
"Assalamualaikum pak kyai." sapa Riu dengan sopan, sambil membungkukkan badannya usai mencium punggung tangan gurunya dengan takzim, Riu memang begitu hormat pada pak kyai, makanya ia takut memulai hubungan dengan Raiysa, takut jika menyakiti perasaan putrinya yang berarti menyakiti pak kyai juga.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullaah, masuklah ustad Riu." kata lak kyai. "Ada apa tiba-tiba ke sini. Apa Raiysa mengganggu lagi?" pak kyai tahu betul bagaimana sikap putrinya pada Riu, beliau bahkan beberapa kali menjatuhkan hukuman.
"Tidak pak kyai. Tapi saya ke sini ingin menyampaikan maksud saya. Bismillahirrahmanirrahim, jika pak kyai izinkan, saya ingin menikahi Raiysa."
"MasyaAllah, barakallah. Tentu saja saya merestuinya. Raiysa juga pasti senang sekali mendengar lamaran ini. Tapi boleh saya tahu, apa alasannya ustad akhirnya memutuskan melamar putri saya?"
"Saya yakin InsyaAllah Raiysa akan jadi teman hidup yang tepat untuk saya. Selain ia adalah gadis yang cerdas dan berasal dari keluarga terhormat, Raiysa juga gadis pemberani yang apa adanya, ia akan menjadi partner dakwah terbaik untuk saya. Ibu saya sangat menyukai Raisya. Ini jadi nilai tambah untuknya. Semoga rasa cinta bisa tumbuh di antara kami dan semakin subur setelah pernikahan nantinya."
"Lalu kapan rencananya ustad Riu akan menikahi Raisya."
"Jika pak kyai memberikan izin, pekan depan bagaimana?"
Pak kyai berdehem, setelah berdiskusi singkat dengan Riu, akhirnya mereka sepakat pernikahan akan dilaksanakan dua pekan lagi sebab pekan depan pak kyai ada acara yang tak bisa ditinggalkan.
Rasanya setelah menyampaikan lamaran ini, hati Riu jadi lebih tenang. Ia sudah mengabulkan permohonan ibunya, sebagai bakti. Menghilangkan keresahan bibi yang amat disayanginya, semoga pernikahannya membuat Ren dan Jasmin jadi akur kembali. Kini,ia hanya perlu meyakinkan diri sendiri bahwa perlahan ia bisa mencintai Raisya tanpa ada bayang-bayang Jasmin.
Raiysa, ya, gadis berparas elok itu sebenarnya dengan mudah bisa mencuri hatinya. Empat alasan memilih seseorang untuk jadi pendamping hidup ada pada Raisya. Parasnya yang elok, kecerdasan, kekayaan dan keshalihannya.
"Bismillah, Raiysa, aku akan berusaha membahagiakan kamu. Semoga pernikahan kita kelak akan jadi pernikahan sakinah, Mawardah dan warahmah."
***
Riana adalah salah satu orang yang paling bahagia dengan rencana pernikahan putranya. Meski terasa begitu dadakan, tapi ia tetap bahagia. Telah disusunnya banyak rencana agar pernikahan itu berjalan dengan begitu sempurna.
"Riu, kira-kira hadiah apa yang harus ibu berikan pada Raiysa. Ibu ingin memberinya hadiah spesial sebagai ucapan selamat datang sebagai menantu ibu. Tapi ibu bingung, apa hadiah yang tepat?" tanya Riana, sambil mencoret-coret seserahan yang akan diberikannya.
__ADS_1
"Aku tak tahu apa yang disukai Raisya, supaya tidak salah, ibu tanyakan saja langsung padanya. Kira-kira ia mau hadiah apa?" jawab Riu, sambil menutup mushafnya.
"Ahhh kamu ini. Ibu kan mau memberikan kejutan, semacam surprise. Kalau tanya dia ya bukan kejutan namanya. Lagipula kamu harus belajar untuk mencari tahu apa saja yang disukai dan tidak disukai Raisya."
"Iya Bu."
"Lalu ngomong-ngomong, kapan ayahmu akan ke sini? Kenapa ia tak kunjung sampai juga?"
"Bu, pernikahannya masih dua pekan lagi. Kata ayah akan ke sini beberapa hari lagi setelah menemukan orang kepercayaan yang bisa mengurus toko."
"Ahhh ayahmu itu hanya memikirkan uang saja. Padahal putra tunggalnya mau menikah."
