GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
76. Riana Jadi Karyawan Baru


__ADS_3

Pukul enam pagi, selesai dengan beberapa bumbu dapur yang harus dibawa ke kedai, usai sarapan dengan sereal dan segelas susu, kuputuskan menuju kedai.


"Ayah ... ibu. Qret pergi dulu." aku pamit, lalu mencium punggung tangan ibu dan ayah.


"Qret," tiba-tiba ibu memanggilku. "Ibu ingin bicara."


"Bagaimana kalau nanti saja, Qret harus membuka kedai. Deni sudah menunggu. Assalamualaikum!" pamitku lagi.


Sebenarnya ada perasaan tidak enak karena menolak permintaan ibu, tetapi sungguh saat ini aku belum ingin membahas apapun tentang permasalahan kemarin. Hatiku sendiri juga belum tenang. Aku tidak ingin salah dalam bicara yang dapat membuat ayah atau ibu terluka.


Di depan kedai, Deni sudah menunggu. Kami bersama-sama membuka kedai. Lalu menata meja, meletakkan menu, kemudian lanjut ke dapur, saat tiba-tiba datang seorang pembeli.


"Ada menu apa saja?" seorang ibu-ibu bertubuh gemuk duduk di kursi.


Dengan sigap Deni memberikan buku menu. Di kedai ini memang ada tiga menu sesuai waktu. Menu untuk sarapan, makan siang dan makan malam. Tentunya berbeda dan sesuai dengan makanan yang biasa dimakan orang-orang saat tiga waktu tersebut.


"Saya mau bubur ayam tiga porsi." kata ibu tersebut.


Dengan sigap aku langsung menyiapkan tiga porsi bubur, lalu mempersilakan Deni untuk memberikan pada ibunya. Pembeli pertama, close. Tidak lupa Deni meminta ibu tersebut untuk mampir kembali.


Aku dan Deni memang sudah mengatur tugas masing-masing. Aku berada di bagian dapur, sementara Deni yang akan melayani. Sebenarnya tugas itu fleksibel karena Deni juga cukup mahir di dapur, tetapi aku sengaja memilih berada di barisan belakang sebab suasana hatiku saat ini tidak terlalu baik.


"Haiiiii!" teriak Riana yang muncul secara tiba-tiba. Ia tersenyum ramah sambil meminta buku menu. "Aku mau beli bubur ayam, minumnya teh hangat yang tidak terlalu manis sebab aku sudah manis!" seru Riana.


Deni langsung melayani Riana. Aku membiarkannya mengurus sendiri makanan yang dipesan oleh Riana, sementara aku mulai meracik bumbu ayam bakar madu hijrah yang kemarin sudah kuuji coba.


"Qret, kau sedang membuat apa?" tanya Riana.


"Aku sedang meracik bumbu untuk ayam bakar madu. Semoga saja banyak yang pesan." kataku, mengungkap harapan di hari ini.


"Aku mau coba!" seru Riana.


"Baiklah, akan kubuatkan satu." segera aku meraciknya. Lalu setelah jadi menyerahkan pada Deni untuk dihidangkan ke hadapan Riana.


"Hmmmm, wangi sekali!" ungkap Riana. "Mari makan!"

__ADS_1


"Baca doa dulu," cetus Deni.


"Bawel!" Riana tidak peduli, ia bersiap menyantap, tapi dengan sigap Deni mengambil mangkok berisi bubur ayam yang ada di hadapan Riana. "Hei, apa yang kau lakukan!".


"Baca doa dulu!" seru Deni.


"Aku baca doa atau tidak bukan urusanmu. Lagi pula kau kan cuma pelayan, tidak sopan sekali. Aku ini pelanggan. Makanan ini pasti kubayar!" Riana meradang.


"Terserah, aku tidak akan berikan kalau kau tidak mau baca doa!" Deni tidak mau mengalah.


"Ihhhh, bawel sekali. Qret lihatlah ulah pelayanmu ini. Dia mengambil mangkuk bubur ayamnya!" Riana mengadu.


"Apa salahnya nurut Riana. Berdoa dulu maka kau akan mendapatkan makananmu!" seruku, dari balik jendela saji.


"Cerewet. Kalau sikap kalian lancang seperti ini pada pembeli, aku yakin tidak akan ada yang mau mampir!" ungkap Riana.


"Kata siapa? Lagipula yang kami terapkan itu baik. Kedai ini namanya kedai hijrah. Kalau kau mau makan di sini, harus patuhi aturan yang kami buat. Kalau kau tidak mau ya sudah, jangan belanja di sini!" kataku lagi.


