GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
21. Tangisan Mia


__ADS_3

Mia merasakan nyeri di seluruh tubuhnya. Terutama hatinya. Ia merasa sangat hancur. Berkeping-keping. Rasanya ingin berteriak keras, lalu memukuli Joko hingga ia binasa sebab sudah mengambil sesuatu hal yang paling berharga dalam hidupnya. Tapi rasa sakit ini membuatnya tak mampu untuk bergerak, hanya air maya yang terus tumpah membanjiri kedua pipinya.


"Bajing** kamu Joko!" umpat Mia, dengan suara serak, namun yang disebut namanya malah berlalu dengan santai ke kamar mandi.


Kini, Mia terbaring lemah dengan perasaan penuh benci dan amarah yang memuncak.


***


Mia berdiri di bawah shower, membasahi seluruh tubuhnya. Semua bagian di gosoknya dengan keras. Lalu dicuci dengan sabun berulang kali. Hampir satu botol ia tuangkan ke badannya. Tapi Mia merasa belum juga cukup. Ia kembali menangis, mengerang bagai orang yang kesakitan.


"Jahat ... jahat ... jahat!" Teriak Mia lagi, dibawah guyuran shower. "Berani-beraninya ia, dasar tidak tahu diri. Aku ingin memberikannya pada Ren, tapi kenapa ia yang mengambilnya?" Mia kembali menangis hingga ia tersungkur ke lantai kamar mandi, masih di bawah guyuran air.


Selama ini ia merasa memegang kendali atas Joko, tapi kini semuanya berbalik. Joko yang berkuasa atas dirinya, bahkan ia benar-benar sudah kalah.


***


Setelah memacu mobil dengan kecepatan tinggi hingga beberapa kali hampir menabrak orang, kini Mia memarkir mobilnya sembarangan. Ia tak peduli jika satpam datang mendekat. Toh ini perusahaan ayahnya, halaman parkiran juga punya ayahnya, jadi, sebagai satu-satunya pewaris tunggal, tak ada alasan untuk takut pada siapapun di area perusahaan ini.


"Eh non Mia, mau ketemu bapak atau pak Joko?" tanya satpam tersebut, sambil mengikuti langkah kaki Mia yang cukup cepat. "Maaf non Mia, mobilnya bisa saya pinggirkan."


Mia tak menjawab, ia terus saja berlalu. Masuk ke dalam lift, lalu menutup pintunya tanpa mengizinkan satpam ikut serta.


Begitu sampai di lantai enam, Mia langsung turun. Ia masih melangkah cepat, mengabaikan siapapun yang menyapanya.


Ketemu. Mia sudah melihat sosok yang dicarinya. Sedang berbincang dengan ayahnya tepat di depan tianhaj ayahnya. Tanpa ragu Mia melangkah cepat mendekati sosok tersebut.


Plak. Sebuah tamparan melayang ke pipi kiri Joko. Bunyinya cukup keras hingga mencuri semua perhatian orang-orang yang berada di sana. Tapi Mia tak peduli dengan tatapan kaget ayahnya, dan seluruh karyawan yang terbengong-bengong dengan kejadian refleks barusan.

__ADS_1


Sementara Joko, ia memegang pipi kirinya yang memanas akibat tamparan tersebut. Joko tahu, kenapa Mia melakukan semua itu, akibat perbuatannya semalam.


"Putriku, ada apa ini?" tanya ayahnya Mia dengan suara bergetar. Sejujurnya ia benar-benar kaget melihat semua itu, untung saya tidak terkena serangan jantung. "Oh, ayah tahu kalian sedang ada masalah. Ayo, ayo cepat masuk." Ayah Mia menarik tangan anak dan menantunya agar segera masuk ke ruangannya. Ia tak mau mereka jadi tontonan seluruh karyawan dan berakhir jadi bahan gosip.


Di dalam ruangan ayahnya, Mia kembali ditanyai atas perbuatannya barusan. Mia yang masih marah langsung bergetar, rasanya begitu kesal hingga ia tak sanggup membicarakan semua ini. Kini ia benar-benar merasa hina sudah diperlakukan seperti itu oleh Joko.


Bagaimana mungkin seorang lelaki miskin yang selama ini ia perdaya untuk mendapatkan Ren malah tega melakukan semua itu padanya. Mengambil kesuciannya. Padahal Mia sudah mau menikah dengannya. Gara-gara pernikahan tersebut, Joko diangkat jadi wakil direktur di perusahaan ini sebab ayahnya ingin menaikkan derajat menantunya tersebut. Malah ini balasan yang didapatkan Mia.


