GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
128. Yasmin Kacau


__ADS_3

Setelah Riana dan Deni pergi, aku baru menyadari bahwa ternyata yang heboh dengan berita kehamilan Riana hanyalah aku, Riana dan Deni. Sementara Yasmin, sejak tadi ia hanya diam, entah apa yang dirasakannya. Tetapi melihat wajah itu berubah miring, aku yakin bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.


Aku jadi serba salah, entah bagaimana caranya memulai pembicaraan kembali hingga akhirnya kami kembali hanyut dalam diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


Mungkin ia memang sedang sensitif dengan masalah kehamilan, mengingat aku dan Yasmin kehilangan calon bayi kami.


"Yas, mau jalan-jalan." aku menawarkan ia untuk menikmati udara pagi di taman perumahan sebelum aku ke kedai. Tetapi Yasmin menolak. Ia lebih memilih kembali ke dapur untuk menyelesaikan cuciannya. "Kalau begitu aku berangkat dulu, ya." kataku, setelah mengecup keningnya, lalu berlalu menuju kedai.


Yas ... jangan terlalu lama menjadi asing padaku. Sungguh, aku merindukan kau yang dulu. Yasmin yang selalu hangat padaku. Yasmin yang punya sepasang mata teduh yang dapat menenangkan hatiku.


"Qret!" Riana berhasil membuatku terkejut, bahkan hampir melonjak.


Untung saja aku sudah tahu batasan pergaulan antara laki-laki dan perempuan, kalau tidak sudah kucekik ia dengan lenganku.


"Yasmin tidak ikut?" tanya Riana.


"Tidak. Ia minta di rumah saja." kataku, menjawab kembali apa yang tadi dikatakan oleh Yasmin.


Sebenarnya ada banyak gelisah yang menghantui kepalaku. Ingin sekali berbagi cerita kepada seseorang. Tetapi aku sadar, satu-satunya tempat bercerita yang baik hanya pada Allah.


"Kalau begitu aku ke tempat Yasmin ya!" tanpa perlu menunggu jawabanku, Riana sudah kabut begitu saja.


Aku tidak keberatan jika ia pergi ke tempat Yasmin, siapa tahu dengan bercerita Yasmin bisa kembali ceria.


Kini hanya aku, Deni, Jack dan Lisa di kedai. Saat Lisa sibuk dengan masakan, kami bertiga mengadakan rapat. Membicarakan tentang perkembangan kedai kedepannya.


Sejak aku tinggalkan, pendapatan kedai merosot hingga separuhnya. Deni mengaku kewalahan, ia ternyata belum terlalu cekatan mengurus semuanya. Ia terbiasa bekerja di bawah perintah, jadi ketika harus menghandle sendiri, Deni merasa gamang.


"Aku ingin kita merekrut dua orang juru masak lagi, serta menambah dua pelayan sebab setelah Yasmin sakit, otomatis yang bekerja hanya Lisa. Kasihan sekali kalau ia harus bekerja sendiri." aku mulia menjabarkan rencana yang sudah kupetakan tadi malam dengan harapan kedai ini akan berkembang menjadi besar.


"Kau benar, Qret. Saat ini sebenarnya pasar kita sudah jelas. Hanya saja kita kekurangan tenaga. Kalau kau berani, kita bisa buka sampai malam, tentunya dengan tambahan beberapa karyawan lagi." usul Deni.

__ADS_1


Apa saja yang akan kami laksanakan sudah kucatat dalam buku. Rapat ini cukup membantu untuk menambah ide yang sudah kususun sebelumnya.


"Qret ... Qret ... Qret!" terdengar suara teriakan paman Rudi.


"Ada apa paman?" tanyaku pada paman Rudi.


"Yasmin ... istrimu, cepat pulang sekarang juga!" ungkap paman Rudi.


Entah mengapa, sejak Lisa lari-lari dahulu mengabari bahwa Yasmin kecelakaan, aku punya ketakutan terhadap Yasmin. Khawatir hal buruk menimpanya. Apalagi tadi paman Rudi menyebutkan Yasmin, ia pasti tidak sedang baik-baik saja.


Kau kenapa lagi Yas? Tolong jangan membuatku terus merasa khawatir. Sungguh Yas, aku sangat mencintaimu.


Sampai di depan pintu rumah, kulihat Yasmin duduk di lantai ditemani Riana yang menangis sambil memeluk Yasmin. Sementara kondisi dapur berantakan.


"Ada apa ini?" tanyaku, sambil mendekati mereka berdua. "Yas ... Riana. Ada apa?"


