GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
121. Terapi


__ADS_3

Salah satu hal yang paling ditakuti oleh Yasmin adalah ketika ia harus menjalani yang namanya terapi. Yasmin akan terlihat lesu dan tidak bersemangat. Entah karena trauma atau sakit yang ia rasakan. Aku tidak bisa menebak sebab Yasmin tidak mau berterus terang, ia akan bersikap seolah-olah tidak apa-apa jika aku mulai mempertanyakan, padahal wajahnya memancarkan kegelisahan.


"Ayo langkahkan kakinya." instruktur mulai memberi arahan pada Yasmin.


Dari jarak sepuluh meter aku memperhatikan ekspresinya yang beberapa kali tertangkap oleh netraku meringis kesakitan.


"Baik, cukup sekian terapi hari ini. Tetap semangat Bu Yasmin, besok kita lanjutkan lagi!" ucap terapis sebelum meninggalkan kami.


"Mas, kapan kita pulang?" tanya Yasmin, saat kami baru sampai di kamar usai menjalani terapi.


"Pulang?" aku balik bertanya.


"Ya, aku sudah rindu ayahku, ayah, ibu, Riana dan semuanya."


"Tapi kan ...,"


"Mas, operasinya kan sudah selesai. Bagaimana kalau terapinya di Jakarta saja?"


"Tapi gip kamu belum dibuka, Yas."


"Tidak apa. Buka di Jakarta saja."


"Tapi Yas,"


"Plus mas. Aku merasa sudah baik-baik saja. Aku enggak sakit lagu. Hanya belum terlatih saja ke Bali jalan sebab gio di kaki kanannya belum dibuka."


"Kamu yakin mau lanjut terapi di Jakarta?"


"Iya!" mendengar jawaban Yasmin yang begitu mantab ingin segera kembali, akhirnya aku memberanikan diri bertanya pada dokter Irene.


Dokter Irene ternyata tidak masalah jika Yasmin harus menjalani terapi di Jakarta. Ia akan mengembalikan kami pada dokter Laras yang pernah menangani Yasmin. Tentu saja mendengar kabar tersebut membuat Yasmin begitu gembira.


"Alhamdulillah, akhirnya pulang juga!" ungkap Yasmin dengan wajah riang.


Sore ini juga aku dan Yasmin keluar dari rumah sakit. Tetapi aku tidak langsung membawanya pulang sebab harus memesan tiket pesawat dan beberapa prosedur lainnya sebelum kami pulang. Akhirnya kuputuskan untuk menginap dua malam di hotel. Mumpung masih ada waktu, aku ingin mengajak Yasmin jalan-jalan keliling Singapura. Kebetulan kami mendapatkan guide yang cukup murah.


Sebenarnya ada banyak tempat wisata di Singapura yang ditawarkan oleh Hamdan, tour guide kami yang juga orang Indonesia asli, tapi ia sudah menikah dan menetap di Singapura. Tetapi karena kondisi Yasmin yang belum pulih betul, akhirnya kami hanya berkeliling Disney land, lalu duduk-duduk menikmati matahari tenggelam di dekat patung marlion.


"Apa kau bahagia?" tanyaku pada Yasmin. "Harusnya aku mengajakmu jalan-jalan saat awal kita baru menikah." kataku, agak menyesal tidak pernah memikirkan ini sebelumnya sebab aku terlalu fokus dengan pekerjaan.

__ADS_1


"Bahagia sekali, akhirnya aku bisa ke luar negeri. Padahal sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Hanya satu negara yang ingin kutuju dulunya. Itupun memimpikan tidak terlalu berani."


"Kau mau kemana?"


"Mekkah dan Madinah."


"InsyaAllah kalau kondisimu sudah membaik, kita ke sana. Aku akan berusaha mewujudkan. InsyaAllah. Oke!"


"Benar?"


"Hm, asalkan kau rajin terapi agar segera bisa jalan."


"Baiklah!"


Matahari mulai berwarna keemasan, bersiap kembali ke peraduannya. Yasmin memandang takjub pemandangan yang ada di hadapannya, sedangkan aku fokus melihat senyum di bibirnya. Ku harap, senyum itu tidak akan pernah hilang lagi untuk selamanya.


***


Pukul tujuh pagi, aku dan Yasmin sudah berada di bandara. Yasmin duduk di pojok, sementara aku mengurus barang-barang bagasi. Dua koper besar berisi pakaianku dan Yasmin, satu koper kecil oleh-oleh yang kami beli untuk orang-orang.


