
"Kenapa lama?" pertanyaan Joko membuat Mia terperanjat. Tidak biasanya lelaki itu bicara keras padanya. Semua orang juga tahu kalau sejak awal Mia menjadi mahasiswi baru, lelaki itu sudah menyimpan rasa yang begitu besar, bisa dikatakan bucin akut, sampai-sampai Joko rela melakukan apapun yang diminta Mia, termasuk hari ini, saat Mia meminta Joko untuk memasang artikel berisi fitnahan terhadap Jasmin.
Joko tahu, Mia begitu karena cemburu dengan kedekatan Ken pada gadis itu, tetapi ia harus merelakan hatinya menahan sakit sebab tak tega melihat gadis pujaan hatinya merengek. Apalagi sampai tidak semangat melakukan apapun.
"Kamu kira mudah bagiku meninggalkan kampus saat Ren dan Dito masih sibuk mencari bukti-bukti." ungkap Mia. "Aku harus tahu langkah apa lagi yang ingin mereka tempuh. Sebab kalau kita ketinggalan satu berita saja maka masalah besar akan menanti kita."
"Lalu apa berita yang sudah kamu dapatkan?" tanya Joko.
"Ren dan Dito tetap bersikeras membawa masalah ini ke jalur hukum. Mereka nggak mau diam sampai pelakunya ditemukan."
"Ya sudah, kita tamat!"
"Kok begitu sih?"
"Lalu harus bagaimana lagi Mia?"
"Kamu mau aku dapat masalah?"
"Dari awal kamu yang membiarkan masalah itu menghampiri hidupmu. Kamu yang nyari-nyari masalah Mi. Harusnya kamu fokus pada pendidikan kamu saja, menyelesaikan tugas sebagai calon dokter."
"Kami tahu kan aku cinta sama Ren?"
"Tapi Ren nggak cinta sama kamu!" dengan nada emosi Joko mentakanannya. Ia memang tak pernah mengerti mengapa gadis itu sulit sekali menerima kenyataan, sama seperti ia tak mengerti dengan dirinya sendiri. Sudah jelas-jelas Mia tak mencintainya, tapi masih saya rela mengabdikan diri melakukan apapun demi membuat Mia senang.
"Sama seperti kamu. Aku nggak cinta sedikitpun sama kamu. Kenapa kamu masih setia di sisiku?"
"Karena ... Aghhhhh!" Joko berteriak, sehingga membuat Mia kaget.
"Kamu mau membuatku jantungan, lalu mati?"
"Kalau begitu ayo kita mati bersama saja!"
"Enggak. Gila kamu Jo!"
__ADS_1
"Kamu yang gila Mia. Sudah jelas-jelas ada laki-laki yang mencintai kamu, tapi kamu masih saja memilih memperjuangkan lelaki yang melihat kamu saja enggak. Ayolah Mi. Apalagi yang kurang? Aku akan lakukan apapun untuk membuatmu bahagia. Jadi, tolong beri aku kesempatan!"
"Nggak Joko, nggak akan pernah. Gila kamu! Aku mencintai Ren, dan nggak akan pernah berpaling darinya."
"Kalau begitu lebih baik aku mengaku saja!"
"Apa? Kamu mau menghancurkan aku?"
"Terserah!"
Joko berlari menuju kampus yang letaknya tidak terlalu jauh, sementara Mia mulai panik bahwa semuanya akan ketahuan. Ia benar-benar takut membayangkan reaksi Ren.
"Nggak, aku nggak akan biarkan Joko melakukan itu semua. Aku nggak mau Ren membenciku hanya gara-gara fitnahan pada Jasmin!"
Mia terus berlari kencang, ia mengejar sosok Joko hingga tanpa disandarinya, saat hendak melintas, Mia ditabrak motor yang melaju kencang.
"Aaaaaaa!" Mia berteriak.
***
Dengan cepat, sambil memperhatikan pintu kamar mandi, Yasmin membuka tas Jasmin, ia mendapati sebuah amplop besar, isinya uang ratusan ribu, jumlahnya cukup banyak. Selain itu ada lembaran kertas yang tak beraturan. Saat Yasmin membacanya, ia begitu terkejut.
Jasmin, si perempuan murahan. Yang menjual diri demi uang.
"Astagfirullah!" Yasmin geleng-geleng kepala, ia begitu marah, geram dengan apa yang barusan dibacanya.
Begitu pintu kamar mandi dibuka, Yasmin langsung menarik rambut putrinya hingga gadis itu meringis menahan sakit.
"Ibu, apa ini, sakit sekali. Kenapa ibu menarik rambutku?" tanya Jasmin sambil memohon agar dilepaskan.
