
Belum sempurna motor di parkir, Riana sudah datang menyongsong sambil memanggil-manggil namaku, kelakuannya persis anak kecil. Untung saja Yasmin dan Deni sudah memahami karakter kami, sehingga tidak memicu kesalah fahaman.
Rasanya tidak nyaman jadi bahan perhatian apalagi ketika orang yang ada di kedai depan ikut melihat ke arah kami.
Anak ini tidak juga berubah, padahal aku sudah mengatakan padanya bahwa harus mulai menjaga sikap. Bagaimanapun juga kami tidak punya hubungan darah, kami bukan mahram.
"Qret, ayo cepat masuk. Ada berita bagus!" sorak Riana. Lagi-lagi ia melompat layaknya anak kecil. Untung saja tidak sambil menarik-narik tanganku seperti dulu.
"Iya, sebentar Riana. Tunggu aku di dalam saja." pintaku.
Agar tidak terus-menerus menjadi pusat perhatian orang-orang, aku segera mengikutinya. Menuju Yasmin dan Deni yang tampak sibuk. Entah apa yang mereka kerjakan.
"Kita punya pesanan!" ungkap Riana.
"Alhamdulillah, pesanan apa?" tanyaku, sambil meletakkan helm di atas meja dekat kasir.
"Seratus kotak nasi ayam bakar madu dan seratus kotak nasi dengan lauk masakan kampung. Di ambil nanti sore. Sedangkan besok ada pesanan lima ratus kotak nasi ayam bakar madu." kata Deni, membacakan pesanan yang ia tulis.
"MasyaAllah. Benarkah itu?" mataku langsung berkaca-kaca.
"Iya mas," kata Yasmin.
"Allah baik sekali pada kita, baru saja merasa sangat pedih, tapi tiba-tiba sudah dapat obatnya. Siapa yang memesan?" tanyaku.
"Dua ratus kotak itu kantor depan, untuk persiapan lembur nanti malam. Sedangkan besok itu pesanan mahasiswa. Mereka sudah memberikan uang mukanya." kata Yasmin.
Alhamdulillah ... alhamdulilah ... alhamdulilah. Aku langsung berwudhu, lalu menuju mushalla di kedai ini untuk sujud syukur. Heri pernah memberitahuku, tentang sujud syukur. Dilakukan ketika kita merasa sangat bersyukur sekali atas sebuah rezeki atau pencapaian.
Hari ini kamu benar-benar sibuk sekali. Sebab selain tiga pesanan yang masuk tadi, ada juga pesannya lainnya yang berdatangan. Begitulah rezeki, semua sudah selesai diatur oleh Allah. Kita hanya harus berusaha dan berdoa semaksimal mungkin, selebihnya adalah urusan Allah.
***
"Kau pasti lelah," aku mengambil posisi di belakang Yasmin, bersiap untuk memijit pundaknya.
__ADS_1
"Mas mau apa?" ia cepat-cepat mengelak.
"Mau memijit."
"Jangan!" Yasmin langsung membalikkan badannya, kini kami saling berhadap-hadapan. "Biar aku yang memijit mas." katanya sambil berusaha membalikkan badanku.
"Jangan. Aku tidak terlalu lelah. Kau yang terlihat begitu lelah. Tadi pasti sudah bekerja begitu keras."
"Mas juga bekerja keras. Sampai harus belanja lagi."
Tadi aku dan Deni memang terpaksa belanja lagi sebab bahan kami sudah menipis. Di luar dugaan, pesanan terus berdatangan, untuk mengantisipasi kehabisan menu, makanya kami belanja lagi.
Yasmin dan Riana tinggal di kedai, menyelesaikan pesanan yang terus berdatangan. Pastinya yang bekerja adalah Yasmin sebab Riana tidak terlalu bisa diandalkan. Ia baru pada tahap mengantar makanan atau mencuci piring, urusan memasak masih belum bisa diandalkan. Tetapi aku tahu betul kalau Yasmin berusaha mengajari Riana untuk memasak.
"Ya sudah, bagaimana kalau kita saling pijit," kataku.
"Bagaimana caranya?" tanya Yasmin.
"Aku memijit dahulu selama sepuluh menit, setelah itu kamu memjitku sepuluh menit juga. Begitu sampai lelah kita hilang. Bagaimana?"
