
Ada embun terlihat jelas di kedua netra Yasmin. Meski ia mencoba menutupi dengan aktivitas di dapur. Menyiapkan menu sarapan kami bertiga.
Aku memang sengaja mengikutinya menyiapkan sarapan sepagi ini. Semua gara-gara perkara pembicaraan kami usai Subuh. Aku mengingatkan Yasmin kalau kami akan pulang ke rumahku pagi ini juga sebab kulihat dari semalam ia tampak santai, tidak mempersiapkan apapun untuk pindah.
"Yas," panggilku.
Gadis itu tidak menjawab, ia sibuk mengiris-iris bawang putih dan bawang merah, lalu menceplok telur untuk teman nasi goreng pagi ini.
"Istri shalihah ku," panggilku lagi.
"Hah? Ya, kenapa mas?" ia tampak canggung, mencoba mengelak dari pandanganku, mungkin agar tidak terlihat netra ya yang masih berkaca-kaca. Tetapi sepandai-pandainya ia menyembunyikan, toh sudah terlihat juga.
"Kamu nangis?" kataku.
"Enggak." ia masih mengelak.
"Kok matanya berkaca-kaca gitu."
"Oh ini. Mungkin karena tadi ngiris bawang merah."
"Benar?"
"Iya. Ini lihat, setiap memegang bawang merah pasti matanya perih."
"Berarti nggak keberatan kalau hari ini pulang ke rumahku?"
Tidak ada jawaban dari Yasmin. Tiba-tiba terdengar suara Isak tangis. Tuh kan, dia nangis. Aku jadi bingung menghadapinya. Ini pertama kalinya ia menangis di hadapanku. Berarti ia keberatan. Kalau tidak keberatan pasti biasa saja, kan?
"Aku salah ya?" tanyaku.
Lagi-lagi tidak ada jawaban. Sehingga aku hanya bisa menebak-nebak dimana letak salahku sebab Yasmin tidak mau memberitahu.
"Yas, kalau aku salah, kasih tahu dong," pintaku. Sambil menarik ujung bajunya.
"Enggak kok. Mas Qret enggak salah." jawabnya. Tapi air matanya tambah deras.
"Yasudah, jangan nangis."
"Orang lagi pengen nangis masa dilarang."
"Nangis pasti ada sebabnya."
__ADS_1
"Enggak harus."
"Ya harus. Mana ada orang tiba-tiba nangis tanpa alasan. Itu namanya aneh."
"Siapa yang aneh?"
"Kamu!"
"Kok gitu?"
"Ya gitu. Habis ditanya enggak mau jawab. Kamu enggak mau ikut pindah, kan?"
Tuh kan, dia diam lagi. Berarti benar dia tidak ingin ikut. Tapi tidak berani mengatakan isi hatinya. Tetapi, kalaupun ia mengatakan isi hatinya, aku juga belum tentu menyanggupi. Masa sudah nikah harus tinggal terpisah?
"Mas Qret ... Yasmin. Ini kenapa? Kok Yasmin nangis?" tiba-tiba pak Bimo sudah masuk ke dalam dapur. Ruangan yang sempit membuat kami berada di jarak yang cukup dekat.
"Maaf pak, ini ...," aku tidak tahu harus bicara apa, bingung harus menjelaskan semuanya. Makanya kubiarkan Yasmin yang menjelaskan pada ayahnya.
"Mas Qret, kenapa Yasmin nangis? Kan mas Qret janji enggak akan menyakiti Yasmin. Akan menjaganya sebaik mungkin." ungkap pak Bimo, tampak jelas guratan wajah lelaki paruh baya itu terlihat kecewa sebab baru sehari menjadi menantu, aku sudah mengecewakan.
"Bukan yah. Mas Qret enggak ngapa-ngapain Yasmin." kata Yasmin. Ia masih terisak-isak.
"Terus kenapa kamu nangis, nak? Bicaralah. Kalau mas Qret menjahati kamu, biar ayah yang bicara." Pak Bimo siap pasang badan untuk anaknya.
"Oalah, karena itu tho?" senyum langsung terkembang di bibir pak Bimo. Ia yang semula kecewa langsung minta maaf padaku karena sudah berprasangka. "Ayah kita kamu kenapa."
"Yah," Yasmin merajuk manja pada ayahnya.
