GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
176. Ungkapan


__ADS_3

"Ren, apa yang ingin kamu katakan pada Jasmin?" tanya Mia hati-hati, ia sebenarnya begitu takut kalau-kalau Ren ingin menyatakan bahwa ia menyukai Mia, tetapi ia begitu penasaran. Sebenarnya bagaimana perasaan Ren pada Jasmin.


"Ada deh." kata Ren, sambil tersenyum.


"Alah, main rahasia-rahasia segala. Kita kan temanan sudah lama. Kamu tahu segala tentang aku, tetapi kenapa aku nggak boleh tahu tentang kamu?" Mia sebenarnya membatin, tidak semua hal tentangnya diketahui oleh Ren, termasuk tentang hatinya yang tertuju pada Ren, atau malah sebenarnya tidak ada yang Ren tahu tentangnya. "Sebenarnya aku apa bagimu, Ren? Apakah aku juga sama berartinya seperti Jasmin? Atau sebenarnya aku hanya seseorang yang tak berarti untukmu sebab ada atau tidaknya aku, tak pernah membuatnya risau, kan?" Mia masih saja membatin sambil menatap puas Ren, pemuda yang sudah dicintainya semenjak masih berseragam putih abu-abu.


Lelaki ini begitu istimewa bagi Mia, bukan hanya karena wajahnya yang rupawan, tetapi karena Mia merasa begitu klik dengan Ren. Untuk menjaga Rem agar tidak didekati perempuan manapun, Mia sampai melakukan berbagai hal, termasuk sengaja menyebar gosuo bahwa seolah-olah mereka berpacaran.


Ren tahu dengan gosip tersebut, tetapi ia tak pernah mempermasalahkan, bahkan tak tertarik untuk meluruskan pada siapapun yang salah paham dengan berita tersebut. Semua Mia menduga Ren melakukannya karena lelaki itu mencintainya, tetapi belakangan ia tahu kalau ternyata Ren begitu sebab ia tak ingin dahulu berurusan dengan perempuan sebab ingin fokus dengan pendidikannya. Ren ingin meraih cita-citanya sebagai seorang dokter bedah, urusan cinta belakangan untuknya.


"Kamu benar-benar ingin tahu?" tanya Ren.


"Tentu saja." jawab Mia dengan harap-harap cemas.


"Ya, sepertinya aku menyukainya Mia."


"Apa?"


"Aku suka pada gadis itu."


"Kenapa?"


"Aku tak bisa menguraikan alasan mengapa memilihnya. Tetapi yang jelas hatiku nyaman bisa berada di dekatnya. Rasanya aku ingin selalu melindunginya dengan berada di sisinya."


"Sudah cukup Ren, aku tak ingin mendengar lagi. Aku tidak ingin kamu mengucapkan itu semua Ren, aku mohon jangan ulangi lagi, jangan pernah mengatakan hal itu lagi kalau kamu mencintai perempuan lain!" pinta Mia dalam hatinya.


Ia benar-benar merasa terluka. Patah hati tanpa pernah ia ungkap perasannya pada Ren. Rasanya benar-benar menyedihkan untuk seorang Mia.

__ADS_1


Susah payah ia berada di sisi Ren selama ini. Berusaha semaksimal mungkin agar selalu ada saat Ren membutuhkan meski lelaki itu tak pernah memintanya.


Meski tidak ada cinta untuknya, tetapi tak bisakah Ren mencoba mencintainya?


"Bagaimana menurut kamu, Mia? Apakah kira-kira Jasmin juga mencintaiku?" tanya Ren.


"Tidak!" jawab Mia dengan tegas.


"Hah, tidak? Tapi kenapa?"


"Oh itu, aku ...."


"Kenapa Mia?"


"Aku tidak tahu Ren, maksudnya, tidak mungkin Jasmin menolakmu, tetapi tidak sekarang."


"Kamu kan pernah mengatakan padaku bahwa Jasmin sedang berjuang saat ini untuk menyelesaikan kuliahnya dengan baik agar ibunya bangga. Kalau menurutku sekarang bukan waktu yang tepat untuk mengungkapkan cinta padanya, biarkan ia menyelesaikan kuliahnya supaya konsentrasinya tidak terganggu.


Bayangkan Ren, kalau kamu tetap maksa, usia seperti Jasmin itu bisa jadi bucin dan akan mempengaruhi pendidikannya sebab ia pasti akan lebih banyak memikirkan kamu. Dan itu akan berpengaruh untuk nilainya.


