
"Ayah? Apa benar ini ayah?" Jasmin menggerakkan tangannya hendak menyentuh orang yang telah menolongnya barusan, tetapi ia langsung menggelengkan kepalanya sebab menyadari sesuatu. "Nggak, anda bukan ayah saya. Siapa Anda?" tanya Jasmin, setelah menyadari bahwa lelaki di hadapannya ini bukanlah ayahnya.
Bagaimana mungkin Jasmin bisa berpikir jika itu adalah ayahnya, sebab ayah telah meninggal. Tak mungkin kembali lagi ke sini. Jasmin menyadari bahwa ia benar-benar di puncak kesedihannya sehingga berharap lelaki yang paling mencintainya segera datang.
"Ya, aku bukan ayahmu, nak." kata lelaki tersebut.
"Oh ya, aku ingat. Paman yang membantuku masuk saat acara sumpah itu, kan?"
"Hm,"
"Maaf paman karena saya sudah memanggil anda ayah. Maaf sekali. Saya benar-benar tidak menyadari kalau anda bukanlah ayah saya sebab wajah anda mengingatkan saya pada ayah saya. Sungguh." kata Jasmin, menjelaskan. Ia khawatir lelaki di hadapannya ini salah paham dan nantinya akan menimbulkan masalah baru.
"Tidak apa-apa. Justru aku merasa senang kalau kau memanggilku ayah atau jika kau mau menganggaoku sebagai ayahmu juga tidak apa-apa. Aku tak keberatan."
"Tidak, terimakasih paman. Tapi tak akan ada seorangpun yang bisa menggantikan posisi ayah di hatiku."
"Kau pasti sangat menyayangi ayahmu."
"Ya. Ayah adalah lelaki terbaik yang aku miliki. Tapi ngomong-ngomong, terimakasih paman sudah membantuku waktu itu dan terimakasih juga karena sudah menolongku. Sungguh aku sangat berterima kasih, kalau tak ada anda entah mungkin aku sudah mengalami kecelakaan."
"Ya, sama-sama, nak."
"Tapi ngomong-ngomong anda sedang apa di sini, paman?"
Lelaki paruh baya itu gelagapan. Ia tak mungkin mengaku jika sedang membuntuti Jasmin sejak gadis itu keluar dari rumahnya.
"Halo paman, apakah anda baik-baik saja?" tanya Jasmin yang tak sabar menanti jawaban. "Oh, apa anda sedang mengantri ingin membeli es krim durian di sana?". tunjuk Jasmin tertuju pada outlet kecil yang berjualan es krim durian dengan pengunjung yang membludak.
"Oh, itu ... ya, aku sebenarnya malu mengakuinya, tapi mau bagaimana lagi, kau benar, aku di sini ingin membeli es krim itu." lelaki itu ikut menunjuk ke arah kerumunan.
"Aku mengerti paman, di usia yang sudah tidak muda pasti malu makan es krim, tapi tidak dosa juga, jadi kupikir tak ada salahnya memakannya. Ayahku juga dulu sering mengajakku makan es krim di sini."
"Jadi, apa kau mau menemaniku makan di sini?"
"Hm, bagaimana ya. Aku tak tau."
"Kenapa? Apa kau takut aku akan melakukan hal-hal terlarang padamu? Tenang saja, aku tak sejahat itu. Aku bahkan sudah menganggaoku sebagai ponakanku sendiri."
"Bukan, tapi ... ahhh sudahlah. Aku mau ikut asal paman yang mentraktir. Bagaimana?"
__ADS_1
"Hahahaha, baiklah. Asal jangan tambah-tambah ya. Tapi aku yakin kau tak akan minta tambah sebab perempuan muda seumuran denganmu sangat menjaga badan. Iya, kan?"
"Paman salah, bahkan aku tak perduli dengan itu semua."
Berdua, Jasmin dan lelaki yang menyelamatkannya itu berjalan beriringan menuju outlet es tersebut. Lelaki itu memesankan dua mangkok es dengan wafel coklat. Sementara menunggu datangnya pesanan, mereka duduk di meja paling ujung yang baru saja kosong setelah pengunjungnya pergi.
"Paman, apa pertemuan kita ini adalah sebuah kesengajaan?" tanya Jasmin.
"Apa maksudnya?" lelaki itu mengerutkan keningnya.
"Entahlah, tapi aku sudah yakin bahwa suatu hari kita akan bertemu."
"Maksudnya?"
"Paman, apa kau masih tetap ingin menyembunyikan identitas dariku?"
"Aku tak mengerti."
"Aku tahu kau adalah pamanku."
"Maksudnya?"
"Jas,"
Jasmin tertawa kecil. Sejak awal ia memang sangat yakin kalau lelaki itu adalah orang yang sering diceritakan oleh ayahnya, hanya saja ia masih belum berani memastikan sebab mereka belum pernah bertemu sebelumnya.
