
Sejak semalam, Jasmin dan ibunya tidak bicara sepatah katapun. Mereka diam dengan pikiran masing-masing. Sebenarnya Jasmin ingin bersikap bodo amat, ia ingin mencairkan suasana dengan mengajak ibunya berbincang seolah tidak ada masalah apapun sebelumnya. Tetapi Jasmin berpikir ulang, ia takut apa yang dilakukannya hanya akan menambah masalah baru, makanya Jasmin memutuskan untuk menutup mulutnya, sesuatu hal yang amat menyiksa bagi orang dengan karakter ceriwis.
Pagi ini, Jasmin kembali bingung sebab ingin pamitan ke kampus, tapi lagi-lagi ia takut membangkitkan emosi ibunya, tetapi kalau pergi begitu saja pasti akan jadi masalah baru yang tak kalah besarnya.
"Lalu aku harus bagaimana?" Jasmin membatin. "Ayah, bangunlah. Lihat, aku benar-benar bingung menghadapi ibu. Coba ayah bangun, aku tak akan sebibgung ini." ia menatap ayahnya dengan begitu sedih.
"Kau belum berangkat?" pertanyaan Yasmin bagai air di gunung Sahara. Dengan cepat Jasmin berbalik, wajahnya yang sempat kusut langsung cerah.
"Hah, iya Bu." Jasmin sampai menjawab dengan terbata.
"Bukannya hari ini pembagian nilai? Kenapa tidak ke kampus juga? Oh, apa IPmu rendah, makanya takut mengambilnya? Kamu kira bisa lolos begitu saja dari ibu? Aku akan tetap menagihnya Jasmin. Lagipula sudah ibu katakan sejak awal, jangan sok-sokan kerja, fokus pada kuliahnya saja. Meski kamu sudah menolong ibu dan ayah dengan hasil usahamu itu, tetap saja tidak akan bisa menebus kesalahanmu sebab yang paling utama adalah pendidikan!"
"Ibu!" Jasmin memeluk erat ibunya.
"Apa yang kamu lakukan? Tuh kan, apa ibu bilang. Sudah ibu duga. Kamu mau mengecewakan ibu lagi? Lalu, dengan memeluk ibu, kamu kira ibumu ini akan luluh? Tidak Jasmin, aku tak sama seperti ayahmu yang gampang kau manipulasi. Aku punya kecerdasan yang jauh dibandingkan ayahmu, aku tak akan termakan rayuan!"
"Aku tak akan mengecewakan ibu. Kan aku sudah janji."
"Benar?"
"Ya ibu, aku berani mempertanggungjawabkan semuanya. Aku selalu ingat apa yang ibu katakan. Apa ibu tidak merasakan kalau sebenarnya aku sudah berubah? Aku tak mau lagi mencari masalah atau membuat ibu marah. Aku hanya ingin membahagiakan ibu. Sungguh, Bu."
"Buktikan Jasmin. Kamu harus kembali membawa nilai yang bagus. Kalau sampai di bawah tiga koma lima, maka ibu tak akan pernah lagi percaya padamu."
"Baik Bu, aku akan buktikan pada ibu." dengan penuh semangat Jasmin pamit pada ibunya. Ia tersenyum penuh haru sebab akhirnya apa yang meresahkan hatinya telah selesai. Sikap ibu barusan sangat membuta ya nyakna, berarti ibu tak marah lagi padanya
***
Baru saja Jasmin menutup pintu, Yasmin langsung terduduk di kursinya. Ia tak kuasa menahan air mata yang turun begitu deras. Di sini, di dadanya, terasa begitu sesak sebab putri yang selalu diabaikannya ternyata begitu peduli dengannya.
Ya, Yasmin kini menyadari bahwa Qret ada pada diri Jasmin. Putrinya itu begitu mencintainya. Jika sikapnya membuat Yasmin kesal itu adalah hasil perbuatannya sendiri, sebab ia membuat jarak yang begitu curam antara ibu dan anak.
Air mata itu semakin deras, berubah jadi rintihan kesedihan seorang ibu yang menyesali sikapnya pada putri yang amat mengasihinya.
"Maafkan ibu Jasmin, maafkan ibu. Kamu pantas mendapatkan ibu yang lebih baik dari ibu, tetapi kamu menerima ibu apa adanya. Maafkan ibu ...." pinta Yasmin sambil menghapus air mata yang tumpah.
