memberikan uang muka.


"Kau sudah belanja Qret?" tanya Deni.


"Belum. Bagaimana kalau kita belanja sekarang?"


Aku dan Deni langsung menuju pasar tradisional. Berburu bahan-bahan untuk membuta pesanan. Setelah selesai, kami kembali ke rumah, melanjutkan tugas kami.


Benar saja, setelah dibantu oleh Deni, pekerjaan jadi lebih ringan. Selain itu penghasilan juga bertambah duu bahkan hingga tiga kali lipat setiap harinya. Sesuatu hal yang bisa mengobati hatiku.


"Qret, apa kau tahu, kedai lamamu akan dihancurkan." kata Deni, sambil menikmati makanan yang berlebihan setelah diantar ke pelanggan.


"Kenapa?" tanyaku.


"Tanahnya akan dijual oleh pembelinya."


"Oh." lagi-lagi rasanya kecewa mendengarkan semuanya. Ingin sekali aku membeli kembali tanah tersebut dan membuka kedainya. Tetapi dana yang kumiliki belum mencukupi.


"Tapi belum terlaksana Qret. Tergantung siapa yang membelinya nanti. Semoga saja itu kau Qret."


Sebuah doa yang diucapkan oleh Deni sama dengan apa yang aku harapkan. Ya, semoga saja benar bahwa akulah yang akan membelinya kembali mengingat betapa inginnya aku terhadap tanah tersebut.


Lelah sekali rasanya badan ini setelah seharian menyelesaikan pekerjaan. Kini aku duduk santai di sofa sambil menikmati segelas kopi hangat untuk menemani aktivitas mencatat pesanan besok. Jumlahnya jauh lebih banyak. Dua puluh pesanan dengan jumlah yang juga tidak sedikit.


[Bagaimana, kita ambil semua?] tanyaku pada Deni lewat wa.


[Ambil saja!] balas Deni.


[Kau yakin kita bisa?]


[Tentu saja. Aku masih semangat kok. Untuk biaya lahiran, beli popok, juga aqiqah dibayi nanti.]

__ADS_1


[Hahaha.] aku tersenyum membaca pesan antusias dari Deni. Tidak menyangka bahwa ia duluan yang akan menjadi ayah. Padahal dari dulu akulah yang semangat untuk punya momongan duluan, sementara Deni cuek-cuek saja.


__ADS_2