GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
73. Jimmi Marah


__ADS_3

Usai makan, ayah mengajak Jamm kembali berbincang, sementara; aku, Riana dan ibu menyimak perbincangan mereka. Sesekali kamu tertawa melihat tingkah polos Jamm. Iapun terlihat sangat nyaman berada di sekeliling kami.


"Jamm, apa kau mau bermain denganku?" tanyaku.


Jamm buru-buru berdiri, seperti anak kecil ia melompat gembira. Apalagi saat kukatakan akan mentraktirnya semangkuk es krim. Rencana hari ini berkurang di dapur untuk mencoba resep baru sepertinya harus kuundur sebab aku ingin menghabiskan beberapa waktu bersama Jamm.


Entah mengapa, aku yang baru pertama bertemu dengan Jamm sudah langsung menyayanginya. Entah itu karena ia saudaraku, atau karena kepolosan Jamm.


"Riana, kau mau ikut?" aku bertanya pada Riana, saat berjalan beriringan dengan Jamm hendak meninggalkan rumah.


"Hah, oh iya." Riana tersadar dari lamunannya. Ia buru-buru bangkit dan mengejar kami berdua. "Hai Jamm, kau tidak keberatan kan membagi es krimmu denganku?" tanya Riana.


Jamm langsung tersenyum sambil menunjukkan ibu jarinya. Anak ini memang berkomunikasi dengan isyarat, meski kadang-kadang ia mengeluarkan suaranya.


Kata ayah sebenarnya jika Jamm rutin terapi maka ia akan bisa bicara. Tapi Bu Rani memutuskan tidak mengizinkan Jamm lanjut terapi dan tidak ada yang bisa menbantah keputusannya.


Itulah salah satu alasan mengapa ayah tidak sanggup lagi hidup dengan Bu Rani sebab aturannya yang tidak bisa dibantah siapapun. Bagi Bu Rani, kehormatan kekaurga jauh lebih penting dibandingkan dengan perkembangan anak-anaknya.


Jamm memang malang sekali. Tetapi Allah sangat menyayanginya dengan mengirimkan orang-orang baik di sekitar Jamm yang selalu menjaganya dari keberingasan ibu kandungnya sendiri.


"Ayo Jamm!" aku menggandeng tangan Jamm, sementara Riana mengikuti kami dari belakang.


Sampai di swalayan kecil yang berada tidak jauh dari rumahku. Jamm tiba-tiba menunjuk ke arah selatan. Aku mengira karena ia tidak sabar ingin membeli es krim, makanyan aku menuntun tangan Jamm masuk ke swalayan.


"Kau mau es krim coklat atau strawberry?" aku menunjukkan dua mangkok es krim dengan rasa yang berbeda.


Sigap, Jamm meraih wa krim rasa coklat. Lalu ia segera menuntun menuju kasir. Tidak lupa kubekikan cemilan lain yang kira-kira disukai Jamm.


"Ayo pulang!" ajakku, setelah membeli makanan untuknya.


Jamm menggeleng, ia menunjuk ke arah selatan lagi. Aku dan Riana sampai bingung mengartikan apa yang diisyaratkan oleh Jamm.

__ADS_1


"Mungkin dia mau jalan-jalan?" tanya Riana.


"Panas-panas seperti ini? Kata ayah Jamm tidak boleh terlalu lama di luar. Apalagi kalau cuaca panas, ia bisa sakit. Daya tahan tubuh Jamm tidak sebaik kita." kataku, mengulang kembali penjelasan ayah tentang Jamm.


"Ya sudah, kalau begitu ayo pulang. Jamm, ayo pulang!" ajak Riana.


Jamm menggeleng, ia terus menunjukkan arah selatan. Padahal aku dan Riana sudah mengatakan tidak.


"Tidak Jamm. Kita pulang dulu. Ayo makan es krim di rumah," kataku.


Jamm tidak mau menurut, ia terus-menerus menunjuk arah selatan sambil mengeluarkan suara-suara yang tidak kami fahami. Aku dan Riana sampai pusing dibuat anak remaja ini.


"Jamm, ayolah kita pulang. Hari sudah mulai panas." Riana pun akhirnya mengeluh. Ia yang biasanya tidak peduli dengan matahari ataupun warna kulit yang bisa berubah akibat berpanas-panasan akhirnya mengeluhkan bahwa kulitnya bisa hitam juga. "Aku juga haus sekali. Kalau kau tidak mau pulang, maka aku akan menghabiskan es krimmu." bisik Riana pada Jamm.


