
"Sekarang waktunya menjelaskan, mas." Yasmin langsung menghadang langkahku, setelah ayahnya meninggalkan rumah. Dengan kursi roda yang sengaja diputarnya untuk menghantarkan jalanku.
Hufff, aku sebenarnya malas untuk membahas ini semua. Tetapi melihat ekspresi Yasmin yang menuntut jawaban, rasanya memang sudah tidak mungkin lagi mengelak.
"Yas, apa tidak bisa kita bicarakan nanti, setelah aku pulang dari kedai?" aku meminta pengertian Yasmin. Banyak hal yang harus dikerjakan setelah kedai aku tinggalkan selama hampir empat bulan. Dua bulan pengobatan Yasmin di Indonesia, dua bukannya di Singapura.
Selain masalah keuangan yang berantakan, juga harus merapikan beberapa hal tentang peralatan dan juga sistem manajemen di kedai. Apalagi sekarang kami sudah mulai merambah penjualan online. Harus ada perekrutan karyawan baru.
"Tidak mas, aku mau mas jelaskan sekarang." kata Yasmin lagi, ada penekanan di sana bahwa ia benar-benar tidak ingin ditawar.
"Baiklah. Kau mau aku menjelaskan tentang apa?" aku balik bertanya. Ingin tahu seberapa jauh pemahaman Yasmin tentang catatan hutang yang ia ballca tersebut.
"Berapa banyak hutang mas? Itu semua untuk berobat aku, kan? Tolong jelaskan semuanya tanpa ada yang ditutup-tutupi sebab kalau mas melakukannya, akan jadi masalah baru untuk kita." kata Yasmin.
"Baiklah. Aku punya hutang. Totalnya satu setengah milliar. Dengan bunga sebesar seratus lima puluh juta sebulannya."
"Bunga?"
"Iya Yas, aku meminjam para rentenir."
"Ya Allah mas ...." Yasmin menutup mulutnya dengan kedua tangan. Aku tahu ia pasti akan kaget, tapi ini dalam kondisi terdesak. Aku tidak punya pilihan lain.
"Harusnya mas katakan dari awal. Kita juga tidak perlu berobat ke Singapura sehingga tidak jatuh pada lintah darat. Kalau sudah begini kita bisa apa, mas? Kita sudah benar-benar terjebak. Seratus lima puluh juta sebulan itu sangat besar mas. Keuntungan dari berjualan di kedai saja paling banyak sepuluh juta. Lalu dengan apa kita membayarnya?" tangis Yasmin mulai pecah, jelas terlihat ia begitu t
kecewa sekali sampai menyalahkan diri sendiri. "Ini semua gara-gara aku, harusnya aku tidak tabrakan, atau jika tabrakan kenapa tidak mati saja sekalian sehingga tidak membuat mas terlilit hutang!" tangisnya mulai terdengar.
"Astagfirullah Yas, kamu bicara apa sih? Ingat Yas, semua yang ditakdirkan Allah adalah yang terbaik untuk kita. Lalu kenapa harus disesali."
"Aku hanya Menyusahkan mas saja. Sudah jauh-jauh berobat, menghabiskan banyak uang sampai mas terlibat hutang pada lintah darat, tapi tetap saja aku tidak juga sembuh-sembuh. Memang benar-benar sial sekali, aku itu tidak ada gunanya. Bagaimana bisa jadi istri yang baik, menjaga diri sendiri dan calon anak kita saja tidak becus!"
"Yas. Istighfar. Kamu itu istriku, aku bertanggung jawab atas kamu. Biarkan aku melakukan yang terbaik seperti yang aku bisa. Tolong jangan bicara yang aneh-aneh lagi, Yas, agar aku bisa fokus untuk melunasi hutang-hutangnya. Tentang calon bayi kita, itu juga sudah jadi bagian dari takdir Allah. Jangan coba-coba menyesalinya, Yas. Tidak ada gunanya. Malah cuma dapat dosa sebab kita tidak Ridha."
"Tapi bagaimana cara mas melunasinya? Mas kan tahu sendiri penghasilan kita paling bersih sebulan sepuluh juta. Buat bayar bunganya saja tidak cukup, apalagi melunasi hutang. Bisa-bisa kita seumur hidup terus terjerat oleh rentenir itu, atau mungkin kita akan mati dihisab oleh mereka!"
