GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
86. Bagi-bagi Makanan


__ADS_3

Menjelang Zuhur, acara berakhir. Sebelum semuanya bubar, Riana dan yang lainnya membantu ibu membereskan rumah. Setelah itu mereka kembali ke rumah masing-masing, tentunya dengan membawa bekal yang sudah disiapkan oleh ibu.


"Yas, kamu pasti lelah, kan? Istirahatlah dulu." kata ibu. "Qret, ajak Yasmin istirahat ke atas, ia kelihatan sudah lelah." pinta ibu.


"Iya Bu." Aku mengajak Yasmin naik ke kamar atas, sambil membawakan tas miliknya.


Begitu pintu kamar terbuka, suasana dan tatanan kamar sudah berubah dari sebelumnya. Semula berwarna biru kini berubah jadi warna putih dengan kombinasi merah maroon. Warna kesukaan Yasmin.


Begitu kami masuk, aroma mawar merah yang sedang merekah tercium, sumbernya dari sebuket mawar yang ada di atas meja dekat tempat tidur.


Tempat tidurnya juga baru. Lebih besar dari ranjangku biasanya. Terlihat lebih elegan dengan seprai warna putih ditambah bed cover warna senada yang menambah cantik ruangan ini


Entah siapa yang mengubah dekorasi kamar ini sehingga jadi begitu cantik. Aku saja sampai terkesima, apalagi Yasmin yang sejak awal masuk tampak berbinar-binar.


"Mas, kamarnya bagus sekali." ungkap Yasmin sambil mengusap lembut tempat tidur.


"Kamu suka?" tanyaku, sambil memperhatikan wajah yang sudah kembali tersenyum sumringah. Ku harap ia sudah melupakan kesedihannya ketika meninggalkan pak Bimo.


"Suka sekali," ungkap Yasmin. "Apalagi kamarnya."


"kalau begitu nanti aku akan memberimu mawar setiap harinya."


"Jangan begitu mas, nanti malah merepotkan."


"Asalkan kamu bahagia, Serepot apapun akan ku lakukan."


"Pakaian kamu taruh di sini ya." aku menunjuk lemari besar berwarna putih yang memang sudah kusiapkan untuk ratu di hidupku nanti. "Di sana juga ada kamar mandi. Jadi kalau mau bersih-bersih tidak perlu keluar kamar. Ada istilah hangat dan dingin juga, kamu boleh pilih sesukamu."


"MasyaAllah, lemarinya bagus. Beda sekali dengan lemari buatan ayah. Ada kamar mandinya juga, luas sekali, lebih luas dari kamar di rumah." Yasmin sudah berpindah. Semula ia membelai lemari, lalu ke kamar mandi.


Dari dalam kamar mandi terdengar suara Yasmin memuji-muji bentuk kamar mandi yang menurutnya luar biasa itu.


Sebenarnya rumah yang kami tempati sekarang tidak terlalu luas dibandingkan tempat tinggalku duku. Tetapi mungkin bagi Yasmin ini sudah luar biasa sebab ia terbiasa tinggal di rumah yang amat sempit. Jangankan kamar mandi di dalam kamar, kamar mandi seperti di rumah-rumah orang-orang biasanya saja ia tidak punya. Hanya sebuah sumur yang ditutupi dengan terpal.


Untuk mandi di sana rasanya sangat canggung, khawatir ada yang mengintip. Tapi tidak mungkin juga untuk tidak bersih-bersih.


***

__ADS_1


Pagi ini, usai Subuh, aku sedang sibuk di ruang kerja, menyiapkan rencana kerja hari ini dengan dua karyawan baru yang direkomendasikan oleh Deni. Selain itu, rencananya hari ini juga mau bicara dengan paman Rudi usai jualan nanti.


"Assalamualaikum," sebuah suara membuyarkan pikiranku.


"Yas, kemarilah!" aku memberi isyarat agar ia masuk. "Ada apa?"


"Sarapan sudah siap. Mas makan yuk," ajak Yasmin.


"Oh ya. Sebentar. Kamu masak sama ibu?"


"Iya. Tapi ibu masaknya banyak dan aku tidak diizinkan ikut membantu lama."


"Oh ya? Memang masaknya apa saja?"


"Ada macam-macam. Ada sayurnya, goreng-gorengan, tumisan, gulai juga bebakaran."


