GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
130. Ketika Harus Melepaskan


__ADS_3

Selesai urusan di kedai, aku segera kembali ke rumah, dari jauh aku sudah melihat Riana keluar dari rumah kami. Sejak hamil, ia memang sudah tidak lagi bekerja di kedai, Deni membatasinya demi menjaga kondisi calon bayi mereka. Tetapi Riana masih sering main ke kedai, kadang juga mengunjungi Yasmin, seperti yang ia lakukan sekarang.


"Kalian bergosip lagi?" tanyaku, saat Yasmin membukakan pintu.


"Dih mas, kenapa menuduh seperti itu?" tanya Yasmin. Tentu saja ia tahu bahwa aku hanya bercanda.


"Lalu tadi kalian ngapain saja? Aku harus tahu apa saja yang dilakukan istriku mengingat Riana pernah membawa pengaruh buruk untukmu."


Yasmin terkekeh. Mengingat kembali kesalahan yang pernah ia lakukan demi membantu Riana agar bisa segera menikah dengan Deni.


"Kami hanya membicarakan tentang calon bayinya. Dan ...."


"Dan apa?"


"Ia memintaku membuatkan pakaian bayi."


"Oh."


"Aku bersedia sebab Riana akan menbayarku."


"Jadi ini orderan pertamamu?"


"Kalau mas izinkan aku ingin serius mengurus semua ini. Bagaimana?"


"Tidak!"


"Kenapa?"


"Sudah ada perjanjian di awal, kan? Kau hanya boleh menyentuh mesin jahit saat tidak ada aku. Begitu aku kembali, kau harus menyingkir dari mesin itu."


"Mengapa begitu?"


"Sebab aku pencemburu!"


Tawa Yasmin langsung pecah. Ia merasa geli sebab aku cemburu pada mesin jahit. "Mas," Yasmin memanggilku. "Mungkin kalau kita punya bayi lagi, pasti akan sangat menyenangkan."


"Sabar Yas, tunggu sampai kakimu sembuh dulu, baru kita rencanakan."


"Bagaimana kalau ...."

__ADS_1


Aku sengaja menutup mulut Yasmin, tidak ingin ia melanjutkan perbincangan tentang sikapnya yang pesimis terhadap kesembuhan.


"Aku percaya, cepat atau lambat kau akan sembuh. InsyaAllah." kataku penuh dengan keyakinan.


"Kalau begitu biar aku fokus menjahit ya." pintanya lagi. "Aku ingin melakukan sesuatu hal yang bermanfaat, yang menghasilkan juga."


"Aku tidak ingin kau terlalu memforsir tenaga. Kemarin-kemarin kau sudah berlebihan, aku tidak ingin kau sakit atau kenapa-napa."


"Tapi aku bahagia, mas."


"Kalau kau mau menghasilkan, jahit saja pakaian bayi untuk Riana. Siapa tahu ia membayar dengan harga tinggi."


"Padahal aku baru berencana akan memberinya secara cuma-cuma sebagai hadiah untuk calon keponakan kita "


Aku dan Yasmi langsung tertawa bersamaan. Lalu melanjutkan gurauan kami. Situasi yang sudah lama aku rindukan, saat bisa begitu akrab dengannya.


Aku dan Yasmin masih berbincang-bincang ketika terdengar suara Deni menggedor rumah. Ia tampak panik, mengatakan bahwa ada Joni di kedai. Untuk apa ia ke sini?


Untuk menjawab seluruh tanya, aku segera menghampirinya, tentunya dengan didampingi oleh Deni. Di kedai juga masih ada Lisa dan Jack, mereka sudah menutup kedai sehingga tidak perlu khawatir jika ada pembeli yang datang.


"Ada apa Jon?" tanyaku, saat kami sudah sama-sama duduk berhadapan. Rasa-rasanya tidak ada sesuatu hal yang membuatnya harus datang ke sini, mengingat pembayaran bunga masih beberapa hari lagi.


"Apa ini?" aku meletakkan kembali surat perjanjian ke atas meja, usai membacanya. "Aku tidak mengerti dengan perjanjian itu."


"Bagaimana mungkin kau tak tahu, Qret? Di sana terbubuh tanda tanganmu. Setelah enam bulan, jika kau tidak melunasi hutangnya, maka ia akan menjadi dua kali lipat. Begitu juga dengan bunganya. Jadi sekarang hutangmu dua milliar, Qret. Dengan bunga dua ratus juta. Begitu terus hingga enam bulan lagi, hutangmu akan naik menjadi empat milliar." Joni menjelaskan.