"Ayah sering bercerita tentang paman. Ia sangat menyayangimu. Mungkin karena paman dan paman Jamm adalah dua saudara sedarah yang selama ini tak pernah dimilikinya. Ayah selalu berharap agar suatu hari bisa bertemu dan menjalin persaudaraan dengan paman. Tapi sepertinya harapan ayah belum bisa terwujud sebab hingga akhir hidupnya tak bisa berkumpul dengan paman.
Sedangkan kakek dan nenek, merekapun telah tiada membawa rasa rindu yang begitu besar untuk paman dan paman Jamm.
Andai laman darang lebih awal, pasti ayahku akan sangat senang sekali. Ia begitu menyayangi paman. Bahkan ayah mengatakan kelak jika ia tiada, pamanlah yang akan menjagaku."
"Jas," tiba-tiba Jimmi bangkit dari duduknya. "Ayo kita ke makan ayahmu."
"Paman tidak ingin makan es krim dulu?"
"Kita pergi sekarang, nanti aku traktir lagi!"
Berdua, mereka melangkah meninggalkan kedai, naik ke mobil milik Jimmi, melaju menuju pinggiran kota Jakarta.
__ADS_1
Di depan makan Qret, Jimmi duduk bersimpuh, ia tak bisa lagi membendung air matanya. Rasanya sudah tak tahan untuk segera meluapkan seluruh kerinduan ini.
Dulu, dulu sekali, Jimmi memang sangat membenci lelaki yang berbaring di bawah pusara ini sebab Jimmi merasa kakak tirinya ini sudah merebut semua miliknya. Merebut perempuan yang amat dicintainya, juga ayah yang selalu dibanggakan oleh dirinya.
Butuh beberapa waktu bagi Jimmi untuk menyadari segala khilafnya. Ia sampai harus terbang ke luar negeri demi menenangkan dirinya. Setelah ia menyadari kesalahannya, berita duka yanh didapatkan. Bahwa lelaki yang pernah diajak bertarung kala masih di dalam sel tahanan telah menghembuskan nafas terakhirnya. Tak berselang lama, ayah dan ibu tirinya pun pergi untuk selamanya. Tentu saja pukulan yang amat menyakitkan bagi seorang Jimmi sebab ia terlambat datang.
Kini ia hanya berharap bisa menebus segala kesalahannya pada putri Qret dan Yasmin. Tetapi Jimmi belum berani menampakkan diri. Hingga beberapa waktu lalu saat pertemua tak sengaja di gedung milik ibunya. Ia melihat sendiri gadis yang parasnya amat mirip dengan Yasmin. Jimmi ingin sekali memeluk keponakannya itu, tapi ia tak berani sebab takut ditolak. Siapa sangka ternyata gadis itu justru mengenalinya.
"Seperti yang dikatakan oleh ayahmu, aku akan menjagamu. Mulai sekarang kau adalah tanggung jawabku. Aku akan menjagamu sebaik mungkin. Kau tau itu, kan Jasmin." kata Jimmi sambil membelai kepala ponakannya.
"Paman, ayah pasti sangat senang melihat ini semua. Ia akan sangat bahagia sebab akhirnya kau kembali. Kembali tanpa ada rasa benci sedikitpun. Ayah benar-benar menyayangiku paman, juga laman Jamm." ucap Jasmin.
"Hm, semua sudah takdir-Nya. Kita harus menjalani dengan ikhlas. Mulai sekarang aku akan menjalankan semua amanat dari Qret. Aku pastikan kau tak akan kekurangan apapun."
"Paman, apa kau akan bertemu dengan ibuku?"
"Kira-kira, apa ia akan menerimaku?"
"Entahlah."
"Hmm,"
"Kita tak akan tahu sebelum mencoba, tapi menurutku sebaiknya kalian berbaikan."
"Aku terlalu jahat pada ayah dan ibumu."
"Tapi ayah sudah memaafkan paman."
"Tapi mungkin tidak dengan ibumu."
"Kalau begitu kita harus melakukan sesuatu."
"Kau punya ide?"
"Sebenarnya aku bukan kesayangan ibuku, jadi jikapun aku merengek memintanya memaafkan paman, aku tak yakin ibu mau mendengarkan ku, tapi aku akan mencoba untuk membujuknya agar bisa menerima paman."
"Baiklah. Aku akan berusaha agar Yasmin mau memaafkan aku. Sungguh, hanya maaf darinya yang ku harapkan sekarang ini."
"Kalau paman berharap lebih, aku tak akan mengizinkan. Ibu hanya milik ayah!" Jasmin dan Jimmi tertawa bersamaan.
__ADS_1