
Pesta telah berakhir, makanan pun sudah ludes semuanya. Sebelum bubar, anak-anak rules membantu paman Rudi membereskan perkakas dan membersihkan sampah bekas makan-makan, sementara aku kembali ke rumah bersama ayah dan ibu.
"Qret, Riana kemana?" bisik ibu, saat kami bergandengan tangan menuju rumah, sementara ayah sudah berjalan duluan di depan.
"Masih di kamarnya, Bu." jawabku, seperti informasi yang diberikan oleh Deni tadi.
"Ia baik saja, kan Qret?" ibu terlihat prihatin.
"Semoga begitu, Bu. Qret juga tidak bertemu Riana, jadi tidak tahu keadaan sebenarnya. Tapi kata Deni dia sudah membaik, sudah lebih tenang juga."
"Qret, kapan Riana akan menemui kita?"
"Qret tidak tahu, Bu. Tidak ada yang mengatakan atau membahas Riana tadi. Ibu juga dengan sendiri, kan?"
"Lalu kalau kita bertemu nanti, apa yang harus ibu katakan?"
"Ya ibu ucapkan apa yang ibu ingin ucapkan. Bersikap seperti biasa saja. Senyaman ibu."
"Qret,"
"Iya ibu."
"Ibu juga bingung,"
"Tidak usah bingung, Bu. Jalani saja. Bersikap seperti biasa. Riana juga hanya manusia biasa, ia pernah salah, kalau sudah dimaafkan ya jangan diungkit lagi. Biarkan ia memulai hidup barunya dengan lebih baik lagi.
Sudah dulu membahasnya, ayo kita bersih-bersih rumah. Qret sudah tidak sabar ingin tidur di kamar Qret."
Baru kami hendak masuk, tiba-tiba paman Rudi memanggil, ia menyusul kami sampai depan rumah.
"Qret," panggilnya.
__ADS_1
"Ada apa paman?" tanyaku, ditemani ayah dan ibu.
"Sebenarnya aku ingin memberikan ini padamu." paman Rudi menyerahkan sebuah amplop berukuran besar, dan sebuah kunci cadangan.
"Apa ini?" tanyaku.
"Ini sertifikat rumah dan kunci cadangannya. Paman tahu, kebebasanmu jauh lebih berharga dari pada ini semua. Tapi sebagai seorang paman yang sudah menganggapmu seperti anak sendiri, paman menghibahkan rumah ini padamu.
Mulai sekarang kaulah yang berhak atas rumah ini, aku dan Riana sudah Merelakannya untukmu." kata paman Rudi.
"Tapi paman," aku tidak tahu harus mengatakan apa. Rasanya tidak pantas mendapatkan hadiah semahal ini.
"Qret, anggap ini sebagai permohonan maaf aku dan Riana. Kami sungguh-sungguh ingin berdamai denganmu." ungkap paman Rudi.
"Tapi paman tidak perlu memberikan rumah ini padaku. Semua masalah yang terjadi kemarin sudah kami lupakan." kataku.
"Tolong Qret, terimalah. Sebenarnya, jika tidak ada peristiwa kemarin pun aku ingin memberikan kau hadiah rumah ini yang memang sudah kupersiapkan sebagai peninggalan untukmu nantinya, sedangkan rumah satunya lagi untuk Riana. Kau tahu bagaimana aku sangat menyayangimu layaknya putraku sendiri.
"Paman!" aku langsung menghambur dalam pelukan paman Rudi. Tidak menyangka jika paman mempersiapkan semuanya untuk kami berdua. Begitu besar kasih sayang paman untukku. Aku berharap kelak bisa membalasnya. "Aku sungguh beruntung, dikelilingi orang-orang baik." kataku, pelan.
***
Pukul enam pagi, ibu terdengar panik sebab sayuran di kulkas kosong, tidak ada satupun yang bisa dimasak.
"Ibu tenang saja, Qret yang akan berbelanja!" seruku dari atas sambil bersegera turun. "Apa saja yang harus Qret beli?" tanyaku lagi.
"Kau yakin bisa Qret?" ibu terlihat ragu.
"Hem, sepertinya ibu belum tahu salah satu keahliannya Qret adalah berbelanja di pasar. Qret juga jago memilih sayuran yang segar dan menawarnya Sembiring mungkin."
