
"Asep!" bapak tersebut memanggil seseorang. Tidak lama keluar seorang polisi yang tadi bertugas menjaga. "Kenapa kamu ijinkan Jimmi mengeluarkan tahanan?"
"Siap pak. Ini perintah pak Jimmi!" jawab pak polisi bernama Asep tersebut.
"Tapi kamu tahu ini menyalahi aturan!" kata bapak tersebut.
"Siap. Saya lalai, pak!" jawabnya.
"Saya akan memberikan kalian hukuman. Jimmi, siapkan phus up sebanyak seribu kali, setelah itu lanjut lari keliling lapangan ini sebanyak seratus kali!" perintah bapak tersebut. "Kamu Asep, saya tugaskan untuk menghitung. Kalau sampai salah, kamu yang lanjutkan hukuman Jimmi. Mengerti!"
"Siap, mengerti komandan!" jawab Jimmi dan Asep secara bersamaan.
Setelah memberi hormat pada bapak tersebut, Jimmi dan polisi bernama Asep langsung melaksanakan perintah tadi. Jimmi mulai push up, sedangkan Asep menghitung dengan suara keras.
Push up seribu kali, ditambah lari seratus keliling lapangan? Ku harap.mereka kuat, jangan sampai jatuh pingsan.
"Mas Qret, saya minta maaf atas kejadian hari ini. Mari kita kembali." bapak tersebut mengajakku masuk, sementara dua bawahannya menjalankan hukuman.
Bapak tersebut tidak langsung mengembalikanku ke sel tahanan, ia membawaku ke ruangannya untuk mengobati luka bekas pukulan di wajahku.
"Maaf pak, sebelumnya, boleh saya tahu nama bapak siapa?" tanyaku, sambil meringis menahan sakit, saat salah seorang bawahannya membersihkan luka di bibir.
"Lho, mas Qret belum kenal saya? Nama bapak, Bagus." ia menyodorkan tangannya.
"Terimakasih banyak pak Bagus, untuk bantuan bapak. Andai tidak ada bapak tadi, mungkin saya sudah terkena tembakan."
"Ini sudah jadi tugas bapak sebagai seorang polisi! Bapak hanya kaget saja melihat sikap Jimmi tadi, seperti menyimpan dendam pada mas Qret."
"Jimmi adalah saudara tiri saya, pak." aku menceritakan garis besar tentang hubungan kami. Pernikahan ayah dan ibu, juga proses perceraian ayah dan ibunya Jimmi. Tanpa menyebutkan secara detail aib di keluarga kami.
__ADS_1
"Mungkin Jimmi kecewa pada ayahnya, sehingga melampiaskan semuanya pada mas Qret. Bapak hanya mencoba memahami psikologis seorang anak broken home. Tetapi tidak menyalahkan mas Qret karena dalam hal ini mas Qret juga jadi korban. Bukan begitu?"
"Saya menerima dengan lapang dada kemarahan Jimmi, pak. Hanya saja jika berkaitan dengan ibu, sampai menyinggung ibu yang sudah berubah, memang akan membuat saya terpancing emosi."
"Iya, wajar. Mas Qret juga masih muda. Mungkin Jimmi belum siap saja sebab selama ini ia berada di lingkungan terhormat. Bila ayah dan ibunya berpisah, akan menjadi berita buruk untuk mereka. Tetapi jika itu yang terbaik, ya mau bagaimana lagi. Iya, kan?"
"Iya pak."
"Lalu bagaimana dengan kasus mas Qret sendiri?"
"Masih dilakukan penyidikan, pak. Berkas belum lengkap. Tetapi sekarang saya kesulitan menghubungi Pengacara saya. Padahal ada banyak pertanyaan yang ingin saya sampaikan."
"Mas Qret tidak mau mencari pengacara baru?"
"Tadi, ayah saya juga sudah menawarkan hal serupa, pak. Tetapi belum ada kabar hingga saat ini. Saya menyadari, mungkin karena sekarang ayah sudah berbeda dari dahulu. Sekarang ayah sudah tidak punya power lagi."
"Bagaimana kalau bapak bantu menyediakan pengacara untuk mas Qret?" Pak Bagus menceritakan tentang putrinya, seorang advokat yang sudah beracara hampir tujuh tahun.
