
Pukul empat dini hari, saat aku terbangun, tampak Yasmin masih berkutat dengan setumpuk kertas yang penuh oret-oretan. Ia masih berada di tempat yang sama saat aku tidur tadi malam. Berarti ia belum juga tidur sama sekali.
"Yas, apa yang kau lakukan?" tanyaku, berusaha meraih tangannya agar segera ke tempat tidur. Aku benar-benar khawatir akan kesehatannya. Terakhir saat kami periksa, dokter menyarankan agar Yasmin tidak banyak beraktivitas dulu. Ia justru harus banyak istirahat.
"Aku masih menyelesaikan desainku. Tetapi dari semalam belum ketemu yang pas." katanya, sambil membolak-balikkan lembar yang dipegangnya. "Bagaimana ini, waktunya sudah mepet tapi belum juga ada yang cocok."
"Berarti dari semalam kau belum tidur."
"Aku tidak mengantuk, mas. Ada yang lebih penting ketimbang tidur."
"Enggak ngantuk bukan berarti tidak tidur. Sekarang bersiap salat subuh, setelah itu kau harus tidur. Aku tidak mau lagi melihatmu memegang desain itu sampai kau benar-benar tidur."
"Tapi mas!"
"Kau tidak mau kan aku benar-benar melarangnya untuk selamanya? Jadi sebaiknya menurutlah Yasmin!"
"Baiklah." Yasmin menurut, ia menyimpan semua kertasnya, lalu bergegas ke kamar mandi untuk wudhu, setelah itu menunggu waktu salat sambil tadarus.
Seperti apa yang sudah ku perintahkan, Yasmin langsung tidur setelah selesai salat. Ia langsung terlelap. Aku yakin sebenarnya ia begitu ngantuk, tetapi demi bisa diterima di perusahaan dan butik milik Alifa makanya ia memutuskan bekerja keras. Melihat sikapnya Yasmin ini membuatku merasa sangat bersalah.
***
Persis seperti apa yang kuduga, setelah aksi lemburnya, Yasmin jatuh sakit. Ia ternyata tidak sanggup bekerja terlalu keras. Apalagi kondisi Yasmin belum pulih seratus persen. Tetapi karena tekadnya terlalu keraslah makanya semuanya bisa diselesaikan.
Bahkan pagi ini, saat ia belum pulih betul, Yasmin sudah tidak mau istirahat di tempat tidur.
Sudah dua jam lebih, Yasmin mondar-mandir di hadapanku. Aku yang semula fokus membuat cake pesanan akhirnya konsentrasi pecah juga.
"Kau sedang apa sih Yas?" tanyaku. Setelah selesai menghias cake-cake tersebut dengan aneka warna toping sehingga bentuknya makin menggugah selera. Meskipun tidak punya sertifikat dibidang memasak, tetapi kemampuanku tidak bisa disepelekan. Aku belajar karena terbiasa.
"Aku sedang menunggu sesuatu mas." katanya. Ia lalu kembali mondar-mandir.
"Apa?"
"Sesuatu."
__ADS_1
Kring kring. Suara telepon Yasmin, lalu ia buru-buru menjauh sambil mengangkat panggilan tersebut. Sikapnya itu benar-benar aneh.
"Mas!" pekik Yasmin, setelah telepon ditutupnya.
"Apa?" aku hanya meliriknya sebentar, kemudian fokus pada cake berikutnya.
"Tahu tidak, aku diterima kerja!" Yasmin kembali memekik.
"Dimana?"
"Di perusahaan Alifa. Aku terpilih sebagai salah satu desainer untuk produk barunya. Statusnya masih freelance, tapi kalau kerjaku bagus maka akan diangkat jadi pegawai tetap. Menarik bukan?"
"Biasa saja."
"Tapi mas mengizinkan aku, kan?"
"Tidak."
"Kenapa begitu? Mas kan tahu aku bekerja keras menyelesaikan desainku agar bisa masuk perusahaan tersebut."
"Tapi mas ... ini semua adalah impianku. Ini satu-satunya perusahaan yang tidak melihat latar belakang pendidikan. Mereka lebih mengutamakan kualitas seseorang. Kemampuan, mas. Dan aku beruntung bisa lolos. Jadi tolong mas!"
"Tidak Yas."
"Kenapa begitu?"
"Tidak ya tidak. Kau baru juga sembuh. Kondisimu belum memungkinkan kerja di luar. Aku tidak mau terjadi hal buruk lagi sehingga akan menyesali seumur hidupku karena tidak becus menjagamu."
