GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
99. Membalas Atau Memaafkan


__ADS_3

"Qret, apa yang harus kulakukan untuk membantu Deni?" tanya Riana pagi ini, sebelum kami berangkat ke kedai. Ia terlihat cemas setelah diberitahu oleh Yasmin.


"Kau hanya harus bersabar." kataku.


"Apakah aku kurang sabar? Kenapa ia tidak bicara padaku? Apa ia tidak menganggapku ada?"


"Aku tidak mengatakan kau tidak sabar, Riana."


"Barusan kau bilang begitu. Aku tahu tidak sesaat Yasmin, tapi kan ...."


"Hm, jadi begini Riana. Semua ini terjadi sangat tiba-tiba. Deni saja bimbang bagaimana harus menentukan sikap. Ia harus memilih cepat untuk dua pilihan yang sama-sama penting baginya."


"Baiklah, aku mengerti. Ia masih menganggapku orang asing."


"Tuh kan. Aku kan sudah bilang, kau juga penting baginya. Hanya saja ia dihadapkan pada pilihan."


"Apa? Memang begitu kan? Kau dulu membicarakan semuanya dengan Yasmin. Iya, kan? Tapi dia, tidak sama sekali. Ia bahkan hanya diam saja, membiarkanku dalam tanda tanya besar!"


"Riana, jangan mulai lagi. Tadi kau yang bilang mau membantu Deni. Kalau sikapmu seperti ini namanya mempersulit dia. Lagipula kata siapa semua kubicarakan dengan Yasmin? Tidak semua Riana, kau tahu, masalah di kantor polisi, saat aku di penjara, bukan aku yang memberitahunya tetapi Jimmi. Yasmin tahu aku di penjara dari Jimmi."


"Tapi sebenarnya kau ingin memberitahunya juga, kan?"


"Tapi tidak secepat Jimmi. Sebab aku tidak ingat semua itu karena terlalu banyak yang ku pikirkan. Begitu juga dengan Deni, ingin bicara denganmu, hanya saja ia belum punya waktu yang tepat. Pikirannya masih kacau."


"Tapi,"


"Tidak pakai tapi-tapi Riana. Kondisiku kala itu hampir sama dengan Deni. Kadangkala kita harus dibantu orang lain dulu untuk sampai pada satu titik sebab sulit atau terlupa. Tapi bukan karena tidak penting. Itu bukti bahwa manusia itu sangatlah tidak sempurna. Butuh orang lain untuk mengingatkan!"

__ADS_1


Ada raut tidak puas tersirat di wajah Riana, tetapi ia tidak melanjutkan pembicaraannya. Aku hanya berharap ia bisa memahami kondisi Deni.


***


Pada akhirnya, setelah melewati beberapa waktu akhirnya aku tahu juga siapa pelaku pembakaran rumahku. Ia juga yang punya kedai di depan tempat kami berjualan. Pantas saja ia total sekali, tentu tidak mudah baginya untuk membayar banyak orang untuk memuluskan apa yang ia lakukan.


Entah kenapa setiap membuka berkas yang diberikan. Jack dan Fian, kepalaku langsung berdenyut pelan. Belum ada orang lain yang tahu tentang informasi tersebut. Hanya sebatas aku, Jack, Deni dan anak-anak rules yang intens menyelidiki.


Rupanya ia menyewa orang dalam sehingga CCTV yang biasanya terpasang di jalanan perumahan kami tidak menyala sehingga tidak bisa melihat siapa pelakunya. Tetapi sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Apa yang mereka perbuat terekam langsung dari CCTV rumah tetanggaku. Hanya saja ia baru menyadarinya sekarang, setelah tim rules menyelidiki.


"Lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya Deni dan Jack, saat kami berkumpul di samping kedai bersama beberapa anak-anak rules.


"Tolong kirimkan pesan ini padanya." kataku, pada salah satu anak buah rules.


"Kau akan minta pertanggungjawabannya, Qret?" tanya Deni.


"Kenapa tidak langsung ditemui saja? Supaya enak bicaranya." tambah Jack.


"Kita punya pasukan, kalau mau berkelahi, tidak masalah." jawab Jack dengan enteng.


Aku langsung menggeleng, aku tidak tertarik untuk berkelahi lagi, kami sudah memutuskan untuk hijrah. Rules memang kubiarkan tetap ada, tapi bukan lagi untuk mencari masalah dan membuat keonaran. Rules adalah ikatan persaudaraan untuk kami.