"Mia, kenapa? Katakan pada papa, kenapa kamu menampar suamimu di hadapan orang banyak? Apa salah Joko?" tanya ayah Mia.


"Lelaki ini jahat!" Mia menatap tajam Joko. "Dia bajing**!" tambahnya, dengan suara bergetar.


"Baiklah, kalian selesaikan saja berdua. Papa keluar dulu. Tapi tolong jangan teriak-teriak atau main kekerasan. Ini kantor, papa tidak mau kehormatan Joko hancur!" kata ayanya Mia dengan tegas, lalu meninggalkan Mia dan Joko berdua. Sejujurnya ayahnya Mia sudah bersimpati dengan menantunya. Ia bahkan bertekad memberikan semua kekayaannya pada menantunya yang dinilai pantas menerima semua kekayaannya ketimbang istri dan anaknya.


"Apa? Kehormatan Joko? Kenapa papa mempedulikan kehormatan lelaki miskin ini? Padahal ia adalah lelaki yang paling kurang ajar!" Mia mengumpat dalam hatinya.


"Kau!" Mia kembali memaki.


"Kenapa? Masih marah?" tanya Joko sambil tertawa kecil.


"Bajing**!" Mia hendak memukul lagi, tapi ditangkis oleh Joko. Bahkan Joko memegangi tangan Mia hingga ia meronta. "Lepaskan aku!"


"Kau lupa apa kata ayahmu? Jangan teriak apalagi main fisik padaku. Jadi, kalau mau bicara, berkata-kata yang baiklah."


"Kenapa kau lakukan semua itu?"


"Karena aku suamimu. Jadi aku berhak mengambilnya!"

__ADS_1


"Apa? Kan sudah kukatakan untuk bersabar dulu."


"Kau pikir aku bodoh? Aku tahu Mia, kau hanya ingin memanfaatkan aku lagi, kan? Entah apa rencanamu, tapi kau pasti akan menyingkirkan aku setelah apa yang kau inginkan kau dapatkan. Sayang sekali, kali ini aku tak ingin lagi dimanfaatkan. Aku sudah mengatakan dari awal, aku sudah menyudahi terlibat dengan segala permainanmu dan kau mengaku sungguh-sungguh ingin menjadi istriku.


Sekarang aku berikan kau pilihan, mau menurut atau mengakhiri pernikahan ini! Silakan pilih!" kata Joko dengan tegas.


"Ke ... kenapa jadi kau yang mengaturku?"


"Karena aku suamimu. Secara agama dan hukum aku berkewajiban mengarahkanmu pada kebaikan. Kau adalah tanggung jawabku. Sekarang juga, kau pulang ke rumah. Jangan keluar tanpa izinku. Aku sudah menyuruh guru untuk mengajarimu bagaimana cara jadi istri yang baik!" kata Joko dengan tegas.


"Hei, apa-apaan ini?" Mia kebingungan. Ia hendak memberi Joko pelajaran, tapi malah terikat oleh aturan-aturan Joko.


"Ingat, kalau kau tidak mau nurut maka aku akan ke pengadilan agama sekarang juga!"


Mia tak bisa berkata-kata lagi, ia segera berbalik arah, keluar dari kantor ayahnya menuju rumah sebab takut dengan ancaman Joko.


***


"Bagus menantu, aku mendukungmu selalu. Ingat, jangan ragu-ragu untuk mendidik putriku. Aku percaya kau bisa melakukan yang terbaik. Kau harus tegas agar tak seperti aku yang gagal mendidik istri dan putriku." kata pak Leon, ayah kandung Mia. Ia benar-benar mempercayakan dan mendukung menantunya.


"Terimakasih pak, sudah percaya dan selalu mendukung saya." ucapk Joko sambil membungkukkan badannya sebagai penghormatan pada ayah mertuanya.


Joko mendapat kepercayaan diri setelah beberapa kali berbincang dengan ayah mertuanya yang ternyata sangat baik.


Pak Leon, langsung mempercayakan bagian terpenting dari perusahaan padanya. Ia tak perduli dengan latar eblakang ekonomi dan pendidikan Joko. Bahkan pak Leon berinisiatif mengajari Joko secata langsung agar kelak ia pantas jadi CEO perusahaan ini.


"Kau tak boleh seperti aku. Janji, ya!" pinta pak Leon dan disanggupi oleh Joko. Dengan dukungan penuh dari ayah mertuanya, ia bertekad bisa mengubah Mia jadi istri yang baik.

__ADS_1


__ADS_2