GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
139. Pilihan Resaind


__ADS_3

Aku kembali mendengar kisah lain di hidup Yasmin yang sebelumnya tidak pernah ku ketahui. Tentang mimpi ibunya yang ingin diwujudkan oleh Yasmin. Sebuah pembuktian yang ingin dilakukan seorang anak pada ayahnya bahwa ia layak untuk disayangi sebab ada jejak ibunya yang dapat dilihat jelas, yaitu bakat yang sama pada diri mereka, sebaik seorang desainer dengan karya luar biasa yang tidak semua orang bisa melakukannya.


"Yas, kau tahu, aku begitu ingin mendukung apapun yang ingin kau capai. Tetapi kau harus tahu satu hal, aku juga harus bisa menjadi pagar untukmu agar kau tidak terlalu jauh melangkah, apalagi dengan kondisimu saat ini. Sungguh Yas, itulah salah satu pertimbangan utamaku, bahwa aku tak ingin kau bekerja terlalu keras sebab khawatir kau kembali sakit. Kau sadar kan Yas bahwa kondisimu masih belum stabil betul. Dokter mengatakan bahwa butuh waktu hingga minimal satu tahun agar kau bisa kembali seperti sebelumnya.


Suatu hari, saat kesehatanmu benar-benar siap, percayalah, aku adalah orang pertama yang akan mendukungmu. Aku tak akan pernah menghalangi kamu lagi selagi masih berjalan di koridor yang benar, tidak bertentangan dengan syariat." kataku, menjelaskan alasan mengapa aku menolak ia untuk bekerja, sebuah alasan yang aku tahu ia pun sebenarnya memahaminya. "Saat ini kita sama-sama masih sensitif Yas, kau pun pasti paham, bagaimana perasaan seorang suami yang ingin bertanggung jawab pada istrinya, tetapi malah membebani padahal kondisimu sedang seperti ini." tambahkan lagi.


"Iya mas, aku mengerti." Yasmin kembali berurai air mata.


"Maaf Yas. Harusnya aku bisa memfasilitasi kamu supaya bisa mewujudkan mimpi-mimpi, tanpa ada beban."


"Tidak, mas tidak bersalah. Sebenarnya aku belajar banyak dari mas. Aku merasa sangat berdosa karena beberapa waktu belakangan ini selalu membantah apa yang mas katakan padahal aku sendiri paham bahwa surga istri ada pada Ridha suaminya.


Untuk apa cita-cita tercapai, punya banyak uang, terkenal dan karya-karya kita disukai oleh banyak orang jika pada akhirnya suami sendiri tidak Ridha. Sungguh mas, aku sangat adat bahwa aku begitu zhalim pada mas. Aku benar-benar minta maaf mas."


Aku meraih Yasmin dalam pelukan, sama-sama mengakui kesalahan yang kami lakukan di hari kemarin. Aku yang sedang dalam kondisi perekonomian kurang baik jadi sensitif dan juga berusaha untuk melindungi Yasmin. Sementara Yasmin yang juga sensitif sebab merasa ialah penyebab kedai dan tanahnya hilang, juga tentang mimpi ibunya, ditambah kesehatannya belum baik sehingga membuatnya labil. Tetapi pada dasarnya kami sama-sama ingin melakukan yang terbaik untuk pasangan masing-masing.


***


Seratus dua nasi kotak dan juga makanan kecil dengan jumlah yang sama kini sudah tersusun rapi di meja makan. Aku dan Deni mengangkut ke dalam mobil, pagi ini Deni akan mengantarnya ke salah satu rumah pelanggan di daerah Jakarta Barat.


"Hari ini segini saja dulu. Kita terima orderan untuk besok saja." kataku, setelah selesai menyusun rapi kotak makanan tersebut.


Sebenarnya aku sudah merasa sangat lelah, mataku juga mulai mengantuk sebab bangun lebih awal agar bisa menyiapkan makanan yang harus sampai di tempat pemesanan pukul delapan pagi.


"Oke. Aku antar dulu makanannya." kata Deni. Ia masuk ke dalam mobilnya, lalu tidak lama menghilang dari pandanganku.