Mendengar bahwa putri pak Bagus adalah pengacara kelas internasional dengan jam terbang yang sudah cukup tinggi membuatku sangat tertarik, bahkan yakin masalahku bisa diselesaikan.
"Saya mau sekali, pak. Tapi ...." aku tidak melanjutkan kata-kata. Tetapi langsung ingat tarif pengacara kondang yang pastinya tidak murah, apalagi sudah taraf internasional.
Pasti butuh banyak uang untuk membayar pengacara tersebut. Bisa-bisa bayarannya pakai dollar. Lalu dari mana kudapatkan yang tersebut? Padahal tabunganku sudah menipis karena ujian yang terjadi berulang kali.
"Ya Allah!" aku membatin.
"Bagaimana mas Qret? Kalau mas bersedia, bapak bisa hubungi dia sekarang agar nanti mampir ke sini. Kebetulan ia sedang ada di Jakarta. Mau?" tanya pak Bagus lagi, membuyarkan lamunanku.
"Sepertinya tidak dulu, pak." ucapku.
__ADS_1
"Lho, kenapa? Mas Qret tidak yakin? Coba dulu saja ngobrol dengannya. Bapak yakin kalian bisa memecahkan kasus ini dengan baik. Dia itu memang masih muda, mungkin seumuran dengan mas Qret, tapi pengalamannya sudah banyak. Sejak lulus SD sudah terbiasa hidup mandiri dan menetap di luar negeri."
"Bukan pak. Bukan saya tidak percaya. Saya justru sangat yakin putri bapak adalah pengacara hebat, tetapi lebih kepada ...."
"Apa nak Qret? Bicaralah, supaya bapak mengerti."
"Sebenarnya ... saya berharap, putri bapak berkenan jadi pengacara saya. Tetapi saya sadar diri, pasti bayarannya besar, saya tidak akan mampu membayarnya." kataku, malu-malu.
"Apa? Jadi karena itu? Hahaha ..." tawa pak Bagus langsung pecah.
"Iya pak."
"Kalau itu masalahnya, mas Qret tenang saja. Mas Qret tidak perlu membayar sepeserpun. Alias gratis. Ini hanya untuk mas Qret, ya."
"Lho, kenapa begitu, pak?"
"Sebab bapak sangat terkesan dengan anak muda seperti mas Qret. Bapak yakin sekali, mas Qret tidak bersalah. Itulah sebabnya bapak buru-buru ke sini untuk menemui mas Qret. Bapak yakin, tidak ada bandar narkoba yang salat Sunnah dua rakaat sebelum Subuh!"
"Allahuakbar. Alhamdulillah. Terimakasih banyak pak. Sungguh saya sangat berterimakasih sekali. Saya tidak sebaik yang bapak katakan. Tetapi saya berani bersumpah bahwa saya bukan pengedar ganja, pak. Sungguh!" kataku, sungguh-sungguh.
"Iya, seperti yang bapak katakan di awal, bapak percaya. Bapak ini polisi, pernah jadi Intel juga. Bapak mengerti, ini pasti sebuah jebakan. Itulah sebabnya bapak menawarkan jasa pengacara karena bapak yakin jika mas Qret mendapatkan pengacara yang hebat maka bisa keluar dari masalah ini. Tetapi tetap semua bisa terjadi atas izin Allah "
"Baik pak. Baik. Saya terima tawaran bapak!" aku menjabat tangan pak Bagus dengan penuh rasa terima kasih.
Setelah itu pak Bagus langsung menghubungi putrinya dari hp. Pak Bagus memintanya datang secepat mungkin ke kantor polisi.
"Putri bapak masih di Bogor. Paling lambat sore ini dia sudah sampai. Mas Qret bersabar ya." pinta pak Bagus.
"InsyaAllah saya akan sabar, pak. Terimakasih banyak pak atas bantuannya. Saya tidak akan pernah melupakan jasa kebaikan bapak." kembali aku menggenggam tangannya. Kali ini dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Allah itu baik. Allah Maha baik. Allah tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Kita hanya harus Ridha dengan segala ketetapan Allah. Harus sabar sebab kita tidak pernah tahu, segala yang terjadi apakah berkah atau musibah? Hanya Dia yang tahu, satu-satunya yang kita dapat lakukan adalah Ridha dengan segala takdur-Nya, baik ataupun buruk.