Baru saja hendak menghampiri Yasmin, tiba-tiba Hp milikku bergetar. Dua pesan masuk bersamaan. Dari Joni dan Ferdian, mereka mengingatkan agar aku tidak lupa membayar bunga hutangku sebab besok jatuh tempo.


"Mas," Yasmin memanggilku. "Mas melamun? Sedang memikirkan apa?"


"Hah, tidak? Ayo kita ke rumah tunggu!"


Aku mendorong kursi roda Yasmin, kami berlalu dalam diam. Hingga di pesawat Yasmin kembali mempertanyakan perubahan sikapku.


"Sebenarnya ada apa? Sejak membaca pesan, mas jadi berubah?" tanyanya.


"Enggak ada apa-apa. Mungkin karena lelah saja." aku pura-pura memejamkan mata, berharap Yasmin tidak curiga, sementara saat ini hatiku benar-benar diliputi gelisah.


***


"Sebenarnya ada apa?" kembali Yasmin menodong, sebab lagi-lagi aku ketahuan melamun.


"Enggak kenapa-napa Yas." aku kelepasan, sehingga bicara agak keras padanya.


"Tuh kan, pasti ada apa-apa?"

__ADS_1


"Yas tolong ... apa kamu tidak bisa untuk tidak mencari masalah? Ini bandara, tempat umum. Kamu mau mencari pertengkaran di sini? Mau jadi pusat perhatian orang lain?" entah karena bicaraku yang terlalu keras sehingga akhirnya Yasmin memutuskan untuk diam seribu bahasa.


Untung saja dipungut kedatangan sudah ada ibu, ayah dan ayah Yasmin yang datang menjemput sehingga ada yang bisa mengalihkan perhatian Yasmin dariku.


"Kami sangat merindukanmu, nak." kata ibu pada Yasmin.


Entah apa lagi yang mereka perbincangkan, aku tidak bisa konsentrasi untuk mendengarkan sebab sekarang otakku berpikir keras bagaimana caranya membayar cicilan bunga dari hutangku pada Joni dan Ferdian. Kalau tidak bisa membayar, maka tidak tertutup kemungkinan besok mereka akan mendatangiku ke rumah atau kedai untuk mengambil jaminannya.


"Ya Allah ... tolonglah aku." pintaku, berulang kali.


***


"Yasmin ... Qret. Apa kabar?" Riana menyambut kedatangan kami di depan pintu masuk. Rupanya mereka menyiapkan pesta penyambutan untuk Yasmin. Tentunya dengan segala pernak-pernik heboh ala-ala Riana. "Sudah berapa lama kita tidak bertemu? Aku benar-benar rindu, Yas!" kembali Riana memeluk Yasmin.


"Baru dua bulan Riana." jawab Yasmin.


"Dua bulan tapi rasa dua ratus tahun. Iya, kan?" ucap Riana lagi.


Momen-momen seperti ini biasanya aku akan meledek Riana, tapi tidak kali ini. Aku lebih memilih diam sebab sudah pusing memikirkan pembayaran hutang-hutangku.


"Hei Qret!" Deni menepuk pelan pundakku.


"Den, apa kabar?" tanyaku, sambil membalas jabatan tangannya.


"Qret, selama dua bulan di Singapura kau berubah." ucap Riana.


Apa yang dikatakan Riana sukses membuat ekspresi Yasmin berubah. Ia kembali mengamatimu, hingga aku harus berpura-pura bahwa tidak ada apa-apa sama sekali. Tapi aku begitu yakin bahwa Yasmin masih penasaran denganku.


"Yas, kamu pasti kangen makan masakan Indonesia, iya, kan?" tanya ibu, sambil membawa satu piring lontong opor yang jadi favorit Yasmin.


"Beberapa hari sebelum pulang kami sebenarnya makan bakso, Bu. Tapi ...," aku sengaja menggantung supaya Yasmin bisa menimpali, ternyata ia tetap diam membisu.


"Tetapi apa Qret?" tanya ibu.


"Rasanya tidak enak." aku pura-pura berbisik sehingga membuat Riana penasaran.


"Apa sih?" tanya Riana.


"Rasanya tidak enak." kataku. Yasmin masih memilih diam, ia hanya memainkan ujung kerudungnya.

__ADS_1


Kamu kenapa lagi Yas? Tolong jangan melihatku dengan tatapan curiga seperti itu. Tidak ada sesuatu yang harus kamu khawatirkan. Aku sengaja merahasiakan supaya kamu tidak kepikiran. Aku sungguh tidak ingin membuatmu makin tertekan dengan berita hutang ini.


__ADS_2