
[Qret, katakan apa tugasku. Aku tidak akan mengecewakanmu!] ulang Deni lagi.
Andai semua boleh diselesaikan dengan cara apapun, mungkin aku sudah menerima tawaran Deni yang cukup menggiurkan. Tetapi hidup di dunia ini ada banyak aturan yang harus kita penuhi. Aku tidak bisa melanggarnya lagi, meskipun hadiah yang akan kudapatkan adalah kebebasan.
Ini ujian untukku. Allah ingin melihat, seberapa besar aku rela menerimanya. Aku tidak ingin kalah. Aku ingin lulus dengan nilai terbaik.
[Terimakasih Den. Tugasmu, mengawal paman Rudi dan Riana. Pastikan mereka baik-baik saja!] pintaku.
Telepon kami berakhir. Kemudian aku memencet nomor kedua. Nomor pengacara yang diajukan oleh paman Rudi.
[Kenapa bapak tidak pernah datang ke kantor polisi lagi, saya kan butuh dampingan bapak. Sudah sejauh mana kasus saya di tangan bapak?] tanpa basa-basi aku langsung memburunya dengan banyak pertanyaan. Rasanya cukup kesal sebab ia tidak menjalankan tugas dengan baik.
[Lho, saya kan bukan pengacara mas Qret lagi!] jawabnya.
[Kenapa begitu?]
[Surat kuasanya sudah diambil oleh pak Rudi.]
Ya Tuhan, ada apa ini? Mengapa paman Rudi mencabut surat kuasanya tanpa memberitahu aku. Tubuhku langsung bergetar. Aku takut pikiran buruk muncul di benakku.
[Ini pasti salah paham,] aku meminta penjelasan.
[Hari kedua, pak Rudi mengatakan menyudahi semuanya. Saya diberhentikan sebagai pengacara oak Qret. Itulah mengapa saya tidak muncul lagi ke kantor polisi untuk mendampingi mas Qret ataupun menyelidiki kasus mas Qret.] jawab pak Joko, menjelaskan pembicaraan singkat mereka.
[Tapi kenapa bapak tidak mengabari saya?] tanyaku, menahan perasaan yang sudah tidak enak. Semuanya bercampur jadi satu. Kecewa, marah, kesal, sedih dan juga bingung.
Kenapa paman Rudi melakukan ini semua? Kenapa tidak bicara padaku, main menghilang seperti ini. Ada masalah apa sebenarnya?
[Saya kira ini hasil diskusi mas Qret dengan pak Rudi.]
[Tidak sama sekali. Paman tidak pernah datang ke sini.]
[Kalau begitu saya minta maaf mas Qret, itu diluar kuasa saya.]
[Kapan bapak terakhir bertemu paman Rudi?]
[Saat ia mencabut perjanjian itu.]
[Lalu apa paman baik-baik saja? Maksud saya, apa ia terlihat tertekan]
[Saya tidak tahu, mas Qret.]
Pembicaraan kami selesai. Aku kembali ke dalam sel dengan perasaan campur aduk. Kalau paman baik-baik saja, menangis ia melakukan semua itu? Ada apa sebenarnya? Mengapa tidak ada yang mau menjelaskan padaku. Paman Rudi dan Riana?
Tetesan air mata itu mulai keluar. Sungguh, saat ini aku begitu takut. Bukan karena memikirkan hukuman mati untuk seorang pengedar. Lebih menakutkan dari itu, yaitu ketika orang yang amat kita percaya mengkhianati.
Pikiran buruk itu tidak dapat kuelakkan. Bagaimana ia terus muncul. Merusak kepercayaan yang begitu besar pada dua orang yang kusebut sebagai keluarga. Paman dan Riana. Apa benar mereka terlibat? Apa benar mereka ada di balik ini semua seperti yang diperkirakan oleh ibu? Jika itu benar, sungguh terlalu.
"Aaaaaaa!" aku berteriak, menutup wajahku dengan kedua tangan. Menangis sejadi-jadinya.
"Ini tidak mungkin, tidak mungkin!" teriakku lagi.
"Mas Qret, ada apa?" dua orang polisi yang sedang berjaga datang menghampiri.
__ADS_1
"Ada masalah, mas?" tanya polisi satunya lagi.
"Tolong tinggalkan saya sendiri!" pintaku, dengan mata memerah.
Akankah luka itu kembali kurasakan. Saat aku begitu yakin pada dua orang yang ku anggap seperti malaikat, ternyata mereka menipuku. Mereka ingin menjatuhkan ku dalam lumpur masalah ini.
