GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
13. Jimmi dan Alifa


__ADS_3

"Apa maksudmu dengan perjodohan tadi?" tiba-tiba Ren menarik tangan Jasmin saat ia baru nongol di depan pintu kamar, sehingga membuat Jasmin nyaris kehilangan keseimbangan, untung saja Ren cepat memegang lengan Jasmin.


"Kakak itu apa-apaan sih? Kenapa menarik lenganku dengan kasar seperti itu? Sakit tahu! Kalau mau bicara, sabar dulu. Tinggal tunggu orangnya masuk!" kata Jasmin sambik bersungut-sungut. Lalu melepaskan pegangan Ren dari lengannya.


"Aku tida suka kalau kamu menjodoh-jodohkan ibuku, meski itu adalah pamanmu. Mengerti!" Ren meluapkan protes yang ingin disampaikannya sejak tadi.


"Aku malah tidak mau peduli kakak suka atau tidak. Yang jelas, aku akan mencoba, siapa tahu mereka berjodoh. Lagipula ibu dan paman kan single, tak ada salahnya dicoba, ditambah mereka pernah dekat wakgu muda. Jangan lupa, orang yang berhasil menjadi jembatan untuk orang lain sampai mereka menikah sesuai syariat maka Mak comblang akan mendapatkan rumah di surga dari Allah. Kakak nggak mau, kalau tidak mau, biar aku saja?"


"Ada banyak cara mendapatkan surga, jangan bawa-bawa ibuku. Mengerti!"


"Huwow, kakak marah? Mengancamku? Lupa ya, ibu Alifa itu adalah mertuaku, berarti ibuku juga. Hak kita sama, dong. Asalkan ibu bahagia, aku tak mengapa!"


"Jas, aku tidak main-main." Ren benar-benar kesal, tapi sepertinya Jasmin tidak mengindahkan kata-katanya, perempuan yang sudah dinikahinya itu melenggang keluar dengan santainya, padahal Ren sudah mengancam.


Ren menggerutu, melihat kepergian istrinya. Ia tak habis pikir, kenapa Jasmin sekarang jadi ikut campur urusan orang lain. Beraninya menjodohkan ibunya dengan lelaki lain. Jujur Ren tak bisa menerima, apapun alasannya.


"Kalau dia mau mencarikan jodoh untuk pamannya, kenapa tidak dijodohkan dengan ibunya saja. Toh ibu Yasmin juga sekarang sudah single, kenapa malah mengincar ibuku!" gerutu Ren, sambil menepuk keras meja. Ia yang sebenarnya harus mengerjakan beberapa laporan rumah sakit jadi tak bisa menyelesaikan pekerjaannya sebab terpikirkan ulah Jasmin.


Ren mengambil Hpnya, memencet nomor yang entah sudah berapa kali dihubunginya, tapi tak juga membalas panggilan maupun pesanya, padahal nomornya aktif.


"Kemana Mia? Kenapa selama sepekan ini ia menghilang?" Ren mencoba mengulang kembali, tapi kini nomor yang dihubunginya sudah tidak aktif. "Ahhh, kenapa dia juga sudah dihubungi!"


***


Sementara itu di sebuah apartemen yang berada di bilangan Jakarta Selatan, seorang perempuan muda sedang duduk menangis di pojokan tempat tidur. Ia benar-benar putus asa sebab selama sepekan ini mencoba menghubungi Joko, tetapi lelaki itu tak bisa dihubungi, entah kemana ia pergi.

__ADS_1


Sementara itu, nomornya terus dihubungi oleh Ren. Harusnya Mia senang seperti biasanya jika Ren menghubungi, tapi kali ini berbeda sebab Mia sejujurnya takut. Ia tak berani membayangkan jika Ren marah padanya hanya gara-gara rekaman yang diambil oleh lelaki yang bernama Riu.


"Jangan-jangan Ren mau marah, makanya ia menelepon dan mengirim banyak pesan menanyakan keberadaan ku. Ughhh, rasanya benar-benar menakutkan. Aku tak sanggup menghadapi Ren jika ia membenciku. Juga Joko, kenapa ia menghilang begitu saja?" Mia menutup wajahnya dengan kedua tangan, ia ingin menangis tapi suara telepon kembali membuatnya tersadar.