"Tapi mas ...." sepasang mata milik Yasmin berubah jadi berkaca-kaca. Tetapi aku memilih mengabaikannya. Ini semua aku lakukan untuk kebaikannya juga. Beberapa hari lalu ia sampai jatuh pingsan hanya karena memaksakan diri untuk menyelesaikan pekerjaannya. Apalagi nantinya harus kerja di kantor dengan jam kerja yang sangat ketat.
***
Yasmin mogok bicara. Ia juga makan dan minum seadanya. Benar-benar membuatku kesal. Tetapi hingga kini aku masih bersikukuh dengan apa yang sudah kuputuskan. Tidak ingin ditawar-tawar lagi.
"Kau kenapa diam saja, Yas?" tanya Riana yang kebetulan main sore ini ke rumah kami.
__ADS_1
"Tidak apa-apa." jawabnya.
"Pasti ada apa-apa. Qret, katakan padaku!" pinta Riana.
"Dia sedang mogok bicara. Semacam melakukan aksi demo agar aku mengizinkan dia bekerja." kataku, menjawab santai sambil menyeruput kopi hitam yang masih panas.
"Kerja dimana?" tanya Riana lagi.
"Di perusahaan baru Alifa."
"Kenapa harus dilarang? Kau itu harusnya mendukung Yasmin, Qret. Kau tahu kan impiannya Yasmin adalah menjadi seorang desainer, tetapi kau malah membatasi hanya sebatas sebagai seorang penjahit. Suami yang kejam!"
"Enak saja kau bicara!"
"Aku bicara apa adanya. Kau memang terlalu lada Yasmin. Harusnya kau mendukung seperti Yasmin mendukungmu."
Riana masih saja mengoceh, memojokkan aku dengan argumen-argumennya yang sangat memaksakan kehendak. Tetapi bukan Qret namanya kalau tidak bisa menangkis serangan-serangan Riana yang menyudutkan aku.
***
Sudah pukul sepuluh malam, tetapi Yasmin masih duduk di hadapan meja kerjanya. Ia tidak membuta desain apapun selain mencoret-coret kertas di hadapannya. Sebuah sikap yang sukses membuatku frustasi sendiri.
"Aku sebenarnya tetap pada pendiriannya, tidak mengizinkan kamu bekerja karena aku yakin bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga kita. Tapi kalau kamu tetap memaksakan kehendak, silakan saja. Kalau ada apa-apa jangan mengeluh padaku. Termasuk jika kau sakit." kataku, dengan harapan ia akan menyerah dan segera tidur.
Tetapi aku salah, Yasmin malah menganggap bahwa itu adalah izin, makanya ia langsung tersenyum lebar. Wajahnya yang semula murung berubah penuh semangat. Kalau sudah begini, aku bisa apa?
"Ingat Yas, perjanjian yang kita sepakati. Begitu aku mampu maka kau harus berhenti, apapun yang terjadi. Satu hal lagi, kau tidak boleh porsir. Kalau kau tetap memaksakan diri maka aku akan melarang kamu bekerja, bahkan tidak boleh keluar dari rumah ini. Paham!"
"Iya mas, aku paham sekali." ia mengeringkan matanya, lalu bergegas tidur sebab khawatir aku berubah pikiran, mencabut ekonomi baku apa yang sudah kami sepakati.
***
Pagi ini aku punya agenda baru, mengantar Yasmin. Sore menjemputnya pulang kerja. Setelah turun dari motor, Yasmin melambaikan tangannya, lalu bergegas masuk dalam gedung berlantai tiga. Sebuah gedung perkantoran yang tidak lebih besar dari kantor-kantor di sekitarnya, tetapi lengkap dengan butiknya.
Usai mengantar Yasmin, aku segera pulang. Mulai kembali bekerja. Menyelesaikan pesanan agar bisa mendapatkan pesanan baru supaya uang terkumpul dan bisa kembali menebus tanah serta kedai.
__ADS_1
Tidak ada lagi waktu berleha-leha. Membiarkan Yasmin bekerja di luar adalah sebuah pilihan yang tidak pernah kusukai. Aku tidak ingin begitu api tidak punya pilihan lain. Rasanya seperti mendapatkan tamparan besar sebab aku meyakini bahwa tugas mencari nafkah adakah kewajiban seorang lelaki yang bergelar suami. Membiarkan perempuannya di luar adalah sebuah kegagalan bagiku.