"Pergilah, tolong pastikan surat ini sampai di tangannya." pintaku pada dua anggota rules.


"Kapan kita akan meminta pertanggungjawaban?"


"Surat apa ini, Qret?" Jack geleng-geleng kepala membaca surat yang aku tulis langsung tadi malam, tentu saja tanpa sepengetahuan Yasmin sebab ia sudah terlelap dalam tidurnya.

__ADS_1


"Jack, ada kalanya kita harus mengalah, meskipun benar. Bukan berarti kita kalah, tapi demi kebaikan. Aku akui, keberadaanku dan ibu adalah duri dalam daging di keluarga mereka. Terlepas ia jahat atau tidak pada orang lain, tapi yang jelas ibuku pernah menzalimi mereka.


Aku hanya mencoba untuk berdamai dengan semua masalah yang ada di hidupku. Mengalah agar tidak ada lagi rasa dendam dan kebencian.


Selama ini aku mencoba merenung, mencari cara bagaimana agar mendapatkan maaf dari Bu Rani, khususnya Jimmi dan Jamm. Lalu datanglah masalah ini, makanya aku berkesimpulan, mungkin ini jawaban untuk doa-doaku.


Makanya aku memilih untuk tidak membalasnya, Jack. Aku memaafkan Bu Rani. Semoga dengan begitu dapat meringankan rasa sakit hatinya dan memberikan maaf untuk ibuku." kataku.


"Oke kalau kejadian pembakaran, aku tidak masalah kau memaafkannya. Tapi bagaimana dengan kedai ini? Ia sengaja ingin menghabisimu, Qret. Kau lihat bagaimana ia menghamburkan uangnya hanya untuk membuatmu kalah. Bukankah ia sudah janji tidak akan menggangu hiduo keluargamu lagi?" ungkap Jack.


"Yang dikatakan Jack benar Qret, tidak ada salahnya untuk memberi sedikit pelajaran." tambah Deni.


"Aku tidak mau Jack, Den. Bagaimanapun ia adalah ibu dari saudara tiriku. Biarkan. Ia menyadari bahwa aku belajar memaafkan perbuatannya sehingga ia pun bisa belajar juga " kataju lagi.


"Aku tidak tahu harus bicara apa padamu, Qret." tiba-tiba sebuah pelukan dihadiahkan Jack padaku. Lalu diikuti anak-anak rules lainnya. "Kau benar-benar berubah Qret. Dulu kau dingin dan tidak punya hati, tetapi setelah Tuhan memberimu hidayah, kau berubah jadi seseorang yang begitu bijaksana dan baik. Aku salut!"


***


Kau tahu, sedikit kebaikan yang kau lakukan kadang bisa menyentuh hati orang lain. Sebab itu, teruslah melakukan kebaikan agar lebih banyak lagi hati yang tersentuh.


Siapa yang menyangka, hari ini seluruh anggota rules sepakat untuk hijrah. Bukan hanya dikata-kata, tapi hijrah yang sesungguhnya. Saat azan Zuhur berkumandang, mereka langsung berbondong-bondong ke masjid terdekat.


Bulir-bulir bening itu langsung jatuh dengan derasnya ketika menyaksikan mereka berada di barisan terdepan. Doaku dikabulkan, betapa baiknya Allah padaku.


"Terima kasih Qret, sudah memberikan kami inspirasi." ungkap Dedi, salah satu anggota rules yang terkenal paling Badung. Meski kami sudah memutuskan untuk tidak lagi melakukan hal-hal kriminal, ia tetap saja melakukannya. Atas namanya sendiri. Masih suka judi, mabuk, juga mencopet.


Pernah sebelumnya aku menegur, tetapi ia acuh-tak acuh. Dedi seolah tidak mempedulikan nasihat yang masuk ke telinganya. Itulah kenapa ia adalah salah satu yang namanya sering ku sebut. Aku tidak mau ia terus-menerus menghancurkan diri sendiri dengan hal-hal yang melenakan juga merusak tersebut.

__ADS_1


"Dedi, terimakasih banyak. Sudah mau bertekad untuk tidak main judi dan mabuk lagi " Ungkapku.


"Aku yang harusnya berterima kasih, Qret. Kau benar-benar membuatku tersentuh. Belum pernah aku melihat orang setulus dirimu." tambahnya.


__ADS_2