
Usai makan, aku mengajak Yasmin berkeliling mall sebelum kami kembali pulang. Harapanku agar suasana hatinya berubah dan saat kami kembali ke rumah nanti ia sudah tidak tertarik untuk mengajakku berdebat apalagi bertengkar lagi. Hidup tanpa ada perdebatan memang lebih nyaman.
"Yas, mau beli baju tidak? Lihat di distro sana sepertinya baju bagus-bagus." aku menunjuk pakaian yang digantung di distro yang persis ada di hadapan kami. Tetapi Yasmin menggelengkan kepalanya.
"Buang-buang uang saja." katanya.
"Tidak apa-apa Yas. Sesekali. Kau kan sudah lama tidak belanja? Aku akan membelikan gamis baru untukmu. Maunya?"
"Enggak mas. Lebih baik uangnya dikumpulkan untuk membayar hutang. Kita sudah terlilit hutang pada lintah darat. Seperti yang mas katakan duku, sampai hutang lunas maka tidak ada waktu untuk bersenang-senang."
Jawaban Yasmin sukses membuatku menutup mulut rapat-rapat. Suasana hatinya sepertinya belum juga berubah. Duh Yas, kamu kenapa sih? Waktu tabrakan kan kakimu yang terjepit, tapi kenapa malah emosi kamu yang naik turun?
"Yasmin?" suara panggilan seseorang membuatku berhenti mendorong kursi roda Yasmin.
"Jim." aku bicara lirih. Berharap anak itu sudah taubat dan tidak ada hal yang tidak enak terjadi agar suasana hati Yasmin tidak semakin memburuk.
"Wow, ini kamu Yas?" tanyanya.
Ingin sekali kujawab, yaiyalah itu Yasmin. Sudah jelas-jelas wajahnya Yasmin, masih juga bertanya seperti itu.
"Ada apa Yas, kenapa kau jadi seperti ini?" tanya Jimmi. "Kau cacat?"
Ughhhh. Aku mengepalkan tangan, geram dengan pernyataan Jimmi barusan. Anak ini memang sengaja. Tetapi aku lebih penasaran lagi dengan tanggapan Yasmin semoga ia tidak tersinggung apalagi marah.
"Bocah, minggir!" kataku.
"Hei Qret, ada apa dengan Yasmin? Kenapa ia jadi cacat? Apa yang kau lakukan padanya?" Jimmi sepertinya memang serius ingin mencari gara-gara.
Aku sebenarnya sudah bersiap untuk menerjang Jimmi dengan satu pukulan tepat di hidungnya. Tetapi tidak jauh dari kami tampak seorang satpam sedang berdiri mengamati sekeliling. Kalau pukulan itu kulayangkan, ia pasti akan melakukan playing victim sehingga aku yang bersalah. Sekali depak aku akan dikeluarkan dari mall ini.
Sebenarnya tidak masalah jika harus diusir bahkan tidak diizinkan masuk kembali untuk selamanya. Tetapi yang jadi pertimbangan ku adalah Yasmin. Ia pasti tidak akan nyaman menjadi pusat perhatian.
__ADS_1
"Yas, ayo kita pergi saja. Rupanya di sini ada pengganggu. Orang sedang pacaran ada saja yang mengusik. Maaf ya ratuku." kataku pada Yasmin.
"Lho lho lho, mau kemana? Yas, Qret ... kenapa tidak menjawab pertanyaanku?" tanya Jimmi lagi, ia langsung mencegat kursi roda Yasmin sehingga aku kesusahan untuk mendorongnya.
"Minggir Jim, atau aku akan memberimu pelajaran?" kataku.
"Kenapa harus marah seperti itu Qret? Aku kan tanya baik-baik. Yasmin kenapa? Apa yang kau lakukan sehingga ia jadi cacat? Sekarang aku mengerti kenapa Tuhan tidak menakdirkannya berjodoh denganku sebab Tuhan tahu bahwa aku tidak suka dengan perempuan cacat!" ungkap Jimmi.
"Astagfirullah!" aku langsung menarik kerak baju Jimmi. Kesabaranku habis. Sebuah pukulan kulayangkan ke wajahnya. "Ini balasan untukmu!" kataku.
Yasmin berteriak histeris, sementara Jimmi jatuh tersungkur ke lantai sehingga membuat orang-orang berteriak. Persis seperti dugaaanku, satpam itu mendekat.