"Tadi aku ke sini ... Yasmin ... sudah seperti ini. Apinya besar sekali, ayah yang membantu menyiramnya." ungkap Riana dengan tersedu-sedu. "Aku tidak tahu Yasmin kenapa, ia hanya diam saja."


"Aku ingin sendiri!" pintanya, sambil melepaskan diri dari pelukanku.


"Tidak. Aku akan tetap berada di sisimu." aku berkata tegas.


"Pergilah mas ... pergi. Aku hanya istri yang tidak berguna. Aku tidak bisa apa-apa. Bahkan hanya membuat kekacauan saja. Aku yang membuat mas terlilit hutang. Aku, mas. Aku!" ungkap Yasmin.


"Yas!" aku menggelengkan kepala.


"Ada apa Qret?" tanya Riana.


"Mas Qret terlibat hutang dengan rentenir karena aku. Ia akan kehilangan tanah dan kedainya. Itu semua karena aku!" ungkap Yasmin sambil berlinang air mata.


"Tidak Yas. Kumohon jangan katakan itu lagi. Kita akan keluar dari masalah ini. Kau harus yakin itu." kataku.

__ADS_1


"Tidak ... tidak akan pernah mas. Selamanya mas akan berada dalam pusaran hutang. Mas tidak akan bisa kemana-mana. Sama seperti aku dahulu. Iya, kan mas?" tangis Yasmin makin menjadi-jadi.


Deni, Jack, Lisa dan paman Rudi yang baru datang hanya bisa diam. Sementara Riana masih kaget, ia bahkan tidak yakin.


"Berapa banyak kau berhutang Qret?" tanya Riana.


"Satu setengah milliar. Setiap bulan ia harus membayar seratus lima puluh juta. Itu karena aku Riana. Aku hanya membawa keburukan untuknya. Duku aku tidak mampu menggantikan uangnya sebesar tiga milliar, sekarang aku membuatnya kehilangan uang lagi, bahkan mungkin akan kehilangan kedai dan tanahnya!" pekik Yasmin.


"Yas, tenanglah." kondisi Yasmin benar-benar terguncang. Aku tidak menyangka ia begitu tertekan dengan hutang tersebut. Melihat kondisinya yang tidak stabil, kuputuskan membawanya ke kamar. Aku memberikan sebutir obat tidur sesuai dengan saran dokter apabila kondisi emosi Yasmin tidak stabil.


Usai Yasmin tertidur, aku kembali turun ke bawah. Dapur sudah kembali beres. Air dan makanan yang berserakan sudah tidak ada. Sepertinya Lisa yang merapikan semuanya.


"Bagaimana keadaan Yasmin, Qret?" tanya Riana.


"Ia sudah tidur." aku duduk di ruang tamu bersama yang lainnya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya paman Rudi. "Apa benar kau berhutang sebanyak itu?"


"Iya paman." kataku, lalu menjelaskan bagaimana hutang itu bisa ada. "Aku tidak punya pilihan lain. Tabunganku tidak cukup untuk biaya berobat Yasmin. Satu-satunya jalan hanya meminjam pada rentenir. Tetapi sepertinya itu jadi beban untuk Yasmin. Lihat bagaimana kacaunya ia. Itu tidak hanya sekali ini saja. Tapi sudah beberapa kali sejak ia tahu tentang hutang itu. Mungkin ia merasa bersalah sebab merasa pengobatannya juga tidak berhasil. Jadi semua terasa sia-sia. Padahal aku tidak mempermasalahkan semua itu." ungkapku.


"Qret, sepertinya Yasmin tertekan dengan semua itu. Salah seorang saudaraku pernah juga begitu. Kau hanya harus bersabar dan terus memberikan kenyamanan untuknya." ungkap Lisa.


Lalu apa rencanamu, Qret?" tanya paman Rudi.


Pertanyaan yang belum bisa kujawab sebab saat ini memang belum terlihat ada jalan untuk melunasi hutang-hutang tersebut, sementara jatuh tempo bunganya semakin dekat.


"Apakah kau akan menjual tanahnya?" kini Riana yang bertanya.


"Tidak Riana." ku harap memang akan begitu. Tanah itu tetap menjadi milikku agar kelak aku bisa membangun rumah kembali, juga mengembangkan usahaku.


"Tapi yang dikatakan Yasmin benar, Qret. Kita pernah menjadi rentenir, tidak mudah untuk keluar dari jeratnya jika tidak berlari kencang!" sambung Deni.

__ADS_1


__ADS_2