"Apa saja yang sudah kamu lakukan di luar saja? Berapa banyak dosa yang sudah kamu lakukan? Ayo jawab Jasmin!" ungkap ibunya.
"Dosa apa, Bu?"
__ADS_1
"Jangan pura-pura lagi. Ayo mengaku. Aku benar-benar murka dengan ulahmu."
"Enggak ada Bu."
"Oh, jadi kamu tidak mau mengaku juga? Baiklah, ini!" Yasmin menarik rambut anaknya lebih kencang lagi.
"Ibu sakit!" Jasmin menjerit kesakitan, ia berusaha melepaskan, tetapi ibunya tidak peduli.
"Yasmin?" Riana yang baru datang kaget melihat pemandangan di hadapannya. Seorang ibu menjambak anaknya sampai menjerit menahan sakit. "Apa yang kamu lakukan pada Jasmin? Kamu menyakitinya!" ungkap Riana, sambil memisahkan ibu dan anak itu. Riana benar-benar kasihan melihat Jasmin, ia yakin sekali kalau anak itu pasti kesakitan sekali sebab Jasmin sampai menangis padahal biasanya ia jarang sekali menangis meski Yasmin kadang menyakitinya dengan kata-kata. Bahkan rambutnya rontok cukup banyak di tangan Yasmin.
"Dia juga sudah menyakitiku. Jika ayahnya bangun, ia pun pasti akan sangat kecewa. Anak ini benar-benar terlalu!" kata Yasmin.
"Kesalahan apa yang dilakukan Jasmin sampai kamu begitu murka?" tanya Riana, sambil berusaha melindungi Jasmin dari amukan ibunya.
"Ini, lihat. Baca baik-baik. Apa yang ada dalam tulisan ini. Mereka mengatakan kalau Jasmin adalah perempuan bayaran. Hati ibu mana yang tidak sakit membacanya?" kata Yasmin dengan histeris. Ia tampak begitu terpukul. "Aku sudah sangat lelah Riana, dengan cobaan yang tak berhenti ini. Lihat, bukannya membantu meringankan beban ibunya, ia malah menambah luka baru di hidup kami. Dia tega melempar kotoran pada kami padahal aku dan ayahnya sudah berusaha memberikan yang terbaik!"
"Yas, jangan salah faham dulu. Aku yang akan jelaskan." kata Riana. "Ini semua tidak benar. Jasmin sudah mentakanannya padaku beberapa hari lalu. Ia difitnah oleh temannya di kampus. Entah siapa pelakunya. Tapi Jasmin tidak melakukan hal terlarang sama sekali. Bahkan pihak kampus sudah mengusut siapa pelakunya."
"Lalu uang yang banyak itu dari mana asalnya? Juga foto-foto ini?" Yasmin tidak dengan mudah mempercayai penuturan Riana sebab bagi Yasmin, Riana akan selalu berusaha membela Jasmin mati-matian.
"Jasmin bekerja." kata Riana.
"Kerja apa?"
"Jasmin sengaja tidak memberitahumu bahwa ia bekerja membuta kue. Sebagian dititipkan di tokoku, sebagian lagi ia jual online. Jasmin punya semua datangnya, kamu bisa mengecek semuanya.
Lalu tentang foto itu, semuanya juga tidak benar. Sebenarnya foto itu adalah transaksi terjemahan Jasmin. Ia menerjemahkan buku-buku dan mereka membayar Jasmin. Itulah yang sebenarnya terjadi. Jasmin melakukan semuanya demi membantumu membayar biaya rumah sakit Qret. Itu saja."
Yasmin diam, ia menatap putrinya yang menundukkan wajah. Perempuan itu merasa benar-benar bingung, entah harus mengatakan apa. Satu sisi ia terharu dengan apa yang dilakukan Jasmin, tapi ia tidak memungkiri, kecewa sebab Jasmin tidak bicara apapun padanya, bahkan sekedar meminta izin.
Dengan langkah gontai, Yasmin keluar dari ruang tempat suaminya di rawat. Ia melangkah menyusuri lorong-lorong rumah sakit, melewati orang-orang yang lalu lalang.
"Bibi, bagaimana ini?" tanya Jasmin yang semenjak tadi diam, ia merasa sangat takut kalau-kalau ibunya marah besar. Apalagi sebelumnya ibunya sudah menjambak Jasmin.
__ADS_1
"Kamu tenang saja. Aku yang akan bicara pada Yasmin." Riana segera meninggalkan ruangan kamar Qret, ia berlari kecil, menyusul langkah Yasmin.