GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
87. Meluruskan Kesalahpahaman


__ADS_3

Dua orang pegawai baruku itu namanya Gio dan Jay. Dua orang yang meskipun hanya lulusan SMA tapi jago masak. Bahkan mungkin kemampuannya jauh di atasku. Dengan cepat mereka memahami apa yang aku arahkan, lalu mulai membantu membuatkan pesanan pelanggan yang berdatangan.


"Dari mana kalian belajar selama ini?" tanyaku, yang masih terkagum-kagum dengan rasa masakan mereka yang sangat lezat. Untuk hiasan pun mereka bisa dibilang sangat jago. "Apa sebelumnya kalian pernah ikut kursus memasak?" Tanyaku lagi.


"Tidak bisa, hanya belajar otodidak." ungkap Jay.


"Kalau aku belajar di dapur ibu," Gio menjawab malu-malu.


"Hei, bagaimana ceritanya?" Tanyaku.


"Sejak SD ibuku sakit-sakitan, sementara ayah meninggalkan kami. Dari beritanya sih nikah lagi. Kami hidup dalam kemiskinan, untuk mendapatkan uang, aku mencoba membuat masakan. Awalnya untuk tetangga, lama-lama banyak orderan, bos." kata Gio, mengakhiri kisahnya.


"Kau luar biasa. Aku yakin kelak kalian akan jadi orang besar sebab akupun mengalami apa yang kalian alami. Makanya jangan mudah menyerah!" kataku.


Pilihan Deni memang sangat tepat sekali. Ia memang selalu bisa diandalkan. Itulah mengapa aku bertekad agar membalas kebaikan Deni.


"Gio, Jay ... aku pergi sebentar ya!" seruku, saat mereka duduk-duduk karena pelanggan sudah kosong..


"Siap bos!" seru mereka bersamaan.


Mungkin ini waktu yang tepat untuk bicara dengan paman Rudi. Mumpung Riana sedang pergi bersama ibu mengantar makanan.


Bel rumah paman Rudi ku pencet. Tidak berapa lama paman Rudi membukakan pintu. Ia tampak heran dengan kedatanganku. Mungkin karena Riana tidak di rumah.


"Qret, masuklah!" paman Rudi, lelaki yang sudah membersarkanku layaknya anak kandung sendiri memintaku duduk di hadapannya. "Ada apa?"


"Aku ingin bicara serius, paman." kataku.


"Memang kalau bukan hak serius, kau mau mampir ke rumah pamanmu ini?"


"Paman, maafkan aku." ada rasa bersalah yang terasa. Benar sekali, sekarang ini aku jarang mengajak paman bicara, padahal dulu kami selaku punya momen untuk ngobrol, meski hanya sekedar untuk menghabiskan segelas kopi racikan paman Rudi yang rasanya selalu pas.


"Tidak apa-apa. Aku tahu kau sibuk."


"Aku akan berusaha meluangkan waktu untuk paman."


"Tapi mengapa kau tiba-tiba datang ke sini? Pasti ada sesuatu hal penting yang membuatmu datang, kan?"

__ADS_1


"Ada sedikit yang ingin kubicarakan, paman."


"Kalau begitu kubuatkan secangkir kopi dulu." paman Rudi berlaku ke belakang. Tidak lama terdengar dentingan gelas yang beradu dengan sendok, lalu tercium aroma kopi yang sangat nikmat. Entah kopi merek apa yang dimiliki paman, aromanya selalu berbeda-beda tapi kenikmatannya tetap sama.


Tidak berapa lama paman datang membawa dua cangkir kopi dengan asap yang masih mengepul. Diletakkannya satu di hadapanku, satunya lagi di hadapan paman.


"Kopi buatan paman, selain wangi, juga nikmat sekali. Belum ada yang menandingi." ungkapku, sambil menyeruput pelan kopi kental dari gelas.


"Maskaanmu juga kelezatannya tidak diragukan lagi." paman Rudi ikut memuji. "Bahkan aku selalu berharap jika Riana pulang dari kedai membawa makanan yang dibuat langsung oleh tanganmu."


"Kalau begitu mulai besok aku akan buatkan khusus untuk paman."


"Tidak perlu repot-repot begitu."


"Aku bisa memasak juga karena paman. Kalau paman tidak mengajariku waktu itu dan membiarkan aku sering bereksperimen di dapur mungkin aku tidak akan semakin ini."


