GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
111. Yasmin Sakit


__ADS_3

Azan Subuh sudah berkumandang. Aku dan ayah Yasmin segera menuju masjid perumahan setelah sebelumnya aku membangunkan Yasmin yang masih terlelap.


Di masjid juga ada paman Rudi yang datang bersama dengan Deni. Aku sempat menggoda pengantin baru tersebut hingga pipinya memerah.


"Kalau hari ini mau libur tidak apa, Den. Kan masih pengantin baru." kataku, sambil memasang ekspresi usil.


"Jangan Qret, aku dan Riana tetap masuk. Kami tidak ingin libur terlalu lama." jawabnya, meski agak kikuk.


"Lho kenapa? Harusnya pengantin baru senang dong kalau diberi libur lama-lama."


Deni tidak bisa menjawab apa-apa. Ia memang tidak seperti Riana yang tidak mau menyerahkan kalau ada yang meledeknya. Deni lebih cenderung mengalah, tidak mau meladeni.


Usai salat kami kembali ke rumah. Suasana masih sepi. Lampu ruang tengah masih gelap. Aku dan ayah Yasmin agak heran, tidak biasanya Yasmin lupa menghidupkan lampu. Biasanya usai kami pulang dari masjid, Yasmin tengah sibuk di dapur untuk menyiapkan sarapan setelah membersihkan rumah.


"Kemana Yasmin?" tanya ayah Yasmin. "Apa jangan-jangan ia masih tidur? Tapi masa jam segini masih tidur?"


"Entah yah. Coba Qret lihat ke atas dulu. Mungkin juga masih salat." Aku menuju kamar di lantai atas. Begitu masuk ke kamar, kudapati lampunya juga masih gelap. Saat ku hidupkan, ada Yasmin masih terbaring di atas tempat tidur dengan tubuh dibalut selimut. Tidak biasanya ia begini. "Yas," kataku. Ada rasa khawatir, ia kenapa-napa. "Yas, kamu enggak kenapa-napa?"


Aku memegang kening Yasmin. Suhunya normal. Tidak ada tanda-tanda ia sakit. Lalu perlahan ku bangunkan kembali Yasmin.


"Yas, bangun. Kamu tidak salat?" aku mengguncang pelan tubuh Yasmin agar ia tidak kaget. Perlahan kedua mata Yasmin mengerjap-ngerjap, lalu berusaha bangkit. "Yas, kamu baik-baik saja?"


"Hm, ada apa mas? Apa aku terlambat bangun?" ia mencoba bangkit.


"Iya, aku dan ayah sudah kembali dari masjid. Kau tidak salat?"


"Astagfirullah. Aku terlambat bangun. Aku mau salat duku, mas. Maaf ya,"


Baru saja Yasmin hendak bangkit, tiba-tiba ia memegang keningnya sambil mengaduh. Aku langsung menghampiri Yasmin, khawatir ia kenapa-napa.


"Kamu kenapa Yas? Sakit?" tanyaku.


"Enggak tau, tapi badan rasanya lemas, kepala juga pusing sekali." ungkap Yasmin sambil memijit pelan keningnya.


"Astagfirullah, jangan-jangan kamu sakit. Mungkin kamu terlalu lelah Yas, beberapa hari ini membantu di rumah Riana, tapi tidak ada istirahatnya sama sekali. Iya kan? Sekarang salat dulu, aku bantu wudhu ya, setelah itu kamu istirahat lagi." aku menuntun Yasmin menuju kamar mandi, menemaninya sampai selesai wudhu, lalu menunggui Yasmin selesai salat.


Aku menunggu Yasmin sampai selesai salat, sembari membereskan tempat tidur agar ia bisa kembali istirahat dengan tempat tidur yang sudah rapi. Tidak lupa ku pasang aroma terapi agar Yasmin bisa tidur dengan nyaman. Usai salat, bukannya kembali tidur, Yasmin malah bersiap turun ke bawah.

__ADS_1


"Kamu mau kemana Yas?" tanyaku.


"Mau membereskan rumah dan menyiapkan sarapan, mas." jawab Yasmin.


"Tidak usah. Istirahat saja dulu. Biar aku yang membereskan rumah dan membuat sarapan. InsyaAllah aku bisa. Kamu tidur ya." aku menuntun Yasmin ke tempat tidur, setelah yakin ia beristirahat, barulah aku keluar kamar untuk melanjutkan tugas berikutnya.


