
Ren benar-benar marah. Setelah Jasmin menghilang dari pandangannya, ia segera berbalik arah menuju kampus. Sampai di depan mading tempat kertas-kertas berisi fitnahan terhadap Jasmin dipampang, Ren berhenti.
"Perhatian semuanya!" kata Ren dengan nada suara tinggi sehingga mengundang perhatian semua mahasiswa yang berada di sekitar lokasi. "Siapa yang sudah memasang berita bohong tentang Jasmin? Silakan mengaku. Kalau sampai jam dua siang tidak ada yang mau mengaku, maka saya akan laporkan kejadian tersebut ke rektorat dan juga pihak berwajib agar kasus ini diproses sebagai sebuah tindakan tidak menyenangkan. Mengerti!" ungkap Ren.
Ren segera berlalu, ia masih sangat marah. Begitu jengkel atas ulah tidak bertanggung jawab manusia pengecut tersebut pada Jasmin.
"Ren," panggil seorang mahasiswi cantik. Ia mengejar langkah Ren. Tidak pernah sebelumnya ia melihat Ren semarah ini. "Kamu kenapa?"
"Mia? Itu, tadi kamu lihat papan mading? Ada orang jahat yang memfitnah Jasmin." kata Ren.
"Jasmin siapa?"
"Mahasiswi awal."
"Oh, sekarang kamu memperhatikan anak baru, Ren. Suka?"
"Kenapa bilang begitu?"
"Kamu marah sekali. Juga sikap kamu yang perhatian. Nggak biasanya seperti itu. Saat kita masih jadi mahasiswa, kamu enggak pernah peduli ketika teman-teman ngajakin buat ngedekatin mahasiswa baru, tapi sekarang beda sekali kayaknya."
"Beda persoalan Mi. Kamu nggak lihat apa, aku juga dibawa-bawa dalam kasus ini. Dito juga nuduh aku ngeboking Jasmin. Jahat sekali, kan?"
"Hanya karena itu?"
"Ya iyalah. Aku harus menjaga nama baikku juga, kan? Memangnya kenapa, sih?"
"Enggak apa-apa, Ren. Ku harap memang hanya karena itu " Mia sudah berusaha memberikan kode secara tersirat, namun sepertinya Ren tak menyadarinya. Entahlah, atau mungkin ia memang tidak peduli?
"Mia, kamu bisa bantu aku, kan?"
"Bantu apa?"
"Bantu up kasus ini sampai aku menemukan siapa pelakunya."
"Untuk apa, Ren? Cuma buang-buang waktu saja. Palingan itu juga hanya kerjaan orang iseng."
__ADS_1
"Tapi aku mau menemukan pelakunya."
"Buat apa?"
"Kasihan Jasmin, dia mogok kulihat gara-gara ini."
"Yang dikatakan Ren memang benar. Kita harus cari tahu siapa pelakunya." tiba-tiba Dito datang menghampiri Ren dan Mia. "Aku minta maaf ya Ren, sudah nuduh kamu yang bukan-bukan. Jujur aku terpancing. Agak kecewa saat tahu kalau Jasmin ayam kampus. Tapi akhirnya akunkega sebab ternyata itu semua bohong. Jadi sekarang ayo kita cari orang iseng yang sudah menjelekkan nama Jasmin. Aku juga akan bantu laporkan ke polisi. Aku akan minta bantuan keluargaku."
"Sudahlah Dit, Ren. Lupakan saja. Palingan itu juga kerjaan orang iseng." kata Mia, dengan guratan wajah gelisah.
"Enggak bisa. Kita harus cari pelakunya sekarang juga!" Ren dan Diri segera berlalu menuju ruang rektorat, sementara Mia memilih mundur sebentar.
Dengan lincah gadis yang sebentar lagi akan dilantik jadi dokter itu memencet nomor Hpnya. Ia langsung terhubung dengan lelaki yang disuruhnya memasang berita fitnah tentang Jasmin.
[Pokoknya, jangan sampai ada yang tahu kalau kamu adalah pelakunya. Ren dan Dito lagi nglapor ke rektorat, mereka juga akan ke kantor polisi. Urusan ini akan panjang.] kata Mia, sambil berbisik.
[Duh, bagaimana dong?] kata lelaki diseberang sana.
[Kalau kamu ketangkep, jangan pernah sebut namaku. Ngerti!]
[Terserah, pokoknya sekarang juga menghilang. Kapan perlu jangan muncul lagi. Aku akan transfer uang untuk kamu. Cukup untuk daftar di kampus lain. Kamu bisa mulai hidup baru.]