"Hm, apakah kita akan makan besar? Sepertinya perutku tidak akan kuat makan banyak di pagi hari." aku memang tidak terbiasa makan dalam porsi besar di pagi hari. Palingan makan nasi goreng, bubur, atau kadang cukup sandwich dan segelas susu, teh atau kopi hangat.


"Entahlah." Yasmin menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu."


"Kamu tidak tanya sama ibu?"


"Riana? Sepagi ini? Oh aku mengerti, ia pasti mau numpang sarapan. Bocah itu memang begitu. Dia tidak bisa masak, makanya suka numpang makan di sini!" aku tertawa kecil.


"Sepertinya bukan untuk numpang makan."


"Lalu apa?"


"Aku tidak tahu, tidak ada kesempatan untuk bertanya karena ibu dan Riana tidak mengizinkan ikut bekerja di sana. Jadi aku cuma membanyu sekedarnya, lalu disuruh naik ke sini."


"Tapi kau kerasan di sini, kan?"


"Kerasan. Tapi ...,".


"Tapi apa?"


"Boleh tidak hari ini aku ikut jualan?"

__ADS_1


"Jangan hari ini ya, besok saja. Kamu terlihat lelah. Istirahat saja dulu. Lagipula hari ini belum buka seratus persen, ada beberapa yang harus diurus terutama bicara dengan paman Rudi."


"Bicara tentang apa?"


"Sebuah rahasia!"


Yasmin mengerutkan keningnya. Ia menganggukkan kepalanya. Semula wajah itu memperlihatkan ekspresi kecewa, tetapi saat kukatakan malamnya kami akan mengunjungi pak Bimo, ia langsung sumringah.


***


"Hei, ada apa ini? Apa ibu dan Riana mau membuka kedai juga?" tanyaku, saat menghampiri dapur untuk melihat kehebohan pagi ini seperti yang sudah dilaporkan oleh Yasmin.


"Hei Qret," sapa Riana. "Hari ini aku bolos ya."


"Enak saja. Kau pegawai baru sudah berani bolos." aku geleng-geleng kepala. "Aku akan memotong gajimu separuhnya!"


"Kau tega sekali, Qret," Riana tidak terima. "Cuma satu hari."


"Sekarang bolos sehari, kalau kubiarkan bisa bolos lagi nantinya!"


"Terserah kaulah, dasar pelit!" Riana mencibir.


"Qret, hanya sehari ini. Lagipula ibu yang meminta Riana untuk membantu."


"Memangnya ini semua untuk apa, Bu? Tidak mungkin untuk makan kita, kan?" aku menebak, porsi makan kami tidak akan sebanyak ini.


"Ibu sengaja masak banyak untuk dibagikan ke tetangga kiri dan kanan," ungkap ibu. "Sebagai acara pengganti makan-makan. Pemberitahuan pada orang-orang bahwa kau sudah menikah agar tidak ada yang berprasangka buruk."


Pernikahan memang sebaiknya tidak disembunyikan, diberitahukan pada semua orang agar tidak menimbulkan fitnah dikemudian hari.


"Tapi ini terlalu banyak, Bu. Tetangga di sekitar sini hanya beberapa rumah." kataku, mengingatkan bahwa rumah yang ada di sekitar tempat tinggal kami tidak banyak mengingat kamumi berada di kawasan perkantoran dan sekolah.


"Tidak apa-apa, mau ibu berikan juga untuk anak jalanan dan ke panti asuhan. Nanti ibu, Riana dan Yasmin akan ke panti dan berkeliling sebentar di antar ayahmu." kata ibu.


"Baiklah, lakukan apapun yang membuat ibu senang." kataku pada ibu.


Usai sarapan berlima karena Riana juga ikut sarapan di sini, aku pamit ke kedai yang hanya berjarak dua rumah dari tempat tinggal kami untuk mulai berjualan. Sebenarnya agak canggung karena harus berhadapan dengan anak baru yang sebelumnya tidak pernah ku kenal.

__ADS_1


Tetapi melihat Riana yang sangat dibutuhkan oleh ibu kehadirannya saat ini membuatku tidak bisa memaksakan agar Riana juga ikut bekerja denganku hati ini.


"Aku pamit dulu," kataku, setelah mencium kening Yasmin, juga menyalami ayah dan ibu. Sementara yang lainnya langsung sibuk dengan pekerjaan awal mereka.


__ADS_2