"Mana Yasmin mas Qret?" tanya ayah Yasmin.


"Yasmin sedang tidak enak badan, yah. Sekarang lagi istirahat di kamar. Nanti akan saya bawa ke rumah sakit."


Pukul tujuh tepat, aroma nasi goreng seafood sudah tercium di seantero rumah. Setelah memanggil ayah Yasmun sarapan, aku menuju kamar dengan sepiring nasi goreng dan susu coklat. Kuputuskan pagi ini Yasmin sarapan di kamar saja.


"Yas, sarapan dulu." aku meletakkan nampan makanan di hadapan Yasmin.


"Lho, kenapa dibawa ke sini, mas?" ucap Yasmin, sambil berusaha bangkit.


"Sepertinya kondisimu masih lemas, sarapannya di sini saja, setelah itu kita ke rumah sakit ya." kataku


Yasmin menurut, tetapi baru saja ia hendak memasukkan nasi dalam mulut, tiba-tiba Yasmin hendak muntah, ia segera berlari ke dalam kamar.


"Hoek ... Hoek ... Hoek." Yasmin mengeluarkan semua isi perutnya. Ia muntah beberapa kali.


"Mungkin masuk angin, mas."


Setelah lega, aku kembali menuntunnya ke tempat tidur. "Makan ya, supaya perutnya berisi dan punya tenaga." kataku.


"Enggak mau, nggak suka baunya."


"Kalau gitu mau makan apa?".


"Enggak mau makan apa-apa."


"Minum susu coklat, mau?"


"Enggak mau."


"Terus perutnya diisi apa? Nanti tambah lapar lho!"

__ADS_1


"Enggak mau. Maunya istirahat saja."


"Kalau teh hangat, mau ya?"


"Hm,"


Aku bergegas turun ke bawah, membuatkan Yasmin teh hangat, sementara ayah Yasmin sudah selesai makan, ia tampak khawatir terjadi sesuatu pada Yasmin.


"Sudah bagaimana kabar Yasmin, mas Qret?" tanya ayah Yasmin.


"Masih istirahat, yah. Ini mau dibuatkan teh, soalnya dia enggak mau makan dan minum apapun juga. Maunya teh."


"Yasmin itu jarang sakit, dulu pernah sekali waktu usianya sepuluh tahun. Sekali sakit tapi langsung parah. Bahkan sampai masuk rumah sakit." kata ayah Yasmin.


"Astagfirullah, semoga Yasmin tidak apa-apa ya yah." aku bergegas ke kamar, sambil membawa segelas teh hangat. "Yas, minum ya." kataku.


Pelan-pelan aku membantu Yasmin menghabiskan teh hangat yang baru kubuatkan.


Segelas teh hangat tersebut kini sudah diteguk habis oleh Yasmin. Baru saja aku ingin tersenyum lega melihatnya yang sudah menghabiskan segelas teh tiba-tiba langsung keceqa sebab Yasmin buru-buru ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.


"Kita ke rumah sakit saja ya Yas." kataku, khawatir terjadi sesuatu pada Yasmin seperti yang dikatakan ayahnya. "Aku enggak mau kamu kenapa-napa."


"Tapi kan hari ini mas harus ke kedai." jawabnya.


"Kamu lagi sakit begini mana mungkin aku bisa konsentrasi kerja. Kesehatan karena.u jauh lebih penting, Yas!"


"Aku enggak apa-apa kok mas. Mungkin cuma masuk angin."


"Mau masuk angin atau enggak, tetap harus ke rumah sakit. Biar dokter yang memeriksa, siapa tahu ada yang lain. Aku takut kamu kenapa-napa, Yas."


"Enggak kenapa-napa kok mas, mungkin karena kecapean saja. Mas enggak perlu khawatir. Setelah istirahat hari ini inshaAllah sudah baikan."


"Yas, jangan menyepelekan kesehatan. Aku tidak mau cari gara-gara. Pokoknya kamu harus nurut."


"Baiklah, tapi nanti mas harus tetap ke kedai ya."


"Ya sudah, tapi kita ke rumah sakit dulu ya."

__ADS_1


Setelah membujuk Yasmin, akhirnya ia mau ikut ke rumah sakit. Setelah membantunya memakai kerudung, kami turun ke bawah untuk segera ke rumah sakit.


__ADS_2