GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
78. Hadiah Dari Riana


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucapku pada Yasmin yang berada kurang dari satu meter dariku.


"Astagfirullah. Mas Qret." kata Yasmin. Ia agak kaget, karena tidak menyadari kedatanganku. Mungkin karena terlalu asyik dengan kembang-kembangnya.


"Kok salamnya tidak dijawab?"


"Wa'alaikumussalam."


"Pak Bimo ada?"


"Ada. Mau ketemu Ayah?"


"Iya. Soalnya kalau ketemu kamu belum boleh berduaan, kan?"


Gadis itu tidak menjawab, buru-buru masuk, tetapi aku sempat menangkap rona merah yang muncul tiba-tiba di pipinya.


"Eh, mas Qret." pak Bimo menyongsong dari dalam.


"Sedang sibuk, pak?" tanyaku.


"Enggak terlalu. Cuma lagi ngecat pesanan lemari dari tetangga." ungkap pak Bimo. Selain membantu Yasmin menyelesaikan orderan jahitan, pak Bimo juga mulai melebarkan sayap, membuat meja ataupun lemari secara sederhana sebab ia belum punya lahan untuk mengerjakan orderan besar. "Ayo masuk mas Qret." ajak pak Bimo.


Kami duduk di ruang tamu sederhana milik pak Bimo. Pertama hanya saling bertanya kabar, hingga Yasmin datang membawakan dua gelas teh hangat dan gorengan. Lalu ia kembali masuk.


"Maksud saya datang ke mari, mau meminta izin pada pak Bimo, saya ingin datang berkunjung bersama kedua orang tua saya untuk melamar Yasmin." pintaku, hati-hati menyampaikan maksud hati yang dulu pernah tertunda.


"Alhamdulillah, akhirnya mas Qret bicara juga. Bapak tidak keberatan dan menyambut dengan tangan terbuka."


"Kalau Yasmin, bagaimana pak?"


"Dengar ya mas Qret, kalau dalam pekan ini mas Qret tidak datang ke sini, mungkin kami yang akan mendatangi rumah mas Qret untuk melamar sebab Yasmin sendiri sudah tidak sabar."


"Ahh masa pak?"


"Sungguh!"


Aku tersenyum lega sekaligus merasa terharu sebab ternyata Yasmin dan ayahnya masih membuka kesempatan untukku menikahinya.


"Kalau begitu saya pulang dulu, pak. Akhir pekan insyaAllah saya akan datang bersama ayah dan ibu." aku pamit, tidak lupa mencium tangan pak Bimo, hitung-hitung belajar sebelum ia resmi menjadi mertuaku.


Sebenarnya ingin sekali melihat Yasmin sebelum resmi melamarnya akhir pekan ini, tapi sepertinya gadis itu tidak akan keluar dari rumahnya meski aku sudah mengucapkan salam dengan suara agak besar.


Setelah mengucapkan salam untuk ketiga kalinya, akhirnya aku benar-benar pergi, sebab tidak mungkin lagi mengulang salam keempat kalinya sebab pak Bimo sudah senyum-senyum seperti tahu apa yang ada di pikiranku.

__ADS_1


Perkara jodoh itu sebenarnya sangat lucu sekali ya. Dulu, saat pertama kali aku bertemu dengan Yasmin, ia adalah jaminan atas uangku. Tetapi memang tidak bisa ku pungkiri, sejak awal sudah jatuh hati pada gadis berwajah sendu itu.


Sedangkan dengan ayahnya, jika ia tidak mirip dengan Yasmin, mungkin sudah kuhabisi sebab kekesalan yang amat besar.


Bayangkan, ia berhasil menipu orang kepercayaanku, selain berhutang tiga milliar, ia juga berhasil mencuri kalungku berharga pemberian ibu saat aku masih kecil dulu.


Senyum terukir di bibirku. Membayangkan indahnya pernikahan bersama gadis pujaan hatiku. Ahhhh sungguh indah takdir Tuhan.


"Ayah ... ibu!" panggilku.


"Qret, ada apa? Masuk rumah bukannya baca salam malah teriak-teriak." kata ayah.


"Yah, Qret baru dari rumah Yasmin, ayahnya siap menerima kita akhir pekan nanti untuk lamaran." ungkap ayah.


Ibu muncul dari dapur, bukannya senang tapi ibu menunjukkan raut wajah cemas. Baru saja aku ingin bertanya, tiba-tiba Riana muncul dari belakang tubuh ibu.


"Lamaran akhir pekan?" tanya Riana.


"Iya Riana," jawabku.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya, bi. Terimakasih untuk resepnya!" Riana memperlihatkan catatan yang dipegangnya. Lalu ia berlalu keluar rumah.


