
Sudah pukul tujuh pagi. Ren masih berada di dalam kamar, mondar-mandir berkali-kali. Kadang ia berhenti di depan pintu, beberapa kali melakukan pertimbangan apakah harus keluar sekarang atau masih harus menunggu.
Sejak semalam ia hanya keluar tadi saat akan berangkat salat Subuh ke masjid. Di bawah, ia tak menemukan siapapun, kecuali mendengar suara ibu mertuanya mengaji usai salat subuh dari kamarnya. Hal rutin yang selalu disaksikan oleh Ren sejak ia tinggal di rumah ini.
Sementara istrinya, entah kemana perempuan itu. Sejak keluar dari kamar tadi malam, Jasmin tak kelihatan lagi.
Sebenarnya Ren menanti agar Jasmin kembali ke kamar. Ia ingin minta maaf sebab sudah membuat perempuan itu marah meski Ren merasa ini hanyalah kesalah fahaman. Ren tidaj benar-benar serius ingin mengatai orang tua Riu, apalagi mertuanya. Ia sangat menghormati mereka, kebaiakan hati mereka yang tulus bisa dirasakan oleh Ren.
"Kemana perempuan itu? Apa ia tidak tahu ini sudah jam berapa? Aku kan juga harus pergi ke rumah sakit. Tapi bagaimana aku bisa pergi kalau antara kami masih ada masalah!" Ren benar-benar merasa frustasi. Apalagi ia tak bisa menghubungi Jasmin sebab Hpnya pun tertinggal di kamar.
Akhirnya, setelah mempertimbangkan banyak hal, Ren memutuskan untuk keluar. Setidaknya ia harus melakukan sesuatu selain menunggu. Rasanya tak ada gunanya menunggu gadis keras kepala yang susah diberitahu.
Di bawah, Ren hanya mendapati mertuanya sedang menyajikan makanan. Lagi-lagi tak ada Jasmin di sana, padahal ia sudha celingak-celinguk, tapi tetap saja tidak kelihatan.
"Nak Ren sudah turun." sapa ibu mertuanya saat melihat Ren yang sudah berada tak jauh dari meja makan. "Hari ini mau berangkat kerja, kan? Sebelum pergi ayo sarapan dulu. Ibu sudah siapakah nasi goreng dan jus apel untuk menu sarapan."
"Iya Bu. Tapi ngomong-ngomong Jasmin mana ya, Bu?" tanya Ren.
"Lho, memang Jasmin belum kembali? Ibu cuma semalam ia pergi."
"Pergi? Kemana Bu?"
"Entah, tadi katanya mau ke rumah Riana."
"Berarti dari semalam belum pulang?"
"Ya."
Semua rasa bersalah yang sempat membuat Ren tidak nyaman pada Jasmin hilang ketija tahu kalau istrinya semalam ke rumah Riu. Yang membuatnya semakin kesal adalah karena ia tidak pulang, berarti Jasmin menginap di sana?
__ADS_1
"Berani-beraninya mereka!" kata Ren dalam hatinya.
Ren benar-benar jengkel, saking kesalnya ia makan sambil ngedumel. Bahkan ia mengabaikan mertuanya yang beberapa kali menatap penuh tanda tanya.
Apa yang mereka inginkan, mengapa masih berhubungan padahal Jasmin sudah menikah dengannya? Ren benar-benar kesal memikirkan tentang istrinya tersebut.
Usai sarapan, baru saja Ren hendak pamit kerja, tapi saat melihat istrinya pulang, Ren buru-buru mengejar Jasmin. Ia bahkan tak peduli dengan tatapan penuh tanda tanya dari mertuanya, juga jadwal kerja pagi ini. Yang ada dalam benak Ren adalah mencari tahu apa saja yang dilakukan perempuan itu bersama Riu.
Ren benar-benar tidak bisa mentolerir sikap Jasmin yang belum juga bisa menjaga sikap dengan Riu.
"Jasmin, ngapain saja kamu di sana?" tanya Ren.
"Apa?" Jasmin tampak tidak nyaman sebab diikuti bahkan terus ditatap dengan penuh tanda tanya, seperti seorang polisi yang sedang mengintrogasi seorang pencuri yang tertangkap basah mencuri.
"Aku tanya, apa saja yang kau lakukan di sana?".