"Yas, namanya istri, itu ikut suaminya. Kemanapun suami mengajak, istri harus ikut. Jangan menolak. Kamu harus ikhlas untuk ikut suamimu agar mendapatkan pahala." nasihat pak Bimo.
"Tapi ...," Yasmin menggeleng.
"Tapi apa, Yas?" tanya pak Bimo.
"Kalau Yasmin pergi, lalu siapa yang jagain ayah. Siapa yang masak untuk ayah, mencuci pakaian ayah, mengingatkan ayah untuk berobat kalau ayah sakit?" tanya Yasmin.
Mendengarkan penuturan Yasmin, tiba-tiba mataku langsung berkaca-kaca, hanya dalam hitungan detik air mata itu ikut tumpah.
Ternyata begitu perasaan seorang anak perempuan saat ingin meninggalkan orang tuanya untuk ikut suaminya setelah menikah.
Berat memang, kita yang terbiasa setiap hari bersama orang tua, tiba-tiba harus meninggalkan mereka untuk hidup di tempat yang baru, dengan orang-orang baru.
__ADS_1
Aku bertekad akan membuat Yasmin nyaman di tempat kami nantinya. Ia dan ibu juga sepertinya sudah akrab. Semoga saja tidak ada masalah nantinya. Sehingga Yasmin akan nyaman di tempat barunya.
"Yas, jangan terlalu memikirkan ayah. Tidak apa-apa, kok. Ayah baik-baik saja. Justru ayah senang kalau kamu ikut pindah ke rumah mas Qret. Di sana lebih baik, layak untuk kamu, nak. Dibanding di sini." ungkap pak Bimo.
"Yasmin tidak mengapa tinggal di sini," ucap Yasmin.
"Ayah akan baik-baik saja, Yas. Ada tetangga kiri kanan yang akan membantu." ungkap pak Bimo.
"Lalu bagaimana kalau Yasmin rindu ayah. Selama ini kita jarang bersama, baru beberapa bulan terakhir bisa bertemu. Yasmin ingin menghabiskan banyak waktu bersama ayah." kata Yasmin.
"Kan rumah mas Qret dekat. Kalau ayah kangen kamu, nanti ayah datang ke sana. Atau kalau kamu kangen ayah, kamu bisa datang ke sini. Telepon ayah saja, nanti pasti ayah akan datang." ungkap pak Bimo.
"Benar?" Yasmin mengulangi.
"Iya." kata pak Bimo.
”Jadi bagaimana, mau ikut atau tidak?" kataku.
"Ikut." jawab Yasmin, malu-malu.
"Nah, sekarang ayo kita makan dulu. Ayah sudah lapar sekali, nih. Jangan lupa buatkan ayah kopi ya Yas," pinta pak Bimo.
Aku dan pak Bimo ke ruang tamu terlebih dahulu, tidak lama Yasmin keluar membawakan nasi goreng, telur ceplok, segelas kopi untuk pak Bimo dan dua gelas teh hangat untukku dan untuk Yasmin sendiri.
***
Pukul sembilan pagi, aku sudah siap di depan bersama pak Bimo. Yasmin belum juga keluar, setelah dipanggil dua kali oleh pak Bimo barulah ia keluar dengan sebuah tas besar di tangan.
"Ayo kita berangkat." kataku, sambil mengambik tas di tangan Yasmin. Lalu aku pamit pada pak Bimo.
Lagi-lagi Yasmin menangis di hadapan ayahnya. Ia tampak berat sekali. Aku sampai mengusap kepalanya lembut.
"Taksi onlinenya sudah datang. Ayo kita berangkat." kataku.
Kami berdua melangkah beriringan menuju taksi online yang sudah menunggu di depan gang.
Dari sini semua akan diawali. Aku dan Yasmin akan memulai kisah baru kami sebagai sepasang suami dan istri. Kami sama-sama bertekad akan saling membahagiakan, sama-sama berusaha melakukan yang terbaik.
"Yas, apa kau sudah siap?" tanyaku, saat taksi mulai berjalan membelah jalanan kota Jakarta yang agak padat.
"Bismillah ... insyaAllah siap. Mas Qret bimbing aku ya." pinta Yasmin.
__ADS_1
Aku menggenggam erat tangannya, seolah tidak ingin melepasnya untuk selamanya. Kita bertemu karena Allah, berpisahpun kelak karena Allah. Sekarang, mari kita beratkan bumi ini dengan menghadirkan banyak kebaikan bersama-sama.