"Jangan bicara seperti itu, Yas. Kamu harus tetap optimis. Apa kamu tidak percaya kita bisa melewati semuanya, kita masih punya Allah?"
__ADS_1
"Mas, ayo pakai logika. Bagaimana cara melunasinya? Beritahu aku mas sebab aku sungguh tidak tahu caranya meski aku sudah memikirkannya sekeras mungkin!"
"Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, Yas. Kamu yakin itu, kan?"
Susana jadi hening sebab Yasmin tidak lagi menjawab. Tetapi aku yakin masalah ini belum selesai baginya sebab ia terlihat masih cemas.
"Kamu cukup bantu aku dengan doa dan semangat darimu." pintaku pada Yasmin. "Aku pasti akan berusaha keras. Akan keluar dari hutang ini secepat mungkin."
"Tapi bagaimana caranya?"
"Entahlah. Biar Allah yang menunjukkan jalannya. Saat ini akupun belum menemukan jalannya."
"Apa mas menggadaikan sesuatu sebagai jaminannya?"
"Ya, tanah dan kedai kita."
"Ya Allah. Kenapa mas senekat itu? Tanpa tanah dan kedai itu, kita sudah tidak punya apa-apa lagi."
"Yas, jangan begitu."
"Tapi memang seperti itu kenyataannya, kan mas?"
"Lalu apa rencana mas sekarang?"
"Belum tahu Yas. Aku masih sangat buntu. Jadi aku mohon kamu bantu aku dengan doa dan semangat. Agar aku bisa menemukan jalan keluarnya sebelum kita kehilangan tanah dan kedai."
"Hanya ada satu jalan, mas."
"Apa?"
"Jual tanah dan kedai itu. Sebelum bunganya semakin besar dan melilit kita hingga kehilangan semuanya."
"Tidak Yas!"
"Kalau begitu mas mau terlilit hutang selamanya? Iya, mas? Kenapa tidak membiarkan aku saja. Kenapa harus membawaku ke Singapura?"
__ADS_1
"Yas,"
"Selama masih ada hutang itu, aku akan terus merasa bersalah!"
"Tapi Yas,"
"Kita tidak punya pilihan lain. Mas tidak mau kan kita kehilangan tanah dan kedai itu, tapi masih tetap terikat hutang?"
"Entahlah Yas,"
"Mas, ketika berhutang dengan rentenir, gerak kita harus cepat agar kita bisa lepas. Mas harus memutuskan sekarang sebelum semuanya terlambat."
"Tapi kedai sangat berarti untukku. Kau tahu itu sumber rezeki kita."
"Tapi kita tidak punya pilihan lain. Hanya itu harta berharga milik mas. Sementara rumah ini adalah kepunyaan paman Rudi. Jadi tidak ada alasan lain, mas."
Aghhhhh. Aku mendengus kesal, membayangkan kehilangan tanah dan kedai. Tanah itu aku beli dengan susah payah, sementara kedainya adalah bangunan yang kami gunakan untuk mendapatkan uang.
Tetapi Yasmin benar, aku tidak punya pilihan lain selain harus menjualnya sebelum awal bulan nanti sebab bunga harus dibayarkan.
"Yas, aku tidak bisa!" ungkapku. "Beri aku waktu untuk berpikir dan mencari jalan keluar lain."
"Sampai berapa lama, mas? Tolong dengarkan aku sekali ini saja!"
"Tidak Yas, aku tidak bisa."
"Mas!"
"Kamu tahu betapa berartinya itu semua untukku?"
"Kalau begitu, kenapa mas menjadikannya sebagai jaminan? Harusnya mas pikirkan semua itu dari awal."
"Yas, semua sudah terjadi. Aku melakukannya demi kamu. Jadi tolong biarkan aku berpikir, jangan desak aku dulu, Yas. Aku masih optimis ada jalan keluar sebelum tanah dan kedai itu diambil oleh lintah darat."
"Enggak, nggak akan ada mas. Aku yang salah. Harusnya aku tidak menyusahkan mas. Serahkan saja aku pada lintah darat itu. Biar aku jadi budak mereka."
__ADS_1
"Yas, sudahlah. Biarkan aku sendiri dulu."
Aku berjalan keluar rumah. Melangkahkan kaki tanpa arah. Meninggalkan Yasmin sendirian di rumah dengan banyak pikiran di kepala.