"Oh ya?"
__ADS_1
"Hm. Kalau ibu tidak percaya, akan Qret buktikan. Catat apa saja yang ibu butuhkan, nanti Qret akan membelikan untuk ibu."
Dalam lima menit, catatan belanja sudah diberikan ibu. Panjang sekali. Aku sampai meringis membacanya. Ternyata ibu benar-benar ingin mengujiku. Buktinya, melihatku ibu langsung tersenyum usil.
"Ayo tunggu apa lagi? Ayo pergilah!" kata ibu, menyadarkanku dari lamunan.
"Siap bu!" kataku, sambil berlalu meninggalkan rumah.
Ibu benar-benar serius ingin menguji, bayangkan, laki-laki seumuran aku di suruh belanja sebanyak ini? Aku sampai tertawa miris.
Tetapi bukan Qret namanya jika tidak bisa melakukan tantangan ini. Dahulu saat masih tinggal dengan paman Rudi, aku terbiasa pergi berbelanja, bahkan juga memasak menu sehari-hari kami. Aku belajar secara otodidak sebab Riana, satu-satunya anak perempuan di rumah tidak bisa diandalkan. Ia bahkan tidak bisa membedakan mana jahe, kunyit ataupun lengkuas.
Sampai di pasar pagi, suasana sudah ramai, aku mulai berdesakan dengan kaum ibu yang juga berburu bahan belanjaan.
Semula aku mengunjungi stand penjual ayam, daging dan ikan. Aroma amis mulai tercium. Lalu aku mulai memilih beberapa jenis ikan yang ada di catatan, ikan jika satu kilogram, ikan bandeng juga sekilo. Lalu menambah beberapa jenis ekor ikan yang menurutku enak. Ikan bawal, udang dan cumi-cumi. Kalau dimasak pasti sangat lezat sekali.
Dulu, saat kami masih dalam masa-masa kekurangan, untuk berbelanja daging, ikan ataupun ayam adalah sebuah kemustahilan. Paman Rudi pernah mendapatkan sepotong ayam, upah makan siang saat menjadi buruh. Karena tahu kami suka ayam tapi jarang sekali bisa makan, akhirnya paman membawa ayam tersebut pulang.
Paman Rudi memang jarang memakan jatah makan siangnya. Ia akan membawanya pulang. Membiarkan aku dan Riana makan terlebih dahulu, kalau ada lebihnya barulah paman akan memakannya. Jika tidak maka ia akan bersabar menghadapi kami.
Satu jam sudah berlalu, tiga kantong belanja sudah penuh di tangan. Aku buru-buru pulang, berjalan kaki karena jarak pasar ke rumah tidak terlalu jauh. Bisa ditempuh dalam waktu lima menit.
"Hei, kalau jalan hati-hati. Kau membuat makananku jatuh!" ucap seorang perempuan, pada dua orang anak laki-laki yang ngebut-ngebut naik sepeda. Ia tampak marah, dengan gaya asalnya sampai mengacungkan tinju ke udara.
Aku selalu heran dengan anak-anak di sini, mereka suka sekali bersepeda sekencang mungkin padahal jalanan di sini hanya gang sempit yang hanya bisa dilewati oleh dua orang. Kalau ada yang berkendara maka harus pelan-pelan agar tidak menyenggol pejalan kaki.
"Riana!" panggilku. "Kau tidak apa-apa?" tanyaku, sambil berusaha mengambil makanan masak yang ia beli. Sayang sekali makanannya sudah berserakan sebab plastiknya pecah.
"Qret," Riana mundur beberapa langkah, ia menggelengkan kepalanya. Lalu tangis gadis itu pecah seketika, membuatku kebingungan, apalagi ditambah beberapa orang yang lalu-lalang melihat ke arahku. Mungkin mereka mengira akulah yang membuat makanan Riana tumpah. Padahal bukan aku penyebabnya. Tatapan-tatapan penghakiman seperti itu sungguh membuatku tidak nyaman.
"Riana," aku berbisik, berharap tangis gadis itu berhenti. Tapi bukannya diam, ia semakin menjadi-jadi. Ya Tuhan, bisa-bisa orang-orang semakin salah paham padaku.
__ADS_1