"Bu, ayah bekerja juga untuk kita. Bukankah ibu yang tadi minta disediakan uang tiga ratus juta untuk seserahan, hadiah dan tambahan biaya pernikahan."
"Iya juga sih. Ahhh, tapi kau tak tahu saja. Ayahmu itu tabungannya sudah banyak. Hanya saja ia terlalu gila kerja. Apa-apa di akhirkan. Tak ada yang lebih penting dari pekerjaannya."
"Suamiku? Kau datang." Riana langsung menyongsong kedatangan Deni, saking gembiranya ia sampai melonjak kegirangan.
"Ia, aku di sini. Supaya kau tak bisa menggunjing aku lagi. Ternyata ibumu seperti itu ya Riu, di belakangku asyik membicarakan aku, padahal ia yang memintaku agar selalu giat bekerja sebab ia tak mau kekurangan." tutur Deni, sehingga mengundang tawa mereka bertiga.
Di balik tirai kamar, Yasmin hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan Riana dan keluarganya. Meski sebelumnya ia berharap Jasmin bisa menikah dengan Riu, tapi kini ia sudah rela jika Riu menikah dengan perempuan lain, apalagi gadis itu adalah putri kyai yang terpandang.
"Assalamualaikum," seorang gadis berkerudung merah muda berdiri sambil menunduk. Raisya, ia datang untuk membicarakan sesuatu dengan Riu.
Awalnya Riu menolak untuk berbincang berdua, tapi Raisya agak memaksa. Akhirnya Riu menyetujui. Mereka berbincang di taman depan rumah kakek Jasmin.
"Aku bingung, kenapa tiba-tiba ustad ingin menikahiku?" tanya Raisya. Sikapnya hari ini berbeda dengan biasanya. Tidak melonjak kegirangan tanpa kendali, tapi terlihat calm. Sehingga membuat Riu agak deg-degan.
__ADS_1
"Apa kamu tidak suka jika aku melamar? Kalau kamu keberatan, katakan saja. Aku tak akan marah." ungkap Riu. Sebenarnya Riu agak heran, apa maunya gadis ini, kemarin ia mendesak minta dilamar, begitu keinginannya dikabulkan malah kebingungan.
"Bukan. Bukan tidak suka. Tapi bingung saja. Aku khawatir ustad melakukannya karena permintaan Abi atau terpaksa, atau karena kesal sebab terus kuikuti. Sejak tadi aku kepikiran. Aku hanya takut ustad tertekan nantinya. Yang aku tahu tentang pernikahan itu adalah sebuah kebahagiaan. Aku ingin pernikahan yang seperti itu, bukan karena terpaksa."
"Kamu salah. Pernikahan tak selalu bahagia. Akan ada air mata, kekecewaan bahkan kemarahan juga nantinya."
"Lalu?"
"Aku ingin menikah denganmu karena aku punya keyakinan, bisa mencintaimu setelah engkau halal untukku. Aku yakin kau adalah gadis yang namanya ditakdirkan bersama namaku di Lauh Mahfudz."
"Benarkah?"
"InsyaAllah. Kalau kita tak mencoba, bagaimana kita bisa tahu?"
"Iya, hehehe." Raiysa kembali bersikap jenaka. "Hm, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan lagi."
"Tanyakan saja."
"Tak usah. Nanti saja. Aku akan menemukan jawabannya."
"Apa itu?"
"Tidak. Aku pegi dulu ustad. Assalamualaikum!" tanpa menunggu jawaban dari Riu, Raiysa segera kabur menuju pesantren.
Cara itu, persis seperti Jasmin. Astagfirullah. Riu segera mengucap istigfar berkali-kali. Sungguh, sebenarnya ia takut kalau perasaan nyaman dekat dengan Raisya itu karena sifatnya sama persis dengan Jasmin. Tapi sudah sejauh ini, ia tak ingin menghancurkan hati siapapun.
"Sadarlah Riu, Jasmin sudah jadi milik orang. Kau tak boleh memikirkan perempuan yang tak halal untukmu. Ingat janjimu jika sudah menikahi Raisya, kau akan membahagiakannya!" Riu membatin.
__ADS_1
Lalu dengan tenang ia mengirimkan pesan pada seorang gadis yang pernah singgah di hatinya. Sebuah pesan pemberitahuan bahwa ia akan menikah. Gadis itu, kini, Riu telah merelakannya. "Maafkan aku Jasmin, tapi mulai sekarang kau tak boleh lagi bergantung padaku. Aku hanya akan meladeni istriku nantinya. Hanya Raiysa. InsyaAllah!"