"Jadi kau mau bicara apa, Qret?"


"Ini tentang Riana dan Deni, paman."


"Anak itu. Dia bicara apa padamu?"


"Masa? Itu persyaratan yang tidak terlalu sulit. Wajar aku meminta begitu sebagai bekalnya menjadi seorang imam untuk anakku."


"Tapi Deni baru hijrah paman. Ia sama sepertiku."


"Tapi kau bisa, kenapa ia tidak?"


"Paman, tapi syarat paman lebih berat."


"Berat dimananya, Qret? Masa segitu saja ia tidak mau."


Aku menarik nafas panjang. Masa paman tidak faham betapa beratnya menghafal Qur'an tiga puluh juz. Apalagi oleh orang-orang seperti kami di usia yang sudah tidak muda lagi.


"Paman, masa tidak ada keringanan sedikitpun?" kataku.


"Tidak Qret, itu sudah final. Harusnya ia mau berjuang sedikitlah demi putriku. Itupun kalau ia sungguh-sungguh." paman tetap tidak mau mengalah.

__ADS_1


"Ya Tuhan paman, menghafal juz tiga puluh itu tidak mudah. Paman mau mengundurkan berapa lama lagi supaya mereka bisa menikah?"


"Berapa juz katamu?"


"Tiga puluh, kan?"


"Kata siapa?"


"Kata Deni, paman yang mensyaratkan begitu."


"Kalau dia mau segitu ya aku akan lebih senang lagi meskipun aku tidak memberikan syarat seberat itu."


"Jadi maksudnya?"


"Apa?"


"Apa syarat yang paman berikan pada Deni?"


"Supaya dia melancarkan hafalan surat Al Fatihah dan surat An-Nas."


"Ya Allah ...,"


"Kenapa Qret?"


Aku menepuk kepala perlahan. Andai ada Deni di sini, aku pasti akan mencubit pipinya karena gemas. Bagaimana ia bisa salah mendengar seperti itu? Paman hanya minta menghafal dua surat itu, tetapi ia malah salah tangkap.


"Dia mengira paman menyuruhnya menghafal surat Al Fatihah hingga surat An-Nas." ungkapku.


"Hah?" paman Rudi bengong.


Untuk sementara kami terdiam. Lalu tertawa bersama-sama sebab kesalahan fahaman ini. Rupanya ada orang yang sampai segitu groginya bertemu calon mertua.


"Aku salut ia mau menemuiku, Qret. Sejak awal aku memang sudah menaruh harapan padanya. Tapi tidak berani bicara apapun. Aku sangat tahu bahwa Deni adalah anak yang bertanggung jawab, ia pasti bisa menghandle putriku yang cukup keras kepala. Apalagi sekarang ditambah ia sudah hijrah, semoga ia bisa membantu Riana untuk hijrah juga." paman Rudi mengungkap harapannya pada Deni serta keyakinannya pada orang yang pernah menjadi tangan kananku tersebut.


"Berarti ini hanya kesalah fahaman saja. Aku akan bicara padanya paman sebab saat ini ia galau sekali dengan syarat yang paman beri." kataku. Lagi-lagi kami tertawa bersaman.


Usai menghabiskan segelas kopi, aku pamit pada paman Rudi untuk menyelesaikan satu masalah lagi, yaitu meluruskan kesalahpahaman dengan Deni.

__ADS_1


Di depan rumah paman Rudi aku mencoba menghubungi telepon Deni, sebenarnya bisa saja menemuinya nanti, tapi ini perkara penting, makanya aku ingin semuanya segera selesai. Toh, jika ada masalah kita memang dianjurkan untuk langsung menyelesaikannya, jangan diundur-undur agar permasalahannya segera terselesaikan.


Sudah hampir sepuluh kali aku memanggil, tetapi tidak ada jawaban dari Deni. Pesanku pun tidak dibalas. Nomornya terlihat aktif sekitar sepuluh jam lalu. Kemana anak ini? Apa terjadi sesuatu padanya. Atau jangan-jangan ia sudah pergi? Tapi bukankah ia sudah bilang akan pamit dulu pada paman Rudi sebab Deni tidak ingin menggantung hubungan apapun. Ini adalah salah satu bukti bahwa ia adalah lelaki yang bertanggung jawab.


__ADS_2