
Kami berhenti di salah satu mall yang cukup besar di Jakarta Selatan. Tidak terlalu jauh dari tempat tinggal kami. Usai memarkir mobil, kami bertiga jalan masuk ke dalam.
"Mas, aku ke swalayan dulu ya. Mas mau ikut atau nunggu di sini?" tanya Yasmin.
"Kami keliling ke atas dulu, bagaimana?" tanyaku, sebab teringat sesuatu. "Tidak apa kan kalau belanjanya sendiri, tidak ditemani?"
"Mas pergi sama ayah?" tanya Yasmin.
"Iya, ayah ikut Qret ya. Ada yang ingin Qret beli. Tidak apa kan yah?" aku bertanya pada ayah Yasmin.
"Terserah saja. Ayah senang saja ikut siapapun." jawab ayah Yasmin yang mengaku baru sekali ini masuk mall dan terlihat bingung dengan keramaian di mall ini.
"Baiklah. Ayah ikut mas Qret saja. Yasmin mau belanja dulu. Di dalam juga pasti ayah bosan." jawab Yasmin.
"Nanti kalau sudah selesai atau ada sesuatu yang harus dibantu, kabari ya. Nanti kami saja yang nyamperin." kataku.
"Baiklah. Mas titip ayah ya." pinta Yasmin.
"Siap non!" aku melambaikan tangan setelah melihat Yasmin masuk ke dalam swalayan.
"Kita mau kemana, mas Qret?" tanya ayah Yasmin, sambil mengikuti langkah kakiku, sementara tatapannya tertuju pada pakaian di etalase toko.
"Ke atas yah," aku menggandeng tangan ayah Yasmin seperti saat menggandeng tangan ayah atau ibu.
Setelah melewati beberapa outlet-outlet, aku akhirnya mengajak ayah Yasmi masuk ke dalam satu toko yang menurutku menarik.
"Yah, baju yang ini bagus tidak?" tanyaku pada ayah Yasmin.
"Bagus." ungkap ayah Yasmin.
"Mana lagi yang bagus yah?" tanyaku, sambil melihat-lihat baju yang tergantung. "Oh ya, ayah pakai celana panjang nomor berapa?" kini tanganku beralih ke jejeran celana panjang berbahan kain setelah mengambil lima lembar pakaian pilihan ayah Yasmin.
"Nomor delapan puluh."
"Yang ini? Coba ya yah."
"Lho, kok ayah yang coba?"
"Enggak apa-apa yah."
__ADS_1
Ayah Yasmin masuk ke kamar pas membawa tiga stek celana pilihanku. Setelah yakin ukurannya cocok, lalu aku membawanya ke kasir. Membayar sejumlah uang senilai harga baju dan celana.
Kami tidak lama turun sebab aku membawa ayah Yasmin ke toko sepatu dan sandal. Kami kembali memilih sepasang sepatu dan juga sandal. Setelah itu aku mengajak ayah Yasmin ke bawah sebab Yasmin sudah mengirim pesan bahwa ia sudah selesai belanja, tinggal membayar ke kasir.
"Ini semua buat ayah." kataku.
"Hah, ini? Tapi ini banyak sekali mas Qret." kata ayah Yasmin.
"Tidak apa-apa, yah. Qret malah minta maaf karena baru bisa membelikannya sekarang dengan jumlah terbatas pula."
"Tapi ini benar-benar sudah banyak."
Kini tatapanku ayah Yasmin tampak berseri-seri sambil menenteng satu bungkus pakaian, sementara bungkus lainnya aku yang memegang.
Kami sampai di bawah tepat setelah Yasmin usai membayar di kasir. Ia masih meletakkan barang belanjaannya dibatas troli. Aku langsung mengambil alih, mendorong troli sementara Yasmin menghampiri ayahnya.
"Yas, lihat ini." kata ayah Yasmin.
"Apa itu yah?" tanya Yasmin, sambil mengintip isi di dalam kantong belanja ayahnya.
"Baju, celana, sandal dan sepatu baru. Ini semua punya ayah, itu juga yang dipegang mas Qret. Mas Qret yang membelikan."
"Entah kebaikan apa yang ayah lakukan sehingga punya anak dan menantu seperti kalian." tambah ayah sehingga membuat mataku berkaca-kaca.
