
Jasmin dan Ren kini berada di taman rumah sakit. Mereka duduk dengan jarak tidak terlalu jauh. Saling diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing usai Jasmin membuat pengakuan.
Ren, meskipun ia bersikap cool, tetapi sebenarnya hatinya sedang resah tidak karuan sebab sang pujaan hati ternyata diincar oleh pria lain yang ia sendiri tidak tahu bagaimana orangnya tapi sudah membuat Ren panas dingin menahan perasaan yang tidak tenang. Ia benar-benar tidak rela jika ada yang berusaha mengambil Jasmin darinya sebab gadis itu sudah mulai disebutnya dalam doa-doa.
"Hem," Ren berdehem, membuat Jasmin tersadar dari lamunannya. "Tadi, bagaimana ceritanya?"
"Aku dijodohkan." kata Jasmin.
"Dengan siapa?"
"Namanya Riu, ia adalah cucu dari orang yang paling berjasa dalam hidup ayahku. Kami sudah saling kenal semenjak kami masih kecil, bahkan tumbuh di lingkungan yang sama. Ia tetangga sebelah rumah kami. Bahkan dari cerita ibu aku tahu kalau rumah kami adalah pemberian kakeknya.
"Kau mencintainya?" sebuah pertanyaan yang sebenarnya membuat Ren takut jika jawabannya adalah iya.
"Aku hanya menganggapnya sebagai kakak. Bayangkan saja, ia sudah ada di hidupku sejak aku lahir. kami besar bersama. Bahkan apa yang aku makan iapun juga sama sebab hari-harinya lebih banyak bersama dengan ibuku.
"Kau tahu kan laki-laki dan perempuan tidak ada hubungan darah tidak bisa jadi saudara?"
"Iya, aku tahu itu."
"Lalu kenapa harus menganggapnya sebagai kakakmu? Itu namanya cari gara-gara. PHP pada orang lain. Atau jangan-janhan kau juga nyaman jadi adik-adikannya?"
"Ya biasa saja."
"Hei, kalau kau punya sedikit saja kenyamanan itu bisa jadi cinta. Paham tidak?"
"Iya, aku mengerti. Tapi kenapa harus marah seperti itu."
"Lalu kenapa masih mau jadi adik-adikannya dia? Bagaimana tidak marah, ini melanggar syariat. Berduaan dengannya saja tidak boleh. paham!"
"Karena ...."
"Jasmin, kau harus tegas. Suka atau tidak suka. Kalau tidak jangan jadi adik-adikannya."
"Entahlah, aku bingung.".
"Kau tak boleh begitu Jasmin, kau harus menentukan. Jangan ragu-ragu. Ayo jawab!"
"Baiklah."
"Apa?"
"Ya sudah, kalau memang kelak aku bisa mencintainya. Toh kata orang-orang cinta bisa datang karena terbiasa. Mungkin mulai sekarang aku harus berhenti menganggapnya sebagai kakak, tapi sebagai lelaki dewasa. iya, kan?"
"Hei tunggu dulu, keputusan macan apa itu."
"Aku mau pergi saja."
"Jas, kau harus katakan padaku, bagaimana perasaanmu padanya sekarang?"
"Kan sudah kukatakan, aku belum punya perasaan cinta sebab bagiku dia adalah saudara sendiri, tapi kalau perasaan nyaman bisa mendatangkan cinta, aku tidak masalah."
"Hei hei hei, kau tidak boleh melakukan itu."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Karena ...."
"Karena apa kakak kelas?"
"Ah sudahlah!" Ren mengepalkan tangannya, ia sebenarnya ingin jujur pada Jasmin tapi teringat dengan kata-kata Mia bahwa pernyataan cintanya hanya akan membuat kehidupan Jasmin semakin berantakan.
"Kakak kelas, sebenarnya aku mencintai kakak."
Ren terdiam. Begitu juga dengan Jasmin. Ren merasa begitu tenang mendengarnya. Ternyata perasaanya berbalas. Tapi kenapa malah harus ada orang ketiga? Juga saat kondisi seperti ini.
"Kenapa diam?" tanya Jasmin, sepasang mata bulatnya yang menatap Ren seolah menuntut jawaban membuat Ren salah tingkah.
"Kau masih kecil, belajar saja dulu." jawab Ren.
"Baiklah, ternyata perasaanku bertepuk sebelah tangan. Kau tak membalasnya. Makanya aku akan pasrah saja."
"Maksudnya apa?"
"Aku akan menerima perjodohan itu."
"Kenapa begitu?"