Yasmin menyerahkan punggungnya, setelah itu ia berbaring menikmati pijitan di kaki dan tangan. Baru lima menit aku memijitnya, ia sudah tertidur. Pasti Yasmin begitu kelelahan. Rasanya sangat bersalah sekali sebab kehidupannya sebelum dan sesudah menikah tidak jauh berbeda. Dari dulu sampai sekarang masih harus bekerja.
Aku sungguh-sungguh malu sebab dahulu sempat janji akan membahagiakan Yasmin. Akan memberinya kehidupan layak. Tetapi baru segini yang mampu kulakukan untuknya.
***
"Ya Allah!" Yasmin menepuk pelan keningnya saat aku membangunkan untuk salat Subuh.
"Kenapa? Kamu tidak terlambat salat kok, azan baru saja berkumandang." kataku. Sengaja aku membangunkannya sebelum berangkat ke masjid.
"Aku kan janji semalam mau mikirin mas, malah ketiduran." ungkapnya.
"Hahaha, tidak apa-apa. Aku tahu kau sangat lelah sekali. Sampai untuk salat malam yang biasanya tidak terlewat saja tidak bangun." pelan aku mengusap kepalanya, lalu berangkat ke masjid.
__ADS_1
Pagi ini aku meminta Yasmin untuk tidak usah pergi dulu ke kedai, supaya ia bisa istirahat. Rencananya hari ini kami ingin jualan setengah hari saja supaya bisa istirahat. Lagipula hari ini waktunya menggaji Riana dan Deni.
"Aku ikut ya mas. Tidak enak kalau harus libur, kasihan Riana, ia tidak punya teman." pinta Yasmin.
"Tapi kamu terlihat masih lelah, Yas." kataku.
"Enggak kok. Nanti juga bisa istirahat di mushalla."
"Ya sudah, tapi jangan terlalu lelah ya. Aku tidak mau kamu sakit."
"Baiklah!"
Berdua, kami kembali ke kedai. Saat aku sedang sibuk membuka kedai, sedangkan Yasmun asyik menata meja, Riana dan Deni muncul bersamaan.
"Wah, pagi-pagi sudah kompak. Datang bersamaan!" lagi-lagi aku menggida mereka berdua. "Den, kau sudah mengabari Jack dan teman-teman lainnya?"
"Sudah. Jack dan istrinya akan bergabung bersama kita." kata Deni.
Semalam aku memang berpesan pada Deni untuk menghubungi Jack atau anak-anak rules yang bisa membantu pekerjaan di kedai. Entah mengapa aku kini merasa nyaman merekrut teman sendiri, mungkin karena sempat kecewa ketika ditinggalkan kemarin oleh karyawan baruku.
"Oh ya, kami sudah menyiapkan gajinkalian berdua." aku langsung mengisyaratkan Yasmin agar membawa dua amplop gaji Deni dan Riana.
"Yes, terima gaji!" seru Riana sambil membuka amplop yang diberikan Yasmin. "Hah?" Riana nyaris melonjak. "Lima juta? Apa ini tidak salah, Qret? Aku kan cuma bantu nyuci piring."
"Sekarang tugasmu menang baru itu. Tapi bukan ini akab kutambah!" kataku.
"Apa?" tanya Riana. "Jangan berat-berat Qret, jangan suruh masak juga. Aku takut kalau-kalau pelanggan kabur. Yang masak Yasmin dan istrinya Jack saja ya." pinta Riana.
"Aku kan bosnya. Kenapa jadi kau yang mengatur?" aku tidak mau diatur oleh Riana.
"Qret, ini terlalu banyak." kata Deni. "Kau kan masih butuh untuk mengembangkan kedai ini." Deni menyodorkan amplopnya ke hadapanku.
"Tidak apa-apa, Den. Aku senang kita bisa kerjasama lagi." ungkapku.
__ADS_1
Tidak berapa lama, Jack dan Lisa, istrinya datang. Ia langsung emnbaur membantu pekerjaan di kedai. Yasmin dan Lisa bertugas menghandle urusan dapur. Riana bagian kebersihan. Deni dan Jack bagian pengantaran dan juga belanja. Sedangkan aku yang mengatur semuanya, terkadang terjun langsung membantu siapapun yang kesulitan. Meskipun sudah punya jobdesk masing-masing tapi ketika ada yang kerepotan maka yang lain tidak akan sungkan untuk menolong.
Aku merasa kedai ini bukan hanya tempat mencari nafkah, tapi juga tempat untuk berkumpul bersama teman yang sudah seperti saudara sendiri.