Hanya sedikit yang kita lakukan ternyata sukses membuat ayah Yasmin gembira. Padahal aku merasa masih kurang bakti.
***
Sudah dua jam Yasmin berada di dalam dapur. Ia tidak mengizinkan aku dan ayahnya sekedar mengintip ke dapur. Entah apa yang dikerjakannya di sana. Tapi dari aroma yang tercium, aku yakin betul bahwa Yasmin tengah memasak menu yang sangat lezat.
Panggilan dari ibu masuk ke Hpku. Segera ku angkat. Rupanya ayah dan ibu mempertanyakan kabar kami. Memang sejak tadi aku tidak mengabari bahwa kami sudah sampai. Saat ku katakan bahwa ayah Yasmin akan tinggal bersama kami, ayah dan ibu begitu senang. Sebenarnya tadi ayah dan ibu ingin menyarankan agar kami mengajak ayah Yasmin, tapi karena sibuk-sibuk jadi kelupaan.
[Qret, salam ya untuk pak Bimo dan Yasmin. Ayah dan ibu harus segera ke pesantren dulu. Assalamualaikum.] panggilan dari ibu diakhiri.
"Orang tua mas Qret tidak keberatan, kan kalau ayah tinggal di sini?" tanya ayah Yasmin, ragu-ragu.
"Tentu saja tidak, yah. Justru ayah dan ibu mau menyarankan hal yang sama." kataku.
Perbincangan kami terhenti saat bel rumah berbunyi. Aku segera ke depan untuk melihat, ternyata Riana.
__ADS_1
"Yasmin mana? Aku rindu sekali." ungkap Riana.
"Di dapur, dia sedang masak." kataku.
"Wah tepat sekali. Ternyata aku benar-benar beruntung. Pas mau makan, eh sahabat sendiri lagi masak."
"Dasar alasan. Bilang saja kau datang karena mencium aroma masakan Yasmin. Iya kan?"
"Kau bisa membaca pikiranku, Qret?"
"Tentu saja. Bahkan aku tahu kalau kemarin kau gagal memasak, kan?"
"Hah, kau juga tahu itu?" aku tahu Riana sangat kesal mendengar ocehannya, tapi ia menahan diri untuk sabar sebab kalau ia berani melawan maka aku tidak akan mengizinkannya makan di sini.
"Riana, kamu datang?" tanya Yasmin, ia tengah membawa mangkok besar berisi masakan.
"Hai Yas, apa kau membawa oleh-oleh untukku?" tanya Riana.
"Aku lupa Riana. Maaf ya. Lain kali aku akan membeli oleh-oleh." janji Yasmin.
"Untuk apa membelikannya oleh-oleh?" aku menyela pembicaraan mereka.
"Ya ampun, kau punya suami yang sangat pelit sekali Yasmin. Sabar ya." ungkap Riana.
"Sebagai gantinya, kamu mau kan makan malam di sini, Riana?" tanya Yasmin.
"Dengan senang hati." sambut Riana.
"Eittt, mau kemana?" aku langsung mencegah langkah Riana.
"Apa sih Qret? Aku cuma memenuhi undangan Yasmin. Kenapa kau menghalangi? Jangan terlalu menunjukkan sikap pelitmu!" sindir Riana.
"Aku tidak pelit Riana. Kau itu selalu saja berprasangka buruk padaku. Justru aku tidak keberatan jika kau mau makan di sini, kapanpun kau mau. Aku cuma mau meminta memanggilkan paman Rudi. Jangan jadi anak yang tidak tahu diri, masa di sini kau makan enak tapi tidak mengajak ayahmu turut serta. Dasar anak durhaka!" aku geleng-geleng kepala.
"Mas," panggil Yasmin, ia tidak suka mendengarkan sindiran ku tadi meskipun ia tahu bahwa aku hanya bercanda dan tidak akan mungkin Riana mengambil hati.
Seperti itukah hubungan kami. Berbicara ceplas-ceplos. Tapi bagi orang yang baru mengenal kami akan merasa janggal atau bahkan terkesan terlalu kasar.
Riana segera kabur dari hadapanku, tidak lama ia kembali membawa paman Rudi. Tentu saja ayah Yasmin gembira saat bertemu dengan paman Rudi. Mereka seperti dua orang kesepian yang akhirnya sama-sama menemukan teman.
__ADS_1