Setelah Deni pergi, aku masuk ke dalam rumah, sambil memeriksa pesan dari akun media sosial tempatku berdagang. Untuk besok sudah ada dua pesanan deal. Mereka butuh untuk makan siang, jadi tidak perlu terlalu terburu-buru seperti hari ini walaupun jumlah pesanan untuk besok jauh lebih banyak dari hari ini.

__ADS_1


Aku masih asyik berselancar di dunia maya sebab ada beberapa pemesan baru yang mengirim pesan untuk menanyakan makanan. Ada yang bertanya harga, menu dan juga minta diskonan.


"Assalamualaikum!" seru seseorang sehingga membuatku nyaris melonjak karena kaget.


"Yasmin!" kataku. Lalu melirik jam di ruang tengah. Baru pukul tujuh lewat tiga puluh menit. "Kau pulang cepat sekali. Apa ada yang ketinggalan?" tanyaku, mengingat tadi Yasmin berangkat pukul enam lewat tiga puluh. Berarti ia di kantor cuma beberapa menit saja.


"Tidak ada yang ketinggalan." katanya, sambil bergelayut manja padaku.


"Lalu kenapa pulang secepat ini? Biasanya malah pulang terakhir. Apa kau baik-baik saja?" aku langsung parno, memeriksa kening Yasmin, khawatir ia demam atau sedang sakit. Tetapi kepalanya tidak panas, suhu tubuhnya normal.


"Iihhh mas, aku enggak sakit kok." katanya. Ia tersenyum manja padaku.


"Sebenarnya ada apa? Tumben sekali pulang cepat, kau bolos? Memang tidak takut akan dimarahi bosmu. Hei, jangan mentang-mentang atasanmu Alifa dan kau kenal dia jadi suka-suka. Itu namanya korupsi, Yasmin!"


"Tidak akan ada yang marah. Aku sudah resaind."


"Iya."


"Apa kau baik-baik saja?"


"Tentu saja. Memangnya kenapa, mas?"


"Tidak. Aku hanya khawatir kalau kau kecewa padaku."


"Tidak. Aku hanya ingin mencoba belajar untuk patuh pada mas sebagai imamku. Selagi yang mas katakan itu benar meski bertentangan dengan hati kecilku. Lagipula proyekku sudah selesai, tadi berangkat cuma mau pamit saja."


"Apa kau benar-benar baik-baik saja?"

__ADS_1


"Insya Allah mas."


"Yas, aku janji akan berusaha memberikan yang terbaik."


"Aku percaya itu mas. Toh selama ini mas juga selalu memberikan yang terbaik untukku, tapi karena kondisiku sedang labil makanya jadi membantah mas. Oh ya, aku punya sesuatu untuk mas." Yasmin meraih sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah amplop. Ia memberikannya padaku. "Isinya memang tidak seberapa, tapi ini semua bisa kita tabung untuk membeli kembali tanah dan kedai supaya kedai hijrah kembali."


Aku dan Yasmin membuka amplop coklat dari kantor Yasmin, isinya uang sebesar sepuluh juta rupiah. Semula Yasmin memberikannya padaku, tetapi aku menyuruhnya untuk menyimpan sendiri, toh setelah kami menikah seluruh uangku ia yang memegang dan mengaturnya.


"Aku ambil beberapa lembar ya." kata Yasmin.


"Ambil saja. Kau mau membeli sesuatu?" tanyaku.


"Iya. Aku ingin mentraktir mas."


"Hahaha, kau ini. Memang mau mentraktirku di mana?"


"Mas ingat warung bakso yang kita singgahi dulu sebelum menikah? Saat mas menemaniku mengantar pesanan jahitan."


"Iya, aku ingat. Warung bakso yang kita kunjungi, tetapi awalnya kamu tidak mau makan, hanya diam bengong melihatku saja, padahal perutmu sudah kelaparan, iya kan?"


"Ih mas ini. Mau membuatku malu?"


"Tidak. Aku hanya ingin mengingat kembali, bagaimana begitu dinginnya kau. Bahkan lebih dingin daripada kulkas, padahal aku sudah berusaha mengakrabkan diri. Kau itu seperti orang yang tidak punya perasaan tau!"


"Masa?"


"Iya. Oh ya, saat itu pasti hidupmu susah sekali kan?"

__ADS_1


"Ya, aku ketakutan sebab ada ketua gengster yang selalu mengikuti."


__ADS_2