
Ren masih saja belum bisa menemukan Jasmin. Ia sudah benar-benar kehabisan ide. Kini, yang muncul hanya nama Riu. Lelaki itu, yang paling tahu Jasmin, tapi ego mencoba menepis, tak ingin mengetahui keberadaan istrinya dari Riu lagi sebab Ren gengsi. Tapi karena sudha terlalu rindu pada perempuan ceriwisnya, akhirnya pesan itu diketik juga.
[Assalamualaikum. Apa kamu tahu dimana Jasmin sekarang?] pesan itu akhirnya dikirim juga setelah beberapa kali dihapus, lalu diketik ulang.
[Kenapa suami bertanya istrinya pada lelaki lain? Apakah ini bukti bahwa kau sebenarnya tak benar-benar mengenal istrimu?] balasan dari Riu.
Aghhhh, Ren mengepalkan tangannya. Ia ingin sekali marah, tapi ia juga sadar diri bahwa yang dikatakan Riu memang benar, ia tak memahami Jasmin. Selama ini ia mengira memiliki Jasmin sepenuhnya, ternyata tidak.
[Aku selama ini salah. Tidak tahu Jasmin seutuhnya. Tapi sekarang, kupikir aku tak salah, bahwa aku bertanya pada orang yang paling tahu ia. Biskaha kau jelaskan juga oadaku, bagaimana ia sebenarnya?] balas Ren. Sungguh, ia membunuh egonya sendiri. Mencoba mengakui segala kurangnya sebagai seorang suami.
[Bagus. Datanglah akhir pekan ke puncak. Kau akan menemukan istrimu.]
Ren berkali-kali mengucap syukur. Ia tak lama lagi bsia bertemu dengan Jasmin. Rasanya sudah tak sbara menanti waktu itu segera datang. Tapi Ren mencoba mengambil hikmah, ini pelajaran untuknya. Kalau perpisahan itu amat menyedihkan. Jika sudah bertemu nantinya, ia tak akan menyakiti Jasmin lagi.
***
Jasmin tersenyum memandang pengantin wanita memakai gaun putih panjang dengan jilbab senada. Ada perhiasan berwarna gold menghiasi kerudungnya. Cantik sekali.
"Sempurna. Riu pasti akan terpana melihatmu." Ungkap Jasmin.
"Benarkah, kak?" Raisya mengerjapkan matanya. "Hm, nanti kak Jasmin yang mengiringi aku keluar ya." pinta gadis itu.
"Kenapa aku?"
"Karena aku ingin. Please, mau ya kak."
"Tapi pakaian kita tak senada. Nanti nggak bagus. Apalagi kalau ada yang mengambil fotonya."
"Tenang. Aku sudah siapkan gamis untuk kakak." Raisya menuju lemarinya, mengambil gamis putih panjang yang tak kalah indah dari gaunnya.
__ADS_1
"Apa ini?"
"Kakak pakai ini ya. Nanti kakak akan dihias oleh periasnya juga. Tenang, nggak akan norak. Tapi soft."
"Nggak ah, ini terlalu berlebih-lebihan." Jasmin menolak, tetapi Raisya terus memaksa sehingga ia tak punya pilihan lain selain menuruti keinginannya.
Lima belas menit kemudian, Jasmin sudah tampil sempurna dengan gamis putih panjang. Perias juga mulai aktif memoles wajah Jasmin. Meskipun shoff, tapi ia terlihat sempurna. Raisya sampai menggigit bibirnya. Sebab dimatanya Jasmin terlihat sempurna.
"Sepertinya ini terlalu berlebih-lebihan." Jasmin memutar badannya di depan kaca. Lalu melihat ke arah Raisya.
"Mbak cantik sekali, seperti pengantin perempuan saja." puji perias tersebut sebelum meninggalkan Jasmin dan Raisya.
Mendengar pujian itu, Raiysa menggigit bibirnya. Benar, Jasmin sangat cantik sekali. Ia kalah jauh. Tapi untuk itulah ia meminta Jasmin berpakaian sepertinya, agar ia bisa tahu bagaimana perasaan Riu padanya. Apakah akan tetap menatapnya, atau justru menatap Jasmin. Perempuan yang jadi cinta pertama calon suaminya.
***
"Ayo!" Jasmin menggandeng tangan Raiysa. Senyum Jasmin membuat Raiysa makin pucat. Ia membuat dunia berhenti berputar.
Raiysa melangkah hati-hati, dibimbing oleh Jasmin. Tatapannya terus tertuju pada Riu, meski di kiri dan kanan mendengar orang-orang malah memuji penampilan Jasmin.
"MasyaAllah, kau seperti bidadari." bisik Riu, tepat di telinga kanannya.
Raiysa tak bisa menyembunyikan haru di hatinya, tanpa basa-basi dipeluknya Riu sehingga semua orang tertawa.
"Hai, Raiysa, jaga sikapmu." Riu langsung melepaskan pelukan Raiysa. Tapi gadis itu tak perduli, ia terlalu bahagia sebab keraguannya sudah terjawab. Riu tak memandang perempuan lain selain dirinya meski mereka sama-sama berdiri sejajar. Itu tandanya Riu benar-benar mencintainya. Ahhh, ia jadi menyesal sudah berpikiran buruk pada Jasmin dan Riu.
***
Suasana tasyakuran pernikahan Riu dan Raisya masih berlangsung. Sekarang orang-orang terlena oleh penampilan tim nasyid pondok putra yang menghibur tamu-tamu.
__ADS_1
"Hm," suara seseorang berdehem tepat di belakang Jasmin.
"Kakak!" Jasmin kaget mendapati Ren ada di sini.
"Hm, apa kabar princes? Kau semakin cantik? Apa kau benar-benar tak merindukanku sehingga tega menghilang selama itu? Kau tahu, aku hampir gila karena tak ada kau di sisiku?"
"Sudah cukup gombalannya!"
"Aku tak menggombal."
Jasmin membuang muka. Ia ingin segera berlalu meninggalkan Ren, tapi ia juga tak bisa membohongi diri sendiri, begitu rindu pada Ren. Perlahan Jasmin berbalik, Ren Dengan sigap memeluknya.
"Aku benar-benar merindukanmu!" kata Ren.
"Aku juga." balas Jasmin. "Janji jangan abaikan aku lagi atau aku akan pergi dan tak akan kembali."
"Ya. Pasti!"
Tak jauh dari dua orang itu, ada beberapa pasang mata menatap haru. Yasmin yang tersenyum bahagia, juga Riana, Deni, Alifa dan Jimmi. Sementara Riu tak perduli lagi dengan itu semua, ia hanya ingin memperhatikan bidadari di sampingnya. Raisya.
---END---
Dear pembaca, terimakasih sudah membaca cerita ini hingga akhir. Semoga ada kebaikan yang bisa diambil. :)
Jangan lupa baca cerita author lainnya:
> Gara-gara Nggak Cantik
>Andai Kita Tidak Bercerai
__ADS_1