Apa kamu nggak kasihan melihat Jamsin, dapat masalah baru setelah masalah hidup yang ia alami secara bertubi-tubi. Ditambah saat ini ayahnya sedang koma. Pasti akan sangat sulit sekali untuknya, Ren. Kamu mengerti kan?" ungkap Mia.


"Iya juga ya. Aku seharusnya nggak berpikir egois seperti ini. Selama ini aku selalu menjaga jarak dengan perempuan karena aku tak mau kuliah terganggu. Sekarang aku malah mau mengganggu orang lain." Ren terkekeh.


Melihat reaksi Ren, Mia bisa tersenyum lega. Setidaknya ia masih punya waktu sekitar empat tahunan lagi hingga Jasmin lulus, Ren tak akan pernah maju. Waktu yang ada harus benar-benar digunakannya sebaik mungkin agar tujuannya tercapai.


Mia sudah bertekad akan berusaha semaksimal mungkin. Ia tak ingin lagi menyia-nyiakan kesempatan. Mia akan memutar otak agar bisa merebut hatinya Ren dari Jasmin.

__ADS_1


"Aku tak boleh menyerah. Aku pasti bisa. Aku lebih dulu mengenal Ren, ia juga nyaman dengan pertemanan ini. Aku hanya harus bergerak cepat mengubah pertemanan yang biasa ini menjadi cinta." ungkap Mia dalam hatinya.


"Ren, apa yang membuat kamu nyaman berada di sisi Jasmin?" pertanyaan yang tak ingin pernah diketahui olehnya jawaban Ren pada akhirnya dilontarkan juga oleh Mia.


"Dia ceplas-ceplos, apa adanya, ceria, tangguh, cerdas dan paling penting ia sedang berusaha untuk berubah ke arah yang lebih baik." ungkap Ren.


Mia mencatat semuanya dalam hati. Ia tak akan pernah melupakan apa yang barusan dilontarkan oleh Ren.


Di kamar mandi kampus, Mia menatap bayangan wajahnya di cermin. Harusnya ia sadar dari awal kalau Ren menyukai perempuan yang tertutup. Ia sudah bertekad, pulang dari kampus akan membeli kerudung sebanyak mungkin, lalu merubah penampilannya.


Tidak hanya itu, Mia juga akan merubak sikapnya yang dingin dan angkuh jadi ceria dan hangat pada siapapun.


Mia menatap kamera Hpnya, ia membuka gambar-gambar Jasmin yang diambilnya secara diam-diam. Lalu mulai mempraktekkan bagaimana caranya Jasmin tersenyum. Tetapi yang terpantul adalah bayangan seorang gadis yang tersenyum kaku.


Sebenarnya Mia juga sangat cantik, meski ia dingin. Buktinya banyak lelaki yang datang mendekat, salah satunya adalah Joko. Tetapi tidak dengan Ren, lelaki pujaan hatinya itu tak kunjung melihatnya.


"Bagaimanapun aku harus mendapatkan Ren, aku tak mau lelaki lain. Jika aku tak bisa mendapatkan Ren maka tidak ada seorang perempuan pun yang boleh dekat dengan Ren!" begitulah tekad Mia, sambil menatap kaca kamar mandi dengan tajam.


Mia begitu terkejut ketika melihat seseorang yang terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi, yaitu Jasmin. Saking terburu-buru, gadis itu tidak melihat keberadaan Mia.


"Gadis itu ...." Mia menatap penuh kebencian saat ia sudah berada dalam kamar mandi. Untuk melampiaskan kekesalannya, Mia mengunci pintu kamar mandi, lalu buru-buru keluar. Di depan pintu kamar mandi, ia buru-buru menulis sebuah pesan di secarik kertas yang menyatakan bahwa kamar mandi ini rusak, lalu disematkan di pintu masuknya. "Semoga saja nggak ada yang masuk ke sini apalagi menolong perempuan itu. Aku berharap ia membusuk di sana!" ungkap Mia.


"Mia!" sebuah panggilan membuat Mia terkejut, saat ia menoleh, ternyata Joko.


"Kamu? Ngapain di sini? Bikin kaget saja." Ungkap Mia dengan kesal.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" Sekilas Joko membaca kertas yang ditempelkan Mia.

__ADS_1


"Sudah, ayo segera ke sana." kata Mia, ia mengajak Joko menjauh agar tidak ada yang mencurigai mereka.


__ADS_2