GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
92. Cerita Alifa


__ADS_3

Sampai di depan kedai, seperti dugaaanku, Riana salah tingkah melihat Deni. Aku tersenyum sebab melihat kesempatan untuk membalas anak itu.


Tetapi aku jadi tertarik pada satu hal, tentang bagaimana Tuhan dengan mudah membolak-balikkan hati manusia.


Dahulu Riana sangat membenci Yasmin. Ia menolak keberadaan Yasmin di sampingku. Bahkan sampai mengusir gadis itu. Untuk mengetahui keberadaanku, Riana bahkan sampai memata-matai.


Sedangkan Yasmin sendiri pada akhirnya memutuskan untuk tidak mau berkunjung ke rumahku lagi. Ia tidak ingin mencari masalah dengan Riana. Yasmin memang sampai setidaknya nyaman itu dibuat oleh Riana.


Begitu juga dengan Deni. Dulu, orang yang sempat jadi kepercayaanku itu begitu mencintai Riana. Ia bahkan rela menuruti apapun yang dikatakan oleh Riana. Ketika Riana menyuruh untuk memata-matai aku, ia menurut. Ketika Riana menyuruh untuk membocorkan informasi tentangku, ia juga menurut. Padahal saat itu ia bekerja padaku.


Bahkan Deni selalu siap mendengar omelannya atau bahkan jadi samsak kemarahan Riana. Ia benar-benar mendengarkan tanpa mau mengeluh apalagi kesal.


Sedangkan Riana, gadis itu benar-benar tidak punya perasaan apapun pada Deni. Perlakuannya sangat buruk sekali.


Lalu dengan mudah Allah membolak-balikkan hati manusia. Riana kini menjalin persahabatan dengan Yasmin. Ia juga mencintai Deni dan selalu grogi berhadapan dengannya.


"Qret, kau belanja banyak sekali!" seru Deni. Ia mengambil barang belanjaan di tanganku. Lalu menaruhnya di dapur. Sementara dua orang pegawai lainnya langsung menyiapkan racikan bahan makanan. "Oh ya, apa kau tahu informasi terbaru?"


"Tentang apa?" tanyaku, sambil duduk di meja. Sementara Riana dan Yasmin sudah sibuk entah membicarakan apa di meja lainnya. Ia memang benar-benar tidak niat bekerja.


" Di depan sini, akan dibangun kedai juga."


"Oh yaa, dari mana kau tahu?"


"Tadi ada yang datang untuk mengukur tanah. Mereka akan mulai membangun esok hari. Sepertinya sudah ada yang membaca bahwa berjualan di sini cukup laris sehingga mereka menyiapkan diri menjadi sainganmu."


"Bisa jadi." aku menganggukkan kepala sambil menjentikkan jari. Sebenarnya, tidak jauh dari sini juga ada beberapa kedai makanan yang dibuka tidak lama setelah kami buka. Tapi ketika ada yang membuka warung tepat di hadapanku, rasanya cukup lucu juga.


Tetapi aku yakin bahwa rezeki sudah diatur oleh Allah. Kita hanya perlu berusaha dan berdoa tanpa meributkan.


"Sepertinya kita harus punya strategi lain, Qret. Agar pelanggan tetap membeli ke juga." ungkap Deni, membuyarkan lamunanku.

__ADS_1


Sebuah ide terlintas di benakku, tetapi belum sempat terucapkan, sebab kini perhatianku tertuju pada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan kedai. Lalu senyumku mengembang begitu melihat siapa yang datang.


"Hai jagoan!" aku menyeru dua orang yang baru turun dari mobil itu.


Tidak ada jawaban, bocah berusia enam tahun itu hanya menatapku datar, tanpa ekspresi. Bahkan saat kuulurkan tangan, ia hanya diam saja.


"Ren, ayo jawab tangan pamanmu. Ini namanya paman Qret, ia teman ibu!" perintah Alifa, pada putra tunggalnya.


"Hai!" sapaku lagi


Ia benar-benar tidak mau diajak berkomunikasi. Tetapi aku tetap mengajaknya berkenalan, entah mengapa aku begitu tertarik padanya. Sepasang mata biru, wajah yang menggemaskan, juga keyakinan bahwa ia anak yang mengagumkan.


Yasmin dan Riana datang menyongsong kedatangan Alifa. Tiga wanita itu tampak akrab dan saling menanyakan kabar. Lalu mereka mengajak Alifa masuk ke dalam kedai.


"Kau kenapa?" tanyaku, pada Ren.