MrX, orang suruhan Mia. Buru-buru ia mengangkat. [Bagaimana, kalian menemukan Joko, kan? Ada dimana dia? Apa yang sedang dilakukannya?] Mia mengajukan banyak pertanyaan pada orang suruhannya tersebut.


[Anda tenang saja nona, saya sudah menemukan dimana Joko berada sekarang.] kata seseorang di seberang sana.


[Dimana dia? Katakan padaku sekarang juga!]


[Sabar dong, bayar dulu sejumlah uang yang anda janjikan maka akan saya kirimkan alamat Joko.]


[Baik.] Mia mematikan telepon, lalu mengirim sejumlah uang ke rekening yang dikirim orang suruhannya lewat M-banking. Tak lama ia mendapatkan balasan, sebuah alamat dimana Joko sekarang berada.


***


Mia ragu untuk turun, tapi ketika melihat sosok yang dicarinya, Mia langsung meloncat bahagia. Seperti seseorang yang sudah lama berjalan di Padang Pasir, lalu menemukan air untuk menghilangkan dahaga.


"Joko!" secara spontan Mia menghambur ke pelukan Joko yang terbengong-bengong, tak percaya dengan kehadiran Mia.


"Mia?" Joko menatap bingung gadis yang menggelayut di dadanya.


"Joko, siapa itu?" tanya perempuan yang sudah adak sepuh.


"Itu ... Mia, Mak. Teman Joko." kata Joko, sambil berusaha melepaskan pelukan Mia. "Mi, tolong kondisikan diri kamu, jangan sembarang bertindak!" pinta Joko.

__ADS_1


"Apasih, aku cuma mau peluk doang, kok. Pengen tau bagaimana kondisi kamu, kenapa menghilang selama sepekan ini? Kamu juga nggak bisa dihubungi!" protes Mia.


"Maaf Mi, tapi seperti yang aku katakan, aku nggak mau lagi berurusan dengan kamu." ungkap Joko.


"Kok gitu? Kamu benar-benar nggak tanggung jawab Joko, sudah membuat aku jatuh cinta, terus ditinggalkan begitu saja. Jahat banget kamu!" Mia masih protes . Ia bahkan mengingatkan Joko akan janjinya dahulu bahwa akan terus berjuang sampai cintanya terbalas. "Sekarang aku sudah suka sama kamu, tolong bertanggung jawablah!"


"Aku nggak paham, Mi. Apa maksudnya? Nggak mungkin kamu suka sama aku, kamu kan hanya suka sama Ren. Iya, kan?".


"Itu dulu, tapi nggak sekarang, Joko. Aku serius."


"Bagaimana aku bisa percaya?"


"Nikahin aku, Joko."


"Apa?"


"Ya, nikahi aku. Kamu mau kan? Aku mohon, tolong Joko. Selama ini aku sudah berusaha mendapatkan cinta Ren,tapi ternyata semuanya bertepuk sebelah tangan. Aku sudah menyadarinya. Berjuang mendapatkan cinta seseorang itu benar-benar melelahkan, sekarang tolong terima cintaku, jangan minta aku berjuang lagi. Aku benar-benar sudah lelah, Joko " Tegas Mia.


Joko sebenarnya masih bimbang, apa harus percaya atau mengabaikan semuanya setelah perjuangannya selama ini. Joko hanya takut kembali terjebak oleh Mia. Tapi ia juga tak bisa berbohong sebab ada perasaan sennag mendengar pengakuan tersebut. Bahkan Joko berdoa berulang kali dalam hatinya kalau yang dikatakan Mia itu adalah kebenaran.


Mia kini beralih pada ibunya Joko,ia sampai berlutut di hadapan perempuan tersebut. "Mak, tolong katakan pada Joko agar menerima mamafan saya. Tolong izinkan saya jadi istri untuk anaknya emak. Saya janji akan menjadi istri yang baik untuk Joko. Boleh kan Mak?" tanya Mia, sambil meraih tangan emaknya Joko.


"Duh, bagaimana ya. Emak juga bingung. Tapi neng jangan berlutu seperti ini, emak jadi enggak enak. Ayo bangkitlah." Pinta emaknya Joko.


"Nggak Mak, saya nggak akan bangkit sebelun Mak janji merestui dan mendukung saya. Tolong Mak!" Pinta Mia.

__ADS_1


"Baik-baik, Mak janji. Pokoknya Mak restui kalian menikah." ungkap emaknya Joko.


__ADS_2