"Pak tolong, bawa orang ini dari hadapan kami!" kataku.
"Maaf pak, ada apa?" tanya satpam tersebut.
"Dia mau menganggu saya dan istri saya." kataku.
"Apa?" aku geleng-geleng kepala.
"Iya pak Qret, saya adalah putra pemilik mall ini. Tadi saya hanya ingin memberitahu Anda bahwa sebaiknya jangan bawa istri anda ke mall sebab kondisinya seperti sedang tidak baik. Tapi andai langsung marah dan berprasangka bahwa saya akan mengganggunya. Padahal tidak." kata Jimmi dengan sangat santai sambil tersenyum.
"Ya Tuhan, kau benar-benar licik!" aku mengepalkan tangan.
"Maaf pak, tolong jaga sikapnya sebab ini adalah tempat umum dan juga milik pak Jimmi." satpam itu mengingatkan aku.
"Tidak masalah pak. Saya pasti akan menjaga sikap. Lagipula bagaimana mungkin saya akan melukai adik saya sendiri meski kami adalah saudara tiri. Satu ayah tapi beda ibu. Iya kan Jim?" kataku, membalas telak perlakuannya padaku.
"Kau!" Jimmi langsung terpancing. Ia mengepalkan tangannya bersiap hendak memukulku.
"Pak Jim," satpam mengingatkan Jimmi.
__ADS_1
"Cepat bawa dia dan perempuan cacat ini keluar dari mall milikku. Aku tidak ingin mereka berkunjung ke sini lagi. Mengerti!" perintah Jimmi.
"Baik pak. Maaf pak, boleh ikut saya untuk keluar dari mall ini." katanya.
"Oh tidak masalah. Aku juga tidak terlalu suka dengan mall ini meski yang membuatnya adalah ayahku juga." aku mendorong kursi roda Yasmin menuju parkiran. Sebenarnya ada perasaan kesal, tetapi kutahan semaksimal mungkin agar tidak mendapatkan masalah berikutnya.
"Maaf pak, apa benar bapak saudara tirinya pak Jimmi?" tanya satpam tadi saat kami sdhydi depan mobilku.
"Yaiyalah. Kalau tidak percaya tanya saja Jimmi." jawabku santai, sambil mengangkat Yasmin ke dalam mobil.
Persis seperti dugaaanku, setelah kami berdua berada dalam mobil, tangis Yasmin langsung pecah. Ia pasti terluka sekali mendapatkan perlakuan Jimmi barusan.
"Yas." panggilku. "Apa perlu aku pukul dua sekali lagi agar kau tidak bersedih?" tanyaku.
"Tidak perlu!" jawabnya. "Toh yang dikatakan Jimmi benar, aku hanyalah perempuan cacat yang tidak berguna!".
"Yas, jangan bicara seperti itu."
"Kenyataannya begitu."
"Meski keadaanmu sekarang begini, tapi kau harus tetap semangat agar cepat sembuh. Kau harus yakin, begitu gipnya dibuka maka kau akan kembali bisa jalan. Jangan bersedih lagi Yas. Satu hal lagi, bagaimana pun kondisimu, kau tetaplah perempuan yang aku cintai dengan sepenuh hati. Apa adanya."
"Sudahlah mas, tidak perlu berlebihan menghiburku. Aku cacat dan tidak berharga!" Yasmin membuang muka.
Aku semakin bingung bagaimana cara menghadapi Yasmin. Gadis itu benar-benar berubah. Ia sangat sensitif sekali. Aku paham, ia pasti malu, sedih dan sakit hati saat dikatakan cacat oleh Jimmi, tetapi mengapa masih juga marah padaku. Sudah jelas-jelas tadi akulah yang membelanya.
"Aku ingin pulang!" katanya, membuyarkan lamunan kami.
Segera ku starter mobil. Lalu meluncur menuju rumah. Sesekali ku perhatikan ia dari kaca spion. Yasmin sedang menangis. Suara isakan tangisnya terdengar meski pelan. Sesekali kulihat gerakannya menghapus air mata yang kian deras.
Andai saja kau izinkan aku untuk memelukmu Yas. Tidakkah kau ingin berbagi sedihku denganku. Setidaknya kau harus tahu bahwa kau tidak sendirian Yas, ada aku yang siap menemani dan juga menghibur saat kau ditimpa lara seperti sekarang ini.
__ADS_1