GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
157. Tujuh Belas Tahun Kemudian


__ADS_3

POV TIGA


Dua orang remaja berbeda jenis yang usianya terpaut satu tahun tampak sedang bersitegang di depan halaman rumah. Remaja lelaki memaksa yang perempuan mengenakan kerudung, sementara perempuan menolak, bahkan ia sampai menepiskan tangan pemuda tersebut.


"Kau mau paman masuk neraka gara-gara kau tak memakai kerudung?" ungkap Riu, anak lelaki yang kini sudah berusia delapan belas tahun. Ia sampai menyodorkan kerudung milik ibunya yang sengaja diambil dari dalam sebab kesal melihat gadis di depannya berkeliaran di luar rumah tanpa penutup kepala.


"Ngomong-ngomong neraka terus, memangnya kau ini penjaga pintu neraka?" ungkap Jasmin, anak perempuan yang kini berusia tujuh belas tahun. "Lagipula apa urusannya denganmu. Aku mau pakai kerudung atau tidak kan tidak mengganggu!" Jasmin berteriak kesal.


"Kau masih bertanya apa urusannya denganku? Sebab aku peduli pada paman!"


"Oh ya?"


"Iya Jasmin. Aku sayang pada paman, aku tidak mau paman masuk neraka gara-gara putri semata wayangnya yang tidak mau diatur ini. Juga akubrisih, setiap kau berkeliaran di sekitar rumah tanpa kerudung, teman-temanku yang datang main ke sini akan mencuri-curi pandang padamu!"


"O, sekarang aku paham. Kau suka ya padaku. Makanya marah saat teman-temanmu melihat ke arahku?" dengan usilnya Jasmin malah menggoda Riu, sehingga pipi pemuda tersebut memerah.


"Siapa yang suka padamu? Kau itu gadis kecil yang nakal. Aku tidak suka. Kau bukan tipe perempuan idamanku. Aku suka perempuan seperti ibu Yasmin. Ia perempuan lemah lembut yang menjaga dirinya. Tidak sembarang bergaul dengan lelaki."


"Hahaha, kau pikir aku percaya kalau kau tak suka padaku, Riu? Wajahku kan sangat mirip dengan ibu!" kini Jasmin mencibir ke arah Riu sehingga pipinya semakin memerah digoda terus menerus oleh Jasmin. "Bagaimana, mengakulah Riu?"


"Riu ... Riu ... Riu. Kau harusnya memanggilku kak Riu. Kita beda satu tahun!"


"Cuma beda satu tahun saja kau begitu ribut. Ayah dan bibi Riana berbeda tiga tahun tapi mereka biasa-biasa saja."


"Kenapa harus mencontoh yang tidak baik?"

__ADS_1


"Kenapa juga harus meributkan yang tidak penting?"


"Ahhhh, kau itu benar-benar berisik seperti ibuku. Diberitahu yang baik selalu saja membantah. Kapan kau akan menurut? Kalau mau meniru, tirulah yang baik Jasmin. Kau kan anak perempuan, kelak akan jadi istri dan ibu. Kau juga akan dicontoh oleh anak-anakmu. Apa kau tak akan menyesal jika nanti anak-anakmu mengikuti sikapmu yang keras kepala itu?"


"Hahaha, Riu ... Riu. Aku ini masih tujuh belas tahun. Belum waktunya memikirkan pernikahan. Aneh sekali kau ini!"


"Jasmin!"


"Apalagi? Kau masih mau menjelekkan bibi Riana di hadapanku? Aku bisa marah lho!"


"Pakai kerudungmu!"


"Tidak mau!"


Tanpa diduga, Riu langsung menerjang Jasmin, ia memaksa Jasmin untuk memekainya sehingga membuat Jasmin berteriak kesal. Ia sudah meminta Riu untuk menjauh, tetapi tidak diabaikan sehingga Jasmin terpaksa menendang Riu.


Urusan bela diri, Jasmin memang jagonya. Di usia sepuluh tahun ia sudah memegang sabuk hitam. Salah satu aktivitas Jasmin selain sekolah adalah menjadi pelatih bela diri. Ia juga beberapa kali menjadi atlit Wushu dan berhasil meraih medali.


"Awww." Riu menjerit kesakitan sambil memegang perutnya. "Jas, sakit!" teriaknya lagi.


"Jasmin, Riu!" pekik Yasmin dari dalam. Rumah, ia berlari diikuti oleh suaminya,Qret. Dari rumah sebelah juga keluar Riana dan Deni. "Ada apa ini?" tanya Yasmin, sambil membantu Riu bangkit.


