
Jasmin tak tahu harus berkata apa, setelah ibu mertuanya menjelaskan pandangannya tentang Ren. Kadang, kita memang harus belajar memahami kondisi orang lain untuk menghindari terjadinya perselisihan, tapi, sebagai pasangan, kalau hanya satu orang yang berusaha terus, maka suatu saat perselisihan itu akan muncul juga sebab dalan berumah tangga, sebaiknya berjuang bersama-sama, bukan hanya mengandalkan satu pihak saja.
"Ibu mengerti, Jas. Ibu juga tidak meminta kamu untuk selalu memahami Ren. Kali ini ibu merasa Ren sudah diambang batas. Ia juga harus memahami kondisi istrinya, tidak hanya dipahami terus-menerus.
Apapun keputusan yang kamu buat, ibu selalu mendukung kamu Jas. Sungguh, dengan apa yang terjadi saat ini, ibu merasa makin beruntung sebab punya menantu seperti kamu. Meski usia lebih muda dari Ren tapi kamu tak kalah dewasa. Ren harus bersyukur atas itu semua.
Hanya saja, sebagai ibunya Ren, ibu wrap berharao agar kamu tidak meninggalkan Ren, berilah ia kesempatan sekali lagi. Ibu yakin Ren sangat kapok sekarang, ia pasti akan belajar untuk memperbaiki semuanya." pinta Alifa sambil membelai lembut kepala Jasmin.
Jasmin menganggukkan kepalanya. Ia mengerti apa yang disampaikannya oleh Alifa. Tapi sekarang ia belum bisa memutuskan apapun karena hatinya masih jengkel.
Sejujurnya Jasmin merasa kehilangan kepercayaan diri saat tahu, ternyata setelah pernikahan ibu mertuanya, Ren masih berkomunikasi dengan Mia dan bahkan ia menyanggupi pertemuan padahal Ren sudah janji tak akan berbincang lagi.
Benar saja alasanya karena takut Mia kenapa-kenapa. Tapi kenapa tak memberitahunya. Rasanya sangat menjengkelkan sekali, ketika lelaki yang kita cintai masih punya perhatian dengan perempuan yang sellau membuat kita jeleous meski ia mengaku tak ada apa-apa.
Kadang kala, cinta itu bisa datang karena terbiasa. Atau setan bisa menggoda ketika ada kesempatan. Apalagi Mia jelas-jelas mencintai Ren dan punya rencana jahat untuk menghancurkan rumah tangganya.
Kini Jasmin hanya berada sendirian di kamarnya. Bolak-balik ia menghadap ke kiri dan kanan. Berharap agar hatinya tenang, setidaknya bisa memejamkan mata sebab sebenarnya matanya sudah lelah, hanya saja hatinya enggan untuk beristirahat.
***
Puncak Bogor. Pesantren Basmallah, tempat Riu praktek mengajar. Sudah hampir dua bulan ia berada di sini, berbagi ilmu yang didapatkan di bangku kuliah, sebagai guru fiqih. Setiap hari ianmengajar empat sampai lima jam, setelah itu dihabiskan dengan menyelesaikan hafalannya.
"Assalamualaikum ustadz!" seorang gadis muda berkerudung merah maroon datang mendekat ke arah Riu. Kedatangannya yang tiba-tiba membuat Riu kaget. Gadis yang berparas cantik itu tersenyum manja, membuat jantung lelaki manapun yang melihat akan berdesir tak karuan.
"Astagfirullah. Kamu itu, bisa nggak sih datang nggak tiba-tiba begini." Riu sampai mundur beberapa kali agar ada jarak antara mereka. Ia juga cepat menoleh, tak ingin menikmati pemandangan indah yang tak halal untuknya.
"Ya ampun, maaf ustadz kalau aku mengagetkan ustadz. Tapi ustadz nggak apa-apa kan? Jangan sampai kena serangan jantung supaya cintaku terbalas."
__ADS_1
"Kamu bicara apa sih?" Riu semakin kesal. Perempuan bernama Raisya itu memang salah satu santri yang paling ceplas-ceplos, sejak awla Riu masuk ke pondok ini, ia sudah menunjukkan sikap sukanya, bahkan semoat menyatakan cinta berkali-kali hingga membuat Riu keki. "Tolong jaga sikap, kamu itu putrinya kyai, apa nggak malu ngejar-ngejar guru magang. Tolong jaga kehormatan ayah kamu, itupun kalau kamu sayang sama pak kyai.".
"Ya sayang dong. Ustadz sendiri sayang nggak sama pak kyai?"
"Yaiya."
"Makanya, nanti bantu aku menjaga kehormatan pak kyai. Buat agar aku tidak mengejar-ngejar ustadz lagi."
