GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
93. Rapat Berdua Dengan Yasmin


__ADS_3

Ba'da Isya, aku dan Yasmin langsung masuk ke ruang kerja. Ada beberapa hal yang harus kami bicarakan, yaitu tentang kedai. Sejak menikah, ia adalah orang kepercayaan sekaligus penasihat yang paling ku dengar. Ide-ide Yasmin selalu membuatku bersemangat untuk mengembangkan kedai ke depannya. Itulah salah satu alasan mengapa aku begitu merasa beruntung mendapatkan Yasmin. Ia tidak hanya siap diajak senang, tapi juga ketika susah, ia tidak pernah mengeluh sedikitpun.


Tadi aku juga sudah mengabarinya tentang kedai baru yang akan menjadi tetangga kami. Entah siapa pemiliknya, tapi yang jelas, kamu harus melakukan inovasi terus menerus agar pelanggan tidak kabur ke tempat lain.


Aku kini sibuk melihat grafik uang masuk, sementara Yasmin mulai membuat oretan-oretan, kira-kira resep yang menarik untuk disajikan. Sejak awal berdiri, tiap bulan pemasukannya selalu naik dua kali lipat dari sebelumnya.


Konon karena masakan kami memang punya cita rasa khas tersendiri. Aku sendiri yang bertanggung untuk mengolahnya. Tetapi setelah ini, Yasmin akan mengurus semua keperluanku.


"Bagaimana kalau kita buat makanan berkelas saja?" usul Yasmin. "Seperti di restoran atau hotel-hotel bintang lima."


"Butuh modal besar, Yas."


"Kalau begitu buat sesederhana dulu, mas Qret. Misalnya dengan menambahkan menu pembuka dan penutup."


"Pasar kita kan seluruh lapisan, Yas. Kalau pakai menu hotel atau restoran, belum cocok dengan tempat kita yang sangat sederhana atau bahkan bisa dikatakan minimalis sekali." ungkapku, sambil menjelaskan pada Yasmin bagaimana tempat makan di resto terkenal.


Yasmin mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang belum pernah makan di restoran, bahkan Yasmin mengaku kedai yang kamu miliki sekarang sudah sangat mewah baginya.


"Kalau ayam geprek seperti yang sedang hits, bagaimana?" tanya Yasmin lagi.


"Jangan, menu itu memang tidak pernah kumasukkan karena kedai-kedai di sekitar kita rata-rata menyajikan menu tersebut." aku menyebutkan beberapa kedai yang letaknya hanya berjarak beberapa bangunan dari kami.


"Mereka malah sudah punya ciri khas tertentu, pasti sudah punya pelanggan sendiri. Apalagi mereka sudah duluan." entah mengapa aku jadi ingin membawa Yasmin jalan-jalan sore sekedar makan di kedai sekitar kami.


"Kalau begitu kita buat makanan kampung saja!" usul Yasmin.


Aku mengerutkan kening, mendengar istriku tersebut menjabarkan ide yang baru ia lontarkan tadi.


Menyajikan makanan khas dari kampung untuk menu makan siang dan makan malam. Kedai kami menang sudah mulai buka dari pukul tujuh hingga sembilan malam. Kami sudah merekrut sepuluh orang pelayan baru lainnya.


"Bagaimana?" tanya Yasmin, usai mempresentasikan idenya.

__ADS_1


"Menarik. Kau bisa memasaknya? Setidaknya mengajari koki kita?"


"Bisa beberapa menu. Ibu juga bisa," ungkap Yasmin. "Waktu pertama pindah ke sini, aku sangat yakin sebenarnya mas Ivan kenapa? Tapi ia menjawab santai."


"Ibu kenapa?" tiba-tiba ibu sudah berada di belakang Yasmin.


"Ibu ...," Yasmin tersipu malu.


Aku menceritakan pada ibu tentang kondisi kedai kami yang akan mendapatkan saingan baru. Karena itu saat ini kami berdua mengadakan rapat untuk menbahas kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi. Salah satu hal buruknya adalah pelanggan kabur ke sana.


"Kalau begitu ibu siap membantu di kedai." kata ibu.


"Jangan Bu, ibu di rumah saja. Ajari Yasmin, nanti ia yang akan mentransfer ilmu dari ibu pada koki di kedai." kataku pada ibu.


"Lho, memangnya kalau ibu yang mengajarkan bagaimana?" tanya ibu sambil menatapku, heran.