"Penjahat!" aku memukul meja dengan keras. "Kau benar-benar seperti lintah darat!" kataku, sambil menahan emosi.


Sebenarnya aku juga menyadari, sudah melakukan kesalahan yang besar dan fatal, tetapi saat itu aku benar-benar terburu-buru, sehingga langsung tanda tangan. Siapa sangka ia menjebakku dengan begitu kejamnya.


"Tolong jangan lakukan ini, Jon." pintaku, mencoba untuk berbicara dengan kepala dingin sebab jika dilawan dengan kemarahan juga, masalah tidak akan pernah bisa diselesaikan. "Walau bagaimanapun kita pernah menjadi rekan bisnis."


"Hahaha, Qret ... Qret. Walau bagaimanapun juga, yang namanya bisnis ya bisnis. Tidak ada namanya bisnis dengan perlakuan sahabat. Kalau kau tidak mampu bayar maka tanah ini akan aku sita." ungkap Joni.


"Kau menjebakku, Jon. Kau tidak pernah bilang sebelumnya." aku masih bicara dengan suara pelan.


"Dalam dunia hitam, jebak menjebak itu wajar, Qret. Sejujurnya aku tertarik dengan bekas rumahmu dulu. Aku ingin membangun kembali di atas tanah ini. Bagaimana?" tanya Joni.


"Tidak, aku tak akan melepasnya."

__ADS_1


"Kalau begitu berusahalah untuk segera melunasinya. Atau aku akan menyitanya dibukan kedelapan belas." lagi-lagi tawa Joni kembali menggelar saat ia hendak meninggalkan kedaiku. "Aku pamit dulu Qret, jangan lupa untuk bekerja keras melunasinya!"


Aghhhhh, aku kembali menghempaskan diri di atas kursi. Lalu meremas kepala dengan kedua tangan. Rasanya benar-benar pusing. Bagaimana mungkin hal ini bisa terlewati olehku.


Ya Allah bagaimana ini?


"Yas?" mataku menatap bayangan Yasmin yang berada tidak jauh dari tempatku duduk. "Kenapa ke sini?"


"Mas ... bisakah kita keluar dari masalah ini?" tanyanya.


"InsyaAllah bisa." aku melempar senyum meski sebenarnya mulut tidak lagi sempurna mengukirnya.


"Tapi mereka sudah menjebak mas. Bukan tidak mungkin akan ada kecurangan berikutnya." kata Yasmin.


"Apa yang dikatakan Yasmin benar Qret, kau harus bertindak cepat. Aku tahu betul bagaimana Joni, ia itu penjahat kelas kakap, sangat sulit untuk lolos dari jeratannya. Kau harus mengorbankan sesuatu untuk bisa bebas darinya " tambah Deni.


***


Aku tidak akan menyangka jika semuanya akan seperti ini. Ketika akhirnya tanah dan kedai harus kurelakan, lebih tepatnya terpaksa dilepas sebab sebenarnya aku belum rela melakukan semua itu.


Ya, pada akhirnya aku menjual tanah dan kedai yang selama ini menjadi sumber rezeki kami sebab aku tidak ingin harus membayar bunga untuk bulan nantinya.


Sayangnya, ternyata aku sendiri belum bisa merelakan semuanya. Memang ini tidak mudah bagiku, apalagi ketika harus merelakan kedai. Kami yang baru akan mulai bangkit lagi akhirnya harus menyerah begitu saja.


Kini Deni, Jack, Lisa dan empat orang karyawan baru tidak lagi bekerja denganku. Mereka sudah berhenti sebab kedai tempat kami mencari rezeki pun sudah bukan milikku lagi.


"Mas," sebuah panggilan mengejutkan aku. Yasmin menyentuh pelan pundakku. "Mas tidak mau keluar?" tanyanya.


Memang sejak tadi pagi, usai sarapan, aku langsung berbaring di sofa. Tidak ingin kemana-mana. Kedai sudah bukan lagi milikku, selain bingung harus melakukan apa, aku juga masih suntuk memikirkan usaha selanjutnya.


"Tidak." jawabku, pendek.


"Mas marah padaku?"


"Tidak Yas."


"Lalu kenapa menjawab seperti itu?"


"Yas, aku tidak sedang ingin berdebat." aku bangkit dari tidur, lalu segera berlalu meninggalkan rumah. Melangkah tanpa tahu harus kemana.

__ADS_1


__ADS_2