"Maksudnya bagaimana?"
"Nikahi aku!"
"Astagfirullah. Kamu itu ya. Sana-sana, jaga jarak. Haram!" Riu mengusir Raisya, tapi gadis itu tetap tak mau pergi. Ia bertahan sambil memandangi Riu.
"Ya buat jadi halal dong."
"Bisa. Ustadz itu kan guru fiqih, kalau ada laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, ingin jadi halal, ada caranya, yaitu di nikahi. Gitu aja nggak tahu, katanya mau kuliah S2." Raiysa tertawa kecil. "Tapi ustad itu kalau marah tambah tampan lho, aku jadi makin suka. Tadi sebelum ke sini kadar cintaku baru sembilan puluh persen, sekarang naik jadi seratus sepuluh persen. Makanya aku overdosis nih." ia tertawa jenaka.
"Aghhhh!" Riu benar-benar kesal. "Kemarin kamu sudah kena hukuman, kan? Jangan sampai hari ini dihukum pak kyai lagi. Apa nggak malu sama santri lain? Kamu itu outri bungsunya beliau, kakak-kakak kamu dengan susah payah menjaga kehormatan ayah kamu, tapi kamu bertindak sebaliknya. Apa nggak malu?"
"Kemarin sih malu, kalau sekarang nggak. Kenapa harus malu memperjuangkan cinta sampia halal. Malu itu kalau lepas kerudung kayak kemarin, maling, malas belajar, bohong ...."
"Sudah cukup, sana! Atau saya panggil pak kyai!".
"Panggil saja, paling kita dinikahkan paksa." Raiysa tersenyum lebar.
Ya Allah. Riu benar-benar geram. Baru saja ia hendak lari seribu langkah..seseorang sudah datang menengahi mereka berdua.
__ADS_1
"Ustad, dipanggil ibunya, katanya bibinya sakit!" Pekik santri yang membawa kabar tersebut.
Riu langsung lari ke rumah yang berada di bawah pondok pesantren. Di sana adalah rumah kakek dan neneknya Jasmin, tapi sudah sepekan ini ibu dan bibi Yasmin tinggal di sana agar bisa membesuknya setiap hari. Saking hiri-burunya, bahkan Riu tak sadar jika Raisya juga ikut membuntutinya.
Benar saja, ternyata bibi Yasmin tak sadarkan diri, saat Riu datang, sudah ada mantri yang memeriksa bibi. Kata mantri, kondisi bibi sangat lemah, disarankan untuk segera di bawa ke rumah sakit kota agar bisa segera mendapatkan penanganan lebih.
"Bagaimana ini Riu?" Tanya Riana dengan panik
"Maaf bibi, kalau tidak keberatan, aku bisa anterin bibi Yasmin ke kota." Raiysa menawarkan bantuan.
"Heh, kamu, ngapain di sini? Siapa yang nyuruh kamu masuk?" Riu langsung mengusir Raisya.
Riana berusaha membela Raiysa, ia tak keberatan jika putri pak kyai ada di sini. Sejujurnya Riana menyukai gadis itu, pembawaannya yang apa adanya membuat Riana nyaman, ditambah ia anak kyai yang bisa dipastikan bibit bebet bobotnya pasti bagus.
"Duh,nak Raiysa, maaf ya jika Riu agak galak." kata Riana, mengiringi Raisya menuju pintu.
"Nggak apa-apa kok bi, Raisya paham, pasti sekarang ustad sedang bingung karena bibinya sakit. Kalau begitu Raisya pamit oulang. Kalau ada apa-apa jangan sungkan ngabari ya, bi. Raiysa siap dua puluh empat jam membantu bibi." gadis itu berlalu usai mengucap salam.
"Kamu itu kenapa sih nak, galak sekali sama Raiysa. Padahal dia itu pengen dekat sama kamu. Apa salahnya toh. Sudah cantik, pintar, anak kyai lagi." Riana mengeluarkan unek-uneknya. "Kalau Raiysa bisa jadi mantu ibu, pasti ibu senang sekali." tambahnya.
"Nggak cocok." ungkap Riu.
"Lho, nggak cocok bagaimana?"
"Ya nggak cocok saja."
"Jujur, kamu sebenarnya juga suka, kan? Ibu pernah beberapa kali menangkap basah kamu sedang curi-curi pandang padanya. Kamu bisa membohongi orang lain, tapi tidak dengan perempuan yang sudah melahirkanmu, Riu."
__ADS_1
"Hmm, ibu ini bicara apa sih?" Riu berdehem. Ia tak ingin ibunya tahu tentang perasaan yang dirasakannya pada Raisya.