"Uuuuuu," Jamm memasang wajah cemberut sambil memegangi kantong belanjaan yang tadinya kupegang.


"Baiklah, kalau kau tidak mau memakannya. Ayo kita pulang!" ajakku.


Anak inipun akhirnya menurut, sambil melompat-lompat ia mengikuti langkah kakiku dan Riana.


Jamm tidak menjawab. Ia terus saja melompat. Lama-lama aku jadi pusing melihatnya. Tapi sikapnya yang polos membuatku betah berlama-lama dengan anak ini.


"Jamm!" Suara seseorang memanggil Jamm sehingga membuatku, Riana dan Jamm menoleh ke arah suara itu.


Persis sebelum pintu rumah kubuka, Jimmi sudah berada tidak jauh dari kami, ia berkacak pinggang, menatap tajam ke arah kami. Tetapi kami bertiga tidak peduli. Aku hanya geleng-geleng kepala, Riana menganggap Jimmi angin lalu, sedangkan Jamm malah bertepuk tangan sambil meloncat-loncat.


"Jimm ... Mii!" panggil Jamm, sambil terus melompat-lompat.


"Apa yang kalian lakukan pada Jamm? Kenapa ia ada di sini? Oh, kau mau menculiknya ya Qret? Baru beberapa hari bebas kau sudah berulah. Kau mau di penjara lagi?" Jimmi dengan lagaknya yang sombong menantangku.


"Kau bicara apa? Ayo masuk!" seperti bertemu teman lama, aku meraih tangan Jimmi, tetapi anak itu buru-buru menepis tanganku. "Hei!" kataku.

__ADS_1


"Tidak usah sok akrab, Qret. Kembalikan adikku!" ucapnya.


"Jamm? Ia juga adikku!" kataku.


"Kau!" Jimmi menunjukku.


"Jamm ayo masuk," ajak Riana.


"Hai, kau nona. Jangan pegang-pegang adikku. Memangnya kau siapa berani mendekatinya?" Jimmi menunjuk Riana.


"Aku Riana." ucap Riana dengan polosnya.


"Siapa yang bertanya namamu? Aku mengingatkanmu untuk tidak menyentuh adikku. Mengerti!" ungkap Jimmi.


"Jamm saja tidak keberatan." cetus Riana, masih santai menggandeng Jamm yang senyum-senyum.


"Kau siapa? Tau tidak siapa Jamm? Ia adalah putra konglomerat. Jangan sok akrab dengannya. Kami tidak biasa berteman dengan orang-orang seperti kalian!" tukas Jimmi.


"Ahh apa peduliku," kata Riana, sambil mengibaskan tangan ke arah Jimmi.


"Aku akan menuntut kalian karena sudah membawa Jamm pergi tanpa seizin ku!" kata Jimmi dengan nada serius.


"Kami tidak membawa Jamm pergi, ia yang datang sendiri." jawab Riana, tidak mau kalah dari Jimmi.


Aku membiarkan mereka berdua berdebat, menurutku Jimmi dan Riana akan jadi lawan yang seimbang soal perdebatan. Jadi aku tidak perlu ikut campur, hanya perlu melihat mereka secara bergantian sambil menyimak. Lumayanlah untuk hiburan.


"Kau kira aku bodoh. Jamm itu anak istimewa, ia tidak bisa melakukan apapun sendiri. Harus ada orang lain yang memberinya petunjuk!" seru Jimmi.


"Apa pedulinya denganku? Sudahlah, ayo Jamm kita masuk dan makan es krimnya. Aku malas berdebat dengan laki-laki seperti saudaramu. Tidak mau kalah dari perempuan. Pantas saja Yasmin tidak memilihnya!" tukas Riana sambil menyodorkan mangkuk es krim coklat ke tangan Jamm.


"Hai, apa maksudmu?" rupanya Riana sudah melakukan kesalahan dengan menyinggung sesuatu hal yang cukup prinsipil dalam hidup Jimmi. "Kau juga, pantas saja Qret tidak memilihmu. Jadi perempuan tidak mau kalah. Kasar dan pemarah. Sukanya main bentak-bentak!" kini giliran Jimmi yang mengatai Riana.

__ADS_1


"Jamm, ayo!" Riana mendengus kesal.


"Hei, buang Jamm!" Jimmi menyentak kotak es krim dari tangan Jamm. Es krim yang sudah dibuka tutupnya itu langsung jatuh berserakan ke lantai.


__ADS_2