
"Qret," seseorang memanggil namaku, lalu setelah aku dan Yasmin berhenti, ia segera menyusul langkah kami.
"Kenapa Riana?" tanyaku. "Apa ada yang belum selesai kau kerjakan?" aku menduga ia ingin membicarakan tentang pekerjaan, makanya segera menyusul kami setelah kedai ditutup. Palingan mau protes, atau mengembalikan amplop? Rasanya tidak mungkin sekali sebab Riana bukan tipikal orang yang sungkan, apalagi denganku.
Anak ini memang selalu protes kalau kedai tutup lebih awal, bukan karena ia terlalu menikmati pekerjaannya, aku sangat tahu betul kalau gadis yang tumbuh bersama denganku sejak usia sepuluh tahun ini bukan tipe orang yang suka bekerja keras, di kedai saja ia seperti anak bawang. Sebenarnya terserah ia saja mau kerja atau tidak. Tetapi ia selalu protes sebab kesempatannya berbicara dengan salah satu di antara kamu, terutama Yasmin akan berkurang.
Riana memang mengaku begitu senang menghabiskan waktu di kedai. Kalau sudah jam pulang ia akan terlihat paling suntuk sebab di rumah tidak tahu harus mengerjakan apa. Belakangan ini paman Rudi mulai intens belajar agama dengan gurunya, kadang malah ikut pesantren khusus orang tua sehingga Riana benar-benar sendirian di rumahnya.
"Aku ingin bicara." kata Riana lagi.
"Besok saja, aku mau pulang dulu." kataku.
"Tidak bisa, aku mau bicara sekarang!"
"Kau ini selalu saja memaksakan kehendak. Memang mau bicara apa lagi? Tentang pekerjaan? Kau belum puas?Tenang saja, besok kau boleh lembur sendirian, bila perlu menginap di kedai! Bagaimana, sudah puas?"
"Siapa juga yang mau membicarakan pekerjaan. Aku tidak akan seroyal itu padamu, Qret. Bagiku, pekerja yang kujalani sekarang hanya iseng-iseng berhadiah saja."
"Aku sudah tahu itu. Kau kan memang tidak pernah mengerti yang namanya tanggung jawab!"
"Terserah kaulah. Tapi ada hal yang lebih penting ingin kubicarakan."
"Apa itu?"
"Bisa kita duduk di sana? Aku pegal!" Riana menunjuk tempat duduk yang berada di taman perumahan. Ada empat bangku kecil di sana, lokasinya yang asri karena ditumbuhi banyak pohon pelindung menjadi alternatif pilihan menarik untuk ngobrol.
"Bagaimana?" tanyaku pada Yasmin yang semenjak tadi diam mendengarkan kami berbincang.
"Kalau mas mau berbincang dengan Riana, silakan." kata Yasmin, ia terlihat bersemangat sekali. Padahal dari kedua matanya tampak sekali lelah luar biasa.
"Kalau begitu temani kamu, ya," pintaku.
__ADS_1
"Hmm," Yasmin menurut saja. "Ayo!" ia malah melangkah lebih dulu.
Kami bertiga menuju lokasi yang ditunjuk oleh Riana tadi. Setelah aku dan Yasmin duduk, dia malah pamit sebentar, tidak lama kembali membawa tiga botol minuman serta beberapa makanan kecil.
"Hei, kau tidak mengajak kami berbincang lama, kan?" akumulasi curiga, kalau-kalau Riana ingin bicara panjang yang menghabiskan waktu cukup lama sebab sejujurnya badanku sudah amat lelah, ingin segera beristirahat.
"Tidak akan lama. Kalau kau mau menuruti keinginanku." kata Riana.
Kecurigaanku semakin bertambah-tambah, rasanya ingin kabur tetapi Yasmin ikut menahan agar aku mau mendengar sahabat barunya ini sehingga aku menduga ada persekongkolan antara dua perempuan ini.
"Apa kalian ingin menjebakku?" kini tatapanku tertuju pada Yasmin.
Perempuan yang baru sebulan menjadi istriku itu langsung nyengir. Ia tidak berani menjawab, hanya memamerkan sederet giginya yang putih.
"Ini bukan persekongkolan mas, cuma supaya kita saling peduli satu sama lain saja." kata Yasmin.