"Kau sudah menolakku kakak kelas. Sekarang aku bisa apa? Dalam kondisi patah hati biasanya perempuan tak semangat lagi melanjutkan hidupnya. Apapun yang dikatakan orang tuanya ia akan menurut saja. Termasuk dengan perjodohan ini. Aku menerimanya!"
"Jas, kau tak boleh begitu."
"Kau selesaikan sekolahmu, urusan perjodohan, ikuti apa kata hatimu?"
"Memperjuangkan mu?"
"Ya!"
"Kau berdoa saja agar Allah juga menetapkan hatiku padamu. Tapi jangan menyerah dengan perjodohan itu. Mengerti!"
Jasmin mengangguk, ia segera pergi setelah mengutarakan semuanya pada Ren. Kini tinggal Ren dengan perasaan harap-harap cemas. Satu sisi ia senang sebab tanpa harus mengungkapkan ternyata gadis itu juga mencintainya. Tapi sisi lain ia juga bingung, apakah ini saat yang tepat? Ren benar-benar takut kehilangan Jasmin yang dijodohkan orang tuanya.
"Bagaimana ini?" Ren yang sempat kalut langsung tersenyum saat melihat sosok Mia keluar dari IGD, ia segera memanggilnya. "Untung saja aku bertemu denganmu!"
"Kenapa Ren? Sepertinya kamu bingung?"
"Kamu memang tahu betul aku Mia."
"Ya Ren, sebab aku mencintaimu." bisik Mia dalam hatinya.
"Kamu tahu Jasmin, gadis yang aku ceritakan itu. Ternyata perasaanku sama dengannya."
"Maksudnya?"
"Dia juga mencintai aku Mia!"
"Bagaimana ceritanya?"
"Tadi dia mengatakan sendiri padaku."
"Oh ya?"
__ADS_1
"Ya Mia. Lalu apakah aku harus menyatakan perasaan yang aku rasakan padanya sekarang?"
"Jangan Ren!"
"Kenapa Mia?"
"Kamu masih ingat dengan apa yang aku katakan tempo hari di kampus, kan?"
"Ya, itu juga yang membuat galau."
"Kalau begitu tahan dulu sampai ia lulus."
"Tapi Mia ...."
"Ren, jangan ikut nafsu, bersabar dulu sampai dia kukus. Kamu juga harus fokus dengan koasmu, bukankah kamu bertekad jadi dokter bedah? Tinggal selangkah lagi, Ren!"
"Ya." Ren melangkah meninggalkan Mia, ia menyetujui apa yang disarankan oleh sahabatnya tersebut.
Sementara Mia nyaris menangis mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Ren. Bagaimana dia bisa tenang jika ternyata ada gadis lain yang mencintai kekasih hatinya.
"Tidak, aku ngga boleh diam saja. Aku harus segera bertindak agar mereka tidak bersatu!" Mia sudah bertekad untuk melakukan apapun agar Jasmin dan Ren tidak bersatu.
***
Ren memarkir mobilnya di halaman depan, lalu beranjak masuk ke dalam. Di sana ia melihat ibunya sedang duduk santai sambil membaca buku. Ren tak ingin mengganggu, makanya ia memutuskan untuk melangkah diam-diam ke kamarnya, tapi langkah itu terhenti sebab ibunya memanggil.
"Ren, kamu pulang nak?" Panggil Alifa.
"Ibu, maaf kalau aku mengganggu ibu." Ren mendekat.
"Tumben pulang? Biasanya kamu lebih memilih di asrama, bahkan hari libur pun sudah diminta pulang."
"Aku kangen ibu!"
"Hah, yang benar, Ren?"
"Ibu, masa tidak percaya dengan anaknya sendiri."
"Hehehe, ibu hanya merasa terkejut saja Ren. Sejak kamu lulus SMA jarang pulang. Kalau nggak urusan kampus ya ke pondok. Sekarang tumben-tumbenan. Ada apa?"
"Bu, aku sedang jatuh cinta."
"Benarkah? Ibu bahagia sekali mendengarnya. Siapa gadis itu, Ren?"
"Namanya Jasmin. Adik kelas di kampus."
"Lalu?"
"Ren bingung Bu."
"Apa yang membuatmu bingung?"
"Dua tadi harus sjaa membuat pengakuan kalau Jasmin itu juga cinta sama Ren, tapi Ren nggak bisa jawab karena dia masih semester awal."
"Bukannya kamu juga punya keinginan nikah muda?"
__ADS_1
"Bu, dia dijodohkan dengan lelaki lain."
"Oh tidak ...." Alifa menutup mulutnya dengan tangan.