[Kok begitu sih, Mia?]
[Lalu kamu mau hidup aku hancur?]
[Mia, aku mencintaimu ....]
[Kalau begitu berkorbanlah untukku. Kamu itu sudah semester sembilan dan nggak ada progres untuk lulus. Jadi, kamu pindah ataupun nggak tidak akan berpengaruh apapun. Ngerti, nggak!]
[Nggak bisa,]
[Nggak ada tapi-tapi. Kamu harus ikuti mauku, Joko!]
[Nanti kita bicarakan. Sekarang kamu cari informasi yang banyak dulu. Lalu kita bertemu. Kita hadapi berdua. Paham!]
__ADS_1
Klik. Telepon diputus. Mia langsung pucat. Bagaimana mungkin ia bisa ceroboh seperti ini. Melakukan sesuatu hal yang bisa menghancurkan masa depannya hanya gara-gara cemburu para Ren sebab terlihat dekat dengan Jasmin, mahasiswi baru di kampus mereka.
Tidak, Mia merasa kedekatan mereka bukan hanya karena hubungan kerjaan. Mia menangkap ada cinta di kedua mata Ren untuk Jasmin, begitu juga sebaliknya.
Tidak pernah sebelumnya Mia tahu bahwa Ren siap melakukan apapun untuk orang lain, apalagi itu adalah perempuan. Termasuk padanya yang hanya sebatas teman satu tempat koas meski Mia sudah mengenal Ren sejak SMA. Lelaki bermata biru itu juga yang membuatnya pada akhirnya masuk fakultas kedokteran.
"Aku nggak mau kehilangan kamu, Ren. Aku akan lakukan segala cara agar bisa mendapatkan kamu!" ucap Mia dengan penuh semangat. Ia lalu buru-buru ke kantor rektorat untuk tahu kelanjutannya kasus ini.
***
"Ayah, bangunlah. Lakukan sesuatu. Lihatlah, sekarang mereka mengatakan aku perempuan panggilan hanya karena aku bekerja keras untuk membiayai pengobatanmu. Padahal aku hanya ingin berbakti. Rasanya sangat sakit sekali, ayah. Aku malu. Beberapa orang lelaki memandangku dengan tatapan rendah." air mata Jasmin jatuh semakin banyak. "Aku rindu, Yah. Bangunlah!"
"Jasmin?" sebuah suara membuat Jasmin buru-buru menghapus air matanya. "Ada apa Jasmin?" tanya bibi Riana.
"Bibi!" Jasmin menyodorkan lembaran kertas yang tadi dilepasnya dari papan mading.
"Astagfirullah. Siapa yang tega melakukan semua ini?"
"Aku tidak tahu Bibi. Tapi mereka melakukan itu hanya karena aku bekerja sebagai seorang penerjemah. Aku memang berhubungan dengan beberapa orang klien lelaki, tapi aku tidak melakukan hal terlarang!"
"Ya, aku tahu itu. Aku sangat percaya padamu, nak. Tapi tidak habis pikir mengapa mulut mereka jahat sekali. Apa kamu punya musuh?"
"Tidak ada."
"Lalu siapa yang melakukannya?"
Jasmin menggelengkan kepalanya, ia sangat yakin tidak punya musuh di kampus. Bagaimana mau punya musuh, berbincang dengan teman sekelas saja hanya sesekali. Itupun hanya untuk meminjam catatan atau menanyakan tugas. Tidak lebih.
Dua orang yang berkomunikasi cukup sering adalah kak Dito dan kak Ren. Jasmin yakin sekali kalau kak Dito tidak mungkin melakukannya sebab ia punya perasaan pada Jasmin dan melihat kemarahannya tadi, rasanya tidak mungkin ia yang melakukan fitnah tersebut.
Apalagi kak Ren. Jasmin juga tahu bagaimana sebenarnya baiknya kak Ren meskipun ia pura-pura jutek pada Jasmin. Tadi saja ia begitu marah, bahkan bertekad akan membawa kasus ini ke jalur hukum. Lalu siapa yang tega begitu jahat memfitnah Jasmin?
"Jasmin, jangan sampai ibumu tahu masalah ini. Bibi tahu kau pasti sangat marah, tapi jika ibumu tahu hanya akan menjadi masalah baru. Tahu kan ibumu gampang sekali terpancing emosinya." kata bibi Riana.
"Iya Bi, aku juga akan berusaha merahasiakan semuanya dari ibu." ungkap Jasmin.
__ADS_1