"Merepotkan sekali!" Riana mendumel. "Qret, aku ingin bicara serius denganmu." pinta Riana.


"Aku ingin bekerja di sini. Aku bisa di rumah. Boleh, kan?" pinta Riana, sambil menyendok bubur yang masih hangat ke mulutnya.


"Tidak boleh!" kataku.


"Kenapa? Kau pelit sekali." ungkap Riana.


"Aku belum bisa menggaji banyak orang. Lagi pula apa kelebihanmu?" tanyaku.


"Tidak apa tidak digaji. Aku bisa belajar banyak di sini." ungkap Riana lagi.


"Aku tidak mau zalim pada karyawan ku." jawabku, enteng.


"Baiklah, gaji aku jika pekerjaan yang kulakukan sudah baik. Bagaimana?" tanya Riana.


Aku sebenarnya belum bisa menerima Riana sebab ia memang belum bisa diandalkan. Aku tahu betul kalau gadis itu tidak bisa apa-apa selain membuat masalah. Tapi melihat kesungguhan Riana yang katanya ingin belajar, makanya kuputuskan untuk memberinya kesempatan.

__ADS_1


"Baiklah, kau diterima!" kataku.


"Apa? Ini benar Qret? Oh senangnya aku. Akan ku habiskan bubur ini lalu mulai bekerja." kata Riana.


Riana benar-benar membuktikan kata-katanya. Usai makan, ia langsung mencuci piring. Meskipun hasilnya belum maksimal, tapi melihat kesungguhan gadis itu untuk belajar membuatku jadi terharu.


Semoga saja ia benar-benar berubah. Aku tidak tega melihat paman Rudi masih memikirkan bagaimana nasib Riana nantinya, sebab tidak bisa apa-apa selain menghabiskan uang ayahnya.


***


Segerombolan mahasiswi datang ke kedai kami setelah aku menyiapkan pesanan pegawai kantor.


Riana yang maju untuk melayani mereka. Awalnya aku khawatir sebab ini hari pertama Riana bekerja tanpa keahlian apapun yang dimilikinya. Tetapi melihat Riana yang terampil mencatat pesanan, lalu menghidangkan kembali membuatku semakin salut.


"Kita istirahat dulu." kataku, setelah gerombolan mahasiswi itu pergi. Deni menutup sebagian kedai, dibantu oleh Riana.


"Sudah tutup saja, Qret?" tanya Riana. "Aku baru merasa senang bekerja, masa sudah aja."


"Pelanggan hari ini sudah dua kali lipat dibandingkan target." kataku, sambil menunjukkan struk terakhir. "Lagipula kalau aku mempekerjakan kalian dari lagi sampai malam, bisa-bisa aku ditegur." ungkapku. "Hari ini sudah dulu, ayo pulang!" ajakku, setelah memperhatikan sekeliling.


Perlengkapan masak sudah bersih, sisa makanan juga sudah dirapikan. Kursi dan meja juga sudah disusun kembali aku oleh Deni.


"Ayo pulang. Aku melarang kalian berdua pacaran di sini!" kataku, pura-pura marah, padahal sebenarnya senang melihat mereka mulai akrab.


"Pacaran? Siapa yang pacaran. Kau ini bagaimana sih Qret, kan kau sendiri yang mengatakan tidak boleh pacaran. Dasar tidak konsisten!" Riana kembali mengomel.


"Nah, kau dengar, kan Den. Riana tidak mau pacaran, ia maunya langsung menikah. Makanya, kapan kau akan melamarnya?" aku beralih pada Deni, sebenarnya agak kesal melihat geraknya yang terlalu lama.


"Aku?" Deni melihat Riana, gadis itu hanya menunduk, tidak memberikan perlawanan seperti biasanya. "Kami kan harus menunggu sampai kau menikah dulu, Qret. Kau sendiri kapan mau menikah? Apa jangan-jangan kau sengaja menjomblo lebih lama supaya bisa menggoda mahasiswi yang tadi berbelanja ke sini?" giliran Deni yang mencandaiku.


"Enak saja. Aku pasti akan menikah. insyaAllah." kataku lagi.


😊😊😊


Dear pembaca: Jangan lupa tinggalkan like, komen, kritik dan saran yang membangun ya. Agar author semakin semangat nulisnya. Terimakasih banyakπŸ˜πŸ™

__ADS_1


__ADS_2