"Bagaimana ini?" tanya ibu, dengan sangat cemas sekali.


"Kenapa Bu?" tanyaku.


"Bu, apa?" tanyaku lagi. "Duduk di sini, lalu bicara secara tenang." ungkapku.


"Ibu bingung. Sungguh sangat bingung. Bagaimana ini?" ibu menggenggam erat tanganku.


"Bu, tenang dulu. Istighfar." kataku.


"Qret, ibu takut kejadian waktu itu terjadi lagi. Ibu tidak mau kamu di penjara. Lagipula kenapa harus memberi tahu Riana segala? Lebih baik dirahasiakan duku, Qret. Toh yang namanya lamaran memang sebaiknya tidak dirahasiakan, kan?" ungkap ibu, mengulang apa yang pernah didengar saat kajian.


"Qret tidak tahu kalau tadi ada Riana," jawabku. "Lagi pula kenapa sih, Bu. Biarkan saja Riana mendengarnya." kataku lagi.


"Tidak. Ibu tidak mau!" ibu rupanya benar-benar cemas, ia sampai menitikkan air mata.


"Bu, tenang dulu." pinta ayah.


"Bu, Riana tidak akan melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya." kataku.


"Kamu jangan bersikap santai seperti itu, Qret. Kalau terjadi lagu bagaimana? Kemarin kita masih beruntung dibantu oleh Alifa. Tapi sekarang ia sedang ke Australia dan entah kapan akan kembali. Ibu takut sekali!" ibu masih menangis.

__ADS_1


"Bu, pasrah sama Allah saja." kataku. "Qret yakin sekali, Riana tidak akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Qret faham betul dengannya, Bu."


"Qret, saat ia menjebakmu apakah kau juga paham?" tanyaku.


Ibu terus saja menyerang dengan dugaan-dugaan di kepalanya. Aku memahami bahwa mungkin ibu masih takut dengan kejadian waktu itu. Tetapi aku sangat yakin sekali Riana tidak akan melakukan hal tersebut lagi.


Belum selesai perdebatan kami, tiba-tiba ada seseorang memanggil, tidak lama muncul Riana. Gadis itu tampak malu-malu.


"Qret, maaf tadi aku buru-buru pergi." kata Riana.


"Tidak apa." jawabku, sementara ibu buru-buru ke dapur diikuti ayah sebab tidak mau Riana melihat ibu menangis.


"Qret, aku sebenarnya malu mengatakannya."


"Kenapa? Tumben sekali kau malu-malu. Biasanya juga langsung ceplas-ceplos."


"Ahhhh kau ini Qret. Ini." Riana memberikan sesuatu yang ia sembunyikan di balik badannya.


"Apa ini?" aku mengambil bungkusan yang ia berikan."


"Ini untukmu dan Yasmin. Aku tidak tahu apa kalian akan suka atau tidak. Tapi kuharap kalian suka. Aku menabung untuk bisa membeli ini. Jadi kuharap kau dan Yasmin suka!" Riana agak sedikit memaksakan kehendaknya, sehingga membuatku tertawa.


"Dasar aneh!" kataku.


"Kau jahat sekali, Qret. Apa salahnya menyukai apa yang kuberi."


"Baiklah, akan kubuka dulu!"


Ternyata kado yang diberikan oleh Riana adalah sepasang jam tangan untuk laki-laki dan perempuan. Jam berwarna gold yang ku yakin harganya tidaklah murah sebab ini jam salah satu merek terkenal.


Aku memang bukan pecinta barang-barang bermerek, bahkan bisa dibilang tidak punya barang berkeyakinan. Prinsip ku asalkan bagus dan nyaman maka akan kubeli sesuai kebutuhan.


Tapi sekali lihat bisa kupastikan bahwa ini memang benar-benar barang yang cukup mahal.


"Kau pasti memalak paman Rudi, iya kan?" tuduhku. Meskipun suka dengan kado ini tapi ada rasa khawatir juga kalau-kalau Riana memalak ayahnya, mengingat ia belum punya pendapatan.


"Kata siapa? Itu murni uangku." ungkap Riana.


"Kau kan belum punya penghasilan!"


"Tapi kau tahu kan, kalau tiap bulan ayah selalu membagi dua hasil pendapatan dari rumah kontrakan kami yang sepuluh pintu. Nah, dari situ aku menabung selama beberapa waktu." ungkap Riana dengan penuh kebanggaan.


"Beneran?"

__ADS_1


"Iya, sungguh Qret "


"Awas saja kalau kau bohong!"


__ADS_2