GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
174. Cerita Sedih Yasmin


__ADS_3

Saat Jasmin hadir di hidupnya, sebenarnya Yasmin mengalami pertentangan batin. Satu sisi ia bahagia sebab akhirnya apa yang diharapkan suaminya bisa ia berikan. Tetapi di sisi lain, ia merasa takut jika Qret lebih menyayangi Jasmin. Yasmin yang mulai posesif begitu takut harus berbagi, meski itu dengan putri kandungnya sendiri.


"Aku belum pernah merasakan kebahagiaan sebelum menikah dengan suamiku. Hidupku benar-benar dipenuhi oleh kepedihan sampai-sampai aku begitu pesimis tentang rasanya bahagia itu seperti apa." Yasmin mengakhiri kisahnya di hadapan psikolog yang menangani.


"Yas," Riana menepuk pelan pundak Yasmin, usai menghapus air mata yang tak sanggup dibendungnya.


Riana jadi menyesal dan merasa sangat bersalah saat pernah berusaha menghalangi hubungan pernikahan Qret dan Yasmin. Jika ia tahu, perempuan yang telah menjadi sahabatnya itu menanggung penderitaan yang begitu menyedihkan, maka ia tak akan tega menambah penderitaan baru dihidupkan Yasmin.


"Kini, kebahagiaanku telah hilang, mungkin tak akan pernah kembali lagi." ungkap Yasmin lagi.


"Tidak, itu tidak benar Yas. Qret akan sadar, cepat atau lambat. Kau juga masih punya Jasmin yang siap membahagiakan kamu." tambah Riana.


"Bu Yasmin, ibu harus terus berpikiran positif. Ayo kita coba mencari satu saja kebahagiaan bersama putri ibu." ajak terapis yang mendampingi Yasmin.


Sementara itu, di kamar rumah sakit tempat Qret dirawat, tampak Jasmin menangis di lantai kamar. Ia benar-benar bingung dengan kondisi ibunya, tetapi tidak tahu harus melakukan apa.


Sejak kecil, Jasmin sebenarnya sudah merasakan bagaimana ibunya tak pernah peduli. Bahkan ia sampai cemburu pada Riu yang jauh lebih disayangi. Bahkan Yasmin rela memarahi Jasmin bila ada sesuatu hal yang membuta Riu sedih atau marah berkaitan dengan dirinya. Padahal tidak selamanya Jasmin yang berbuat salah. Hal itulah yang membuta Jasmin jadi membuat jarak dengan ibunya. Tetapi ia tetap menyayangi ibunya.


Kini, Jasmin bangkit. Ia bolak-balik mengintip dari jendela. Tetapi sosok yang dinantinya tak kunjung datang.


"Apa ibu benar-benar marah dan tak bisa mengampuniku?" pertanyaan itu muncul di benak Jasmin, sekaligus membuatnya menyesal, kenapa tidak langsung membuang kertas-kertas itu sejak bibi Riana memperingati. Sekarang semuanya sudah terlambat, ibunya sudah tahu, bahkan tampak sangat marah dan kecewa, meskipun berita itu hanyalah fitnahan belaka.


"Siapa orang yang tega melakukan ini semua?" Jasmin memutar otak, mencoba mengingat, barangkali ada orang yang sakit hati olehnya. Tetapi seperti apapun ia mengingat, tetap saja tidak ada satu manapun yang muncul.


Dengan teman-teman satu angkatan ataupun dengan kakak kelas, Jasnin jarang berinteraksi. Selama di kampus, ia fokus pada urusan kuliahnya saja. Sesekali mengurus pekerjaannya sebagai penerjemah.

__ADS_1


"Foto-foto ini kan diambil di sekitaran kampus." Jasmin mengamati beberapa foto yang ditempelkan pada selebaran tersebut. Foto yang ia ingat betul, saat kliennya melakukan pembayaran. Dalam foto itu tampak betul kalau kliennya menyerahkan amplop, dan Jasmin hendak menerimanya.


"Tidak ada yang aneh sebenarnya dalam foto ini. Lokasi di tempat umum. Entah di pelataran KamUS atau malah dekat ruang kuliah. Tapi kenapa dengan mudah opini terus bergulir. Bahkan, ada saja orang iseng hingga sekarang yang menghubunginya, menanyakan jasa sebagai perempuan bayaran. Gara-gara dalam selebaran tersebut ada nama dan nomor Hpnya terpajang


Saat Jasmin mencoba menganalisa selebaran tersebut, tiba-tiba pintu kamar ayahnya terbuka. Masuklah ibu dan bibi Riana. Jasmin ingin menghampiri, tetapi bibi Riana memberikan isyarat agar Jasmin tetap di tempatnya.