Dia tetap diam. Bahkan mulai menunjukkan ekspresi tidak suka. Bahkan mungkin ingin pergi dari sini, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa sebab ibunya kini asyik ngobrol di dalam.


"Wah, putra yang tampan!" Yasmin hampir berteriak saat melihat Ren.


Seperti dugaaanku, siapapun yang melihat bocah ini akan langsung suka sebab parasnya memang begitu menggemaskan.


"Kau punya putra yang sangat menggemaskan. Andai aku punya putri, sudah ku jadikan menantu!" seruku, disambut tawa lepas orang-orang yang ada di kedai.


"Hai Ren, mau memasak?" tiba-tiba aku iseng mengajak Ren untuk memasak. Di luar dugaan ku, anak itu mengangguk sambil mengikutiku ke dapur. Aku sampai terkaget-kaget dibuatnya. Ia yang tadinya dingin seperti kulkas malah ngikut saja.


Sementara para wanita sibuk berbincang di depan, aku dan Rem mulai memasak. Sementara Deni dan dua karyawan lainnya menyiapkan hidangan untuk pembeli.


"Kau bisa memasak?" aku berdecak kagum melihat anak usia enam tahun dengan mahir mengaduk adonan, membuatnya menjadi pasta.


Meskipun Ren belum mau buka suara, tapi dengan ia ikut memasak di dapur, ku anggap ia mau menerima kehadiranku. Entah mengapa aku benarkah berharap bocah ini berbicara padaku.

__ADS_1


"Kau memang berbakat!" pujiku sambil mengacungkan jempol. Tiba-tiba ia merespon ku dengan senyuman.


Manis sekali. Anak ini semakin menggemaskan sehingga secara spontan aku mencubit pipinya. Ren sampai melihatku dengan menekuk wajahnya.


"Maaf ... maaf. Bukan maksudku untuk menyakitimu. Aku hanya terlalu gemas padamu!" ungkapku.


Setelah makanan selesai, aku dan Ren menghidangkan ke depan. Ada ayam bakar madu andalanku, capcay, serta pasta buatan Ren.


"Ini buatan Ren, ternyata ia jago sekali memasak!" kataku pada para wanita.


Semua orang mengangguk-angguk. Alifa membenarkan bahwa anaknya memang sudah cukup mahir dengan urusan masak. Bahkan lebih jago dari dirinya.


"Di Australia ia juga ikut kelas cooking sejak usia empat tahun. Ayahnya adalah seorang koki." ungkap Alifa. Dari caranya membicarakan mantan suami secara santai, membuatku yakin bahwa ia sudah move on.


"Wow, Ren benar-benar luar biasa. Aku saja tidak bisa memasak pasta seenak ibu!" ungkap Riana, sambil menyendok pasta ke dalam mulutnya.


"Sama, aku juga tidak bisa!" Alifa ikut mengaku. "Makanya ia mau ku ajak keluar, sebab aku mengiming-imingi dia dengan memasak!"


"Bagaimana Yas, jika kita punya anak perempuan, Ren saja kita jadikan menantu." aku mengulang candaan tadi.


Semua orang tertawa. Mereka kembali menikmati masakan buatan ku dan juga buatan Ren.


"Ren masih harus lebih banyak lagi beradaptasi dengan orang-orang. Aku memutuskan ia tidak sekolah dulu tahun ini sebab ia masih menutup diri dengan orang lain. Bahkan dengan kakeknya saja ia tidak mau bicara. Di rumah ia hanya mau berkomunikasi denganku.


Aku mencoba memahaminya. Sepertinya ia merindukan ayahnya juga. Inilah imbas dari perceraian, tidak selalu berjalan mulus. Pasti akan ada korbannya. Yaitu Ren.


Ia memang tidak pernah berkomentar apapun selain menerima. Tetapi dengan sikapnya yang menutup mulut rapat-rapat sudah membuktikan bahwa Ren sangat terluka. Anak itu dulu begitu ceria. Bahkan bisa dikatakan tidak bisa diam. Tetapi kini ia bersikap sebaliknya." Alifa menceritakan tentang putranya dengan mata berkaca-kaca, saat Ren kembali sibuk di dapur.


"Kau bisa membawanya ke sini jika ia bosan di rumah." ungkap Yasmin. "Kami semua siap membantu Ren agar kembali seperti dulu. Mungkin kami tidak bisa mengobati lukanya, tapi setidaknya bisa menghibur agar ia tidak kesepian." tambah Yasmin.


"Iya benar, aku tidak akan keberatan diminta mengaduk bocah setampan dan selucu Ren!" tambah Riana. Semua orang tertawa mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2