"Mas lihat dan dengar sendiri kan, bagaimana dewasanya putri kita. Ya, aku tahu, mas pasti mengetahuinya sebab selama ini kalian begitu dekat. Ia begitu menyayangimu, mas. Bahkan ia mau berubah untukku. Aku merasakannya kok mas, hanya saja selama ini egoku begitu besar, aku merasa Jasmin adalah sainganku, aku mengira ia akan merebut kebahagiaan yang selama ini aku rasakan, padahal ialah sumber kebahagiaan itu. Iya, kan mas."
__ADS_1
"Mas, bangunlah. Aku mohon. Aku janji tidak akan membuat mas pusing dengan pertengkaran kami. Aku akan banyak mengalah. Aku kini sudah menerima Jasmin apa adanya. Jadi tolong bangunlah mas."
***
Sampai di depan kampus, Jasmin diam mematung. Ia masih bimbang, antara mau masuk atau kembali. Sudah sepekan ia tak ke kampus, tapi sekarang ke sini sebab harus mengambil daftar nilainya.
Tin. Sebuah suara klakson mengangetkan Jasmin. Ia sampai minggir karena takut ditabrak. Ternyata itu adalah kak Ren.
"Kakak, membuat kaget saja." kata Jasmin, setelah Ren turun dari mobilnya.
"Lagian bukannya masuk malah bengong." cetus Ren.
"Itu, aku ...."
"Takut?"
"Hah, enggak."
"Lalu?"
"Fiufff, hanya masih belum nyaman saja."
"Tapi ...."
"Enggak ada tapi-tapi. Aku yakin kamu kuat. Lagipula kasus ini sudah dibawa lewat jalur hukum. Kalau ada yang mengganggu kamu atau membuta kamu tidak nyaman, katakan saja padaku, akan yang akan menghadapinya. Mengerti?"
"Aku juga bisa sendiri."
"Jangan menolak kebaikan orang lain, lagipula kamu masih anak baru, belajarlah nurut sama senior!"
"Dih, jadi kakak melakukannya karena kakak seniorku? Kalau begitu tidak perlu!"
"Kenapa?"
"Aku tidak mau ditolong hanya karena aku junior kakak!".
"Hei, tapi Jas."
__ADS_1
"Enggak pakai tapi-tapi. Bye!"
"Jasmin!"
Bruk. Lagi-lagi Jasmin bertabrakan dengan Mia. Tetapi kali ini ada Rencana dan dengan spontan Ren membantu Jasmin, ia membiarkan Mia begitu saja padahal Jasmin yang menabrak.
"Jas, kamu enggak apa-apa kan?" tanya Ren, ia terlihat begitu khawatir sehingga membuat Mia makin panas.
"Enggak." kata Jasmin.
"Ren, bisa bantu aku?" Mia langsung memperlihatkan ekspresi kesakitan, ia tak akan membiarkan Ken dekat dengan Jasmin.
"Sebentar Mia, aku bantu Jasmin dulu." Ren masih fokus pada Jasmin, meskipun Jasmin sudah menegaskan bahwa ia baik-baik saja, tetapi Ren tetap saja khawatir.
"Kakak kelas, sudah kukatakan aku baik-baik saja!" pekik Jasmin.
"Ren, kamu ini teman yang tidak adil, sudah jelas-jelas aku yang kesusahan tapi kamu malah membantu Jasmin padahal ia sudah mengatakan tidak apa-apa." ungkap Mia. "Bersikap adillah Ren!" ungkap Mia.
"Maaf Mia, aku mendahulukan membantu yang terdekat." kata Ren lagi, tanpa mengalihkan pandangannya dari Jasmin.
Sakit, itu yang dirasakan Mia, saat lelaki yang diperjuangkan sejak masih di bangku SMA ternyata tak menganggapnya ada sedikitpun. Ia sebenarnya ingin lari dari sana untuk menangis sejadi-jadinya, meluapkan segala emosi yang tertahan, tetapi Mia juga enggan membiarkan dua muda-mudi ini bersama hanya berdua. Ia benar-benar tidak rela.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Jasmin hendak pamit.
"Kamu mau kemana?" tanya Ren.
"Ke TU, mau ngambil nilai " Ungkapnya.
"Oh ya sudah. Nanti bisa ketemu?"
"Kenapa?"
"Ada yang ingin aku bicarakan."
"Apa?"
"Sesuatu hal yang ingin aku ungkapkan. Bisa?"
__ADS_1
"Ya " Jasmin buru-buru masuk ke dalam.