Riana membawa Yasmin menuju sofa tempat ia biasa tidur, lalu membaringkannya. Tak lama Jasmin bisa mendengar suara nafas ibunya acara teratur, pertanda sudah tidur.


"Jasmin, ikut bibi sebentar bisa?" tanya Riana.


"Bisa," jawab Jasmin.


Mereka berdua berjalan menuju kantin. Ia memesankan dua mangkok bakso dan dua gelas teh hangat untuk Jasmin dan bibi Riana.


"Bi, bagaimana dengan ibu? Apakah ibu masih marah padaku? Kenapa bibi dan ibu tadi pergi cukup lama? Bibi dan ibu kemana saja?" Jasmin langsung menyampaikan rentetan pertanyaan pada Riana sebab begitu khawatir dengan kondisi ibunya. Ia tahu betul kalau kejiwaan ibunya harus tetap di jaga. Makanya Jasmin sangat khawatir saat amarah ibunya meledak seperti tadi.


Jas, Kita harus bekerja keras membuat Yasmin kembali nyaman seperti saat Qret berada di sisinya. Bibi tahu memang tidaklah mudah, tetapi ini demi kebaikannya. Kita harus bekerja keras!"


"Aku tahu bi, aku juga berusaha melakukannya. Tetapi bibi tahu sendiri, tidak ada kepercayaan sedikitpun yang aku dapatkan dari ibu."


"Ya, sepertinya kecurigaan Yasmin padamu memang begitu tinggi."


"Lalu harus bagaimana lagi? Aku takut ibu kenapa-napa."


"Bibi sudah berpikir, akan menyuruh Riu kembali "

__ADS_1


"Apa?"


"Ya, kamu tidak keberatan kan Jasmin?"


Jasmin diam, ia tak langsung menjawab. Ia tahu betul kalau selain ayah, Riu adalah orang yang paling berharga di hidup ibu. Ia sangat menyayangi Riu melebihi anak kandung sendiri. Mungkin karena anggapan ibu bahwa Riu sudah seperti anaknya sendiri.


Rasanya masih berat jika harus bertemu Riu kembali. Jasmin harus mengakui dengan jujur bahwa sebenarnya ia berharap Riu tak kembali dulu sebab misinya mendapatkan kasih sayang ibunya belum juga terwujud. Jika Riu kembali lebih awal, maka ia akan sangat yakin tak akan pernah mendapatkan lagi kesempatan itu.


Tetapi Jasmin juga menyadari, Riu mungkin satu-satunya orang yang bisa membantunya. Setidaknya, jika dengan Riu, ibu akan mendengarkan. Ibu begitu patuh pada Riu, apapun yang Riu katakan pasti akan didengarkan oleh Riu.


"Jasmin?" panggil Riana.


"Hah, oh iya bibi Riana. Ada apa?" Jasmin gelagapan sebab ia ketahuan sedang melamun.


"Kamu memikirkan apa?"


"Tidak apa-apa bi, aku hanya bingung memikirkan bagaimana caranya membuat ibu sadar."


"Itulah sebabnya aku meminta Riu Kembali."


"Lalu kuliahnya? Jangan sampai karena masalah ini masa depan Riu jadi terancam?"


"Kalau itu jangan resah, Riu bisa transfer ke kampus lainnya. Di Jakarta ada banyak kampus yang bisa menerimanya."


"Baiklah kalau begitu bibi. Maafkan aku karena harus merepotkan bibi dan Riu."

__ADS_1


Jasmin berusaha menghadirkan senyum di bibirnya. Ingin sekali ia berteriak, ibu kenapa sulit sekali mendapatkan kasih sayangmu? Apakah dosaku begitu besar, ibu?


Sementara Riana hanya bisa menatap iba pada Jasmin. Ia tak tahu harus membantu apalagi. Riana tahu betul bagaimana menderita Jasmin saat ini dengan sikap ibunya. Tetapi ia tidak bisa menyalahkan Yasmin sebab tahu betul bagaimana menderitanya Yasmin di masa lqlu.


__ADS_2