"Kau ini, bisa-bisanya cerita-cerita sampai larut malam padahal aku di sini menantimu. Aku benar-benar menyesal sudah punya perasaan tidak enak padamu tadi, harusnya aku tak mempedulikan perasaanmu, sebab kau memang tak tau aturan!"
"Apa? Kakak mau cari masalah lagi? Masalah semalam belum selesai, jangan tambah masalah baru. Harusnya kakak gentle minta maaf, bukan balik marah-marah!".
"Kenapa juga aku harus minta maaf. Kesalahanku hanya membicarakan bibi Riana dan paman Deni, selebihnya kalian berdua yang tidak tahu aturan itu memang benat. Iya kan?"
"Apa maksud kakak bicara seperti itu?"
"Kau dan Riu sama-sama tidak tahu malu. Kalian benar-benar memalukan. Bisa-bisanya kalian tidak menjaga aturan. Aku sungguh-sungguh menyesal mengenalmu!"
"Apa? Menyesal? Oh Tuhan, aku juga sudah mulai kehilangan kesabaran. Sebenarnya apa yang kakak inginkan?"
"Aku tidak suka dengan sikap kalian yang tidak tahu aturan."
__ADS_1
"Kalau tidak suka ya sudah, ceraikan saja aku!"
"Apa maksudmu? Jangan sembarang bicara? Kamu sadar barusan bicara apa?"
"Ya, aku sadar. Sadar sesadar-sadarnya. Aku memang tak pantas untuk kakak. Aku juga susah lelah dengan pernikahan ini. Aku ingjn pisah dari kakak. Aku ingin hidup bebas tanpa beban. Benar yang dikatakan Riu kalau kakak itu hanya menjadi masalah untukku. Sayangnya duku aku begitu bodoh sehingga abai dengan apa yang ia katakan."
"Kamu mulai membanding-bandingkan aku dengannya? Kalau kamu merasa ia lebih memahami kamu, kenapa tidak menikah dengannya saja? Kenapa harus memaksakan diri menikah denganku? Kenapa Jasmin?"
"Aku khilaf. Aku salah. Paham!"
"Astagfirullah Jasmin. Sudahlah, aku tak ingin bicara sekarang, aku harus pergi." Sebelum Jasmin menjawab, Ren buru-buru meninggalkan rumah sambil menenteng tasnya.
Di depan rumah, Ren sempat melihat Riu yang baru keluar dari rumahnya. Tampak lelaki itu sedang bahagia sebab di bibirnya tersungging senyuman.
"Laki-laki ini benar-benar jahat. Bisa-bisanya dia bahagia di atas penderitaan orang lain. Aku kira ia benar-benar tahu agama dan rela melepaskan Jasmin saat itu untukku, ternyata itu semua hanya topengnya!" Ren mengumpat.
Sepanjang perjalanan hati Ren benar-benar tidak tenang, ia bahkan beberapa kali hampir menabrak orang sebab tidak konsentrasi.
"Ughhh!" Ren kembali mengumpat.
Sampai di rumah sakit, sebelum turun ia mencoba kembali menenangkan diri, tapi tetap saja hatinya bergemuruh sebab rasa kesal yang menjadi-jadi pada Jasmin.
"Heh, dia pikir pernikahan itu main-main. Dia yang membuat kesalahan, tidak bisa menjaga sikap malah dia juga yang menggugatku, benar-benar tidak tahu diri. Harusnya kan aku yang marah, aku yang mengancamnya, tapi kenapa yang terjadi malah sebaliknya.
Bercerai? Ia kira semudah itu? Tentu saja tidak. Aku gak akan pernah bisa melepaskannya. Aku akan mendidikmu lebih keras lagi Jasmin agar kau sadar dan menghormatiku. Aku akan membuatmu menyesal sudah pernah menyatakan ingin bercerai dariku sebab aku akan membuatmu selalu berada di sisiku. Aku tak akan melepasmu pada Riu, kalau ia menilai aku tak pantas untuk Jasmin, sebenarnya ia pun tidak pantas!" ungkpa Ren.
Setelah agak tenang, Ren leluar dari mobilnya sambil menenteng tas dan jas putihnya. Hari ini ada operasi yang harus diikutinya, Ren ingin benar-benar tenang agar lancar saat operasi nanti, tapi ternyata tak mudah. Perkataan terakhir Jasmin membutanya semamkin tidak tenang.
Bagaimana jika Jasmin benar-benar serius ingin berpisah dengannya? Lalu apa yang harus dilakukan Ren?.
__ADS_1