"Qret tidak mau ibu kelelahan lalu jatuh sakit." kataku lagi.


"Bagaimana?" Yasmin menatapku.


"Baiklah, tapi tetap tidak boleh porsir. Sehari hanya satu sampai dua jam." kataku.


"Siap bos Qret!" ungkap Yasmin dan ibu.


"Sudah malam, sebaiknya lanjutkan besok." aku mengajak kedua wanita itu keluar dari kantor. Lalu ibu menuju kamarnya, aku dan Yasmin menuju kamar kami.


"Apa mas masih optimis bahwa kedai kita akan tetap maju?" tanya Yasmin. Aku menangkap kekhawatiran di wajahnya.


Sikap Yasmin sebenarnya wajar. Kedai di depan kami sudah mulai dibangun, dari pondasinya terlihat lebih luas dan mewah tiga kali lipat dibandingkan kedai kami. Orang-orang pasti akan menjadikannya sebagai pilihan utama. Padahal kami baru saja mengadakan perekrutan besar-besaran.


"Aku sudah pertimbangkan semuanya, insyaAllah semua akan baik-baik saja." aku membelai pelan rambut Yasmin. Sebenarnya akupun merasa cukup khawatir, tetapi dihadapannya, aku selalu bersikap tenang agar Yasmin pun tidak perlu khawatir.

__ADS_1


Sejak menikahi Yasmin, aku sudah bertekad akan memberikan kebahagiaan untuknya. Sudah cukup selama ini ia merasakan penderitaan. Ia harus bahagia dan aku akan melakukan apapun untuk itu.


"Mas, bagaimana kalau ternyata kita kalah saing? Lalu tidak ada yang belanja ke kedai kita. Dengan apa menggaji karyawan nantinya?" ungkap Yasmin dengan raut wajah khawatir.


"Tidak usah memikirkan sesuatu yang belum tentu akan terjadi, Yas. Kau tahu, kalau kau ngotot ingin menguraikannya, padahal itu semua belum tentu terjadi pada kita, kau sendiri yang akan pusing nantinya."


"Mas bijaksana sekali. Aku bangga pada mas!"


"Siapa dulu dong istrinya!" pelan, aku menjawil hidung Yasmin yang lumayan mancung.


"Ternyata sekarang mas juga sudah pintar merayu ya?" Yasmin menatapku dengan tatapan ingin menggoda, tapi aku dengan mudah menangkisnya.


Kini aku bisa tahu jawaban untuk pertanyaanku kala itu, tentang sikap Yasmin yang sebenarnya. Dulu ia memang dingin, hanya bicara satu-satu saja. Tetapi setelah kami menikah, ia menjadi lebih hangat, senang berbicara dengan orang lain, bahkan begitu terbuka. Bukankah memang seharusnya sikap muslimah begitu, tidak sembarang terhadap yang bukan mahramnya.


"Kau benar-benar berubah dari dulu, Yas!" ungkapku.


"Berubah apanya?"


"Semakin cantik!"


"Mas Qret!"


Sebelum lelap dalam tidur, kami berdua kembali merangkai kata dalam doa. Ada banyak pinta yang kami sampaikan tentang harapan-harapan kedepannya.


Sepuluh orang karyawan baru yang ku pekerjaan tersebut adalah orang miskin yang betul-betul membutuhkan pekerjaan sebab tanggung jawab mereka yang cukup berat. Padahal sebenarnya aku hanya membutuhkan separuh dari jumlah karyawan sekarang. Apalagi mengingat besaran gaji yang harus dikeluarkan.


"Yas, aku ingat sesuatu!" tiba-tiba aku bangkit dari tempat tidur, lalu menuju lemari pakaianku, mengambil sesuatu yang ada di dalamnya. "Nah ini!" aku menunjukkan buku catatan pada Yasmin. "Bagaimana kalau kita juga berjualan online?" tanyaku.


"Boleh. Tapi harus tahu bagaimana hukumnya secara syariat." kata Yasmin. Ia memang sangat berhati-hati dalam urusan halal dan haram.


"Nanti kita tanya pada Heri," kataku. "Ini akan jadi peluang besar. Apalagi sekarang jumlah pengikutnya lebih banyak."

__ADS_1


Kembali aku menuliskan ide-ide dariku dan Yasmin. Setelah semuanya beres, barulah kami istirahat.


__ADS_2