"Apalagi itu?" aku geleng-geleng kepala. Kalau Yasmin sudah ikutan, aku akan sulit menolaknya. "Bicaralah!" kataku pada Riana.
"Hah? Kenapa aku? Kenapa bukan kau saja yang bicara padanya." kataku.
"Mana boleh, harus ada perantara dan itu adalah mas!" kata Yasmin dengan tegas.
"Aku? Tidak mau. Minta paman saja." kataku lagi. Kejadian kesalah pahaman kemarin sudah membuatku malu. Aku tidak mau ada hal serupa lagi. Mereka sudah sama-sama dewasa, paman Rudi juga sudah tahu, biarkan paman Rudi dan Deni yang menentukan, kenapa juga aku harus ikut campur lagi.
"Mas ini bagaimana sih, kemarin begitu peduli. masa sekarang mau lepas tangan?" kini malah Yasmin yang kesal.
"Kok kamu marah sama mas?" aku tidak terima disalahkan oleh Yasmin untuk sesuatu hal yang memang bukan kesalahanku.
"Pokoknya mas harus bantu Riana." kata Yasmin, dengan nada tegas.
"Lha, malah maksa!" aku geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Mas mau dapat pahala tidak? Mau punya rumah di surga? Maka bantulah mereka yang sedang mencari jodoh." Yasmin menjelaskan tentang keutamaan membantu orang yang akan menikah. Bahasa gaulnya menjadi comblangnya. Maka akan Allah buatkan untuknya rumah di surga. Keren sekali, bukan?
"Ini bukan masalah mau tidak mau, Yas. Tetapi aku tidak bisa kalau harus memaksa Deni. Kalau ia melakukan semuanya bukan karena keinginan sendiri lalu ada apa-apa dalam pernikahan mereka nantinya, bagaimana? Siapa yang akan bertanggung jawab?" kataku. Ada rasa khawatir juga nanti harus bertanggung jawab untuk sesuatu hal yang tidak ingin kulakukan.
"Lho, kok mas malah doain yang jelek-jelek?" Yasmin tidak terima dengan penjelasan ku.
"Kamu jahat sekali, Qret!" Riana langsung meradang. "Kan kamu tahu sendiri, Deni kalau tidak disuruh dia tidak akan jalan-jalan. Aku sudah bosan menunggunya. Sedangkan ayah, ia juga tidak mau menghubungi Deni terlebih dahulu. Ayah ingin Deni yang datang meminta sendiri."
"Ya sudah, kalau begitu tunggulah Deni datang saja. Beres, kan?" kataku sambil berdiri, siap untuk meninggalkan dua orang sahabat yang merepotkanku.
Bukkk. Tinju Riana melayang ke perutku. Sakit sekali. Aku sampai dibuatnya lemas. Anak ini benar-benar membuatku kesal. Kalau minta tolong tapi ditolak harusnya ia legowo, kalau begini namanya bukan minta tolong, tapi memaksa.
"Sakit Riana! Kalau kau melakukannya lagi, aku akan adukan kau ke kantor polisi!" aku mengancam.
"Silakan saja!" seru Riana, tanpa takut sedikitpun. Mungkin karena ia tahu tidak mungkin aku melakukan semua itu padanya.
"Iihhhhh!" aku jadi gemas pada mereka.
"Masa mas tidak kasihan pada Riana?" kini Yasmin memakai cara lain, ia menunjukkan wajah memelas, berharap aku iba dan menuruti keinginan mereka.
"Aku harus bicara apa?" kataku.
"Mudah saja. Paksa Deni untuk segera melamarku. Kalau dia menolak, kau tinggal mengancamnya dengan sesuatu hal yang ia takuti." ungkap Riana dengan penuh semangat sebab merasa sudah bisa menaklukkan aku.
"Kau kira orang seperti Deni gampang diancam?" aku balik bertanya.
"Kalau begitu mas tinggal pengaruhi dia. Lagipula apa lagi yang ditunggu? Toh Riana tidak menuntut macam-macam dari Deni. Hanya minta dinikahi!" tambah Yasmin dengan suara pelan namun penuh penekanan.
"Aku tidak bisa," kataku sambil menggelengkan kepala.
"Kenapa tidak bisa?" Riana mulai kehilangan kesabarannya lagi. Makanya aku langsung siaga, khawatir ia tiba-tiba kembali menyerang seperti sebelumnya.
__ADS_1