Tapi kenapa?
Apa salahku?
Mengapa mereka melakukannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus memburuku, membuat kepalaku seperti ingin pecah. Aku sangat kesal sekali. Ada apa sebenarnya?
"Hei!" seseorang muncul dari balik jeruji besi.
"Kau?" aku memberi isyarat agar ia pergi, tidak berniat untuk bicara apalagi berdebat dengannya.
"Mukamu kusut sekali saudara besar. Ada apa denganmu?"
"Pergilah Jim,"
"Tapi aku ingin bicara denganmu."
"Jim!"
"Kau sedang ada masalah? Maksudku, ada apa? Tadi saat kutinggalkan kau bahagia sekali. Kenapa baru beberapa jam kita berpisah kau sudah seperti ini. Bahkan kata bawahanku kau sampai teriak-teriak seperti orang frustasi. Ada apa denganmu?"
"Aku tidak ingin bicara," seperti anak kecil, aku berbalik, menghadap tembok. Berharap dengan demikian Jimmi akan pergi.
"Mau apa kau?"
"Mau menemanimu, lah." Jimmi langsung berbaring di sampingku. "Qret, hidup ini unik sekali ya."
"Unik bagaimana?"
"Kau dengan cepat berubah, tadi menyenangkan, sekarang sungguh membuatku penuh tanda tanya. Yasmin juga begitu. Kenapa orang suka berubah-ubah."
"Aku tidak suka berubah."
"Tadi kau menggemaskan,"
"Apa?"
"Ya aku suka saja kau yang menyebalkan seperti tadi."
"Hahaha," tawaku langsung pecah. "Jadi kau mengakui bahwa aku adalah saudara besarmu yang menyenangkan?"
"Huekk ...." Jimmi pura-pura muntah. Kami lalu tertawa bersamaan. "Jadi, siapa yang menjebakmu?"
"Aku tidak tahu."
"Kau tidak ingat punya berapa banyak musuh?"
__ADS_1
"Aku sudah tidak punya musuh, Jim?"
"Hei, kau positif thinking sekali. Lalu aku ini apa?"
"Kau tidak mungkin melakukan ini."
"Kenapa?"
"Sebab kau adalah pria berhati hello Kitty. Hahaha."
"Awas kau Qret!" Jimmi langsung menghambur, ia hendak meninju, tapi aku langsung menangkisnya hingga kami bergulat hebat.
"Menjauh dariku Jim, atau kau akan mendapatkan hukuman lagi!" kataku.
"Biar saja, aku tidak peduli. Aku akan menghabisimu sampai kau tahu bahwa aku laki-laki maskulin!"
Kami kembali bergulat, hanya dalam hitungan detik Jimmi langsung kukunci, ia tidak bisa bergerak. Meski sudah payah meraihku.
"Aghhhhh lepaskan Qret!" teriaknya.
"Ada apa?" dua polisi kembali datang menghampiri kami.
"Tidak apa-apa, pak!" seruku.
"Tolong!" kata Jimmi.
"Oh, mas Qret dan pak Jimmi sedang bercanda, kan?" polisi yang tadi pagi melihat kami berdua saling cekik kembali tertawa kecil, lalu ia mengajak temannya meninggalkanku dan Jimmi.
"Hei, jangan pergi kalian. Jangan tinggalkan aku. Dia bisa mematahkan kepalaku. Hei!" teriak Jimmi. "Kalian mau dapat hukuman, ya? Akan kugundul kepala kalian karena tidak mendengarkan atasan!"
"Bagaimana, kau masih belum mau menyerah juga?" tanyaku.
"Tidak akan, Qret!"
"Kalau begitu katakan selamat tinggal pada dunia!"
"Kau saja yang mengatakan!"
"Kau yang akan mati!"
"Aku tidak perlu mengatakan apapun, tidak ada yang peduli padaku. Untuk apa mengucapkan salam perpisahan."
"Apa maksudmu?"
"Kau sudah mengambil ayah dan Yasmin dariku. Tidak ada lagi orang yang akan mengasihiku."
Aku dan Jimmi duduk bersebelahan. Untuk sesaat kami diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Masih ada Jamm," jawabku, pelan.
"Aku akan mengajaknya serta!"
"Jangan Jimmi."
__ADS_1
"Kau tidak tahu betapa berat hidup yang kujalani!"
"Aku akan membantumu!"