"Dia menendangku." kata Riu, sambil menunjuk Jasmin yang masih memasang kuda-kuda.


"Waw, kemampuan bela dirimu memang luar biasa Jasmin. Bibi sangat bangga padamu!" ungkap Riana, sambil memegang kedua pipi Jasmin.

__ADS_1


"Ini bukan waktunya memujinya, Riana. Lihat apa yang barusan dilakukan oleh Jasmin." Yasmin menatap putrinya dengan kesal. "Kenapa kau jadi brutal seperti ini, Jasmin? Sudah berapa kali ibu katakan, jangan gunakan ilmu bela dirimu untuk menyakiti orang lain, terutama Riu. Kenapa kau sulit sekali diberitahu?"


"Ibu, dia duluan yang menyerangku." Jasmin berusaha membela diri.


"Dia? Maksudmu Riu? Yang benar saja, Riu tidak bisa bela diri!" Yasmin tidak mau mempercayai Jasmin sedikitpun. "Kau selalu saja membuat ulah!"


"Bi, Jasmin benar. Aku yang tadi memaksanya mengenakan kerudung, makanya Jasmin marah." Riu langsung mengaku sebab ia tak ingin melihat Jasmin dimarahi.


"Kerudung? Oh Tuhan, Jasmin, sampai kapan kau mau membangkang seperti ini? Sudah kukatakan untuk memakai kerudung jika kau keluar rumah, tapi kau tak mengindahkan kataku. Kau malah melanggarnya. Saat ada yang memberitahu malah kau gunakan kekerasan. Aku benar-benar kecewa padamu, Jasmin!" Yasmin geleng-geleng kepala, terlihat betul ia sangat kesal dengan sikap putrinya tersebut. "Mas, lihat putri kesayangan mas, dia kembali membuta ulah. Kali ini aku meminta mas untuk memberinya hukuman!" pinta Yasmin pada Qret.


"Hukuman apa, Yas?" Qret malah bertanya balik. Sebenarnya ia merasa perbuatan Jasmin masih digaris kewajaran sebab hal tersebut biasa terjadi dalam dunia anak-anak remaja. Qret tidak terlalu suka dengan hukuman-hukuman, cukup dinasehati serta didoakan. Qret percaya, cepat atau lambat maka Jasmin akan terketuk sendiri pintu hatinya.


"Ayo mas, berikan hukuman pada Jasmin." pinta Yasmin lagi.


"Hukuman apa?" Qret kembali bertanya.


"Baiklah, aku yang akan memberinya hukuman. Tapi tidak ada yang boleh menolong. Hukuman ini supaya Jasmin tahu bahwa perbuatannya salah dan ia tidak boleh mengulang kagu!" kata Yasmin. "Jasmin, mulai sekarang kau tak boleh lagi latihan bela diri. Ibu melarangnya sebab kau sudah menyalah artikan kemampuanmu untuk hal-hal yang tidak baik. Kau mengerti!"


"Apa? Aku tidak mau!" Jasmin menentangnya sebab ia sangat menyukai latihan kungfu.


"Kau harus menurut pada ibu atau mulai sekarang kau tak boleh keluar rumah lagi. Ayahmu akan mengantar jemput kemanapun kau pergi." tambah Yasmin.


"Ibu apa-apaan sih? Aku tidak mau. Ayah, ayo lakukan sesuatu agar ibu menarik ucapannya!" pinta Jasmin pada ayahnya.


Tetapi Qret tak akan mau membantah istrinya, akhirnya Jasmin berlalu ke dalam kamarnya karena merasa hukuman itu tak adil untuknya.

__ADS_1


"Kau lihat apa yang sudah kau lakukan? Riu, ibu kan sudah mengatakan padamu untuk menjaga sikap, kenapa kau selalu saja memaksakan kehendak pada Jasmin? Kalau dia belum mau, cukup nasihati dia, jangan dipaksa!" kini giliran Riana yang memarahi Riu.


"Maafkan aku, Bu." ungkap Riu, ia benar-benar terlihat menyesal sebab sudah membuat Jasmin berada dalam masalah. Sebenarnya Riu tidak pernah bermaksud membuat Jasmin sampai di marahi Yasmin, ia hanya ingin gadis itu mematuhi aturan yang sudah ditetapkan Allah. Tetapi gadis itu cukup keras kepala. Selalu berbuat sesuka hatinya.


__ADS_2